Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta

Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta
Pertemuan


__ADS_3

"Bapak sama Ibu sepertinya bukan orang Yogyakarta, ya?" tanya ayahnya Rara memecah keheningan yang canggung. Mamanya Leon rupanya masih marah sama suaminya, sehingga mendiamkannya cukup lama.


"Iya, Pak. Kami dari Jakarta," sahut mamanya Leon sangat ramah. Ia bicara pada ayahnya Rara dengan begitu lemah lembut. Tapi, ketika menghadapi suaminya, wajahnya berubah jutek. Emang dasar wanita. Enggak muda, enggak tua, sama saja susah dimengerti.


"Wah, lumayan jauh juga, ya. Saya jadi teringat pada teman anak saya yang orangtuanya ada di Jakarta."


"Namanya siapa, Pak?" tanya papanya Leon ikut nimbrung di perbincangan malam itu. Enggak mungkin kan juga cuman jadi patung berjalan di antara mereka.


"Leon. Dia satu jurusan sama anak saya di manajemen pemasaran. Anaknya baik, ganteng, dan ...."


"Nah itu anak saya, Pak!" seru pasangan suami-isteri itu bersamaan. Ayah Rara sampai kaget dibuatnya. Sejenak mungkin mereka lupa sekarang sedang ada di mana.


"Itu anak saya, Pak. Yang barusan masuk rumah sakit," jelas sang mama berapi-api. Papa Leon juga merasa bangga karena ada orang sebaik ayah Rara yang memuji putranya.


"Ya ampun! Jadi, kalian ini orangtua Leon?" ujar ayah Rara merasa senang juga. Tak menyangka bisa ketemu di tempat seperti itu.


"Iya, benar sekali, Pak."


"Tapi, bagaiman bisa Leon masuk rumah sakit? Tadi siang dia baru saja main ke rumah saya bersama anak saya dan temannya. Memangnya Leon sakit apa?"


"Kami juga belum tahu. Begitu kami mendapat kabar, kami segera terbang kemari untuk melihat sendiri kondisinya." Kedua orangtua Leon tampak sedih membuat ayah Rara tidak enak.


"Ah, ternyata begitu." Kemudian ayah Rara berhenti tepat di depan kamar Mawar nomor tujuh. "Nah ini ruangnya, Pak, Bu. Kalau boleh, saya juga mau sekalian menjenguk Nak Leon."


"Boleh, Pak. Tentu saja!" ujar papanya Leon dengan gembira. "Sekali lagi terima kasih karena sudah begitu peduli sama anal saya."


"Ah, ini bukan apa-apa. Lain kali saya akan ajak putri saya menjenguk Leon," janji ayah Rara.


Kedua orangtua Leon pun lantas mengangguk senang.


Namun, saat mereka hendak masuk, ponsel ayah Rara tiba-tiba terasa bergetar di saku celananya.


"Maaf, saya amgkat telpon dulu sebentar," pamitnya dan segera menjawab panggilan di hpnya.

__ADS_1


"Ha ...."


"Ayah di mana?" interupsi sang penelpon yang rupanya adalah Rara. Ia bahkan tak memberi kesempatan sang ayah menyapanya lebih dulu.


"Ayah lagi di luar. Cari makan," ujarnya bohong.


"Ayah cari makan di mana? Kok jam segini belum pulang? Sekarang Rara ada di rumah. Kalau Ayah enggak pulang juga, Rara pergi lagi, nih!" ancamnya yang langsung membuat ayahnya tunduk.


"Iya, Ayah segera pulang. Kamu tunggu sebentar. Ok?"


"Ya udah. Rara tunggu."


Setelah sambungan terputus, ayahnya Rara bergegas menghampiri orangtua Leon untuk minta maaf.


"Dari isterinya, ya, Pak?" tanya mamanya Leon bercanda.


"Bukan. Itu putri saya. Dia khawatir kalau saya pulang malam. Makanya nanyain saya lagi di mana. Kalau begitu saya jenguk Leonnya lain waktu saja, ya. Mohon maaf sekali. Putri saya sudah cukup lama menunggu saya di rumah."


Ayah Rara pun undur diri dari hadapan mereka dan bergegas pulang.


"Anak yang berbakti ya, Pa," ujar mamanya Leon mulai hilang ngambeknya. "Kayaknya sayang banget sama ayahnya. Besok kalau mau cari mantu harus yang kayak gitu ya, Pa."


"Kenapa enggak coba ketemu sama anak itu? Tadi bukannya beliau bilang putrinya satu kampus sama anak kita?" sahut papanya Leon sembari berjalan masuk.


"Wah, ide bagus tuh, Pa! Ayahnya baik banget. Pasti anaknya juga baik. Iya kan, Pa?"


"Iya, tapi sekarang kita fokus dulu sama kesehatan Leon. Soal itu nanti kita bicarakan lagi pas Leon udah sembuh."


"Ok, Pa!"


***


Sementara itu, Rara sudah menunggu di depan pintu saat ayahnya turun dari mobil. Ia segera menghampiri sang ayah dan memakaikan syal di leher ayahnya.

__ADS_1


"Ayah kenapa enggak nurut sama Rara, sih? Udah berapa kali Rara ingetin, kalau mau keluar malam selalu pake pakaian yang tebal. Nanti kalau sakit gimana? Kalau cuman mau makan, kan bisa pesan lewat GoFood atau pesan antar lainnya," omel cewek itu seraya membawa ayahnya masuk.


"Iya, sayangku. Ayah bosen aja makan di rumah. Mana sendirian lagi! Jadi, sekali-sekali Ayah juga pengen makan di tempat ramai gitu. Kan, bisa lihat pemandangan juga," ujar ayahnya pada Rara, sengaja mengatakan itu untuk menyindir putrinya yang jarang ada di rumah.


"Memangnya menurut Ayah, Rara datang ke sini malam-malam buat apa?" ujar Rara main tebak-tebakan.


"Hm, apa ya? Ayah enggak ngerti, nih!" sahut sang ayah mencandai putrinya.


"Ah, Ayah! Ya tentu saja pulanglah! Ngapain lagi? Ayah enggak lihat ada koper di situ?"


"Wah! Beneran? Rara udah enggak ngambek lagi, kan sama Ayah?" tanya ayahnya dengan penuh kegembiraan.


Tapi, Rara memasang wajah manyunnya. "Rara masih ngambek. Cuman Rara mau ngasih kesempatan aja buat kita sama-sama buktiin pilihan Ayah atau pilihan Rara yang hebat! Kalau pilihan Ayah menurut Rara bagus, meskipun enggak suka, Rara akan mencobanya."


"Hehehe. Iya, iya. Pokoknya Ayah seneng banget kamu udah balik lagi ke rumah. Ayah ada temen berantem lagi, nih! Oh ya, kamu udah makan belum? Apa Ayah telpon pembantu aja buat datang sekarang?"


"Enggak perlu, Ayah. Rara bawa makanan yang enak banget di koper."


"Oh ya? Emang kamu beli di mana?"


"Enggak beli, Yah. Jadi, orangtua Rania tuh udah balik dari kampung. Mereka bawa makanan banyak banget. Trus sebagian dikasih ke Rara. Titipan buat Ayah juga ada loh. Mereka titip salam sama Ayah," cerita Rara bersemangat.


"Yaelah! Kirain titipin makanan. Ternyata titip salam doang," ujar ayahnya dengan nada kecewa yang dibuat-buat.


Rara jadi ketawa. "Ayah enggak boleh gitu! Udah dikasih tuh bilang makasih. Bukannya minta nambah!"


Melihat putrinya sekarang bisa tertawa lepas, mmebuat ayah Rara tersenyum lega. Ada keharuan ketika melihat keceriaan di wajah Rara yang sudah lama tak nampak, kini telah kembali.


Akhirnya kamu bisa ketawa lagi, Nak. Teruslah ceria seperti ini, bahkan setelah Ayah pergi. Ayah sungguh bahagia kamu mau kembali lagi menemani Ayah. Itu berarti Ayah harus lebih hati-hati menyimpan obat dan laporan medis dari kamu. Ayah juga harus lebih pintar menyelinap pergi ke rumah sakit untuk ambil obat. Maafkan Ayah yang sengaja menyembunyikan semua ini. Ayah hanya tidak ingin kamu cemas dan sedih sehingga tidak fokus belajar. Ayah harap kamu mau mengerti, kenapa Ayah bersikukuh memintamu kuliah di manajemen pemasaran. Tak lain agar kamu nantinya bisa melanjutkan perusahaan Ayah setelah Ayah tiada.


***


To Be Continue ....

__ADS_1


__ADS_2