
3 hari telah berlalu....
Pagi itu semua Santri berkumpul di depan mading pesantren yang berada di area kelas formal. Ada pengumuman penting saat itu beberapa nama santri yang akan berangkat ke Cordoba telah tertera di sana.
Semua begitu antusias untuk melihatnya, terutama mereka yang akan berangkat ke Cordoba Spanyol.
Karena ini adalah jam istirahat, Tina mengajak Icha untuk pergi ke kantin pesantren. Ada beberapa menu makanan yang enak di sana yang bisa mengisi perut mereka di jam istirahat. Maklum saja, perut mereka terasa begitu lapar karena tenaga dan pikiran telah terkuras sejak jam pelajaran tadi.
"Kamu mau pesan apa ca?"
Icha menggelengkan kepalanya.
"Tenang aja ca, kali ini aku yang traktir."
Ica kembali menggelengkan kepalanya.
"Kok nggak mau sih, ca?"
"Aku lagi nggak selera Din."
"Jangan gitu to ca, ntar kalau sakit kamu kambuh lagi gimana, kan dari tadi kamu belum sarapan."
Ica menghela nafasnya.
"Yaudah deh terserah kamu aja, aku ngikut."
"Nah gitu dong."
"Nasi ayamnya dua ya Bun."
Dina memesan makanan mereka, pada bunda Fira, selaku penjual di kantin.
"Oh ya, neng sebentar ya.."
sahut bunda Fira dari dalam.
"Kebiasaan banget sih Din, teriak teriak, kan nggak sopan."
"He..he.. iya, lupa ca, karena udah kebiasaan."
"Lagian bunda juga udah maklum, kan cuma aku yang biasa seperti ini."
Ica hanya menghela nafasnya.
Tak lama setelah itu, bunda Fira datang dengan membawa pesanan mereka.
"Nih pesanannya sudah datang, silahkan di nikmati."
"Alhamdulillah, terima kasih ya Bun."
"Iya sama-sama."
Dua porsi nasi ayam dengan sambal matah nya sudah ada di hadapan mereka, saatnya untuk menikmati.
"Loh ca, kamu kok masih ada di sini? bukannya santri yang dapat beasiswa ke luar negri lagi ada pengumuman penting ya."
kata salah satu santri yang duduk di hadapan mereka.
Keduanya menatap dengan pandangan heran.
"Memangnya kenapa? keberangkatan Ica kan memang sudah dibatalkan."
kata Icha yang menghentikan sopan makannya.
"Tapi nama kamu tertera di antara mereka loh ca."
Icha membulatkan kedua bola matanya.
"Hah. kok bisa?"
"Nggak tau juga ca."
Tatapan wajah Icha marah pada Dina yang masih mantap dengan makanannya.
"Masa Din nama Icha ada di sana?"tanya Ica yang tidak percaya.
"Coba aja di lihat dulu ca."
Icha sejenak terdiam setelah itu dirinya pun bangkit dari duduknya dan berlalu pergi.
__ADS_1
"Eh... mau kemana ca?"
"Mau lihat Mading Din."
"Tungguin ca......" teriak Dina lagi.
Dina berlari mengikuti Icha dari belakang. Langkah mereka telah terhenti Di depan mading Icha masih belum percaya jika namanya memang tertera di sana, matanya
masih saja fokus tertuju pada nama nama itu.
"Kok bisa ya Din nama Icha tertera di sini padahal kan udah begitu jelas kalau Ica memang sudah batal berangkat."
Dina diam tidak menjawab sepatah kata pun.
"Kira kira siapa ya yang melakukan semua ini?"
Dina masih terdiam dengan tatapan matanya yang melihat seseorang sedang berdiri di seberang sana dengan senyumannya.
"Kak Zain." kata Dina tiba-tiba tanpa ia sadari.
Icha langsung mengalihkan pandangannya pada Dina.
"Ada apa Din? kak Zain?"
Icha mengikuti arah tatapan mata Dina yang masih tertuju pada seseorang. Namun saat Ica melihatnya juga orang itu sudah tidak ada.
Dina lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Aduh, aku keceplosan, gimana ini?"
"Din, Dina...." panggil Ica sembari menyenggol bahunya.
"Eh...iya. Ada apa ca?"
Dina tersentak dari lamunannya.
"Kamu lagi liatin siapa?"kenapa kamu tiba-tiba sebut nama Kak Zain? emangnya kak Zain ada di sini?"
Dina terlihat sedikit gugup.
"Oh...nggak kok ca, nggak ada siapa-siapa. Tadi aku nggak sengaja lihat santri jatuh, kirain kak Zain, tapi ternyata bukan."
"Oh gitu..."
Ica menganggukkan kepalanya.
"Oh ya Din, tadi Ica lihat nama kak Zain nggak ada tertera di sini."
"Masa sih ca?"
"Iya Din, coba deh kamu lihat sendiri."
Dina pin mengikuti perkataan Ica, dan memang benar kalau nama Zain tidak ada tertera di sana.
"Iya ca, nama kak Zain tidak tertera di sini."
"Bener kan Din."
Dina mengangguk.
Keduanya saling diam dan duduk di di bangku yang ada dekat mereka.
"Kenapa kamu baru sadar kalau nama Kak Zain tidak tertera di sana."
Bunga datang seorang diri dan langsung melampiaskan kekesalannya pada Icha.
"Bunga..." Icha bangkit dari duduknya.
"Ini semua gara-gara kamu ca, kamu yang sudah buat Kak Zain nggak jadi berangkat."
"Kenapa kenapa gara-gara aku emangnya aku melakukan hal apa? aku kan tidak berbuat apapun."
Ica tampak bingung saat Bunga berkata seperti itu padanya.
"Sok polos banget sih kamu ca, kamu itu sudah menghancurkan impian terbesar kak Zain."
"Maksud kamu apa sih Bunga, Aku nggak tau kenapa nama aku bisa tertera di antara mereka, kenapa kamu jadi salahin aku?"
"Ya karena memang kamu yang salah ca."
__ADS_1
"Udah cukup!" cegah Dina yang menghentikan mereka.
"Kamu apaan sih bunga tiba-tiba datang langsung nyerbu Ica gitu, emangnya kamu punya bukti apa kalau Icha yang bersalah?"
"Astagfirullah haladzim, Bunga." Naura datang
dan langsung menghampiri mereka.
"Maaf ya, ca, Dina."
saat Naura datang Bunga melangkahkan kakinya dan terlalu pergi begitu saja tanpa memperdulikan Naura.
"Perkataan bunga tadi jangan dimasukkan ke dalam hati ya apa yang dikatakan Bunga tadi tidak benar adanya kok ca."
Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya.
Naura juga membalasnya dengan hal yang sama.
"Assalamualaikum."
"waalaikumsalam."
Naura berlalu pergi menyusul temannya yang sudah mendahului dirinya.
Icha tampak termenung, memikirkan apa yang telah dikatakan bunga tadi padanya.
"kamu kenapa ca"Dina tampak khawatir dengan Icha yang termenung.
"ca"suara Dina terdengar begitu lembutnya.
"apakah yang dikatakan oleh bunga tadi adalah kebenarannya Din, apa memang Icha yang sudah membuat Kak Zain nggak jadi berangkat."
pertanyaan itu langsung dilontarkan Icha begitu saja.
"Cha, kamu nggak usah dengerin apa kata bunga tadi ya, itu semua nggak bener ca."
Dina berusaha menenangkan Icha.
"jadi, nggak bener yang mana Din, apa kamu bisa jelasin sama Icha yang sebenarnya."
Icha meminta Dina untuk menjelaskan yang sebenarnya.
"em... sebenarnya, Kak Zain yang melakukan semua ini ca, Kak Zain nggak tega kalau harus melihat kamu sedih seperti ini karena kehilangan beasiswa kamu. jadi, Kak Zain memberikan beasiswa miliknya untuk kamu, agar kamu bisa berangkat ke sana dan tidak kehilangan impianmu ca."
akhirnya Dina menjelaskan semuanya pada Icha.
"kenapa kak Zain melakukan ini semua? apa alasannya"tanya Icha."
Dina tidak tahu harus menjawab apa lagi. dia hanya menggeleng, tanda tak mengerti.
Icha langsung melangkahkan kakinya dan pergi begitu saja meninggalkan Dina.
"ca, kamu mau ke mana."
"Icha tungguin aku Cha."
Icha meneruskan langkahnya dan menghiraukan Dina dengan begitu saja.
"Kak Zain" serunya.
Icha datang menghampiri Zain, yang saat itu sedang berbincang dengan Fahma. di kawasan luar asrama.
kedatangan Icha yang tiba-tiba membuat keduanya saling memandang dan melihat ke arah Icha.
"Icha."
Zain bangkit dari tempat duduknya.
Icha memasang senyuman di wajahnya.
"Icha sangat bersyukur sekali. Alhamdulillah, Allah telah mempertemukan Icha dengan orang sebagai Kak Zain. Kak Zain rela berkorban untuk Icha, demi masa depan Icha. pengorbanan Kakak itu sudah seperti saudara kandung sendiri."
perkataan Icha terhenti sejenak dengan wajahnya yang masih menatap mata itu.
"tapi maaf Kak, Icha nggak bisa terima apa yang sudah Kakak beri untuk saat ini."timpalnya.
"kenapa ca?"
Zain mulai membuka pembicaraannya, seakan mengerti apa maksudnya.
__ADS_1
Icha menundukkan wajahnya.