
"Lo gerak cepat juga ternyata."
Kenzie menoleh dan melihat Jovita yang bersembunyi di balik dinding. "Maksud lo apa?"
"Rara," ucap gadis itu sembari berjalan mendekati Kenzie. "Barusan gue lihat lo ngobrol sama dia. Lo suka sama cewek itu?"
"Kenapa gue harus jawab pertanyaan lo? Urus aja diri lo sendiri," balas Kenzie tak menaruh minat sedikit pun pada ucapan gadis yang suka cosplay itu.
"Karena gue bisa bantuin lo buat dapetin dia. Gimana kalau kita bikin kesepakatan?" Mata Jovita berbinar merasa percaya diri Kenzie akan tertarik. Tentu saja. Bagaimana bisa Kenzie menolak tawaran menguntungkan kayak gini?
Kenzie tersenyum sinis. "Gue enggak butuh bantuan terutama dari pengikut Leon seperti lo. Tanpa lo pun gue bisa dapetin apa yang gue pengen."
"Yakin?" Jovita menatap Kenzie tajam. Gadis itu tidak mungkin bisa begitu percaya diri kalau tidak memiliki suatu rencana yang kuat. "Pastinya lo juga tahu, kalau Leon tertarik sama Rara. Kalau lo bersepakat sama gue, gue akan bertindak dari sisi Leon buat bikin dia enggak memiliki kesempatan deketin Rara. Gimana?"
Kenzie tertawa. "Jadi, itu tawaran terbaik lo? Emang menurut lo gue mau deketin Rara buat apa?"
"Maksud lo? Jangan bilang karena ...." Raut wajah Jovita sedikit terkejut.
"Untuk sekarang gue bisa bersepakat sama lo. Sementara ini jalanin rencana lo sampai gue bikin Rara jatuh cinta," intruksi Kenzie.
"Sepakat!" ujar Jovita sambil mengulurkan tangannya pada Kenzie.
Tanpa menunggu lebih lama, pemuda itu menyambut uluran tangan Jovita sambil menganggukkan kepalanya.
***
Siulan tak bernada terdengar begitu nyaring keluar dari mulut Leon. Orang-orang yang berpapasan atau sekadar melihatnya acap menggelengkan kepala, heran. Untung cogan, kalau enggak mungkin udah kena timpuk satu rt gegara siulan tak beraturan yang merusak gendang telinga.
"Emang wajah tampan penuh pesona gue ini bawa keberuntungan," ucap Leon sembari melompat kecil seperti bocah lima tahunan. "Enggak nyangka bisa dapet kesempatan kayak gini. Padahal kemarin gue hampir nyerah loh," gumam pemuda itu entah sedang bercerita sama siapa.
__ADS_1
Lalu, tiba-tiba langkahnya terhenti.
*Kenapa gue kayak berubah jadi orang lain, ya? Selama ini gue enggak pernah susah buat dapetin apa yang gue mau. Bahkan, rumah sakit yang bantu gue lahir ke dunia pun sampai memberi penghargaan "the best baby" dan menggratiskan biaya persalinan ibu gue. Emang dasarnya gue tuh terlahir buat menakhlukkan hati siapa aja yang bertemu sama gue. Cuman satu cewek itu yang susah banget gue deketin. Serius nih, beneran ada cewek yang enggak mau sama gue? Tapi, gue mau sama dia. Gimana dong?
Eh*?
Tanpa sadar Leon mengacak rambutnya yang sudah ditata normal menjadi sedikit acak-acakan. Tapi, itu malah membuatnya sedikit manis. Leon merasa pikirannya benar-benar butuh piknik. Bagaimana bisa ia tertarik sama orang yang selama ini tidak pernah memberinya sikap baik? Apa justru ini yang membuatnya tertarik?
"Jujur sih, kemarin pas lihat dia terluka dan semua itu gara-gara gue, gue kayak orang enggak berdaya. Entah kenapa batin gue seolah pengen ngelakuin apa aja yang bisa bikin dia aman. Hati gue tuh kayak enggak rela kalau sampai dia kenapa-napa. Yah, tapi apa mau dikata? Takdir membawa gue lebih deket sama Rara. Kayaknya gue harus ngrepotin Nona Rara lagi. Apa jangan-jangan kita jodoh? Duh, jadi deg-degan deh!" Leon terkikik memikirkannya. Ia jadi membayangkan apa saja yang bakal dia lakuin saat nanti bersama gadis itu.
Apa ini yang dinamain kesempatan kedua? Apa gue lanjutin aja jurus-jurus penakhluk yang belum sempat terealisasikan kemarin? Hm, kayaknya bukan sekarang waktu yang tepat buat gue menyerah. Semangat!
***
Malam menunjukkan eksistensinya dan suara hewa malam perlahan memenuhi dunia. Dari dalam rumah Rania terdengar dering ponsel yang cukup nyaring.
"Rara! Telepon lo tuh bunyi!" seru Rania dari dapur. Ia sedang memasak mi instan. Makanan yang sejauh ini bisa ia masak sendiri. Karena orangtuanya belum pulang juga, terpaksa ia harus mengurus dirinya sendiri. Ditambah sekarang ia pun harus mengurus Rara. Teman satunya ini sangat tidak bisa diandalkan dalam mengurus kebutuhan rumah. Sekali dibiarkan menyentuh dapur, ia malah hampir membuat rumah Rania kebakaran. Tapi, makannya banyak. Ia heran kenapa Rara tidak bisa gemuk juga. Mengingat hal itu membuat Rania memutar bola matanya dengan bosan.
"Mana ada?" sahut Rania setengah jengkel karena ketahuan. Ia curiga, jangan-jangan Rara keturunan cenayang? Indra keenam cewek itu memang kuat. "Hp lo tuh bunyi. Ngerem aja lo di atas! Bertelur emang?"
"Oh, enggak. Gue membelah diri dan bertunas. Puas?" sahut Rara sambil berjalan turun. Mereka terlihat sangat santai padahal sedang membicarakan masalah reproduksi. Di antara sahabat bercanda dengan gaya seperti itu memang bukan lagi hal yang aneh. Atau mungkin mereka saja yang sudah aneh.
Rania terkikik mendengarnya. "Soal bercanda lo emang enggak pernah mengecewakan! Eh! Minya udah matang. Abis telepon langsung ke meja makan ya. Itu juga kalau belum gue habisin ya!" Rania pun lekas kabur dari pandangan Rara membawa panci berisi mi kuah yang masih mengepulkan asap. Ia harus kabur sebelum gadis itu melempar tatapan mautnya.
Rara mendecak. "Lo enggak akan berani!" serunya sambil mengulas senyum manis. Namun, raut wajahnya seketika berubah tak senang saat melihat nama yang muncul di layar ponselnya.
Mau apa lagi?
"Ada apa?" tanya Rara dengan muka malas. Sepertinya menerima panggilan adalah sebuah keterpaksaan bagi si empunya ponsel.
__ADS_1
"Kamu masih tidak mau pulang?" Suara laki-laki di seberang jelas terdengar merasa jengkel.
"Ayah, Rara cuman nginep di rumah temen bukannya jual diri. Kenapa Ayah harus sekejam itu?" Selain wajah malas dan bosan, Rara tak berniat menampilkan ekspresi lainnya.
"Eh? Kamu jangan kurang ajar, ya! Jangan berani-berani memikirkan hal kotor itu!"
"Hng." Rara malah tersenyum licik. "Itu tergantung sikap Ayah. Kalau Ayah masih suka memaksakan sesuatu pada Rara, hal-hal seperti itu mungkin tidak hanya sebuah 'pemikiran' saja."
"Eh? Apa maksudmu? Jadi, kamu mau mengancam Ayahmu? Kamu jangan lupa, ya. Uang sakumu ...."
"Sebelum itu," sergah Rara membuat laki-laki itu menghentikan kalimatnya. "Rara cuman mau ngingetin perjanjian kita. Bukankah Ayah sendiri yang bilang akan memberi Rara izin melakukan apa pun asal Rara mau masuk ke jurusan manajemen pemasaran? Rara minta tolong, jangan sampai Ayah kehilangan rasa hormat dengan mengingkari janji yang Ayah buat sendiri."
Lam tidak terdengar sahutan. Tapi, telepon masih terhubung. Sepertinya ayah biologis Rara mulai mengakui kehebatan putrinya dalam berdebat.
"Baiklah. Delmora Engrasia, hari ini kamu membuktikan bahwa kamu adalah putriku. Tapi, Ayah masih berharap kamu akan segera kembali ke rumah. Apa kamu tidak kasihan pada Rania? Dia sudah kerepotan mengurusi dirinya yang susah kurus. Sekarang harus menjagamu juga."
Rara tersenyum santai. "Ayah harus membayarnya nanti. Ini kan masih tanggung jawab Ayah untuk menghidupi Rara," ucap gadis itu sambil terkikik pelan.
"Dasar kamu setan cilik. Ya sudah kalau kamu masih mau di sana. Jangan berbuat yang aneh-aneh. Ayah akan menyeretmu pulang kalau sampai terjadi apa-apa."
"Tenanglah, Ayah. Sekarang kalau Ayah tidak menutup teleponnya Rara akan telat makan malamnya."
"Dasar tidak sopan. Baiklah, jaga dirimu baik-baik."
"Hm, daah, Ayah!"
Klik.
Anak dan bapak itu. Walaupun sering bertengkar dan beda pendapat, tapi mereka sebenarnya sangat akur. Hanya saja ....
__ADS_1
Rara menyibakkan rambutnya ke belakang. "Selalu ada harga yang harus dibayar, dan enggak ada yang lebih tahu bokap gue perhitungan banget kecuali gue."
***