Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta

Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta
Target


__ADS_3

Di tengah hiruk-pikuk pasar Bringharjo, seorang nenek yang berumur sekitar 70 tahun tampak menjaga dagangannya. Ia dengan sabar mengusir lalat yang tertarik dengan aroma buah-buahan dan sayuran di hadapannya.


"Lo yakin, Ra mau jadiin nenek itu target kita? Lapaknya sepi pembeli. Gue enggak yakin dia mau ngasih kita imbalan," kata Leon sangsi.


Mata Rara merotasi malas. "Bunglon, kita pergi ke sana buat jual jasa, bukannya ngerampok. Ya, terserah nenek itulah ikhlas ngasih kitanya berapa," jawab Rara tetap mau kerja di tempat nenek itu.


"Nama gue Leon, bukan bunglon!" protesnya. "Gue ngerti, tapi ...."


Rara menatap jengah sama Leon. "Jangan bilang lo ngeraguin kemampuan penakhluk yang lo punya?"


Cowok itu berlagak imut dengan memainkan jari-jemarinya. "Kalau boleh jujur, semenjak gue ketemu lo, gue jadi enggak yakin sama kemampuan gue. Makanya lo jangan susah-susah buat dideketin. Gue kan jadinya kayak hilang kepercayaan diri, gitu." Bibirnya manyun menggemaskan.


"Heh! Itu enggak ada sangkut pautnya sama gue. Lo-nya aja yang kelewat over pede," ujar Rara sambil noyor kepala Leon. "Sesuatu di hidup lo, kalau enggak bisa bermanfaat buat orang lain, namanya enggak bersyukur." Rara melenggang pergi ke tempat nenek itu dan menyapanya dengan ramah. Leon sampai terpana melihatnya.


Enggak nyangka. Seorang Delmora Engrasia yang gue kenal dingin, ternyata bisa seramah dan sehangat itu sama orang lain. Bahkan, sama orang yang enggak dia kenal. Apakah ini sisi lain Rara yang tersembunyi di balik sikap cueknya? Kalau gitu, gue udah bener-bener salah nilai dia, dong! Melihat dia tampak begitu tulus ngebantu nenek itu, membuat mata gue terbuka. Sekarang gue ngerti, maksud Rara milih nenek itu buat dijadiin target. Ternyata dia enggak mata duitan.


"Woi! Lo mau makan gaji buta, ya?" ucap Rara saat melihat Leon malah asik memandangnya.


"Eh? Sorry-sorry! Gue ke situ sekarang!" seru Leon dengan semangat.


Ini namanya kerja dengan hasil dobel. Selain bisa membantu nenek itu menjual dagangannya, nenek pun setuju akan memberi imbalan pada kedua Rara dan Leon setelah mendapat kata sepakat.


"Ibu-ibu, bapak-bapak! Ayo dibeli sayurannya! Masih seger! Fresh dipetik langsung dari sawah! Tanpa pestisida ...." seru Rara memulai promosinya.


Leon tersenyum menahan tawa saat melihat Rara berteriak lucu. Ia pun tak mau kalah. "Ayo semuanya! Pedagangnya ganteng dan cantik! Beli sayur dan buah di sini gratis tas kresek!"

__ADS_1


Rara mau ketawa tapi ditahan. Dan terbukti, dengan promosi mereka yang tak biasa membuat banyak pembeli tertarik. Beberapa orang memuji buah dan sayur yang dinilai sangat segar. Selebihnya, mereka mengagumi ketampanan Leon dan kecantikan Rara. Bahkan, sampai ada yang ingin menjadikan mereka sebagai menantu. Beberapa lainnya mengira mereka sepasang kekasih. Leon dan Rara pun hanya tertawa. Di situ Rara diam-diam mengakui kemampuan Leon yang bisa menakhlukkan hati para pembeli, sehingga tak sedikit pembeli yang membawa pulang dagangan nenek dalam jumlah banyak.


Tak lupa juga mereka berpesan agar mereka kembali membeli di tempat itu karena kualitas buah dan sayurnya yang bagus. Sekarang Leon dan Rara merasa ikut bahagia melihat senyum lebar nenek yang memperlihatkan gigi ompongnya. Daganganya laku keras dan hanya tersisa beberapa buah dan sayur. Sungguh, nenek tak bisa menyembunyikan rasa bersyukurnya.


"Karena hari ini dagangan Si Mbah laku banyak, jadi selain buah dan sayur sebagai bayarannya, Si Mbah mau ngasih sedikit rejeki," ujar nenek itu sambil mengulurkan beberapa lembar uang kertas pada Leon dan Rara.


"Enggak usah, Mbah. Kita sesuai kesepakatan saja," tolak Rara sesopan mungkin agar tak menyinggung perasaan nenek.


Namun, entah kenapa Leon merasa ada raut kesedihan di wajah si nenek. Ia mengulurkan tangannya mengambil uang dari si nenek.


"Leon ...." gumam Rara sangat keberatan atas tindakan Leon. Tapi, cowok itu tak merespon protes Rara.


"Mbah, ini uangnya udah kita terima. Matursuwun banget sudah kasih imbalan yang lebih. Si Mbah ikhlas, kan?" tanya Leon penuh kasih sayang.


"Enggeh, Mas, Mbak. Si Mbah ikhlas," jawab nenek dengan tulus.


Entah kenapa pemandangan itu terasa mengetuk hati Rania membuat matanya berkaca-kaca. Ia nyaris memperlihatkan air matanya yang luruh kalau saja tak segera ia seka.


Ternyata gini rasanya memedulikan orang lain. Leon bisa sangat pintar membuat hati Si Mbah tenang. Ia menolak pemberian Si Mbah tanpa terkesan tak menerimanya. Melihat kedekatan mereka yang seperti keluarga—padahal bukan, membuat gue iri. Ibu kandung gue bahkan enggak mau ketemu sama gue. Apa gue salah kalau gue jadi dingin ke semua orang karena punya trauma?


"Lo mau dipeluk juga?" tanya Leon iseng karena melihat Rara melamun.


Rara tersentak kaget. Entah sejak kapan cowok itu sudah ada di hadapannya sambil merentangkan kedua tangan siap memberi pelukan. "Sembarangan!" seru Rara seraya menepis tangan Leon membuat cowok itu terkikik.


Kemudian Leon melihat ke arah jam yang melingkar di tangan kirinya. "Ra, waktunya kita balik ke bus, nih," ajak Leon.

__ADS_1


Rara mengangguk. "Ok."


Mereka berdua pun kemudian berpamitan sama nenek. Tak lupa mereka mengucapkan banyak terima kasih karena sudah diberi sayur dan buah yang tidak sedikit. Masing-masing dari mereka membawa dua kantong kresek hitam berukuran sedang.


"Taruhan, pasti mereka penasaran gimana cara kita dapetin barang sebanyak ini," ujar Leon saat mereka dalam perjalanan kembali ke bus. Ia melangkah dengan riang seperti anak tk yang habis liburan.


"Ya, tentunya orang yang ngambil uang juga pasti kaget," sahut Rara asal.


"Orang? Apa lo curiga sama seseorang?" tanya Leon serius.


Rara tergagap. "Oh, enggak. Anggap aja lo enggak denger apa-apa," balas Rara segera meralat ucapannya barusan.


"Jangan gitu, dong. Gue kan juga bertanggung jawab atas hilangnya duit itu. Lagipula kita bisa bawa barang sebanyak ini juga berkat ide dari lo," bujuk Leon. "Kalau enggak, mungkin kita enggak bakal dapet nilai."


Rara menatap sangsi pada Leon. "Hm, kayaknya kita enggak seakrab itu, deh."


"Tapi, gimanapun kita kan partner. Iya kan? Lo bilang, dong siapa orangnya. Kali aja gue bisa bantu apaan gitu!" Leon belum juga mau menyerah.


"Gue akan kasih tahu lo setelah sampai di bus," ujar Rara menggantungkan fakta yang sebenarnya pada Leon.


"Ugh, lo udah janji, ya." Leon seakan kembali menegaskan ucapan cewek itu.


"Gue enggak pernah ingkar," sahutnya dengan ekspresi yang misterius. Rupanya ia menatap seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka.


Atau mungkin lo bakal tahu sendiri, tanpa perlu gue repot kasih tahu lo soal ini. Takutnya, lo enggak percaya kalau gue yang ngomong.

__ADS_1


***


__ADS_2