Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku

Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku
36. Kabar Duka


__ADS_3

"Sepertinya dia suka sama kamu, Zain."


Rayhan mengeluarkan pendapatnya.


Zain menatap wajah Rayhan sembari membulatkan kedua matanya.


"Kamu itu ada ada saja, mana mungkin dia suka sama aku. Lagian kamu tau dari mana sih?"


kata Zain yang menepisnya.


"Lah kok nggak percaya. Dari sikap dia sama kamu, dia itu lebih care sama kamu, lebih nyaman sama kamu, masa kamu nggak peka sih Zain dengan orang yang punya perasaan sama kamu."


"Itu hanya perasaan kamu saja Ray. Aku nggak ada perasaan apa apa sama dia, aku biasa aja. Ya aku anggap dia hanya teman biasa, nggak lebih." jawabnya.


"Maheira itu perempuan cantik, pintar, berprestasi, baik lagi. Bisa ya kamu nggak tertarik sama dia."


Zain menanggapinya hanya dengan senyuman.


"Hati itu bukan milik kita sendiri, jadi terserah yang punya hati, dengan siapa Dia akan menjatuhkan hati kita."


jawaban Zain langsung membuat Rayhan terdiam.


Hening......


"Kalau kamu suka sama dia jaga hati kamu, nggak usah lama-lama. Kalau memang sudah siap, datangi terus orang tuanya, biar nggak timbul fitnah."


Kata Zain sembari menepuk bahu Rayhan.


...****************...


Waktu itu berputar dengan begitu cepat.


Kata orang waktu itu mahal dan berharga. Waktu tidak bisa dibeli dengan apapun, karena mahalnya waktu tidak bisa dijangkau oleh uang. Waktu juga berharga, karena waktu akan terus berlalu dan tidak bisa kembali seperti sebelumnya.


Setiap orang yang berpisah dengan orang yang paling dia sayangi, pasti akan merasakan yang namanya rindu, apalagi keberadaannya yang jauh dan tidak bisa dijangkau oleh diri sendiri.


Annisa duduk sendiri di depan kamarnya ia melambangkan sesuatu ia merasa kan gelisah dengan keadaan orang tuanya yang ada di sana.


"Ica." Dina datang menghampirinya.


Gadis itu tersadar dari lamunannya.


"Melamun lagi?"


Ica hanya menunjukkan senyumannya.


"Aku lagi rindu sama mereka Din."


jawabnya.


"Siapa?"


"Mama sama papa."


Gadis itu terdiam lagi, wajahnya menunduk. Melihat sahabatnya sedang bersedih Dina pun mengusap bahunya dan mencoba untuk menenangkannya.


"Kira kira mereka rindu juga nggak sama Ica, Din." Gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Dina.


Harapan Icha begitu besar pada orang tuanya yang jauh di sana.


"Yang namanya orang tua, apalagi punya seorang anak, udah gitu keduanya terpisah jauh pasti akan sama-sama merasakan kerinduan Cha."


"Sabar ya kamu kamu harus banyak berdoa untuk mereka agar Allah membukakan hati mereka. Udah dong jangan sedih lagi kan baru dapat juara umum." bujuk Dina sembari menegakkan kepalanya.


Icha menunjukkan senyumannya dan mengusap air mata yang sudah membasahi pipinya.

__ADS_1


"Nah gitu dong."


Kesedihannya sedikit pudar karena telah dihibur dengan salah satu sahabatnya.


"Assalamualaikum."


rumah tiba-tiba datang menghampiri keduanya. Mereka pun bangkit dari duduknya.


"Waalaikumsalam". jawab keduanya.


"Annisa."


"Iya ummah."


Wajah rumah sedikit muram seperti ada yang akan disampaikan dan ada juga yang sedang disembunyikan.


"Ada yang akan ummah tunjukkan sama kamu." kata beliau.


Meraka tidak paham dengan perkataan ummah keduanya saling menatap wajah.


"Bisa ikut ummah sebentar kan".


"Bisa ummah." jawab Icha sembari menganggukkan kepalanya.


"Dina boleh ikut, ummah?" tanya Dina karena dirinya yang merasa khawatir dengan sahabatnya.


Ummah hanya mengangguk dengan senyuman.


Ummah dan Abuya mengajak Icha pergi ke sebuah tempat yang mungkin kita sendiri tidak akan menyangka kalau dirinya akan pergi ke tempat itu.


Mereka pergi dengan menggunakan mobil pribadi milik Abuya, keduanya tidak memberitahu apapun pada Icha kemana tujuan mereka akan pergi.


Setelah melakukan perjalanan sedikit lama akhirnya mobil mereka berhenti di tujuan. Perasaan berubah menjadi tidak karuan, ketika mengetahui tujuan mereka adalah sebuah rumah sakit.


Dina juga menggeleng tidak tahu.


"Icha, ayo keluar nak." kata ummah.


Icha membuka pintu mobilnya dan keluar dari sana bersama dengan sahabatnya.


"Kenapa kita kesini, ummah?" tanya gadis itu.


ummah terdiam sejenak.


"Nanti juga kamu akan tahu sendiri, sayang."


jawab beliau.


Gadis itu semakin takut dan khawatir dalam keadaan yang sekarang ini. Apa yang terjadi? tiba-tiba dibawa ke tempat ini. Apakah ini ada hubungannya dengan kedua orang tuanya?


Mereka terus berjalan menelusuri rumah sakit itu. Sebelumnya ummah terlebih dahulu mendatangi resepsionis dan meminta keterangan pada nya. Setelah itu mereka kembali berjalan dan sampai di ruang IGD.


"Sebenarnya ini ada apa umah kenapa Ica bawa ke sini?" tanya Icha jangan wajahnya yang semakin cemas. Ummah masih terdiam, dan tidak sanggup untuk memberitahunya.


"Ica....".


seorang wanita yang baru keluar dari IGD datang mendekatinya.


"Zizi! Ada apa ini? Kenapa kamu ada di sini? Apa yang terjadi?"


Zizi menatap wajah sahabatnya itu, ia merasa tidak sanggup untuk memberitahukan kabar yang sebenarnya, namun tidak ada pilihan lain, sekarang ini dia sudah ada di rumah sakit.


"Orang tua kamu kecelakaan ca, keadaan mereka sekarang kritis." beritahu nya dengan suara yang begitu merendah.


Gadis itu tak bisa berkata apapun lagi saat ini, mendengar kabar buruk itu ia langsung lari dan masuk ke dalam ruangan IGD.

__ADS_1


Rasa gelisahnya terjawab sudah, kerinduannya juga terbalas sudah. Kabar duka itu seakan menyayat hatinya.


"Mama....papa..."


Suara panggilannya itu terdengar begitu lirih, ia tak bisa lagi menahan kesedihannya saat melihat kedua orang tua yang begitu ia sayangi terbaring lemah tak sadarkan diri, dengan keadaannya yang sangat memprihatin kan.


Sebuah pesawat dari Jerman tujuan Indonesia mengalami kecelakaan berat saat akan melandas di bandara. Banyak korban yang berjatuhan dan mengalami luka parah. Sebagian korbannya ada yang masih bisa terselamatkan dan sebagian lagi sudah dinyatakan meninggal dunia.


Kabar kecelakaan itu rumah dapatkan dari Zizi dan Kafa suaminya. Saat melihat berita di TV, Kafa mengenali salah satu korban yang masih bisa terselamatkan walaupun dalam keadaan yang begitu parah. Mereka langsung pergi menuju rumah sakit dan ternyata, orang yang dikenalinya itu adalah kedua orang tua Ica sendiri.


Zizi bergegas memberikan kabar itu pada ummah agar ummah tidak berkata apapun dan langsung membawa Ica datang ke rumah sakit.


"Kenapa keadaan mereka bisa seperti ini Zi, apa yang terjadi dengan keduanya?"


Air mata itu terus mengalir membasahi kedua pipinya, wanita yang ada di hadapannya juga tak bisa membendung kesedihannya.


"Pesawat yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan, ca."


"Untung saja, Mas Kafa masih bisa mengenali orang tua kamu. Dan nyawa mereka masih bisa terselamatkan sekarang." jawab Zizi.


Icha mengarahkan kata tanya pada lelaki yang berdiri di ujung sana dengan baju kemejanya.


"Mohon maaf, Pak ,Bu. Pasien masih akan menjalani perawatan yang intensif. Jadi kami mohon agar kiranya untuk bisa keluar, nanti kalau keduanya sudah membaik akan kami persilahkan lagi untuk masuk ke dalam."


Salah satu perawat berhijab mendatangi mereka.


Mereka pun mengangguk dan berjalan keluar dari ruangan.


"Tolong selamatkan kedua orang tua saya ya Mbak, berikan yang terbaik untuk mereka." kata Icha yang memohon pada perawat itu.


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Tugas kami hanya menolong dan menyelamatkan, selebihnya semua serahkan pada Allah subhanahu Wa ta'ala, karena hanya Dialah yang berhak untuk menghendaki sesuatu." jawab perawat itu.


"Terima kasih, mbak."


"Sama sama."


Icha pun kembali melanjutkan langkahnya bersama dengan kedua sahabat yang berada di sampingnya, keluar dari ruangan itu.


ummah, Abuya dan juga Kafa , mereka sudah ada di ruang tunggu.Tatapan mereka semua beralih pada Icha yang baru keluar dari ruangan.


Icha terlihat sangat lemah saat itu matanya terlihat sembab dan wajahnya berubah menjadi pucat. Gadis itu seakan kehilangan energinya, ia pun duduk bersebelahan dengan mereka.


"Kalau Icha untuk sementara waktu ada di sini bolehkan ummah, Ica ingin menjaga mereka sampai mereka bangun."


kata Ica yang memohon pada ummah.


"Boleh sayang, kamu boleh tinggal sementara di sini untuk menemani mereka. Tapi kamu juga harus jaga kesehatan jangan sampai kamu yang sakit."


Icha hanya mengangguk.


"Maafin ummah ya, kalau tadi omah tidak memberitahu kamu dulu sebelumnya."


"Tidak apa-apa ummah, Icha ngerti kok." jawabnya.


"Ummah sama Abuya pulang dulu ya, kamu jaga diri di sini. Ada Zizi dan Kafa yang akan menjaga dan menemani Ica di sini."


Icha kembali mengangguk Dan tersenyum


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Ummah dan Abuya bersama dengan Dina pergi dari rumah sakit itu dan meninggalkan mereka bertiga di sana.


.

__ADS_1


__ADS_2