
"Oh, jadi ini yang tadi pagi sok jual mahal sama Leon?" Seseorang dari mereka bicara dengan nada angkuh.
Mendengar kalimat itu membuat Rara seketika memasang wajah malas. Sekarang ia mulai mengerti situasi yang dihadapinya.
Hah ... Udah gue duga mereka adalah para fansnya Leon. Ternyata omongan gue tadi pagi enggak mereka dengerin baik-baik.
Rara bertepuk tangan sekali dan cukup keras membuat mereka sedikit terkejut. "Ok, gue udah ngerti! Kalian mau gue jauhin Bung ... eh, maksud gue Leon, kan?"
"Kok lo tahu?" seru salah satu dari mereka sambil menudingkan telunjuk pada Rara.
"Yah, adegan kayak gini udah sering gue lihat di cerita-cerita romance. Jadi, enggak susah buat nebaknya," jawab Rara dengan santai malah jadi kayak sedang berbincang dengan tukang cilok depan kampus.
"Bagus kalau lo tahu! Jadi, lo udah ngerti, kan apa yang harus lo lakuin?" Salah satu dari mereka yang paling galak bersuara. Sepertinya itu adalah ketua gengnya.
Rara tertawa sinis. "Kalau tujuan kalian ngelakuin ini buat bikin gue ngejauhin Leon ... sebenarnya gue juga ogah deket-deket dia." Tawa gadis itu berubah jadi keras.
"Dasar sinting! Cewek macam apa lo yang memperlakukan cowok seagung Leon seperti barang yang menjijikan?"
"Sombong banget lo!"
"Lo pikir lo cantik sampai bisa berlagak kayak gitu?"
"Oh! Gue tahu! Ini pasti cuman taktik lo buat narik perhatian Leon, kan? Dasar cewek murahan!"
Raut wajah Rara jadi semakin malas mendengarnya.
Kayaknya mereka emang udah niat banget buat ngerjain gue. Jadi, apa pun jawaban gue pasti udah salah aja di mata mereka.
"Kalau kuping kalian enggak budek, tadi pagi gue udah jelasin semuanya."
"Udah, enggak usah munafik deh! Di dunia ini mana ada yang bisa nolak diperhatiin cowok seganteng dan sepopuler Leon?"
"Ada. Gue enggak mau tuh!" tukas Rara lagi
"Enggak mungkin!"
Rara menatap jengah pada cewek-cewek hilang akal itu. "Jadi, maksud lo gue harus suka sama dia? Harus jadi sama bodohnya seperti kalian?"
"Kurang ajar! Berani banget lo nyebut kita bodoh? Jangan bikin kita marah, ya!"
"Kalian duluan yang mulai. Gue enggak tertarik, tapi kalian malah cari masalah sama gue," sahut Rara mulai lelah menjelaskannya.
"Eh, iya juga sih." Mereka akhirnya malah berkasak-kusuk sendiri mengabaikan Rara. Seolah saat itu mereka jadi rapat dadakan.
"Udah, kan? Kalau gitu gue pergi," kata Rara seraya beranjak dari tempatnya berdiri.
Tapi, belum sempat ia melangkah untuk yang kedua kalinya, tubuh gadis itu sudah didorong kembali hingga membentur dinding. Sepertinya acara perundingan mereka tadi tidak menemukan hasil yang baik.
Nyeri lekas menerjang punggungnya yang jadi memar. Bagaimanapun ia hanya gadis seperti pada umumnya yang bisa terluka. Rara mendengus kesal karena mereka sudah membuang waktunya cukup banyak. Seketika tatapannya pun berubah jadi sedikit menyeramkan. Wajahnya jauh lebih datar dari sebelumnya.
__ADS_1
"Lo pikir bisa pergi gitu aja? Bagaimanapun kita harus kasih pelajaran buat cewek sombong kayak lo. Biar lo enggak banyak tingkah lagi!"
Wajah Rara memanas seiring berubahnya tatapan mata gadis itu. "Berhenti sekarang, atau gue enggak akan segan-segan lagi," ujar Rara terdengar menakutkan.
"Cuih! Emang lo bisa apa? Heh? Lo enggak bakal bisa lawan kita!"
Mereka hampir mengeroyok Rara kalau saja tidak ada suara yang menginterupsi perbuatan itu.
"Wah! Ada keributan nih!" Suara langkah kaki tampak mendekat ke arah mereka. Di tangannya memegang ponsel yang ada senternya.
"Siapa lo? Enggak usah ikut campur!" sahut salah satu mereka.
Merasa mengenali suara itu membuat Rara tersenyum. "Gue begini gara-gara nyariin lo, tahu! Tanggung jawab, gih!"
"Ehehehe, maaf. Gue nyampe sini juga gara-gara gue tahu lo enggak bakal ninggalin gue," sahut orang itu yang tak lain adalah sahabat Rara. Rania.
"*****! Malah pada ngobrol! Kita tu lagi adegan ganas, tahu!"
"Oh lagi ganas ya? Maaf, kenapa gue dengernya adegan panas, ya? Hahahaha," kata Rania sambil nyengir kuda memperlihatkan gingsulnya.
"Kayaknya kalian udah enggak sabar banget ...." Rara menjeda kalimatnya sejenak lalu melanjutkan,"buat babak belur."
Mereka terperangah. "Maksud lo apa?"
Sudut bibir Rara membentuk senyum miring.
Kena lo!
"Seharusnya kalian cari tahu dulu mau berhadapan sama siapa," sahut Rania.
"S-siapa?"
"Jangan-jangan dia anak dari pemilik saham terbesar di kampus ini?"
"Denger-denger emang ada anak yang baru masuk ke sini!"
"Atau dia orang tv yang nyamar jadi mahasiswi?"
Mereka mulai berspekulasi seenak jidat membuat Rara dan Rania memasang muka datar.
"Mulut kalian jangan sembarangan! Emangnya ini cerita telenovela ala detective, pake nyamar segala?" ujar Rania lelah.
"Authornya juga enggak pinter-pinter amat bikin cerita misteri," sambung Rara masih dengan wajah stoicnya.
"Jadi, kalian itu sebenarnya siapa?" sahut mereka berjamaah.
Rania melambaikan tangannya ke depan. "Udahlah, itu enggak penting. Lagian gue udah lama enggak lemesin tangan-tangan ini. Kebetulan gue beruntung dapat pelampiasan," ujar gadis gembul itu sambil menekuk-nekuk jemarinya membuat suata gemeretak.
"Terakhir kali lo bikin cewek yang enggak sengaja narik rambut gue jadi botak, ya? Kalau sampai begini kira-kira apa yang bakal lo lakuin?" tanya Rara jahil.
__ADS_1
Rania mengamati sejenak cewek-cewek itu yang sudah gemetar. Sepertinya mereka sudah terpengaruh. "Ehm, minimal harus patahin kaki atau tangannya, sih. Ada lima orang masing-masing punya dua kaki dan dua tangan, totalnya jadi sepuluh. Ehehehe, siapa yang mau duluan?" Rania menatap mereka sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya persis seperti seorang psikopat.
Mereka ketakutan bukan main. "Sial! Gue enggak siap jadi orang cacat!"
"Mengerikan banget!" sahut yang lainnya gaduh.
"Mending kita kabur aja!" usul salah satu dari mereka dan langsung disetujui.
Rania dan Rara pun tertawa terpingkal melihat cewek-cewek itu lari terbirit-birit.
"Dasar bodoh! Mau aja kita bohongin!" ujar Rania sambil tertawa.
"Lo emang sahabat terbaik gue!" ucap Rania menepuk bahu gadis gembul itu.
"Ya iyalah! Buat sahabat gue, gue enggak akan tanggung-tanggung!"
"Btw, gimana lo bisa nemuin gue di sini?"
"Ceritanya panjang. Lo sendiri kenapa bisa dilabrak sama mereka? Lo enggak bikin masalah lagi, kan?"
"Nanti gue ceritain. Tapi, mending sekarang kita pergi dulu dari sini."
"Eh, iya juga sih!"
Mereka pun bergegas pergi sebelum tercemar racun di sana.
***
Sementara itu, ada Jovita yang menunggu tak jauh dari tempat kejadian perkara guna memantau perkembangan situasinya.
"Kita lihat aja. Setelah ini apa lo masih berani berlagak di depan Leon!" ujarnya penuh kebencian. Sepertinya dia memang menantikan sebuah pertunjukkan itu. Dalam benaknya telah tersusun rapi ekspektasi tentang bagaimana nantinya Rara akan keluar dari tempat itu.
Dengan wajah yang lusuh dia bakal jalan tergontai. Gue akan mengambil gambarnya lalu menyebarkannya ke grup. Pasti mereka bakal senang! Hahahaha.
"Gue siapin hp dulu kali ya. Biar ntar kalau dia keluar bisa langsung gue foto!" ucap gadis itu seraya merogoh tasnya untuk mengambil benda yang dimaksud.
Tapi, baru saja ia hendak bersiap mengarahkan benda kotak tipis itu ke depan, tiba-tiba gerombolan cewek yang berniat mengerjai Rara itu tampak berlarian ke arahnya. Jovita begitu terkejut sampai tidak mampu menghindar saat mereka bertabrakan.
BAM!!
Alhasil, mereka semua jatuh saling menimpa dengan Jovita yang paling bawah. Mereka sudah seperti tumpukan karung beras dan suasana pun menjadi gaduh.
"Bisakah kalian menyingkir? Gue enggak bisa bernapas!" kata Jovita dengan suara tergagap. Tangannya menjulur keluar meminta tolong.
Mereka belum beraksi tapi sudah kena batunya. Apes sekali!
***
***To Be Continue ....
__ADS_1
Apakah kejadian itu bakal menekan sikap ganas fans Leon? Atau malah seperti menuang bensin pada kobaran api? Leon yang polos dan Kenzie yang penuh taktik. apalagi yang bakal dilakuin mantan sahabat sang penakhluk ini?
Nantikan episode berikutnya *ting***