Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku

Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku
52. Tentang Lamaran


__ADS_3

Suara ketukan pintu dan ucapan salam dari seseorang menyadarkan Ica dari lamunannya.


Itu adalah suara mbak Dian, pasti dia datang karena akan mengajaknya sarapan pagi seperti biasanya. Ica pun mempersilahkan nya masuk ke dalam kamarnya.


"Masuk mbak."


Ternyata firasat nya itu benar, bahkan mbak Dian masuk dengan membawakan nampan yang berisikan sepiring nasi goreng dan segelas air putih untuk dirinya.


"Kenapa repot repot sih mbak. Kan nanti Syadzi bisa ambil makan sendiri kalau mau makan."


"Dari tadi mbak udah manggil non Syadzi untuk sarapan, tapi non Syadzi nya nggak keluar keluar. Mungkin non lagi istirahat jadi mbak bawa aja sarapannya ke kamar."


"Maaf ya mbak. Tadi Syadzi nggak kedengaran."


"Iya nggak papa non."


"Yasudah, ini di makan dulu." kata mbak Dian dengan senyuman nya.


Gadis itu juga membalasnya dengan senyuman nya.


"Mbak Dian udah sarapan?"


"Belum non."


"Kita makan bareng ya mbak."


"Eh... Ndak usah non, non Syadzi makan aja dulu. Nanti mbak bisa ambil makan sendiri di dapur."


"Mbak Dian jangan sungkan sungkan ya disini, anggap aja ini rumah mbak sendiri. Kalau mbak ada keinginan mau apa bilang aja sama Syadzi."


"Injih non." jawab mbak Dian sembari menundukkan sedikit kepalanya.


"Sudah, dimakan dulu nasinya non nanti keburu dingin nggak enak lagi."


Ica mengangguk dengan senyumnya.


Dengan perlahan Ica mulai menikmati nasi goreng spesial yang sudah di masak mbak Dian untuk nya.


"Syadzi mau cerita sama mbak Dian. Boleh nggak?"


Mbak Dian lalu tersenyum menatap wajahnya.


"Ya boleh toh non, memangnya non mau cerita apa?"


"Tapi mbak Dian harus kasih saran yang bagus ya buat Syadzi."


"Selagi mbak masih bisa bantu, pasti mbak bantu non."

__ADS_1


Ica lalu menghentikan makan nya dan meletakkan piring itu kembali di atas nampan yang ada.


"Loh, kenapa nggak di habiskan non nasinya?"


"Maaf ya mbak, Syadzi sudah kenyang."


"Yasudah ndak papa. Kalau sudah kenyang kan tidak bisa di paksa."


Ica kembali tersenyum menatap mbak Dian yang ada di hadapannya.


"Jadi non Syadzi mau cerita apa?"


"Mbak Dian pernah nggak di lamar sama seseorang?"


Mbak Dian tertegun mendengar pertanyaan nya, sejenak ia terdiam dan menundukkan wajahnya.


"Pernah. Memangnya kenapa non?"


"Mbak Dian kenal nggak sama orang yang melamar mbak Dian?"


"Kenal non."


"Kenapa non Syadzi bertanya seperti ini? Apa non Syadzi sedang di lamar oleh seseorang?"


Ica sejenak menundukkan wajahnya.


"Apa mbak boleh tau seperti apa laki-laki yang akan melamar non Syadzi itu?"


"Kata papa, dia adalah seorang pemuda yang baik, taat, Sholeh, sederhana dan bertanggung jawab. Dia seorang dosen muda mbak yang mengajar di kampus IAIN, umurnya 26 tahun, dia juga lulusan dari luar negeri."


"Apa non kenal sama orang nya."


Ica menggeleng sembari memajukan bibir bawahnya, seperti halnya anak kecil.


"Laki laki yang baik tidak akan pernah merusak perempuan nya. Apa yang dia lakukan itu adalah hal yang baik non, dia berani datang langsung menemui orang tua non Syadzi tanpa sepengetahuan anak perempuannya."


"Menurut mbak, tidak baik jika menolak laki laki Sholeh yang datang melamar kita. Jika kita menolak, maka Allah akan mendatangkan yang sebaliknya."


Syadzi masih memikirkan apa yang dikatakan oleh mbak Dian barusan. Apa itu benar jika kita menolak lamaran laki laki Sholeh, maka Allah kan mendatangkan kepada kita laki laki yang sebaliknya.


Jika itu benar, maka tidak ada lasan untuk Syadzi menolak lamaran itu.


"Seburuk itu resikonya mbak."


"Allah yang lebih mengetahui apa isi hati hambanya non."


"Non Syadzi itu perempuan yang cantik, baik, Sholeha, pinter, dermawan lagi. Sudah sepantasnya Allah datangkan laki-laki yang seperti itu kepada non Syadzi."

__ADS_1


"Syadzi masih takut mbak, Syadzi trauma dengan urusan percintaan. Hati Syadzi masih belum terbuka kembali setelah dua kali kehilangan."


"Non Syadzi masih punya waktu untuk berpikir, non Syadzi pasti meminta waktu kan untuk menentukan jawabannya."


Ica kembali menganggukkan kepalanya.


"Sholat istikharah non, minta ketetapan hati sama Allah. Jika memang sudah saatnya Pati Allah akan bukakan hati non Syadzi tanpa diliputi oleh ketakutan lagi."


Ica lalu tersenyum manis menatap wajah mbak Dian yang sudah seperti kakak kandungnya sendiri.


"Memangnya non yakin tidak pernah mengenal pemuda itu. Atau mungkin non pernah mengenalnya tapi non lupa. Pasti pemuda itu sudah duluan mengenal non Syadzi tanpa non sendiri sadari."


Pikiran Ica teringat kembali pada Zain, seorang pemuda yang pernah ia idamkan, memendam perasaan diam diam padanya.


Sudah berbulan bulan Ica tidak lagi mendengar kabarnya, sampai ia berpikiran jika pemuda itu pasti sudah menika dengan wanita pilihannya yang lain. Atau wanita yang pernah ia kenal saat tinggal beberapa tahun di Cordoba.


Lalu, lelaki mana lagi yang pernah dekat dengannya. Apa mungkin itu adalah Arly?


Tapi jika melihat ciri cirinya, seperti bertolak belakang dengan kenyataan yang pernah ia lihat pada Arly yang sebelumnya.


Rasa penasaran itu masih menggeluti hatinya sampai saat ini.


"Kalau Syadzi boleh tau, siapa laki laki yang pernah melamar mbak Dian. Dan kenapa mbak Dian tidak menerima lamarannya?"


Mbak Dian tersenyum sedih mendengar pertanyaan Ica barusan, seperti ada luka yang belum hilang di masa lalunya.


"Sama seperti non Syadzi, dia adalah laki-laki yang sangat baik. Mbak sendiri yang melihat kebaikan nya, bahkan tidak sedikit pun dia berani menatap wajah mbak saat saling berhadapan."


"Bukan mbak yang menolaknya non, tapi keluarga mbak yang menolak mentah mentah lamaran nya. Dia adalah laki-laki yang sederhana dengan kehidupan finansial nya, bertolak belakang dengan kehidupan mbak sebelumnya yang selalu cukup bahkan lebih dengan segala materi."


"Dia datang langsung kepada orang tua mbak untuk melamar mbak menjadi istrinya dengan segala yang ia miliki, tapi itu masih belum cukup menurut mereka. Itu adalah yang sangat menyedihkan dalam hidup mbak, sampai mbak memutuskan untuk pergi dari rumah dan meninggalkan segala fasilitas yang sudah di berikan oleh kedua orang tua mbak."


Kasihan sekali pemuda itu, pasti dia pergi dengan membawa luka yang begitu dalam, sampai dia menghilang dari kehidupan mbak Dian dan tidak pernah lagi bertemu dengan nya.


Bisa di bayangkan kalau sampai Ica melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh orang tua mbak Dian, apa dia tega menyakiti hati orang lain yang sudah berniat baik padanya.


"Mbak berharap semoga non tidak merasakan hal yang sama seperti mbak, non."


Ica masih diam di tempatnya sembari menatap wajah mbak Dian yang sudah di aliri oleh air mata.


"Maafin Syadzi ya mbak, sudah mengingatkan kembali kesedihan mbak Dian karena kehilangan sosok laki-laki yang begitu baik di hidup mbak Dian."


"Tidak apa apa non, setidaknya non bisa mengambil ikhtibar baik dari apa yang sudah mbak Dian alami."


Kata mbak Dian sembari mengusap air matanya. Dengan penuh perasaan Ica pun memeluk mbak Dian dan menenangkannya dalam pelukannya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2