
"Sebenarnya ada apa, Pak? Kenapa sampai menyuruh kami keluar segala?" tanya papanya Leon saat sudah di luar kamar Leon.
"Apa ada masalah yang enggak boleh diketahui anak-anak?" sambung mamanya Leon.
"Sebelumnya saya memohon maaf sekali karena sebagai orang yang baru kenal, saya sudah bersikap sangat lancang," ucap ayahnya Rara tampak sedikit bingung bagaimana menyampaikannya.
"Tidak masalah, Pak. Katakan saja," ujar papanya Leon mempersilahkan. Isterinya pun tampak tidak membantah.
"Jadi, begini. Saya ingin minta tolong sama Ibu dan Bapak agar tidak memberitahu anak saya, kalau saya kemarin berada di rumah sakit. Rara tidak tahu kalau saya sebenarnya sedang sakit dan memerlukan perawatan. Saya sengaja menyembunyikannya karena tidak ingin membuat Rara sedih. Mohon Bapak dan Ibu bisa membantu saya," pinta ayahnya Rara.
"Tapi, kalau terjadi sesuatu sama Bapak gimana?" tanya papanya Leon khawatir.
"Betul, Pak. Apa tidak sebaiknya memberitahu Rara saja? Dengan begitu bisa dilakukan tindakan jika terjadi sesuatu," sambung mamanya Leon.
"Bagaimanapun dia putri Bapak, kalau dia sampai enggak tahu kesehatan bapaknya sendiri, dia pasti akan terluka," ujar papanya Leon memberi nasehat.
"Saya pasti akan memeberitahunya. Tapi, untuk sekarang, saya hanya ingin melihat Rara bahagia tanpa harus mengkhawatirkan segala sesuatunya. Dia sudah ditinggalkan oleh ibunya selama dua puluh tahun. Jika saya memberitahu keadaan saya, saya takut Rara tidak bisa menerima kenyataannya."
Kedua orangtua Leon jadi tersentuh melihat hubungan anak dan bapak yang begitu dekat itu. Mereka pun akhirnya tidak memiliki alasan untuk menolak permintaan ayah Rara tersebut.
"Baiklah. Tapi, ini tidak gratis."
"Maksudnya gimana?" tanya ayahnya Rara tidak mengerti.
Mamanya Leon melipat tangannya di depan dada. "Kemarin Bapak sudah membuat anak kami makan semangka, sehingga dia sampai masuk rumah sakit. Tapi, saya memaafkannya karena kemarin Bapak juga sudah membantu kami," jelas mamanya Leon.
"Ah, ternyata gara-gara semangka," sahut ayahnya Rara jadi tak enak.
"Dan sekarang Bapak meminta kami untuk menyimpan rahasia. Apa yang kira-kira bisa Bapak tawarkan?"
Papanya Leon merangkul bahu ayahnya Rara. "Jangan terlalu serius, Pak. Bagaimana dengan undangan makan malam di rumah Bapak?"
Ayahnya Rara pun tertawa seketika. "Tentu saja boleh! Dengan senang hati. Jadi, kapan kita bisa makan malam bersama?"
"Begini saja!" sela papanya Leon. "Bagaimana kalau kita bicarakan ini sambil ngopi di kantin? Biarkan Leon berbincang dengan teman-temannya lebih lama."
Mamanya Leon menyetujui. Ia berpikir, dengan begitu ia bisa mengenal keluarga Rara dengan lebih baik.
__ADS_1
"Baiklah, mari kita pamit sama anak-anak dulu. Nanti takutnya mereka kehilangan kita," ajak ayahnya Rara.
"Anak-anak, kami para orangtua mau pergi ngopi dulu. Tolong temenin Leon sebentar, ya!" kata papanya Leon dengan ceria.
"Eh! Rania ikut ya, Om?" pinta cewek gembul itu. Meskipun ia berat meninggalkan Leon, tapi ia juga tak sanggup kalau harus jadi kambing congek di antara Rara dan Leon.
"Ran, lo mau ninggalin gue sendirian?" tanya Rara menatap datar pada Rania yang cuman nyengir kuda.
"Gue laper banget. Tadi di rumah enggak sempet sarapan soalnya. Sorry, ya. Lagian lo kan enggak sendirian juga. Tuh ada Leon."
"Tapi ...."
"Ayo, Om, Tante! Buruan! Rania udah laper banget!" serunya heboh sambil membawa pergi mereka. Bahkan, mereka tak memberi kesempatan pada Rara untuk bicara. Mungkin Rania takut Rara akan menggunakan segala kepintarannya untuk membujuk mereka.
Sekarang tinggal mereka berdua yang berada dalam ruang tersebut. Suasana terasa canggung karena masing-masing tidak memiliki keberanian untuk memulai sebuah pembicaraan.
Meskipun mereka pernah berjalan berdua waktu kunjungan pasar, tapi setidaknya di sekitar mereka masih ada orang. Tapi kalau sekarang? Di kamar yang tidak begitu luas, di ruangan tertutup. Apa yang harus mereka katakan? Pikiran mereka mungkin sudah dibayang-bayangi oleh hal-hal lain.
Sebagai laki-laki, Leon merasa harus berinisiatif mencari bahan obrolan. Otaknya berpikir cukup keras sampai akhirnya ia melihat buah pisang yang tadi dibawa oleh Rara.
"Ketulusan apa?" Rara sama sekali tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Leon.
Apakah dia sangat gugup, sampai membicarakan sesuatu yang enggak nyambung.
"Gue tahu lo sama bokap lo benci banget sama pisang. Tapi, lo rela bawain ke sini hanya karena tahu gue suka banget sama pisang," Leon terkekeh.
"Sebenarnya enggak sepenuhnya kayak gitu. Gimanapun gue udah janji sama lo buat beliin pisang kemarin. Kan gue sampai kepikiran, jangan-jangan lo masuk rumah sakita gara-gara mikirin pisang yang kemarin," ucap Rara sambil tertawa.
Leon begitu terpesona melihat tawa Rara, mengingat cewek itu lebih sering memunculkan ekspresi galak dan dingin.
Cantik.
"Leon, ada apa? Pandangan lo kayak kosong gitu?"
"Ah! Enggak. Gue cuman lagi nebak-nebak sesuatu aja," jawab Leon asal ngomong. Dia enggak tahu kalau Rara bakal ngejar kalimat ambigunya.
"Nebak soal apa?"
__ADS_1
Leon menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ng, nebak ... kenapa lo sama bokap lo enggak suka pisang?"
"Dari kecil gue emang enggak suka pisang. Mungkin nurun dari bokap gue, hehe."
"Kok bisa gitu, ya? Padahal pisang itu kan enak. Mengandung banyak vitamin dan juga rendah kalori. Kenapa lo malah enggak suka?"
Raut wajah Rara tiba-tiba berubah menjadi mendung.
Melihat perubahan di raut wajah cewek membuat Leon ngerasa bersalah. "Eh, tapi kalau lo enggak mau cerita juga enggak apa-apa kok! Emang gue yang terlalu kepo, makanya ...."
"Gue akan cerita," ujar Rara memotong kalimat Leon. "Tapi, lo harus bisa jaga rahasia. Gue enggak suka cerita pribadi gue buat konsumsi publik."
Leon segera mengangkat kedua jarinya pertanda ia berjanji. "Gue enggak akan cerita ke siapa pun termasuk sendok dan garpu di meja makan."
"Apa hubungannya cerita gue sama sendok garpu, bambang! Jangan ngereceh! Gue serius nih!" ujar Rara jadi hilang feel sedihnya.
"Ya kan dua benda itu termasuk yang sering keluar-masuk mulut gue," ujar Leon sambil terkikik. "Ok, ok. Sekarang gue modus serius nih. Jadi sebenarnya kenapa?"
"Dulu tuh, keluarga gue dalam keadaan yang miskin banget. Waktu itu gue mungkin baru berusia 2-3 tahun dan Davin baru berumur lima bulan."
"Davin?"
"Adik gue," jawab Rara lalu kembali melanjutkan ceritanya. "Karena keadaan kita yang sangat miskin, setiap hari gue sama adik gue selalu makan pisang buat mengganjal perut. Saking seringnya kadang gue sampai muntah. Jadi, gara-gara itulah gue enggak suka sama pisang," ucap Rara mengakhiri cerita sedihnya.
"Dan semenjak itukah nyokap lo pergi?" tanya Leon dengan hati-hati.
Rara tersentak. "Lo tahu dari mana?"
"Sorry, gue yang maksa Rania buat cerita. Jangan nyalahin dia. Marah aja sama gue."
Rara menghela napasnya lelah. "Enggak ada gunanya juga gue marah sama lo. Toh, cerita itu sudah lama berlalu. Lambat laun pasti gue bakal lupa juga," ujarnya sok tegar. Tapi air matanya bicara lain. Ia tidak bisa mengontrol dirinya saat tiba-tiba teringat pada sosok ibunya yang tega meninggalkan keluarga. "Sial! Kenapa gue harus nangis coba?" ucapnya sembari menghapus air matanya dengan cepat.
Leon benar-benar sedih melihat Rara seperti itu. Rasanya ia juga sangat ingin ikut menangis. "Menangis itu bukan berarti lo lemah, Ra. Menangislah kalau itu memang perlu. Jangan menahan kehendak hati lo. Setelah itu tolong lo inget satu hal. Meskipun mungkin ibu kita orang yang jahat, meskipun ibu kita bukan orang yang menyayangi kita, tapi dia adalah sosok yang pernah membesarkan dan membawa kita di dalam rahimnya selama sembilan bulan. Berkat beliaulah kita bisa lahir ke dunia dan memberi kesempatan untuk kita hidup."
***
To Be continue ....
__ADS_1