Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku

Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku
53. Sebuah Jawaban


__ADS_3

Setelah selesai salat tahajud di sepertiga malam nya, Ica kembali terlelap dalam tidurnya di atas bentangan sajadah sholatnya. Kumandang adzan subuh yang terdengar begitu jelas dari kamarnya membangunkan Ica dari tidur lelapnya yang hanya sejenak. Gadis itu beranjak ke kamar mandi untuk berwudhu sebelum ia menunaikan sholat shubuh nya.


Azan shubuh telah selesai berkumandang,Ica mulai berdiri tegak di atas sajadahnya. Dua rakaat sholat Sunnah sebelum sholat subuh telah selesai ia tunaikan terlebih dulu.


Karena keutamaan nya melebihi dunia dan seisinya.


Selesai sholat Sunnah, Ica kembali berdiri menunaikan sholat fardhu nya. Sholat yang paling berat di lakukan di antara lima waktu sholat.


Banyak manusia yang lalai dengan waktu sholat ini, padahal Allah telah meletakkan kemuliaan seseorang mukmin pada sholat shubuh dan sholat isya nya.


Tak jarang manusia yang melalaikan waktu tersebut karena kesibukan dan kemalasannya lebih besar dari sholat lainnya.


Selesai sholat subuh, Ica mengambil mushaf Alquran nya yang ada di atas meja. Ia memuroja'ah hafalannya yang sudah 15 juz.


Juz ke 14 surah Al Hijr yang saat ini ia muroja'ah.


Di balik kesibukannya, gadis itu selalu menyempatkan waktu untuk muroj'aah hafalan walaupun hanya 5 lembar, karena ia tidak ingin kehilangan sesuatu yang sudah sangat sulit ia dapat kan.


Jam enam pagi, Ica selesai muroja'ah hafalannya dan bersiap siap untuk pergi ke coffee shopnya yang akan di buka pada jam sembilan nanti.


"Sarapan dulu non sebelum berangkat."


Sapa mbak Dian yang sedang menyiapkan sarapan di atas meja makan.


"Iya mbak, Syadzi mau pakai jilbab dulu." sahutnya.


Gamis berwarna hitam variasi warna denim dengan jilbab panjangnya yang juga berwarna denim, terlihat begitu anggun saat dipakai olehnya.


"Masya Allah sudah rapi, anggun sekali, mbak suka lihat non Syadzi pakai baju ini."


Gadis itu menguraikan senyumnya.


"Terima kasih mbak."


"Ayo makan dulu non."


Ica pun duduk di kursi yang telah di hadapkan dengan menu sarapan yang berbagai macam.


"Tumben mbak masak banyak sekali pagi ini."


"Iya dong non. Kalau siang kan non Syadzi tidak makan di rumah."


"Jadi mbak Dian mau suruh Syadzi makan sekalian untuk siang."


"Ya... Gitu lah non. Kan sekali sekali nggak papa toh non." kata mbak Dian dengan senyumannya.


Sebuah deringan dari ponsel ku terdengar, menandakan adanya panggilan masuk.


"Papa." nama yang tertera di layar ponselnya.


Hatinya langsing berdesir ketika melihat nama yang tertera di layar nya itu.


Sudah menjadi firasatnya, pasti papa akan menelpon nya dan kembali menanyakan tentang jawabannya.


Karena waktu tiga hari itu sudah lah berakhir.


Ica berusaha menenangkan perasaan nya yang tak karuan saat akan mengangkat telponnya.

__ADS_1


"Assalamualaikum."


Ica membuka sambungan telponnya dengan mengucapkan salam terlebih dulu.


"Waalaikumsalam. Nak."


"Ada apa pa." Ica bertanya seolah tidak tau apa maksud papanya.


"Bagaimana dengan jawabanmu nak?"


Lirikan kedua matanya mengarah ke wajah Mbak Dian.


gadis itu sejenak terdiam. Mbak Dian pun menatap wajahnya. Menganggukkan perlahan kepalanya. Meyakin kan kepada Ica untuk menerima lamaran itu.


Malam pertama istikharah, Ica belum mendapatkan jawaban apapun. Begitu juga dengan malam selanjutnya.


Hatinya semakin bergetar ketika memasuki malam ketiga. Dan jawabannya adalah.


"Ica, papa masih bicara sama kamu kan nak?"


"Iya pa." jawabnya sedikit gugup.


Ica mulai mengatur nafasnya dengan perlahan.


"Insya Allah pa. Insya Allah Syadzi siap menerima lamaran itu." Ica berkata sembari memejamkan sejenak kedua matanya.


"Alhamdulillah." suara papa terdengar lega dan bahagia saat itu.


Mbak Dian juga merasakan hal yang sama seperti papanya.


...****************...


Seorang gadis bersama dengan temannya keluar dari mobil itu lalu masuk coffee shop.


Terlihat dari jauh, sepertinya Ica mengenali salah satu dari keduanya.


"Fitri." gumamnya.


Ica pun beranjak menghampiri mereka.


"Assalamualaikum." Ica menyapa nya duluan.


"Waalaikumsalam."


"Kamu Fitri kan?"


Sejenak gadis itu menatap Ica dengan seperti sedang mengingat sesuatu.


"Mbak Ica ya."


Ica mengangguk dengan senyuman.


Fitri pun lalu menyalami tangan Ica dan menciumnya sebagai rasa hormat nya.


Mereka duduk di meja no 10 yang sudah mereka pesan duluan.


"Jadi coffee shop ini milik mbak Ica."

__ADS_1


"Alhamdulillah, iya Fit." jawabnya dengan penuh senyuman.


"Masya Allah, mbak sekarang sudah jadi pengusaha."


Ica kembali menguraikan senyumannya.


"Fitri sering datang kesini selama coffee shop ini dibuka. Tapi Fitri tidak pernah bertemu langsung dengan owner. Alhamdulillah sekarang Fitri sudah berhadapan langsung dengan sang owner coffee shopnya."


Ica kembali tersenyum yang diiringi dengan tawa kecilnya.


Saat berbincang dengan Fitri ketika itu, Ica ingat kalau Fitri adalah salah satu mahasiswi IAIN Salatiga.


Terlintas dalam dipikirannya untuk bertanya mengenai dosen muda itu, pasti sedikit banyaknya Fitri kan tahu mengenai dosen di kampusnya.


"Kamu masih kuliah di IAIN kan Fit."


"Alhamdulillah masih mbak. Insyaallah tiga semester lagi Fitri selesai S1."


"Alhamdulillah."


"Kalau Asma' gimana? Dia masih di sana juga kan?"


"Alhamdulillah masih mbak. Tapi beberapa bulan ini sedang melakukan penelitian di Malaysia. Insyaallah dalam Minggu ini penelitian nya selesai dan Asma' akan segera kembali ke Indonesia, karena kan dia juga akan mengurus persiapan untuk pernikahan abangnya. Mas Zain, mbak."


Deg.... hatinya kembali terguncang saat mendengar nama itu lagi.


"Abangnya Asma' akan menikah? Dengan siapa?"


"Kalau itu Fitri kurang tahu mbak, yang jelas mungkin dalam waktu dekat ini, pernikahan mereka akan dilangsungkan."


Kenapa hatinya begitu perih saat mendengar pernyataan itu. Dengan siapa pemuda itu akan menikah? Kenapa waktunya juga sama dengan waktu pernikahannya nanti. Apakah mereka akan menikah di waktu yang sama dengan pasangannya masing-masing.


Berarti firasatnya selama ini yang mengira bahwa Zain telah menikah tidak lah benar.


Selama ini ia mengira bahwa Zain telah membangun kehidupan baru pernikahan nya dengan wanita pilihannya saat itu.


Ica ingin sekali bertanya lagi mengenai dosen itu, tapi entah kenapa rasanya berat sekali bibir itu bergerak untuk menanyakannya.


Biarlah rasa penasaran ini ia pendam sampai nanti ia akan bertemu langsung dengan nya di hari pernikahan nya.


Tiga gelas juz alpukat susu dingin mengiringi perbincangan mereka saat itu.


"Mbak kok melamun?"


Ica tampak sedikit gugup saat ditanya oleh Fitri.


Ica hanya menjawabnya dengan senyuman.


"Kamu udah berapa lama tinggal di Kalimantan?"


"Em.. Sekitar tiga bulan mbak."


Ica kembali mengangguk.


Ketika ia akan kembali bertanya pada Fitri mengenai hal yang tadi, saat itu juga Fitri beranjak dari coffee shop itu karena ada kabar mendadak yang masuk dari ponselnya.


Niat hati, Ica ingin mengundang Fitri untuk datang di hari pernikahannya, namun apalah daya jika ia sendiri belum tau siapa sebenarnya calon suami yang akan mendampinginya di hari pernikahan nanti.

__ADS_1


Setelah Fitri dan rekannya pergi, Ica masih duduk sendiri sembari menatap kepergian tamunya.


Hanya dengan pikiran tak menentu juga rasa penasaran yang terus menggeliat di benaknya.


__ADS_2