Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku

Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku
41. Perasaan itu Masih Ada?


__ADS_3

Dua tahun telah berlalu, waktu itu tidak berjalan dengan lama. Semua perputarannya terasa begitu singkat.


Dengan begitu banyaknya kesibukan yang dilakukan Zain saat berada di Cordoba, tanpa ia sadari sebentar lagi kuliahnya selesai.


Disela kesibukan kuliahnya, izin juga mengisi waktu luangnya dengan berdagang buku yang berunsur islami. Zain tidak pernah meminta biaya apapun pada orang tuanya, termasuk untuk kebutuhannya sehari-hari di kota itu.


Ia berusaha sendiri untuk mencukupi kebutuhan hidupnya di sana. Ya, walaupun setiap bulannya Pak Ilham selalu menginginkan uang untuk putra sulungnya di sana.


Setiap kali ada sisa uang dari hasil penjualan dan juga kiriman dari Pak Ilham Zain selalu menyimpannya sebagai tabungan. Tabungan yang akan berguna untuk dirinya di hari mendatang.


Tak hanya Pak Ilham saja yang mengirimkan biaya untuk dirinya. Zain juga tak lupa dengan keluarganya di sana, di saat usaha dagang bukunya meningkatkan hasilnya juga lumayan adakalanya Zain mengirimkan surat kabar dan juga uang untuk keluarga yang ada di sana.


Tak sedikit pula orang yang menaruh rasa kagum pada pemuda itu. Karena banyak prestasi yang mengagumkan tata usaha kerasnya. Zain seringkali dipanggil sebagai narasumber yang mewakili semua mahasiswa Indonesia pada setiap acara penting yang digelar di setiap kota yang ada di Andalusia.


Siang itu, Zain pergi ke kantin yang berada di kampusnya. Setelah jam pelajaran selesai, perutnya tersebut itu lapar karena sedari tadi sama sekali belum terisi oleh makanan apapun.


Zain bersama dengan Rayhan pergi ke tempat yang sama untuk menghilangkan rasa lapar mereka. Sambil menunggu makanan mereka datang, Zain membuka kembali buku pelajarannya untuk pembahasan materi hari esok.


"Zain."


"Hem." sahutnya tanpa melihat Rayhan sama sekali.


"Kapan rencana mau balik ke Indonesia, Zain?"


"Belum tahu Ray, mungkin setelah wisuda nanti." jawabnya.


Rayhan hanya mengangguk.


"This is Snack."


seorang pelayan mengantarkan makanan pada mereka.


"Thank you."


pelayan itu hanya mengangguk sambil tersenyum.


Santapan makan siang mereka sudah ada di meja, Zain menutup bukunya dan mulai akan makan.


"Hari ini kamu mau ke toko?" tanya Rayhan di sela makan mereka.


"Kayaknya nggak dulu deh Ray." jawab nya.


"Kenapa?"


"Soalnya hari ini aku kurang fit, mau istirahat dulu. Mungkin besok baru aku bisa ke toko lagi."


Rayhan kembali mengangguk mendengar jawaban dari Zain.


Memang yang ia lihat saat ini keadaan hujan sedikit kurang sehat wajahnya juga terlihat pucat.


"Zain, kamu itu harus jaga kesehatan jangan terlalu sibuk dengan aktivitas. Takutnya kuliah kamu nanti akan terganggu." ujarnya.


"Iya Ray." sahutnya dengan senyuman.


"Ada yang sedang kamu pikirkan ya, keadaan keluarga kamu di tanah air gimana?"


"Alhamdulillah baik-baik saja, cuma ibu lagi kurang sehat."


Rayhan sejenak terdiam.


"Aku tahu, mungkin kamu seperti ini karena aku ndak batin sama ibu kamu ada di sana. Mungkin juga beliau lagi merindukan anaknya yang jauh di sini." ucap Rayhan.


Zain terdiam dan menghentikan makannya.


"Yah, memang beginilah Zain risikonya jauh dari orang tua, apalagi sudah bertahun-tahun tidak pulang." timpalnya.


"Ibu rindu banget sama aku Ray. Aku juga Nggak tega melihat ibu seperti itu apa aku pulang aja ya ke Indonesia." kata Zain sambil menatap Rayhan.


"Tolong aku dong Ray, beri aku pendapat biar aku nggak kepikiran terus sama ibu."


Raihan terdiam karena bingung harus berkata apa ia juga belum ada solusi untuk teman yang satu ini.

__ADS_1


"Em... gini aja, kalau saran dari aku sih kamu lebih baik salat dulu untuk menenangkan pikiran kamu. Minta sama Allah solusi terbaiknya, kalau memang harus pulang ya kamu pulang jangan ditunda lagi, kasihan juga ibumu di sana." kata Rayhan yang mengeluarkan pendapatnya.


Zain pun mengganggu dengan senyumannya dan kembali melanjutkan makannya sampai selesai.


"Kabarnya Ica gimana di sana?" tanya Rayhan tiba-tiba sambil menepuk bahu nya.


"Ica?"


Zain langsung teringat dengan seseorang.


"Iya, Ica."


"Memangnya kamu kenal sama Ica?" kata Zein yang balik bertanya.


Pertanyaan Zain itu membuat Rayhan tersenyum.


"Yah nggak lah Zain." jawabnya dengan wajah yang masih tersenyum.


"Kok kamu bisa tahu nama Ica."


"Rayhan itu apa sih yang nggak tahu, tentang isi perasaan kamu saat ini aja aku tahu." jawab Rayhan dengan candaannya.


Zain menghela nafasnya.


"Zain, kita tinggal di sini tuh sudah 3 tahun. Aku kau ini semua dari teman kamu yang lainnya. Dan aku juga tahu kenapa Zain itu tidak mudah tertarik dengan wanita lain di sini, karena dia sedang menjaga perasaannya untuk wanita yang saat ini ada di hatinya."


Zain hanya bisa terdiam dan menggelengkan kepada sembari tersenyum.


"Apa dia juga ada perasaan sama kamu Zain?"


"Nggak tahu." jawabnya singkat.


"Sampai sekarang juga aku nggak tahu kabar dia gimana di sana."


"Tapi aku yakin, kalau Ica itu juga ada perasaan sama kamu. kalian itu saling menyimpan perasaan atau bahasanya mencintai dalam diam." ujar Rayhan.


"Kenapa kamu bisa bicara seperti itu dari mana kamu tahu?" tanya Zain yang semakin curiga dengan temannya itu.


"Ya, itu firasat aku aja."


"Tapi Zain, kamu itu harus perjuangkan perasaan kamu, jangan biarkan dia jadi milik orang lain, aku yakin suatu saat nanti kalian pasti akan bersatu." kata Rayhan dengan penuh keyakinan.


Tatapan matanya itu menunjukkan betapa kuatnya keyakinan Rayhan dengan perasaan Zain.


Zain sendiri tidak berkata apapun pada temannya ia hanya terdiam dengan perasaan yang tak menentu.


"O ya, hari ini aku nggak ada lihat Maheira?"tanya Raihan padanya.


"Untuk apa hari ini Maheira tidak masuk kuliah karena ada urusan keluarganya di Australia." jawab Zain.


"Oh gitu." sahut Rayhan dengan anggukan kepala.


"Kenapa memangnya kamu kangen ya sama dia?"


Rayhan hanya tersenyum.


"Yaudah aku duluan ya Zain, hari ini ada jadwal masuk perpus." kata Rayhan yang langsung beranjak pergi sebelum Zain membalas perkataannya tadi.


"Rayhan... Rayhan." ucap Zain sambil tersenyum.


Zain masih terdiam di tempatnya, tidak ada lagi yang bisa diajaknya bicara. Pikirannya kini tertuju pada seseorang setelah selama ini ia mencoba untuk melupakannya sesaat.


"Ya Allah, kenapa perasaan ini masih ada dan semakin kuat. Jagalah hati hamba ya Allah jagalah juga dirinya yang ada di sana, jika memang dia baik untuk hamba maka satukanlah kami. Namun jika dia bukan yang terbaik untuk anda maka hapuskanlah perasaan ini dan jauhkanlah hamba darinya.Hamba serahkan semuanya padamu ya rob sang pembolak-balikkan hati hambanya."


...****************...


Dua tahun berlalu sudah meninggalkan begitu banyak kenangan untuk Icha. Kenangan pahit di saat ia harus ditinggal pergi selamanya oleh Rania beberapa bulan yang lalu.


Kehilangan seorang ibu adalah hal yang paling berat dirasakannya apalagi untuk berbisa selama-lamanya.


Sebenarnya dalam keadaan ini Ica masih terpukul dengan kepergian ibunya, Tapi semua itu tak menjadi halangan untuk Ica kembali bangkit dan menghilangkan rasa berkabung nya.

__ADS_1


Kini Ica memilih menyebutkan dirinya dengan belajar di universitas Islam di Jakarta. Kesibukannya itu juga membuat Islam merupakan kesan pahit yang pernah dialaminya pada beberapa tahun lalu.


"Ica."


Fajar datang menghampiri dengan kursi rodanya.


"Iya pa."


Icha saat itu masih sibuk di depan laptopnya.


"Papa mau makan? atau papa mau mandi? biar Icha siapkan." kata Icha yang memberi tawaran padanya.


"Nggak kok nak, papa cuma mau lihat kamu aja." kata fajar pada anak gadisnya itu.


Icha membalasnya dengan senyuman.


Fajar terus memperhatikan anak gadisnya yang masih sibuk dengan tugas kuliahnya.


"Apakah kamu belum ada rencana untuk menikah, nak?" tanya Fajar tiba-tiba disela keheningan mereka.


itu menghentikan tangannya yang masih mengetik, dirinya sesaat terdiam.


"Belum pa." jawabnya.


Fajar menghela nafasnya.


"Memangnya kamu belum ada kepikiran ke sana?" tanya Fajar lagi.


"Belum juga pa. Icha masih ingin fokus kuliah."


"Kenapa papa tiba-tiba bertanya seperti itu apa papa ingin Icha cepat menikah?" Icha balik bertanya padanya.


"Papa hanya bertanya saja. papa lihat kamu masih enak menikmati masa muda kamu makanya papa bertanya seperti itu."


kita menghadapkan wajahnya dengan senyuman.


Icha turun dari kursinya dan merangkul Fajar dari belakang yang berada di kursi rodanya.


"Icha belum siap untuk memulai hidup baru dengan orang lain pa. Icha masih ingin menghabiskan waktu muda bersama dengan papa." kata Icha dalam rangkulan nya.


Fajar menanggapinya dengan senyuman.


"Icha sayang banget sama papa. Icha masih ingin selalu bersama dengan papa, kalau nanti Ica menikah, pasti Icha tidak akan punya waktu banyak untuk terus bersama dengan papa, waktu Icha pasti akan lebih banyak ke suami daripada ke papa." timpalnya dengan bersikap manja.


"Papa juga sayang sama kamu. papa juga ingin selalu bersama dengan kamu. Tapi kan kamu anak perempuan, pada saatnya nanti kamu akan pergi dari papa dan bersama dengan suami kamu." ujarnya sembari mengusap kepala Icha.


"Kalau nanti ada laki-laki yang siap bertanggung jawab untuk anak papa, dia laki-laki yang sholeh, baik, tampan, dan juga penyayang apakah kamu mau menerima dia jadi imam kamu?" tanya Fajar dengan matanya yang menatap wajah putrinya.


Icha terdiam sesaat, lalu menghela nafasnya.


Icha tak menjawabnya ia hanya menunjukkan senyumannya.


"Apakah ada seseorang lelaki yang sedang kamu tunggu kehadirannya, ca?" kata Fajar yang memberikan pertanyaan lagi pada putrinya.


Icha masih terdiam dan berpikir ingatannya tertuju pada seseorang yang sedang menguasai perasaannya saat ini.


"Ica."


Wajah gadis itu tertunduk, ia masih diam dan belum menjawab pertanyaan papanya.


"Memangnya papa lihat, Ica sedang menunggu seseorang?" kata Icha yang balik bertanya.


"Em sepertinya iya."


Gadis itu tertawa mendengar jawaban dari ayahnya.


"Papa sok tahu ah."


"Bukannya papa sok tahu, tapi kelihatan bocah dari raut wajah kamu yang sedang menyimpan perasaan."


Icha kembali terdiam.

__ADS_1


Fajar begitu mengenali putrinya ini, walaupun keakrabannya baru berjalan 3 tahun dengannya tapi ia sudah bisa mengenali perasaan putrinya sampai sekarang ini.


"Ya Allah ada apa ini? kenapa tiba-tiba pikiranku teringat olehnya perasaan ini semakin tidak karuan. padahal kan sudah lebih dari 2 tahun itu tidak lagi memikirkannya , tapi sekarang perasaan itu ada lagi.Astaghfirullah haladzim. Ya Allah ampunilah hamba. Hamba pasrahkan semuanya pada Mu ya Robbi."


__ADS_2