Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta

Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta
Senyuman Seribu Lebah


__ADS_3

Gue bukan pesulap yang menjadikan ada menjadi tiada. Tapi, gue adalah sang penakhluk. Enggak ada yang mampu menolak pesona gue. Setidaknya, sejauh ini.


Histeris gadis yang mengelu-elukan nama salah satu pemuda yang kuliah di UGM (Universitas Gadjah Mada) Yogyakarta itu bagai nyanyian paduan suara waktu upacara berlangsung. Sudah biasa terjadi sehingga membuat pemuda yang bernama lengkap Cleon Celestyn itu melangkah dengan percaya diri. Ia hanya tersenyum sembari menikmati alunan lagu Shaun yang berjudul Way Back Home dari earphone putih miliknya. Lagu yang kata Leon bisa membuat hari-harinya lebih cerah itu memang membawa efek tersendiri.


Pagi ini sedikit istimewa karena mereka tidak mengerumuni gue seperti semut di atas gula. Memang enggak biasa. Tapi, itu bagus.


Leon kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda karena melihat gadis pemujanya. Saat kaki Leon menginjak anak tangga yang menghubungkan area Graha Sabha Permana dengan gedung Fakultas Ekonomi, beberapa mahasiswa tampak berlarian ke arah yang sebaliknya. Mereka menatap dengan penuh kecemasan serta membuka lebar mulutnya seraya mengibaskan tangannya.


Leon pikir mereka sedang menyapa dirinya, itu sebab mengapa ia pun balas melambaikan tangan dan tersenyum ramah. Sampai akhirnya salah satu mahasiswa berkulit hitam tiba-tiba mencengkeram lengan kanan Leon seolah ingin mengajaknya pergi.


Leon terkejut. "Kalem woy!" serunya sembari melepas earphone yang mengalung di lehernya. Seketika barulah Leon sadar jika di sekitar tempatnya berdiri terdengar bising sekali dengan suara-suara yang tidak terkendali. Tapi, ia mencoba berkonsentrasi dengan pemuda di hadapannya itu. "Gue ngerti lo pasti frustrasi banget dengan wajah biasa-biasa itu. Jangan khawatir, gue pasti akan berbagi resep sama lo, tentang bagaimana cara gue membuat para gadis terpesona. Tapi, kita bicarakan nanti karena gue sudah ditunggu dosen di kelas, ok?"


Tapi, di luar harapan Leon, pemuda itu justru menghempaskan tangan Leon seketika. "Sinting lo!" umpatnya jelas terdengar kasar di telinga Leon yang hanya biasa mendengar pujian. Mahasiswa yang sepertinya jurusan kedokteran itu kembali melanjutkan kalimatnya, "gue narik tangan lo karena di Pertamina Tower ada kebakaran, goblok! Terserah deh! Elo mau pergi apa enggak gue enggak peduli," tegasnya lalu pergi meninggalkan Leon sendiri.


Hah? Kebakaran?


Lalu ia pun mendongak menatap gedung yang mempunyai delapan lantai itu. Dan benar saja. Tampak kepulan asap dengan api yang berkobar terlihat dari lantai lima.


Astaga! Itu sangat dekat dengan kelas gue!


Tak berapa lama kemudian, terdengar bunyi suara truk mendekat. Rupanya itu truk pemadam kebakaran dengan lima personel mengenakan seragam orange.


"Pantas aja gadis-gadis tadi enggak mendekati gue seperti biasa. Ternyata ada kebakaran? Jangan-jangan mereka tadi sebenarnya melarang gue buat ke sini? Bukan mengelu-elukan nama gue, gitu?"


Deg


Rupanya gue salah analisis, pagi ini. Kok bisa gitu ya? Apa gara-gara gue enggak sarapan pake Energon makanya gue enggak bisa konsentrasi? Duh, nanti mampir ke indoapril deh buat beli.


***


Berhubung hari ini ada insiden besar di gedung Pertamina Tower, jadi khusus fakultas ekonomi kelas diliburkan untuk sementara.


"Yah, beginilah hidup gue yang serba jadi keinginan semua cewek. Untung gue pinter ngumpet." Leon ketawa renyah sampai suara perutnya berbunyi minta diisi. "Makan bakso enak kali, ya." Ia pun bergegas menuruni tangga depan aula Graha Sabha Permana yang berbentuk bangunan Joglo khas Yogyakarta, menuju warung makan murah meriah yang biasanya ada di sekitar tempat itu.


Memang kelihatannya enak, memiliki aura yang bisa membuat gadis-gadis yang ditemuinya jatuh cinta. Hanya saja ....


Gue susah punya temen. Sekalinya punya temen yang sudah gue anggap seperti saudara sendiri, dia benci gue karena ceweknya suka sama gue. Ya, gue bisa apa gitu, kan? Masa iya gue kudu operasi plastik buat normalin kehidupan gue? Enggak mungkinlah. Ini adalah berkah dari Tuhan yang harus gue jaga. Lagian, gue juga enggak pernah minta gitu dilahirin super sempurna kayak gini.


Ah, ujung-ujungnya narsis juga.


Dan orang yang barusan diomongin sudah seperti sulap yang tiba-tiba muncul di depan Leon dengan wajah tanpa ekspresinya. Padahal jelas-jelas tadi dia tersenyum pada orang lain. Tapi, pas ketika berpapasan dengan Leon raut wajahnya seperti bunglon. Berubah seketika sesuai dengan keadaan di sekitarnya. Ah, kenapa perumpaan itu begitu cocok dengannya?

__ADS_1


Langkah Leon sengaja dibuat melambat dan bersiap untuk menyapanya. Tapi apa yang terjadi?


"Kenzie ...." Suara Leon menggantung di udara manakala pemuda berambut cepak itu berjalan seperti tak menganggap Leon ada. Seketika Leon pun merasa dirinya seakan tembus pandang.


Kenapa dia membenci gue padahal gue enggak melakukan apa-apa? Kenapa dia membenci orang yang sebatas objek bukannya subjek? Ah, gue lupa. Cinta memang buta. Sudahlah.


Akhirnya Leon kembali melanjutkan langkah sebelum ususnya mengering dan layu. Setidaknya dia masih di batas kewajaran untuk tidak terlalu memikirkan hal itu. Bagaimanapun, Leon harus tetap waras. Disukai banyak orang sama sekali tidak menutup kemungkinan dibenci banyak orang juga. Semuanya sudah diatur seadil-adilnya. Tidak perlu risau.


Warung makan terdekat adalah pilihan pemuda tampan itu. Leon memang tidak begitu ribet dengan urusan tempat makan. Yang penting tempatnya bersih, makannanya bisa dimakan, sudah. Karena bagi Leon kenyamanan adalah yang utama.


Dan ketika ia baru saja hendak duduk sambil berniat memesan makanan, tiba-tiba entah dari mana datangnya, seseorang telah duduk di kursi panjang itu dan memesan menu yang sama dengannya. Lebih parah lagi karena orang ini tampak cuek aja. Dia tidak ada merasa bersalah sedikit pun padahal dia jelas-jelas merebut apa yang Leon butuhkan di tempat itu. Ditambah, bakso yang sudah Leon idam-idamkan sejak di aula Graha Sabha Permana tadi tinggal satu porsi itu saja.


Ya Tuhan! Cobaan macam-macam ini namanya! Ada apa dengan hari ini?


Akhirnya mau tidak mau Leon menegurnya. "Mbak."


Gadis dengan rambut terurai sepanjang punggung itu pun menoleh. Begitu juga dengan teman cewek satunya yang setelah melihat Leon mendadak mangap seperti dagunya mau jatuh aja.


Berbeda dengan mbak-mbak yang barusan Leon sapa, ekspresinya persis seperti Kenzie. Datar. Apalagi tatapan matanya yang tajam. Entah kenapa hal itu membuat Leon jadi gugup dan ragu untuk mengungkapkan maksud hatinya.


Ah, sialan! Ada apa dengan mata itu? Gue yang aneh atau mbaknya yang horor? Jangan-jangan dia bukan manusia!


"Gue udah mau duduk di sini tadi," kata Leon disertai senyuman yang ia perlihatkan semanis mungkin. Biasanya dengan jurus senyuman seribu lebah ini bakal membuat mereka yang melihatnya jatuh klepek-klepek.


"Terus kenapa? Kan gue yang duduk duluan."


Jleb!


Kata-katanya sungguh berhasil menusuk jantung Leon hingga rasanya tak sanggup lagi berdetak.


Gila! Kok dia enggak terpengaruh sama pesona gue, sih?


"Mas boleh kok duduk di sini!" Malah temannya yang berpostur agak subur itu yang udah berdiri mempersilahkan Leon.


Tapi, cewek dingin itu menatap temannya. "Rania, elo kalau enggak mau gue traktir, boleh duluan ke parkiran."


Gadis yang dipanggil Rania itu pun memberengut sambil menatap padaku seolah mengatakan 'maaf' dengan sangat berat hati.


Leon semakin tidak percaya saja dengan apa yang ia lihat.


Ya ampun! Siapa cewek ini? Kenapa dia bisa melawan gue? Pengaruhnya sepertinya juga lebih berat? Fiks. Ini sih pasti gara-gara gue enggak sarapan makanan yang bisa diminum itu! Beneran harus borong! Kalau perlu beli satu dus!

__ADS_1


Tapi, bukan Leon namanya kalau nyerah gitu aja. Apalagi gara-gara debat enggak penting ini perutnya jadi lapar dua kali lipat. Apalagi melihat semangkuk bakso dengan kuah yang masih mengepulkan asap nikmat itu. Mata Leon sudah seperti cewek yang tidak tahan melihat diskon.


Ia pun mulai melancarkan jurus keduanya. "Mbak yang baik dan cantik, hari ini gue laper banget. Baksonya juga tinggal satu porsi. Buat gue aja, ya? Mbak bisa pesen yang lain," ucap Leon sambil bersiap mengambil nampan yang disodorkan. Ibu empunya warung juga nampak sumringah melihat ketampanan Leon.


Tapi, tapi, tapi ....


"Lo jadi cowok kok enggak ada harga dirinya, sih?" ucapnya tenang tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari layar ponsel di tangannya.


What?


Merinding. Hanya satu kata itu yang mampu menjelaskan situasi di sana. Di dalam ruangan yang tidak begitu luas dan berisi beberapa mahasiswa itu mereka jadi auto melihat ke arah Leon. Sumpah, dipandangi dengan tatapan yang tidak enak begitu, apalagi setelah ucapan cewek tadi, sungguh Leon seperti tengah ditelanjangi. Malu.


Maka dengan berat hati jari jemari lentik Leon yang sudah siap menerima sajian lezat itu ia tarik paksa. Si ibu juga akhirnya meletakkan nampan itu di depan si cewek.


"Ra," bisik gadis Rania sambil menyenggol lengan Rara yang malah mulai menikmati menu pesanannya. "Kasian dia, Ra." Lagi-lagi Rania berusaha membuat perhatian gadis bernama lengkap Delmora Engrasia itu teralihkan.


Terpaksa Rara meletakkan sendoknya di mangkok sehingga menimbulkan suara yang sedikit nyaring. Leon dan beberapa orang di sana juga tampak terkejut.


"Rania, lo tahu 'kan gue kalau makan terus diganggu bakal ngapain?"


"I-iya tahu gue, tapi ...."


"Ini enggak cuman berlaku buat lo. Tapi siapa pun yang ganggu makan siang gue." Rara memalingkan wajahnya kepada Leon seolah ingin menegaskan ke mana kata-kata itu ia tujukan.


Glek!


Saliva Leon tertelan susah payah melihat kengerian dan kejutekan gadis itu.


Sumpah! Gue enggak ngerti! Kok bisa sih? Dia bahkan berani ngancem gue. Wah bahaya juga nih cewek. Sebaiknya gue menghindari dia dulu kali ya. Gak enak juga diliatin banyak orang. Ya kali seorang Cleon Celestyn sang penakhluk debat sama cewek gara-gara rebutan bakso, sih? Enggak berkelas banget!


"Maaf ya, Mas ganteng. Temen gue emang suka gitu kelakuannya," kata Rania membuat Leon akhirnya tersenyum.


"Enggak apa-apa kok. Memang gue yang salah. Enggak seharusnya gue debat hanya karena masalah kecil kayak gitu." Ketika Leon bermaksud minta maaf sama Rara, niat itu ia urungkan karena takut dia bakal ngamuk beneran. "Tolong sampein maaf gue buat temen lo, ya."


Leon pun pamit pergi dengan perut yang masih kelaparan. Untuk yang pertama kalinya dalam hidup seorang penakhluk seperti Leon ia tidak berhasil menakhlukan hati seorang gadis.


Ah, ini sih gila! Baru kali ini gue dikalahin sampe dipermalukan kayak gini. Tapi, anehnya, kenapa gue enggak kesel ya? Gue justru merasa harus mengenal dia lebih jauh.


"Jadi, namanya Rara? Cantik kayak orangnya." Leon tersenyum saat mengingat ekspresi super datarnya. "Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat semua orang seolah harus melakukan apa yang dia inginkan. Dia seperti gue atau lebih sebenarnya?"


***

__ADS_1


__ADS_2