
Dua hari telah berlalu, besok seminar tahunan itu akan digelar, tepatnya di kampus Islam Jakarta.
Seminar tahunan itu mendatangkan narasumber dari luar negeri profesor Ahmed Jailani dari Kairo Mesir, Dr Ridwan Abdul Aziz dari Pakistan, juga seorang mahasiswa Indonesia yang kuliah di Andalusia Cordoba.
Mahasiswa itu baru lulus dan menyelesaikan maskernya dengan tertinggi di Andalusia mewakili mahasiswa Indonesia.
Sebelum nya iya juga sering menjadi narasumber dalam seminar di Andalusia yang mewakili mahasiswa Indonesia.
Namanya Muhammad Zainal Adnani, nama yang sudah tidak asing lagi didengar bagi siapa saja yang mengenal dirinya.
"Seminar nya diadakan di kampus UIN Jakarta. Kalau nggak salah ini adalah kampusnya Mbak Icha."
"Berarti Mas akan ketemu Mbak Icha dong di sana."
"Kamu serius?"
"Ya serius toh mas. Asma' kan pernah datang ke sana sebelumnya. Kampus itu memang sering mengadakan semangat tahunan, tahun ini yang akan menjadi narasumbernya adalah masa Zain dan yang jadi mahasiswi pilihannya adalah Mbak Ica. Bukankah itu akan menjadi sebuah jawaban jika mas itu bisa bertemu kembali tanpa adanya sebuah perencanaan."
Zain hanya terdiam dan menghela nafas panjang nya.
"Jika nanti mas bertemu dengan Mbak Icha, apa yang akan mas katakan padanya?"
"Entahlah As, untuk melihat wajahnya saja aku tidak sanggup, apalagi berbicara langsung dengan nya."
"Aku merasa begitu bersalah padanya. Aku tidak ingin jika nanti Dia melihatku, air matanya akan kembali mengalir."
"Justru itu mas, mas tebus rasa bersalah Mas dengan memperjuangkannya dan berkorban untuk mendapatkannya. Jika Mas terus-terusan seperti ini apa mas bisa hidup dengan tenang?"
Zain kembali terdiam dan mencoba memikirkan perkataan adiknya.
"Mengenai wanita yang bernama Mei itu bagaimana? Keputusan apa yang akan Mas berikan padanya?"
"Dia memberikan emas waktu 1 bulan untuk berpikir dan memberi keputusan terbaik."
"Kalau gitu pilihlah dengan hati dan keimanan Mas, mas masih punya banyak waktu, jangan mengecewakan diri sendiri, dan jangan khianati perasaan mas sendiri. Asma' akan selalu ada untuk membantu Mas Zain dengan semampu Asma'."
Pemuda itu menguraikan senyuman pada adiknya, disaat seperti ini, ia bersyukur karena keluarganya selalu ada untuknya terutama adik perempuan kesayangan nya.
...****************...
Hari itu pun tiba, sebagai seorang narasumber dalam seminar tahunan itu Zain sudah menyiapkan penampilannya dengan sangat rapi. Kali ini ia pergi dengan ditemani oleh adiknya.
"Bu, Zain pamit dulu ya, doain semoga semuanya berjalan lancar."
"Iya le, ibu akan selalu doain."
Bu Husna mengusap lembut kepala putranya itu.
"Zain juga pamit ya Pak, doain juga ya pak."
"Insya Allah, tanpa kamu minta pun bapak sama ibu akan selalu mendoakanmu sampai kapan pun."
Zain menguraikan senyumannya.
"Adikmu mana?"
"Biasalah Bu, perempuan itu kan memang banyak ribetnya kalau pergi."
Pak Ilham mengangguk dengan senyumannya seorang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Putra nya.
"Asma'."
"Ndalem Bu."
"Cepat nduk, mas mu mau pergi nih."
"Injih Bu, Asma' lagi pakai sepatu. Sebentar lagi selesai, Asma' langsung keluar."
Zain menghela nafasnya dengan senyuman.
"Tuh kan Bu, bener, dari tadi siap-siapnya, ujung-ujungnya lama juga."
__ADS_1
"Apa toh mas, ribut banget. Nih kan Asma' udah selesai."
cetus Asma' yang baru datang di hadapan mereka.
"Tumben kamu cantik."
"Asma' kan memang sudah cantik dari lahir."
ucapnya dengan penuh rasa percaya diri.
"Sok tahu banget kalau memang cantik baru lahir, memangnya kamu keluar sekalian bawa cermin?"
Asma' langsung menepuk bahu Zain dengan wajah yang cemberut.
"Nggak bisa banget sih nyenengin adiknya sekali aja. Nyebelin banget."
"Udah. Jangan saut sahutan lagi, udah jam berapa nih?Kalian itu harus on time." tepis Bu Husna.
"Iya Bu, Mas Zain ini nyebelin."
"Yaudah ayo buruan, jangan ngadu lagi."
Zain sudah terlebih dulu berjalan keluar rumah. Asma' pun menyalami tangan kedua orang tuanya dan mengikuti langkah Zain dari belakang.
Jam 08.00 pagi sama siswa teladan sudah sampai duluan. Satu jam sebelum acara seminar akan dimulai.
Ia ingin tahu siapa saja yang akan menjadi pembicara pada acara seminar tahun ini.
"Professor Ahmed Jailani LC, doktor Ridwan Abdul Aziz dari Pakistan, Muhammad Zainal Adnani?...."
Gadis itu kembali memastikan penglihatannya saat membaca nama pembicara yang ketiga.
"Jadi, mahasiswa Indonesia yang kuliah di Andalusia, juga sebagai salah satu pembicara adalah Kak Zain...."
Icha menghela nafasnya.
"Syadzi, ayo buruan."
"Kemana?"
"Kenapa cepat sekali, bukannya dijadwal seharusnya satu jam lagi?"
"Aku juga tidak tahu janji mungkin ada perubahan mendadak."
Gadis itu kembali menghela nafasnya.
Ia pun berjalan mengikuti temannya kaki dari belakang. Untung saja ia datang lebih awal, jadi jika ada perubahan jadwal seperti ini, dia tidak akan terlambat dan bisa mendengarkan seminar itu dari awal hingga akhir.
Aula yang luas itu sudah ramai dengan banyak orang, tidak hanya dari kalangan mahasiswa saja yang ingin mendengarkan seminar itu, orang-orang awam dan para dosen di luar kampus juga ingin mendengarkan seminar keagamaan itu.
"Apa tidak ada tempat lain selain di barisan paling depan Syah?"
"Aku memang sengaja memilih barisan tahun depan, agar kita bisa mendengarkannya lebih jelas dari para pembicara, Syadzi."
Icha menghela nafasnya perlahan.
"Ayo buruan." ajak Arsya sambil menarik tangan Ica.
Tak lama setelah mereka menempati posisi yang sesuai, ketiga narasumber itu pun memasuki tempatnya masing-masing.
Di sebelah kanan ujung, ada prof Ahmad Jailani, sebelahnya atau tepatnya di tengah, doktor Ridwan Abdul Aziz dan di pinggir sebelah kiri adalah Muhammad Zainal Adnani sang mahasiswa Indonesia lulusan Cordoba Andalusia.
Wajahnya menghadap ke depan.
Dan tanpa disengaja, pandangan keduanya saling bertemu.
Icha berusaha keras menenangkan hatinya yang terus bergetar saat harus dihadapkan lagi dengan wajah pemuda itu.
Hingga akhirnya gadis itu menundukkan wajahnya, menghela nafasnya agar jauh lebih tenang.
"Astagfirullah haladzim, ya Allah tenangkanlah perasaan ini." gumam Zain yang juga merasakan hal yang sama.
__ADS_1
Setelah semua orang sudah memenuhi Allah, seorang pembawa acara pun mulai membuka acara seminarnya dengan memperkenalkan satu persatu sang narasumber kepada para pendengar yang hadir.
Waktu terus berjalan, para pembicara mulai mengeluarkan pendapat mereka masing-masing hingga membuat suasana acara di aula itu menjadi riuh bercampur dengan gemuruh tepuk tangan dari para pendengar yang hadir di sana.
"Alhamdulillah ya Dzi, akhirnya semua berjalan lancar."
Icha menyahutinya dengan senyuman dan anggukan kepala saat Arsya membahas tentang seminar tadi.
"Aku kagum banget sama semua pembicaranya. Terutama sama mahasiswa Indonesia yang lulusan Andalusia tadi, perfect banget, Syadzi." Arsya berkata sambil tersenyum.
"Pasti kamu juga kagum kan sama dia."
Gadis itu hanya menguraikan senyumannya sekilas.
"Kira-kira beliau sudah menikah atau belum ya..."
"Belum." jawab Icha langsung.
"Belum? kok kamu tahu?"
Icha sejenak terdiam.
"Em..."
"Kamu kenal ya sama dia?" Arsya melirik tatapan mata Syadzi yang terlihat kebingungan.
Icha kembali menguraikan senyumannya tanpa memberi sepatah kata jawaban apapun kepada Arsya.
"Icha...."
seorang pemuda yang berpapasan dengan mereka, memanggil namanya begitu saja.
Icha pun mengangkat wajahnya dan menetap pemuda yang memanggil namanya.
"Syadzi, ini kan beliau yang tadi." bisik Arsya padanya.
"Maaf, Apa saya bisa bicara dengan Icha?"
"Maaf Kak, di sini tidak ada yang bernama Icha." jawab Arsya.
"Arsya, Icha itu nama panggilan aku yang lain." kata gadis itu sambil menyenggol bahu Arsya dan menatapnya dengan senyuman.
"O." Arsya merasa malu dan memalingkan wajahnya.
"Maaf Kak, saya salah. Saya kira Kakak salah orang." Arsya menggaruk tengkuknya karena sudah terlanjur malu.
Pemuda itu hanya terdiam sambil menguraikan senyumannya.
"Syadzi, aku duluan ya." gadis itu menjawabnya dengan senyuman.
Arsya pun berlalu pergi meninggalkannya.
"Nama kamu Syadzi di sini?" tanya pemuda itu saat Arsya sudah jauh dari mereka.
"Iya." jawabnya tanpa melihat.
Keduanya sama-sama diam.
"Maaf sebelumnya, tadi kakak ingin bicara dengan saya. Ingin membicarakan apa?"
Icha membuka pembicaraannya.
Zain tanpa gugup ia seakan lupa dengan apa yang akan ia katakan pada gadis yang saat ini ada hadapannya itu.
"Em..."
"Kalau memang tidak ada yang ingin dibicarakan. Saya mau cepat pulang Kak, soalnya pak Rasyid sudah menunggu saya lama di mobil." ucap Icha yang berterus terang tanpa harapan apapun lagi pada pemuda itu.
Sikapnya tampak begitu dingin, membuat pemuda itu tak bisa berkutik apapun.
Sangat berbeda dengan Icha yang ia kenal 3 tahun lalu.
__ADS_1
Apakah sikapnya memang berubah seperti ini? Aau hanya perasaannya saja?
Ntahlah Zain juga bingung. Ia tetap harus menenangkan hati dan perasaannya saat berhadapan seperti ini dengan nya.