
Udara memang terasa panas, berembus siang itu. Tapi, tak hanya itu yang membuat Rara terasa gerah. Tatapan dari setiap cewek di kampus yang berpapasan dengannya, juga cukup membuat otak Rara memanas.
Kenapa mereka pada ngelihatin gue sinis, gitu? Kayaknya ada yang salah.
"Ran, lo sadar enggak, sih? Kayaknya siang ini ada yang aneh," kata Rara dengan volume yang sengaja dipelankan.
"Aneh kenapa?" Rania balik nanya karena ternyata ia masih sibuk nyemil makanan oleh-oleh yang dibawa orangtuanya kemarin.
Rara yang melihatnya pun menepuk jidatnya tak habis pikir. "Dasar. Cita-cita kurus tapi kerjaan ngemil mulu. Kalau kayak gitu mah mau sampai lebaran monyet pun lo enggak bakalan kurus."
"Ye, ini tuh makanan kesukaan gue!" bela Rania.
"Kesukaan apanya? Lo mah sama semua makanan kayak gitu."
"Gue tuh di rumah enggak dibolehin makan banyak lagi. Makanya ini gue bawa ke kampus biar bisa makan sepuasnya," ujar Rania sambil ketawa.
"Ya, ya, ya. Terserah lo deh, ya. Lo mau melar kek karet ban juga bodo amat. Tapi beneran deh. Ini perasaan gue aja atau emang bener mereka natap gue tuh kayak sinis banget?" ucap Rara lebih serius lagi agar Rania bisa sejenak memperhatikan.
Setelah Rania mendongak dan melihat sekitarnya, barulah ia merasa merinding. "Eh, kok iya, ya, Ra? Ada apa, ya?"
"Enggak tahu kenapa, gue ngerasa ini ada hubungannya sama Leon deh. Masalah apa lagi coba yang bisa bikin seisi kampus gempar begini?" tanya Rara seolah meminta pendapat pada Rania.
Rania berpikir sejenak. "Iya juga, sih. Ah! Coba gue cek grup dulu!" Rania pun lekas melempar makanannya pada Rara dan mengeluarkan ponsel.
Untung Rara punya gerakan yang gesit, sehingga bisa menangkapnya dengan tepat.
"Woi, jangan main atraksi dadakan, dong!" gerutu Rara sambil enggak sadar nyemilin snack punya Rania.
Sementara Rania sudah sibuk dengan ponsel di tangannya. Pandangannya udah auto fokus ke layar hp, tak memedulikan sekitar.
"Gila! Baru ditinggal dua puluh menit chat-nya udah ribuan gini? Gimana gue bacanya, ya? Bisa keder ntar!" ujar Rania sambil men-scroll chat di grup chat khusus buat fans Leon.
__ADS_1
Rara menggaruk kepalanya, jadi bingung. "Emang biasanya kek gitu?"
"Iya. Tapi biasanya cuman terjadi kalau ada sesuatu atau informasi yang menghebohkan."
"Hm, jadi penasaran. Kayaknya bagus masuk ke sana dengan akun palsu." Rara terkikik.
"Jangan salah! Masuk jadi fans Leon itu enggak gampang. Mereka yang mau gabung, harus melewati beberapa dulu."
"Bukan main. Mereka mau bikin grup chat apa universitas? Pake tes segala. Aneh."
"Ya, sebenarnya itu cuman buat ngetes aja gitu. Seberapa gregetnya kita ngefans sama Leon."
"Gue pasti udah tereliminasi di pertanyaan pertama. Soalnya gue enggak sama sekali ngefans sama Leon." Tawa Rara meledak.
Tapi, kemudian Rania menepuk bahu Rara dengan keras. "Gawat, Ra!" seru cewek itu dengan panik.
"Iya, gawat. Gue berasa kayak habis kejatuhan gajah hamil barusan," ucap Rar sambil melirik tajam Rania yang masih setia mentenggerkan tangannya di bahu Rara.
"Ternyata kayak gini, Ra," ujar Rania sambil menunjukkan layar ponselnya pada Rara. "Akun ini parah banget, sih."
Rara membaca satu komenan mereka satu per satu dengan wajah yang serius. Ternyata ada salah satu akun di grup chat itu yang dengan sengaja menyebarkan gosip pada fans Leon. Ia menjelek-jelekkan Rara habis-habisan. Sekarang ia mengerti alasan apa yang ada di balik sikap cewek-cewek sinis itu.
"Biar gue kasih pelajaran buat akun ini!" ujar Rania sembari mengambil ponsel itu kembali.
"Enggak perlu," interupsi Rara menghentikan aksi Rania.
"Tapi, Ra. Gosip ini tuh ngarang banget! Akun @Zizi ini sengaja banget bikin lo dimusuhin sama fans-nya Leon. Pakai segala bilang lo mau memonopoli Leonlah! Ngerebut Leonlah! Ini yang komentar juga enggak ada otaknya gini. Sebel gue!" kata Rania malah lebih marah dari Rara yang notabene adalah sebagai korban di situ.
"Nah tuh lo tahu kalau yang komentar kayak enggak ada otak. Lo nanggapin nyinyiran mereka, sama aja ngrendahin diri lo sendiri. Lo mau, ikutan enggak ada otak kayak mereka?" kata Rara tampak begitu santai menangggapi gosip itu. Ia paham betul kenapa mereka berbuat kayak gitu. Tak lain adalah hanya untuk memancing permusuhan di antara Rara dan fans Leon. Kalau Rara marah, itu sama aja dengan mewujudkan tujuan si pembuat onar dan Rara akan kalah.
"Ya enggak mau," jawab Rania tampak sedikit terpaksa. "Tapi, masa hal enggak bener kayak ginj kita diemin terus?"
__ADS_1
"And then? Memurut lo apa yang mesti gue lakuin?" tanya Rara coba memberi kesempatan pada Rania untuk mengungkapkan pendapatnya.
"Ya, kita harus bergerak. Kita harus buktiin sama mereka kalau apa yang mereka denger dari akun @Zizi itu enggak bener!" sahut Rania dengan nada berapi-api.
"Caranya?"
Rania mulai gelagapan mencari jawaban saat Rara terus mengejarnya dengan pertanyaan. "Ya, kita bisa kasih tahu mereka. Atau suruh Leon konfirmasi, kek! Bisa aja, kan?"
"Terus, lo pikir mereka bakal percaya gitu? Udah pasti enggaklah! Lo ingat enggak waktu gue bilang gue enggak tertarik sama Leon? Gue udah ngomong di depan semua orang bahkan di depan Leon. Tapi apa? Hasilnya gue malah nyaris dibully di tempat bekas kamar mandi." Rara menghela napasnya lelah, memijit pelan keningnya yang berdenyut sambil menggeleng heran. "Menghadapi orang-orang kayak gitu enggak cukup dengan kata-kata."
Rania terdiam menyadari kebenaran dari apa yang Rara katakan. "Jadi, apa rencana lo."
Rara menepuk kedua tangannya membuat Rania terkaget. Ia lantas melipat tangan di depan dadanya. "Enggak ada yang gue rencanain. Gue mau lihat dulu, seberapa besar yang bisa mereka lakukan sama gue."
"Jangan main-main, Ra. Lo jangan terlalu percaya diri, sehingga meremehkan kekuatan mereka," ujar Rania memperingatkan sahabatnya tersebut.
"Enggak. Gue bukannya ngeremehin mereka. Gue cuman mau mereka merasa di atas awan dulu. Baru ntar gue bisa patahin argumen mereka. Dengan begitu mungkin mereka bisa sadar, kalau yang mereka lakuin itu adalah sebuah kebodohan. Kita lihat saja nanti," kata Rara dengan sangat yakin. Sepertinya ia memiliki alasan yang cukup kuat untuk membungkam kejulidan fans Leon.
"Ya udah, deh. Gue ngikut lo gimana aja."
"Btw, lo kan suka sama Leon juga. Lo enggak marah kalau ada gosip begituan? Lo enggak curiga sama gue?"
Rania tertawa. "Ya enggaklah! Lagian gue tuh kenal lo juga udah lama. Gue tahu lo tuh orangnya kayak gimana. Jadi, aduh ... tolong deh jangan nanyain hal yang enggak penting gitu."
"Hahaha, makasih, ya."
"Yaelah gitu doang. Santai aja."
***
To Be Continue ....
__ADS_1