Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku

Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku
50. Pergi Ke Kalimantan


__ADS_3

Garuda Indonesia airlines melakukan penerbangan dari bandara Soekarno Hatta menuju Syamsudin Noor Samarinda Kalimantan timur.


Lulus dengan nilai 97,50 yang saat memuaskan itu membuat Fajar bangga dengan Putri semata wayangnya.


Air matahari mengiringi kebahagiaan mereka.


Siapa pun pasti akan bangga dengan prestasi yang telah dicapai olehnya termasuk semua sahabat dan orang-orang terdekatnya.


Tiga Minggu setelah kelulusan, gadis itu memutuskan untuk terbang ke Kalimantan timur kota Samarinda.


Membangun bisnis baru papanya yang mungkin sepenuhnya diserahkan kepadanya untuk dikelola dengan sebaiknya.


Icha melakukan perjalanannya bersama rakyat Indonesia teman satu kampusnya.


Arsya juga lulus seangkatan dengannya, nilai Arsya pun tidak jauh fantastic darinya.


Arsya ada di urutan keempat setelah Icha.


Sebenarnya Arsya akan melanjutkan kuliahnya di luar negeri, namun ia masih menunggu waktu 1 bulan lagi untuk menambah biaya kuliah yang ia kumpulkan dengan jerih payungnya sendiri tanpa sepengetahuan orang tuanya.


Walaupun jika orang tuanya tahu, mereka lebih mampu untuk memberikan biaya kuliahnya sampai selesai.


Jam 10 waktu Indonesia tengah, pesawat yang mereka tampaknya telah mendarat selama di bandara Syamsudin Noor kota Samarinda.


Sampai di bandara, keduanya melanjutkan perjalanan mereka dengan taksi online yang sudah dipesan sebelumnya oleh Icha.


Dua jam perjalanan dengan menggunakan taksi online mereka sampai di apartemen. Untuk sementara waktu mereka akan tinggal di sana.


"Kenapa harus di apartemen. Kenapa nggak tinggal di villa pribadi papa kamu aja Syadzi?"


"Aku di sini mau hidup mandiri sya, bukan berarti harus pakai semua fasilitas yang sudah ada kan. Cukup bangunan coffee shop itu aja fasilitas papa yang aku pakai. Selebihnya, ya, usaha sendiri. Semua itu harus dimulai dari nol."


"O." sahut Arsya sambil menganggukkan kepalanya.


Mereka berjalan menuju lantai 4 dengan menggunakan lift.


Ruangan itu terlihat cukup lebar, kamarnya ada 3 kamar mandinya juga tersedia di dalam kamar masing-masing, sebuah dapur minimalis juga ruang tamu dengan televisi dan sofanya yang bagus.


Desain warnanya juga terlihat mewah, abu-abu tua bervariasi dengan warna putih.

__ADS_1


"Apartemen ini cukup mewah, berapa bayar sebanyak setiap bulan Syadzi?"


"Kamu cukup tinggal di sini aja untuk temenin aku, nggak usah dipikir berapa bayar sewanya. Insya Allah tabungan aku masih cukup kok untuk membayarnya tanpa harus meminta sama papa."


"Tapikan aku...."


"Udah, Aku mau ke kamar dulu ya kita tadi belum salat zuhur. Insya Allah setelah salat asar kita lanjut untuk melihat bangunan coffee shopnya."


Kata Icha sambil menepuk lembut bahu Arsya.


Gadis itu beranjak menuju kamarnya. Langkahnya terus beranjak kamar mandi untuk bersih-bersih dan berwudhu sebelum dirinya akan menunaikan salat zuhur.


Selesai sholat, Icha tidak langsung mengganti pakaian salatnya.


Rasa lelah karena perjalanan tadi membuatnya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Perlahan kedua mata itu mulai tertutup dan ia pun terlihat dalam tidurnya.


...****************...


Suasana siang yang begitu terik dengan sinar mataharinya, kini berganti dengan sore hari yang redup akan sinar matahari.


Kumandang adzan ashar yang terdengar begitu jelas dari apartemen, membangunkan Icha tadi tidur pulas yang hanya sejenak.


Waktu kini telah menunjukkan pukul 17.00 wita, selesai dengan salatnya, Ica pun segera bersiap-siap untuk pergi ke coffee shopnya.


Jaraknya tidak terlalu jauh, kurang lebih sekitar setengah jam perjalanan apabila ditempuh oleh kendaraan bermotor.


Gadis itu keluar dari kamarnya lalu kembali menguncinya setelah selesai dengan tampilannya.


Icha mengetuk pintu kamar Arsya yang bersebelahan dengan kamarnya.


Namun, saat itu tidak ada jawaban sama sekali. Ketika ia mencoba membuka pintu itu dengan perlahan, pintu kamar Arsya tidak terkunci dan bisa ia buka lalu melihat ke dalam kamar Arsya.


Ternyata saat itu Arsya sedang salat di atas sajadahnya, melihat keadaan itu pun, Icha kembali menutup pintu dan menunggu Arsyad di ruang tamu.


Setelah 10 menit Icha menunggu, akhirnya Arsya keluar dari kamarnya dengan penampilan yang rapi dan anggun.


"Maaf ya Syadzi, tadi aku ketiduran sampai nggak denger azan. Untung aja aku sempat kebangun karena dengar suara alarm dari handphoneku."

__ADS_1


Ica menyahutinnya dengan senyuman.


"Nggak papa sya. Mungkin karena kamu tadi masih kecapean."


"Memangnya kalau besok aja nggak bisa ya, kita ke coffee shopnya?"


"Aduh gimana ya sya, soalnya sore ini udah ada janji sama karyawan papa yang akan bantu aku untuk kelola coffee shop itu. Dan katanya dia udah nunggu di sana. Tapi kalau kamu nggak mau ikut juga nggak papa kok Syah, kamu istirahat aja dulu. Lagian tempatnya juga nggak jauh kok dari sini."


"Nggak ah. Aku nggak mau kalau kamu pergi sendirian, walaupun itu dekat."


menguraikan senyumannya.


"Yaudah kalau emang kamu mau ikut, ayo taksinya udah nunggu di depan."


Arsya menyahutinya dengan anggukan kepala yang juga disertai senyuman.


Keduanya keluar dari apartemen itu lalu masuk ke dalam mobil Avanza Veloz yang sudah menunggu di depan apartemen.


Tekadnya untuk berpindah ke jalur bisnis begitu kuat. Ia akan membuka lembaran hidup baru dengan tempat baru dan suasana yang baru.


Meskipun tempat itu terlalu jauh dari rumahnya, hingga membuat ia berpisah jauh dari orang tuanya.


Icha tetap dengan pilihannya, mungkin di tempat yang baru dan jauh ini, Icha bisa menghilangkan suasana lama yang telah berlabuh di hatinya.


Ia tidak ingin berharap pada siapapun lagi mengenai hati dan perasaannya kecuali hanya kepada Allah sang maha segalanya.


Walaupun rasa di hati itu sampai sekarang masih ada, Ica yakin dengan perlahan ia pasti bisa menghilangkan perasaannya itu kepada pemuda yang ia idamkan.


"Jika keimananku yang memilih dirimu?"


"Datanglah kepada orang tuaku kau mah kalau memang keimananmu yang memilihnya."


Jika mengingat itu semua, Icha semakin yakin bahwa berharap pada makhluk itu hanyalah sia-sia dan akan merugikan dirinya sendiri.


Satu bulan yang lalu ia bertemu dan berbincang dengan pemuda itu. Jika mengingat ucapannya, sama sekali tidak ada bukti kalau memang pemuda itu akan datang pada orang tuanya.


Mungkin saja ia sudah menikahi wanita luar negeri yang mencintainya dan begitu mengharapkan pemuda itu untuk menjadi pendamping hidupnya.


Tapi apakah semua itu benar? Entahlah, itu masih firasat Ica saja. Karena ia yang Tak ingin lagi mengharapkan siapapun untuk memperjuangkan dirinya.

__ADS_1


Untuk saat ini, ia tidak ingin membahas tentang perasaan dan hatinya. Ia ingin benar-benar fokus hanya pada bisnis barunya. Semoga saja semua Allah mudahkan sampai akhir.


"Ketika kamu telah menaruh harapan kepada Allah di atas segalanya, maka kelak Allah akan menghapus setiap kesedihan yang selama ini menghantui hari-harimu dan memberi kebahagiaan yang selama ini cuma bisa kamu dambakan."


__ADS_2