Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku

Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku
47. Mengikhlaskan


__ADS_3

Keduanya kembali duduk dan melanjutkan perbincangan mereka.


Untuk sesaat, Icha menyembunyikan kesedihannya, ia mencoba menghibur dirinya sendiri dengan bercanda bersama keponakan juga sahabatnya.


"Kuliah kamu gimana ca?" tanya Kafa.


"Alhamdulillah tinggal nunggu kelulusan, doain aja semoga dapat predikat terbaik."


"Amin."


"Oh ya, kabarnya Zain gimana, kamu tadi habis dari sana kan?"


Icha sejenak terdiam.


"Kabarnya baik. Memangnya kalian belum ada silaturahim ke sana?"


"Belum, rencananya insya Allah setelah ini kami akan datang ke sana."


"Iya, datanglah ke sana, mereka semua sudah menunggu kedatangan kalian, terutama kehadirannya Ghifar."


"Gimana sayang, sudah kamu sampaikan salam kenal papa pada pemuda yang bernama Zain itu?"


"Em..."


"Maaf pa, Icha lupa. Soalnya Icha nggak ketemu langsung dengan Kak Zain, hanya melalui Asma' saja."


"Kok nggak ketemu cah? Mas Zain nya lagi nggak di rumah?" tanya Kafa.


Gadis itu kembali terdiam, raut wajahnya berubah seperti orang yang sedang kebingungan, ia juga sesekali menunduk ke bawah.


"Ca....."


"Kamu nggak lagi ada masalah kan?" tanya Zizi.


Icha mengangkat wajahnya dan kembali tersenyum, dengan perlahan ia menggelengkan kepalanya.


"Em.... Aku mau ke kamar sebentar ya." ucapnya sambil beranjak pergi.


Kafa dan Zizi saling menatap penuh penasaran. Nampak sekali kalau gadis itu sedang tidak enak hati dan butuh waktu untuk menenangkannya.


"Icha kenapa Om?"


"Om juga tidak tahu zi, sebelumnya tadi dia baik-baik saja, seperti ada yang ia sembunyikan."


"Boleh Zizi nyusul ke kamarnya Om?"


"Iya, silakan, siapa tahu dengan ada kamu dia mau cerita semua."


"Iya om." sahutnya sembari mengangguk.


"Mas, jagain Ghifar dulu ya."


Kafa mengangguk dengan senyuman.


Memasuki kamarnya, gadis itu menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.


Sesaat mungkin ingatannya yang tadi bisa hilang begitu saja, tapi sekarang semuanya kembali lagi. Kedua matanya kembali berkaca-kaca.


Ia seakan butuh tempat untuk mencurahkan semua keluh kesah yang ada di hati dan perasaannya.


"Kamu jangan membodohi dirimu sendiri Cha, kamu harus jadi wanita yang kuat. Sadar ca, sadar......"


Air matanya kembali lagi tumpah membasahi pipinya begitu saja.


"Ica..."


Zizi langsung membuka pintu kamarnya begitu saja. Ia melihat sahabatnya itu duduk di atas tempat tidurnya dengan wajah yang basah oleh air matanya.


Zizi duduk di sampingnya dan langsung memeluk tubuhnya.


"Apa yang telah terjadi cah kenapa kamu menangis seperti ini?"


Gadis itu tak bisa berkata apapun, air matanya terus mengalir.


Zizi juga berusaha menenangkannya dan membujuknya untuk menceritakan semua padanya.

__ADS_1


"Air mata ini, tadi belum sepenuhnya tumpah zi. Jadi aku akan membuatnya terus mengalir. Sampai nanti pada saatnya air mata ini tidak lagi terbuang sia-sia begitu saja."


Zizi terdiam dan kembali memeluknya.


"Sebenarnya apa yang telah terjadi ca, siapa yang sudah melukai perasaan dan hatimu? Coba ceritakan peranan-pelan sama aku."


bujuknya.


Icha menggelengkan kepalanya dengan perlahan.


"Tidak ada yang bersalah Zi, tidak ada yang menyakiti hati dan perasaan ini kecuali diriku sendiri."


Icha menegakkan wajahnya menghadap Zizi, dengan perlahan ia menghapus air mata gadis itu.


"Apa yang salah dari dirimu ca, kenapa kamu menyalahkan dirimu sendiri?"


Icha sejenak terdiam dengan tatapan yang kosong.


"Ca...."


Zizi memegang pipi gadis itu dengan kedua telapak tangan nya, menghadapkan wajahnya pada kedua matanya.


"Hei, jangan menangis seperti ini. Aku tidak kuat jika harus melihat air matamu lagi."


Icha memejamkan kedua matanya dan membiarkan satu tetes air mata kembali jatuh di pipinya.


Dengan perlahan gadis itu mulai mengatur nafasnya.


"Aku salah telah mencintai seseorang zi, aku salah karena telah mempertahankan perasaanku pada dirinya. Aku merasa kecewa pada diriku sendiri zi. Disaat aku tahu kalau dia telah dicintai oleh orang lain aku merasa begitu sakit. Cinta dalam diam ini menyiksa perasaanku sendiri."


Zizi diam dengan menatap paru pada sahabatnya itu. Wajahnya kini telah kering dari air mata. Ia berusaha untuk tegar agar air mata itu tidak keluar lagi.


"Jangan menyalahkan dirimu sendiri seperti ini ca, kamu nggak salah. Ini semua takdir.


Perasaan itu ada juga bukan karena keinginan kamu kan."


"Allah sedang menguji hati kamu. Jangan terus lemah seperti ini ca. Aku tahu kamu adalah wanita yang kuat, bahkan Allah juga pernah menguji hatimu lewat diriku."


Icha mengarahkan tatapan wajahnya pada Zizi.


"Disaat Aku mau ikhlaskan dirinya pergi, Allah mempertemukan aku dengan orang yang lebih baik darinya. Apakah kali ini aku juga akan mengikhlaskannya pergi."


"Serahkan semuanya sama Allah ca. Yakinlah jika Allah telah menyiapkan yang terbaik untuk hambanya, semakin kita dekat, semakin Allah sayang, akan semakin banyak ujian yang datang."


Zizi kembali meraih tubuh Icha dan memeluknya dengan penuh rasa haru.


...****************...


Pagi yang begitu cerah, Ica mengawali harinya dengan semangat baru.


Sudah bukan saatnya untuk terus terusan melingkup dalam kesedihan.


Hanya butuh waktu satu malam untuknya menenangkan semua pikiran yang mengganggu ketenangan hidupnya.


Gadis itu belajar melupakan perasaannya yang hanya membuat dirinya terus berharap pada makhluk.


Ia pasrah dengan ketentuan Tuhan yang tak bisa lagi ia pungkiri.


Percayalah bahwa Allah lebih mencintaimu daripada dia yang kamu cintai.


"Pak Rasyid."


"Pak Rasyid....."


"iya neng." lelaki paruh baya itu datang memenuhi panggilan Ica dari meja makan.


"Ayo kita sarapan dulu pak."


Icha masih sibuk menyiapkan masakannya yang sudah siap santap di atas meja makan.


Pak Rosyid masih saja diam, ia merasa sungkan dengan kedua majikannya, meskipun mereka sering mengajaknya makan bersama dan sudah menganggapnya sebagai keluarga sendiri.


"Iya Pak Rosyid, mari kita menikmati masakan anak gadis saya sudah lama kan, kita tidak pernah dimasakin seperti ini." sindir Fajar sambil melirik Icha yang ada di sebelahnya.


"Injih pak. Matur nuwun, tapi say tadi sudah sarapan sebelumnya."

__ADS_1


"Yah pak Rasyid, sedikit aja. Kan udah lam nggak makan masakan Ica." bujuknya dengan wajah yang memohon."


"Sebenarnya iya juga sih. Yasudah lah kalau gitu saya ikut sarapan juga."


"Nggak enak kalau ditolak rezekinya. Apalagi udah banyak masaknya."


"Nah gitu dong."


Senyuman merekah terurai indah di raut wajahnya.


Fajar juga merasa senang jika anak gadisnya kembali tersenyum seperti ini.


Senyuman itu begitu berarti, bahagianya bisa melebihi rasa senangnya saat ia dinyatakan bisa berjalan oleh dokter.


"Hari ini memangnya neng Ica nggak kuliah?" tanya Pak Rasyid.


"Nggak pak lagi ambil cuti satu hari. Insya Allah besok Icha kuliah."


"Oh iya, tiga hari lagi pada seminar di kampus Ica. yang menjadi narasumbernya adalah seorang profesor dari Kairo, Dr dari Pakistan, juga seorang mahasiswa Indonesia yang kuliah di Andalusia."


"Siapa namanya?"


"Icha juga kurang tahu sih pa, kalau ada waktu papa datang ya ke sana, Pak Rosyid juga. Temanya mengangkat tentang Runtuhnya pemuda Islam di zaman sekarang."


"Sepertinya menarik untuk di simak."


Icha mengangguk dengan senyuman.


"Pengumuman kelulusannya kapan, sayang?"


"Satu Minggu setelah seminar Pa. Adanya seminar itu juga sebagai tugas tambahan untuk para mahasiswa yang akan mengikuti kelulusan. Kami diminta untuk menyimpulkan, mendeskripsikan, lalu menyampaikannya kembali sebagai presentasi akhir. Jika penyampaiannya bagus akan sangat berpengaruh pada nilai akhir."


"Bagus juga." sahut papa.


"Semoga neng Ica bisa meraih predikat nilai tertinggi di antara semuanya."


"Amin. Terima kasih pak Rasyid atas doanya."


"Sama-sama neng."


"Maaf ya neng Bapak mau tanya lagi. Setelah kelulusan nanti, neng Icha mau lanjut kuliah,


atau kerja atau menikah?"


"Setelah pengennya sih kuliah lagi pak, tapi sepertinya Icha pengen ngerasain kerja sebentar di perusahaan papa.


Boleh ya pa."


Kedua matanya melirik ke arah Fajar.


"Memangnya kamu sudah yakin ingin bekerja?"


"Iya pa. Ica ingin mencoba dunia bisnis, siapa tahu ada kemampuan Ica di sana."


"Boleh juga kalau gitu. Kebetulan sekali papa lagi ada proyek baru. Papa ingin mendirikan sebuah coffee shop islami. Siapa saja yang datang ke sana harus berbusana islami dan semua interior bangunan, pekerja sampai juru masaknya juga bernuansa islami yang mengandung unsur sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga dengan gaya anak muda."


"Siapa tahu dengan berjalannya coffee shop islamic ini, banyak anak muda yang tertarik dan mengubah cara hidup mereka bukan hanya dengan style kekinian tapi juga dengan yang mengandung unsur Islamiah."


"Ide papa bagus, Ica jadi tertarik."


"Iya, bisnis ini pas sekali untuk kamu, jika kamu ingin menjalankannya. Karena kamu kan pernah tinggal di pesantren juga di dunia luar, jadi kamu lebih tahu apa-apa saja yang harus dibuat pada coffee shop itu yang lebih mengandung unsur Islami."


Icha mengangguk dengan senyumannya.


"Dimana papa akan mendirikan coffee shop itu?"


"Di Kalimantan, bangunannya sudah tersedia hanya tinggal mendesain isinya saja."


"Alhamdulillah, tempatnya jauh. Jadi aku bisa memulai hidup baru di sana dan melupakan semua kenangan di pulau Jawa ini."


"Gimana? Kamu sudah siap untuk memulainya?"


Icha mulai mengatur nafas nya.


"Bismillah, insyaallah Ica siap." jawabnya dengan senyum penuh semangat.

__ADS_1


"Pada akhirnya, ikhlas itu berkaitan dengan jarak MU dan Tuhan. semakin dekat seseorang dengan pencipta Nya, maka semakin mudah ia menerima segala ketetapan Nya."


__ADS_2