
Rasa pedih itu masih ada, padahal itu adalah luka di masa lalu. Itulah yang masih dirasakan kaffah hingga saat ini.
Rasa cinta itu telah hilang, segala sisi pergi meninggalkannya dan lebih memilih Zain daripada dirinya. Namun sekarang berbalik lagi padanya, takdir Allah telah menentukan dirinya untuk kembali bersama Zizi.
Apakah rasa cinta yang tulus itu bisa kembali juga?
"Zizi.."
suara Kafa terdengar memanggilnya.
Zizi yang saat itu sedang berbincang dengan Dita langsung saja mengarahkan pandangannya ke sumber suara.
"Ada apa mas?"tanyanya yang datang menghampiri.
"Aku mau bicara sebentar sama kamu."
"Sebentar ya mas, Zizi ngomong sama mama dulu."
Kafa hanya mengangguk dengan senyumannya.
"Aku tunggu di luar ya."
"Iya."
Zizi beranjak mendatangi Dita, lalu keluar dan menemui Kaffa yang sudah menunggunya.
"Mau bicara apa mas?"
pemuda itu mulai mengatur nafasnya.
"Kamu jangan salah paham ya zi, dengan sikapku yang seperti ini sama kamu."
Zizi menguraikan senyumannya sekilas.
"Aku ngerti kok apa yang masih kamu rasakan."
kata Zizi yang memahami perasaan Kafa saat ini.
"Aku sama sekali tidak pernah membenci kamu zi, aku hanya membutuhkan waktu untuk bisa menghilangkan rasa pedih yang pernah ada di masa lalu."
Zizi terdiam sembari menundukkan wajahnya.
"Tolong beri aku waktu ya zi."
"Maaf kan aku mas, karena aku yang telah membuat luka pedih itu."
Kafa menatap gadis yang ada di hadapannya itu yang sedang menundukkan wajahnya.
"Lupain aja, semuanya sudah berlalu."
Keheningan melanda keduanya.
"Apakah ada wanita lain yang kamu cintai, sebelum kamu menerima perjodohan ini?"
Zizi mengeluarkan pertanyaan yang dari tadi mengganjal di hatinya.
Tidak ada lagi yang perlu di tutupi, Zizi juga harus tau jika pemuda yang ada di hadapannya ini pernah menjadi milik sahabatnya.
"Ada."
"Apakah aku boleh tau, siapa wanita itu?"
Kafa menghela nafasnya panjang.
"Dia adalah sahabat kamu, orang yang paling dekat denganmu, Icha. aku pernah mencintai Icha."
__ADS_1
"Dan mungkin perasaan itu saat ini juga masih ada."
Deg!
Rasa bersalah mulai menyelimuti hati Zizi. Tanpa sengaja dia telah melukai perasaan sahabatnya sendiri, ada apa ini, kenapa selama ini dia tidak tau jika sahabatnya itu menyimpan rasa pedih karena dirinya.
"Ica.."
Zizi mengulangi perkataannya.
Kak hanya mengangguk kan kepalanya.
"Dulu, sebelum aku mengenal Ica, ada dua wanita yang paling aku cintai dalam hidupku, namun salah satu dari mereka meninggalkan aku dan itu memberikan luka yang sangat perih sampai saat ini."
Perkataannya itu langsung membuat jantung Zizi berdetak sangat kencang. Zizi mengangkat wajahnya dan menatap mata itu. gadis itu mendadak bungkam saat itu.
"Tapi itu terjadi karena kebodohanku sendiri, aku malah membiarkan cintaku pergi begitu saja tanpa ada usaha untuk memperjuangkannya."
Zizi masih diam dengan wajahnya yang terus menunduk.
"Apakah aku masih punya kesempatan untuk kembali mendapatkan cinta mu lagi, mas?" Zizi bicara dengan suaranya yang merendah.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
Zizi kembali terdiam, ia tidak tau harus berkata apa lagi. Wajahnya hanya terus menunduk karena tidak berani untuk menatap wajah itu.
"Eh... ternyata kalian ada di sini." Dita yang dari tadi mencari keberadaan mereka, akhirnya datang dan menemui keduanya, mengganti suasana yang tadinya tampak garing.
Wajah keduanya tertuju pada Dita.
"Lagi ngomongin apa?" Mama boleh kan ikutan?"
Dita duduk di antara keduanya.
Kafa dan Zizi sama sama diam, keduanya hanya menunjukkan senyumannya masing masing.
...****************...
"Assalamualaikum."
Zain datang ke rumah kyai seorang diri, tidak seperti biasanya.
"Waalaikumsalam." kyai datang menghampiri Zain yang masih ada di depan pintu.
"Zain, ada apa nak?"
"Ada yang ingin Zain bicarakan sebentar, Abuya. Maaf kalau Zain mengganggu Abuya."
"Oh, mari silahkan masuk Zain."
Dengan dipersilahkan oleh kyai akhirnya Zain pun masuk ke dalam rumah kyai.
"Ada hal penting apa yang ingin kamu bicarakan Zain?"
Zain terlihat sedikit gugup ia tak tahu harus memulainya dari mana dulu.
"Em... begini Abuya."ucapnya yang masih gugup dengan keringat dingin.
"Ada apa Zain?"kyai mengulangi pertanyaannya.
"Zain ingin membicarakan tentang beasiswa Icha yang sudah dibatalkan dari sana langsung Abuya, karena ada sedikit masalah."
"Memangnya ada apa Zain, dengan kebakaran beasiswa Icha?"
"Em... sebenarnya saya ingin memberi usulan Abuya, bagaimana kalau Icha tetap berangkat tapi dengan beasiswa saya, apakah itu bisa Abuya?"
__ADS_1
Abuya sejenak terdiam
"Maksudnya Zain? kamu ingin memberikan beasiswa milik kamu untuk Icha, begitu?"
desain mengganggu dengan penuh keseriusan.
Abuya menghela nafasnya.
"Setahu abuya, dari dulu kamu sangat bekerja keras untuk bisa mendapatkan beasiswa itu. Tapi kenapa sekarang kamu malah akan memberikannya pada orang lain Zain?"
"Apakah kamu sudah tidak berniat lagi untuk bisa belajar di sana?"
Pertanyaan dari kyai sedikit menggetarkan hatinya. karena memang dari dulu Abuya adalah sebagai saksi dari perjuangan dirinya untuk bisa mendapatkan beasiswa itu.
Zain kembali terdiam dengan wajahnya yang menunduk ke bawah.
"Beasiswa itu memang impian terbesar Zain Abuya, tapi saya tidak tega jika melihat orang lain kehilangan mimpi terbesarnya juga. karena Zain tahu bagaimana perjuangan untuk bisa mendapatkan itu semua."
"Jadi, lebih baik Zain yang mengalah. karena Zain ingin menolong orang lain untuk bisa mewujudkan impiannya."
"kamu ingin menolong orang lain, tapi diri kamu sendiri tidak tertolong, itu bagaimana Zain?"
"Itu adalah sebuah pengorbanan Abuya, siapa tahu setelah ini ada rencana Allah yang lebih baik lagi untuk Zain."
Zain berkata dengan penuh senyumannya.
kyai hanya menganggukkan kepala.
"Pengorbanan kamu untuk Icha begitu besar, mereka semua yang akan berangkat ke Cordoba hanya bisa memberikan rasa ibanya karena kegagalan Icha untuk berangkat bersama mereka, tapi di antara mereka tidak ada satupun yang berkorban seperti kamu."
"Apakah kamu ada perasaan sama Icha Zain?"
Zain langsung mengangkat wajahnya, saat mendengar pertanyaan dari kyai, pertanyaan beliau itu berhasil membuat jantung Zain berdegup begitu kencang.
"Sebuah perasaan? apakah itu yang aku rasakan saat ini? astaghfirullahaladzim. ya Allah, bantulah hamba untuk bisa menjaga hati dan perasaan ini hanya kepada-Mu."
"Zain..."
panggilan dari Abuya menyadarkannya dari lamunan nya.
"Iya, Abuya."
"Kamu belum menjawab pertanyaan Abuya tadi."
"Em... maaf Abuya, Zain melakukan semua itu bukan karena sebuah perasaan, tapi karena memang niat Zain dari awal ingin membantu saudara seiman. Hanya itu saja Abuya."
"Kalau soal perasaan Zain belum bisa beri jawaban sekarang karena Zain masih belum yakin Abuya."
jawabnya dengan to the point.
Abuya kembali melakukan kepala dengan diiringi senyuman.
"Lalu, jika ada orang lain yang mengalami hal sama dengan Ica, apakah kamu juga akan melakukan hal yang sama seperti ini?"
"Insyaallah, jika Allah memberi kemudahan Zain pasti akan melakukan hal yang sama Abuya."
"Alhamdulillah niat kamu yang ini sangat baik Zain.Tapi kamu mengambil keputusan ini sudah kamu pertimbangkan kan Zain?"
"Insyaallah sudah Abuya. Zain sudah mempertimbangkannya dan sudah ikhlas Abuya."
"Keputusanmu ini nanti biar Abuya musyawarahkan lagi dengan ustaz dan ustadzah yang bertugas mengurus beasiswa santri."
"Alhamdulillah terima kasih banyak Abuya."
ucapnya dalam perasaan yang begitu lega.
__ADS_1
"Sama sama Zain."
Kini hatinya terasa begitu lega saat ia sudah menyampaikan niat baiknya pada kyai untuk membantu Icha, sesuai dengan pesan ibunya.