
Ketika membuka mata, Leon sadar itu bukan kamarnya yang sebelumnya. Ada tv LED, AC, bahkan ada tombol buat manggil perawat. Ia memindai seluruh ruangan dan dapat dipastikan bahwa semalam telah ada yang memindahkannya dari ruang Melati ke Suit Room Amarta. Ruang vip yang perharinya bisa menghabiskan uang lebih dari satu juta.
Suara gemericik air terdengar dari kamar mandi. Ia ingin duduk tapi badannya masih terasa lemas. Beruntung saat itu mama Leon sudah kembali dari kantin.
"Leon, kamu sudah sadar, Nak?" tanya mamanya senang.
"Mama? Kapan datang? Papa ikut?" tanya Leon lemah. Sekarang ia mengerti kenapa ia bisa berada di ruang vip. Rupanya itu hasil dari perbuatan kedua orangtuanya.
"Tadi malam, sayang. Papamu lagi mandi. Ini Mama baru beliin handuk sama baju ganti."
Kemudian Leon teringat pada janjinya sama Rara. "Ah, Leon enggak betah di rumah sakit. Leon ada acara di tempat anak jalanan, Ma," rengeknya memohon dengan sangat.
Tapi mamanya lekas memasang wajah galak. "Eits! Kamu enggak boleh ke mana-mana sebelum sembuh! Mama enggak bakal izinin. Terus, Mama juga masih mau marahin kamu karena kamu bandel. Tapi, marahnya mama pending dulu sampai kamu baikan. Kamu, istirahat. Mengerti?" ucap mamanya sembari menunjuk-nunjuk pada Leon.
Leon manyun sambil menghempaskan napasnya dengan lelah. Ia sangat tahu. Jika mamanya sudah bicara seperti itu, maka tidak akan ada celah untuk membantahnya.
Tak berselang lama pintu kamar mandi dibuka. Tampaklah papa Leon yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek "Syukurlah kamu sudah sadar. Kalau enggak, Papa akan kewalahan menghadapi mamamu." Si papa dateng-dateng langsung ngadu aja ke anaknya.
"Ini tuh namanya insting seorang ibu. Kalian cowok-cowok enggak usah bawel deh!" kata mamanya membela diri.
Leon dan papanya pun terkikik. Meskipun bisa dibilang mamanya sangat cerewet, tapi kasih sayang yang dimiliki oleh wanita itu sungguh luar biasa. Ia tetap melayani suami dan merawat anaknya walaupun sering dibuat jengkel oleh keduanya.
Tepat pukul delapan pagi, dokter yang menangani Leon datang memeriksa sekaligus memberikan hasil pemeriksaan kemarin. Ia mendeteksi denyut jantung Leon, pernapasan dan serangkain pemeriksaan lainnya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Bagaimana, Dok?"
__ADS_1
"Denyut jantung dan pernapasan sudah stabil. Leon masih lemas karena tekanan darahnya turun drastis kemarin. Nanti saya akan berikan resep dan bisa langsung diambil di apotik."
"Jadi, sebenarnya anak saya kenapa, Dok? Kenapa bisa tiba-tiba pingsan?" tanya mama Leon khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada putra semata wayangnya.
"Dari hasil labiratorium, di tubuh Leon ditemukan sebuah zat yang tidak bisa diserap oleh tubuh Leon. Zat ini biasanya ditemukan pada buah semangka. Jadi, menyebabkan intensitas buang air kecil menjadi tinggi. Tapi, tidak diimbangi dengan minum air yang banyak setelahnya. Tubuh Leon kekurangan cairan hingga menyebabkan pingsan. Tapi, tidak perlu khawatir, karena setelah menghabiskan 3-5 buah infus lagi, Leon cairan di tubuh Leon sudah normal kembali. Hanya tinggal pusingnya saja," jelas sang dokter dengan panjang kali lebar.
"Oh, begitu ya, Dok. Memang dari kecil Leon tidak bisa makan buah semangka. Enggak tahu kenapa dia jadi tidak takut sakit kayak gini." Sang mama melempar tatapan tajamnya membuat Leon berkeringat dingin.
"Baiklah, karena pemeriksaan sudah selesai kalau begitu saya permisi dulu," pamit sang dokter kemudian beranjak keluar.
"Leon Mama udah bilang kan kalau kamu enggak bisa makan semangka? Leon kamu janji sama Mama buat jaga diri kalau kuliah di sini. Kenapa enggak kamu tepati. Kamu tahu enggak seberapa paniknya Mama saat tahu kamu masuk rumah sakit? Mama tuh enggak bisa diginiin," ujarnya ala-ala Nazar.
"Udah, Ma. Mama tenang dulu. Kasihan Leon," lerai papanya.
"Papa kasihan sama Leon tapi enggak kasihan sama Mama."
"Ma, Pa. Leon minta maaf, ya. Udah bikin kalian khawatir. Udah bikin kalian malam-malam dibela-belain terbang dari Jakarta ke Yogyakarta. Leon sayang banget sama kalian," ucapnya lembut berharap agar hati keduanya sedikit lebih dingin.
"Mama maafin, tapi kamu harus cerita kenapa bisa sampai makan semangka. Padahal kamu juga tahu kan akibatnya kalau sampai kecolongan?" ujar mamanya mulai melunak.
"Jadi, gini. Kemarin tuh, Leon ada kunjungan pasar ke Bringharjo. Nah, kebetulan Leon satu kelompok sama cewek namanya Rara. Waktu itu uang yang disubsidi dari kampus, satu-satunya sumber duit yang dikasih, hilang dicuri sama orang. Terus Rara pinter banget, Ma, Pa. Dia kasih ide buat jual jasa kita untuk bisa dapetin barang biar dapet nilai. Rara anaknya juga jujur. Pas kita nyaris menang, dia bilang enggak enak udah bohong. Ya udah, akhirnya kita jujur kan sama dosen, trus malah dipuji-puji. Ya gitu deh!" ucap Leon jadi malu-malu menceritakan betapa hebat cewek itu kemarin. Seolah, Rara adalah sosok pahlawan yang namanya sudah tertambat di hati Leon.
"Kok malah nyeritain cewek, sih?" goda papanya.
"Nah, iya tuh! Jadi kamu makan semangkanya di mana?" Mama Leon ternyata enggak terkecoh pada taktik Leon. Ia masih saja mengejar cerita tentang buah semangka yang misterius itu.
__ADS_1
Mau tak mau Leon pun akhirnya melanjutkan juga. "Karena kita dapat banyak barang, kita bersama satu cewek lagi namanya Rania, sepakat buat gunain semua barang itu untuk anak jalanan di deket jalan ke kosan Leon. Harusnya hari ini. Leon udah janji sama Rara buat ikut ngurusin. Tapi, Leon malah berakhir di tempat ini." Leon menundukkan kepalanya tampak sedih.
"Musibah itu enggak ada yang tahu. Mama yakin temen-temen kamu juga bisa maklum kalau kamu enggak bisa datang. Lagipula, kamu enggak datang kan karena emang lagi sakit, bukan karena sengaja," sahut sang mama tak terima saat putranya sedih karena janji pada seorang gadis.
"Padahal kemarin Leon udah bela-belain datang ke rumah Rara buat diskusiin kegiatan hari ini. Sampai kepaksa makan semangka pula."
"Jadi, kamu makan semangka di rumah Rara? Cewek itu yang maksa kamu?" ujar sang mama mulai geram.
"Bukan, Ma. Jadi, mereka semua termasuk ayah Rara sama sekali tidak tahu kalau Leon enggak bisa makan semangka. Tapi, Leon enggak enak kalau enggak nyicipin. Apalagi ayahnya Rara bilang kalau buah itu kesukaan Rara. Kalau sudah kayak gitu, gimana Leon mau bilang enggak bisa makan semangka? Leon merasa enggak menghormati tuan rumah kalau tidak memakannya, Ma." Akhirnya Leon menjelaskan semua detil agar kedua orangtuanya juga tidak salah paham.
"Eh, bentar! Kamu bilang kamu makan buah semangka di rumah temen kamu yang namanya Rara, kan?" sela papanya.
"Iya, Pa."
"Jangan-jangan bapak-bapak yang kemarin itu adalah ayahnya Rara?" Papanya Leon menoleh pada isterinya.
"Bener juga. Kemarin bapak itu bilang kamu baru saja main ke rumahnya."
"Astaga, bisa kebetulan gini ya?" ucap papanya sambil nyengir.
"Tapi Mama kesel. Karena secara enggak langsung dia yang udah bikin Leon makan semangka. Cuman berhubung kemarin dia nolongin kita cari kamar kamu dirawat, jadi Mama anggap impas aja."
"Bener tuh, Ma. Enggak baik nyimpan dendam. Mending nyimpen cinta Papa di hati Mama. Eaa ...."
Dasar. Keluarga bucin.
__ADS_1
***
To Be Continue ....