Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku

Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku
49. Sebuah Penjelasan


__ADS_3

"Yaudah ngomongnya sambil jalan aja, biar sekalian. Saya juga akan pulang ke rumah."


balas Zain.


Gadis itu pun menyetujuinya dengan menganggukkan kepalanya.


Keduanya sama-sama berjalan beriringan menuju pintu keluar aula. Zain mulai menghela nafasnya dengan perlahan.


"Saya ingin meminta maaf sama kamu ca."


"Minta maaf untuk apa kak?"


"Minta maaf karena saya sudah menyinggung perasaanmu, kemarin itu."


Icha terdiam, ingatannya kembali pada 4 hari yang lalu.


"Sudahlah Kak, lupain aja. Itu bukan salah Kak Zain, sudah digerakkan oleh Allah jika saya ada di sana dan mendengar semuanya."


"Tapi saya tidak bisa melupakan itu cah saya begitu merasa bersalah karena sudah menyakiti perasaanmu dan membuat kamu menangis."


Gadis itu kembali terdiam dan sesekali memalingkan wajahnya.


"Dari mana kakak tahu kalau saat itu saya menangis?"


"Adikku yang bisa merasakannya, jika saat itu kau sedang menutupi air matamu dengan sejuta senyum yang terurai dari raut wajahmu."


"Saya juga bisa merasakannya saat itu ca."


Icha sekilas menatap wajahnya.


"Tidak ada yang tahu keadaan hati dan perasaanku saat itu Kak, mungkin kalian mengira aku menangis karena rasa kecewa dan sakit hati akan pernyataan yang aku dengar kemarin."


"Bukan hanya karena sebuah pernyataan yang membuat air mata ini mengalir, tapi karena aku merasa malu pada diriku sendiri, karena sudah terlalu berharap pada perasaan ini."


Zayn menatap wajahnya yang saat itu sama sekali tidak melihatnya.


"Maaf kan aku ca."


"Aku sudah memaafkannya Kak, bahkan aku sudah melupakannya dan tidak akan lagi membahasnya."


"Apakah kau juga akan melupakan perasaanmu?"


ice menghela nafasnya dengan perlahan.


"Kemungkinan besar seperti itu. Doain aja semoga perasaan ini bisa cepat hilang dan bisa merelakannya pergi dengan wanita lain."


Perkataan itu bagi sebuah pisau yang langsung menusuk hatinya.


"Kenapa kau ingin menghapusnya dan merelakannya pergi begitu saja?"


"Sesuatu yang ditakdirkan untukmu tidak akan pernah menjadi milik orang lain, dan sesuatu yang bukan milikmu, sekeras apapun usahamu mengejar, dia akan selalu menghindar."


"Kak Zain tahu kan apa maksudnya?"


Zain hanya terdiam dan perlahan menganggukkan kepalanya.


"Aku sudah pasrahkan semuanya sama Allah kak. Allah tidak akan menghianati cintanya pada hambanya, walaupun hamba itu sudah berkali-kali menyakiti dan menghianatinya. Jika saja kita menyerahkan seluruh hidup dan mati kita pada Allah karena ingin mengejar cintanya, maka Allah juga akan memberikan cintanya lebih besar melalui sesuatu yang dia kehendaki."


Hatinya sangat bergetar ketika Icha mengingatkannya pada cintanya Allah subhanahu Wa Ta'Ala kepada para hambanya.


Meskipun hamba itu telah berkali-kali menyakiti dan menyakiti Allah SWT.


Rasanya air mata itu akan keluar dari pelupuk matanya, namun Zain langsung menyekanya.


Rasa kagumnya pada gadis itu semakin bertambah saat melihat wajahnya yang anggun itu Zain selalu ingat akan Allah.


Gadis itu semakin kuat, pendiriannya begitu teguh, keimanan dan rasa takutnya pada Allah semakin kuat.


Apakah karena ini semua makanya sampai sekarang Zain belum bisa menghilangkan perasaannya pada gadis itu?


"Maaf Kak, pembicaraan kita sudah berakhir. Saya sudah sampai di depan mobil saya. Terima kasih karena sudah mendengarkan sedikit isi hati saya." ungkapnya dengan senyuman.


"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu ca, karena kamu sudah mau mendengarkan penjelasan ku. Dan kamu juga sudah mengingatkanku akan cintanya Allah. Keyakinanku semakin bertambah aku rasa kau adalah wanita terbaik yang harus aku pilih."


Hatinya berdesir saat Zain mengucapkan perkataannya tadi, ada rasa harap yang kembali timbul pada perasaannya, namun Ica langsung menepisnya dan membuang harapan itu sejauh mungkin.


"Pilihlah dengan jalan keimanan dan keyakinan, bukan dari pikiran dan nafsu."


"Jika keimananku memilih dirimu?"


"Datanglah pada orang tuaku, kalau memang keimananmu yang memilihnya." ucap Icha sebelum dirinya melanjutkan langkahnya menghampiri Pak Rasyid.


...****************...


Deringan suara handphone yang menandakan ada panggilan masuk, membangunkan Zain dari tidur sorenya.


Zain menggapai handphone itu menerima panggilan yang masuk tanpa melihat nama yang tertera di layar.


"Halo, Assalamualaikum."


Zain membuka sambungan teleponnya terlebih dulu.


"Waalaikumsalam." jawab seseorang dari seberang sana.


"Zain, ini aku, Raihan. Syukurlah kali ini kau mengangkat teleponku Zain, dari tadi aku sudah berkali-kali menghubungimu tapi tak kau angkat sama sekali."

__ADS_1


"Maaf Ray aku tadi lagi tidur. dan baru ini aku mendengar ada panggilan masuk. Ada apa Ray kau menelponku?"


"Sebenarnya Aku tak ingin lagi merepotkanmu tentang masalah ini Zain sejak kau balik ke Indonesia. Tapi untuk kali ini aku terpaksa memberitahumu."


"Memangnya Ada apa Ray? Ada masalah apa di sana?"


"Mei rumah sakit lagi Zain, sudah berkali-kali iya cuci darah, dan kini keadaannya semakin parah, lebih parah dari beberapa minggu yang lalu."


"Keluarga nya memintaku untuk menghubungimu dan memberitahumu tentang keadaannya, mereka semua menunggu jawabanmu Zain."


Raihan menambah perkataannya.


Zain diam dan berpikir.


"Zain, Apa kau mendengarku?"


"Iya Ray, aku mendengarmu."


"Lalu bagaimana?"


"Maaf Ray, untuk sekarang aku belum bisa menjawabnya. Aku ingin salat dulu Ray. Sebenarnya jawaban itu sudah ada, tapi aku ingin memastikannya lagi."


"Baiklah, itu terserah mu. Kapan kau akan menghubungiku lagi?"


"Beri aku waktu satu hari satu malam. Insya Allah lusa, Aku akan kembali menghubungimu dan sudah ada jawaban dariku."


"Berikanlah keputusan yang terbaik Zain. Jangan kau singgung perasaannya jika keputusanmu itu tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan."


"Insyaallah Ray."


Zain menutup teleponnya dan meletakkan kembali handphone itu di tempatnya.


Sesaat ia termenung, rasa lelah karena perjalanannya kemarin setelah seminar di Jakarta masih belum hilang.


Kini pikirannya ditambah lagi mengingat Mei yang terus mengharapkan dirinya untuk bisa menikahinya.


Zain menghala nafasnya, kedua matanya melihat ke arah jam dinding yang ada di kamarnya.


Sudah jam 04.00 sore, ia baru ingat, karena kelelahan hingga membuatnya tertidur pulas, ia tertinggal salat ashar berjamaah di masjid.


Pemuda itu langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi.


"Loh, udah bangun toh. Asma' kira tadi mas masih tidur. Makanya Asma' masuk karena mau bangunkan mas Zain."


"Kenapa nggak dari tadi As."


"Sebenarnya iya. Tapi kata ibu gak usah dulu, kasihan mas karena baru tidur, terus tidurnya nyenyak banget."


Zain menguraikan senyumannya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Budeh."


"Eh. Kafa. neng Zizi. Mari masuk."


Keduanya pun masuk ke dalam.


Sudah lama sekali Kafa dan Zizi tidak mengunjungi budenya.


Seperti yang mereka katakan kemarin pada Icha dan orang tuanya, alasan itu juga yang membuat keduanya jarang menghampiri rumah budenya.


Mereka duduk di ruang tamu bersama dengan Bu Husna. Si kecil Ghifar juga tampak begitu bahagia ketika duduk di pangkuan neneknya.


"Mas Zain sama asma di mana bude?"


"Oh, Zain lagi ada di kamar Asma' juga tadi baru mau bangunin masnya yang masih tidur."


Tak lama kemudian kau masih gadis Asma' pun keluar menuju ruang tamu menyambangi ibunya.


Senyuman rumahnya langsung terurai dari raut wajahnya saat melihat Kafa dan Zizi datang bersama dengan si kecil Ghifar yang begitu menggemaskan.


Asma' mendekat lalu mengambil alih Ghifar dari ibunya, mencium pipinya yang cabe dan memeluk tubuh mungilnya yang berisi.


"Mas mu lagi ngapain nduk?"


"Lagi sholat tadi Bu."


"o."


"Siapin minuman sana nduk, untuk Mas Kafa sama Mbak Zizi."


"Nggak usah bude, biar Zizi aja nanti yang ngambil sendiri."


"Ya nggak boleh gitu toh nduk, kamu ini kan tamu ya masa mau ngambil minum sendiri."


"Kalau untuk pembukaannya ia diambilkan dulu mbak, lah kalau mbak mau nambah ya baru ambil sendiri." ucap Asma' dengan senyumannya.


Zizi tertawa kecil mendengar pernyataan asma padanya.


Kakak beranjak bangkit dari tempat duduknya.


"Mas Kafa mau ke mana?"

__ADS_1


"Mau ngobrol sama Mas Zain sebentar."


"O. Yaudah Mas masuk aja di kamarnya, tadi Mas Zain masih salat ashar."


Kafa mengangguk dengan senyuman.


Kafa pun melanjutkan langkahnya hingga sampai di kamar Zain.


Pemuda itu sudah sampai di akhir salatnya.


Selesai salam, ia melanjutkannya dengan istighfar, dzikir setelah salat dan ditutup dengan doa yang panjang.


Saat itu kakak sudah berada di dalam kamarnya, lelaki itu duduk di atas kursi yang ada di kamar sepupunya.


Ia terus menunggu sampai Zain selesai dengan doa panjangnya.


Lima belas menit kemudian setelah ia menunggu akhirnya Zayn selesai.


Ia lalu melipat sajadahnya dan meletakkannya di atas meja khusus tempat pakaian salatnya.


"Kafa." sapanya saat membalikkan badan.


"Hei, mas. Apa kabar?"


Kafa bangkit dan mengalaminya lalu memeluknya.


"Alhamdulillah bil Khair."


"Kapan kau datang?"


"Barusan aja mas."


"Tumben kau masuk kamarku fa, udah lama nungguinnya?"


"Nggak terlalu kok mas."


"Sebenarnya ada yang mau aku omongin sama Mas Zain."


Kedua matanya tampak serius saat menatap Kafa.


"Mau ngomong apa?"


Stafa menghadapkan wajahnya ke depan, lalu menghela nafasnya.


"Maaf Mas sebelumnya, kalau apa yang aku omongin nanti berurusan dengan perasaan Mas Zain."


Sepertinya Zain mulai mengerti dengan maksud sepupunya ini.


"Kita memang sudah lama tidak pernah bertemu Mas, bahkan berkomunikasi pun tidak pernah. Hubungan kekerabatan kita juga semakin renggang sehingga kita tidak pernah tahu keadaan kita satu sama lain. Kedatangan ku ke sini karena aku ingin menerapkan kembali hubungan keluarga kita. Aku juga ingin tahu masalah apa yang sebenarnya sedang dialami oleh sepupu ini. Jika saat ini kau butuh teman atau sahabat yang bisa mendengarkan keluh kesah mu, Aku siap untuk menemanimu Mas."


Zain masih terdiam dengan tatapan matanya yang mengarah ke depan.


"Seminggu yang lalu, aku dan Zizi datang silaturahim ke rumah Icha. Zizi adalah sahabat dekatnya, sudah lama mereka tidak saling bertemu. Awalnya semua baik-baik saja aku mah Tapi ketika aku menyinggungnya dengan namamu, raut wajah yang penuh dengan senyuman itu berubah. Kedua matanya berkaca-kaca, seperti ada yang menyakiti hatinya."


Kedua mata Zain kembali menatap Kafa.


"Apa yang sebenarnya terjadi padanya dan dirimu Mas?"


Zain menghela nafasnya.


"Aku yang telah menyinggung perasaannya dia menangis karena mendengar pembicaraanku dengan ibu dan yang lainnya."


"Memangnya apa yang kau bicarakan mas, sampai menyinggung perasaannya?"


Zayn mengingat sesuatu, pikirannya teringat lagi dengan masa lalu kafa.


Ia tahu Kafa juga pernah mengalami hal yang sama seperti dirinya.


Mungkin jika ia tahu hal yang dialami Kakak juga sedang ia alami, akan ada masukan tambahan yang bisa menguatkan jawabannya.


"Apa yang kualami saat ini, sama dengan yang pernah menimpamu sebelumnya, fa."


Kafa membulatkan kedua matanya yang menatap Zain dengan serius. Saat mendengar pernyataan itu.


"Apa aku tidak salah dengar Mas?"


"Tidak fa."


Kafa menghela nafasnya.


Keduanya sama-sama saling terdiam.


Zain mulai mengatur nafasnya lalu menceritakan apa yang ia alami pada sepupunya itu.


Lelaki itu hanya terdiam sebagai pendengar, dan belum memberi tanggapan apapun pada Zayn.


"Tadi Raihan menelponku. Dia pemberitahu bahwa keadaan Mai di sana semakin memburuk. Dia juga sudah berkali-kali cuci darah dan keluar masuk rumah sakit. Mereka semua menunggu jawaban dariku, aku masih bingung dengan jawaban ku fa."


"Mas. jawaban itu sudah kau dapat dari salat istikharahmu. Dan aku yakin itu adalah pilihan yang terbaik dari Allah untukmu. Jangan karena kau iba dengan keadaan orang lain, sehingga meragukan kembali keputusanmu yang sudah mantap untuk memilih Icha."


"Aku tidak ingin melihat gadis itu terluka lagi dalam perasaannya mas. Cukup aku saja yang telah melukai perasaannya, jangan Mas lagi. Bahkan sampai saat ini rasa bersalah itu belum bisa hilang sampai aku benar-benar melihat Icha bisa bahagia dengan lelaki yang baik sepertimu."


Setelah cukup lama dirinya dia mendengarkan apa yang dibicarakan Zain mengenai permasalahannya, akhirnya Kaffa mengeluarkan pendapatnya yang membuat hati Zain berdesir dengan pendapatnya itu.


Kafa bisa menyimpulkan, bahwa Zain terlalu lemah dengan rasa ibanya yang besar. Jika pemuda itu tidak bisa mengalihkan rasa ibanya pada setiap wanita yang lemah, mungkin saja ia tidak akan memiliki pendirian yang kuat.

__ADS_1


__ADS_2