
Leon dan Rania masih sibuk melihat-lihat sambil berpikir tentang apa yang akan dibeli dengan uang 50 ribu itu. Sebenarnya Rara sama sekali tidak mengerti mata kuliah manajemen pemasaran yang baru-baru ini digelutinya. Kalau bukan karena ayahnya yang bersikukuh memaksanya, ia sama sekali tak menaruh minat pada bidang itu.
"Gue belum pernah belanja sendiri ke pasar. Menurut lo uang segitu bisa dapet apa?" tanya Rara membuka suara lebih dulu. Hal yang sebenarnya tidak biasa ia lakukan. Terlebih kepada lawan jenis.
Wajah Leon sumringah mendengar Rara menegur bahkan menanyakan pendapatnya. Ia jadi semangat untuk menjawab. "Sebenarnya banyak. Tapi, bukan itu sih yang jadi inti dari kegiatan ini. Seperti yang dijelasin sama dosen, kalau kita tuh harus bisa tawar-menawar di sini. Jadi, kayak kita mempraktikkan ilmu pemasaran yang kita dapet, gitu. Istilah umumnya menguji seberapa paham kita sama materi itu."
Gadis itu hanya mendecakkan mulutnya kemudian menghela napas. Entah karena bosan atau karena menurutnya semua ini terlalu merepotkan.
Pemandangan itu pun tak luput dari penglihatan Leon. "Kenapa? Lo enggak suka, ya ada di pasar?"
Rara tampak melihat sekitarnya. "Cuman terlalu ramai."
Tanpa disadari Leon pun mengikuti apa yang dilakukan Rara dan jadi sedikit nyengir.
Padahal hari ini pengunjungnya enggak banyak-banyak amat. Lagian ini kan pasar? Ya pasti ramelah! Kalau sepi namanya kuburan. Ada-ada si Rara mah! Oh, jadi dia enggak suka tempat rame, ya? Hm, cocok sih sama kepribadian dia yang tergolong introvert.
"Ya udah, lo bisa tahan sebentar, kan? Kita belanja secepatnya aja. Lo siapin uangnya dulu," ujar Leon ngasih perhatian yang super besar pada gadis itu.
Kali ini Rara menuruti kata-kata Leon tanpa bantahan. Pertama, ia memang tidak tahu dan tidak tertarik dengan materi yang dipraktekan hari ini. Kedua, ia tak berminat untuk kompetisi juga. Dan ketiga, berada di tempat ramai lama-lama bisa membuat kepalanya pening. Jadi, ketika cowok di depannya itu mengajak belanja dengan cepat, Rara langsung mengiyakan.
"Loh, kok enggak ada?" gumam Rara sambil mengecek kantong blazer-nya satu per satu.
"Kenapa, Ra?" tanya Leon heran.
"Duitnya ... hilang."
Leon sedikit membelalakkan matanya. "Yah, kok bisa? Apa jangan-jangan jatuh di jalan, ya?"
Gadis itu terdiam. Memorinya berputar, mengingat kembali apa saja yang ia lakukan setelah menerima uang dari Leon.
Gue yakin banget udah nyimpen uang itu di kantong blazer gue sebelah kanan. Dan gue enggak ada otak-atik atau masukin tangan lagi ke situ. Kalau jatuh kayaknya enggak mungkin. Kantong blazer gue enggak ada bolong sama sekali. Tapi, kenapa bisa enggak ada? Jangan-jangan ....
Rara ingat, ada Jovita yang menabraknya waktu cewek itu mau ke toilet. Rara enggak ada kejadian yang lebih mencurigakan daripada itu.
__ADS_1
Apa bener Jovita yang ngambil duitnya? Tapi, tadi sikap Leon kayaknya lebih akrab sama cewek itu. Kalau gue bilang gue curiga sama Jovita, apa dia percaya? Ah, bodo amatlah. Enggak ada gunanya juga kalau gue omongin sekarang. Gue enggak ada bukti. Duit juga udah hilang. Sebaiknya gue cari cara buat nyelesaiin tantangan hari ini. Waktu juga udah kebuang banyak.
"Kayaknya duitnya emang jatuh di jalan," kata Rara setelah beberapa saat terdiam.
"Ya udah, coba kita cari dulu. Kita juga belum jalan terlalu jauh, kan?" ajak Leon sambil mau pergi.
"Enggak usah!" seru Rara cepat. Tanpa ia sadari tangannya refleks menahan lengan Leon. "Kita enggak tahu duitnya jatuh di mana. Selain itu, menurut gue, daripada kita nyariin duit mending kita coba dapetin sesuatu di sini. Enggak mungkin, kan kita keluar dari sini dengan tangan kosong?"
"Eh?" Leon sungguh tak bisa menahan matanya untuk tak melihat jemari Rara yang melingkar di lengan kanannya. Jantung Leon berdebar sangat kencang dan hatinya seperti ada ribuan kembang api yang menyala. Darahnya berdesir-desir tak karuan hanya karena dipegang seperti itu. Membuat bibirnya tak mau berhenti untuk terus mengulas senyum.
Mengikuti arah pandangan Leon, Rara tersadar pada apa yang telah ia lakukan. Segera ia menarik tangannya dan jadi salah tingkah.
Bodoh! Ngapain gue pegang-pegang dia segala? Sumpah, malu banget! Padahal di sini gue-lah yang nyuruh Leon buat ngejauh. Tapi, tadi gue sendiri yang malah pegang-pegang dia. Ya ampun!
Leon jadi tersipu malu. "Gue tahu kok lo enggak sengaja. Ah, lupakan!" seru Leon sambil menggelengkan kepalanya. "Gue setuju sama pendapat lo. Jadi, apa rencana kita?"
Rara menghela napas lega karena kali ini Leon tidak berpikir macam-macam seperti biasa. Sehingga ia pun tidak perlu sibuk menjelaskan apa-apa pada cowok itu. Ia harus tenang dan fokus saja pada cara mereka untuk keluar dari masalah itu.
"Apa?" sahut Leon penasaran.
"Tapi, gue harap lo bisa sedikit bermurah hati untuk gunain aura penakhluk milik lo di rencana gue," ujar Rara dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Leon.
"Ini bukan sesuatu yang aneh-aneh, kan?" tanya Leon sedikit sangsi pada rencana cewek itu.
"Nanti lo juga tahu." Rara masih tetap enggak mau kasih tahu Leon apa yang sebenarnya direncanakan oleh cewek itu. Tapi, melihat dari cara dia ngomong, sepertinya rencananya bisa jadi jalan keluar yang bagus.
Mungkin.
***
"Yang itu!" tunjuk Leon dengan wajah berbinar melihat pedagang pisang. Buah yang paling ia sukai di dunia ini.
"Enggak," sahut Rara ketus.
__ADS_1
Apa pun asal jangan pisang. Ngelihat kulitnya aja bikin gue mual.
Mulut Leon seketika mengerucut mendengar lagi-lagi Rara menolak kata-katanya. Tingkahnya sungguh imut seperti bocah lima tahunan yang ikut emaknya ke pasar tapi enggak dibolehin beli apa-apa.
"Ra, lo udah bilang enggak sama gue tiga kali loh. Kita mau cari target yang kayak gimana? Waktunya berjalan terus ini," keluh Leon dengan wajah melasnya.
"Enggak usah cerewet," sahut gadis itu kembali dingin seperti sediakala.
"Ra, gue sih setuju sama rencana lo buat beli barang pakai jasa kita. Tapi, kalau kita jalan terus kayak gini, kita bakal buang-buang waktu."
Rara menghentikan langkah tiba-tiba membuat Leon nyaris menabraknya. Ia menatap cowok itu tanpa ekspresi membuat Leon tak bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh Rara. "Mulut lo kayak cewek, ya. Sekali gue ngucap lo balesnya sepuluh kali lipat."
Jleb!
Bibir Leon makin mengerucut. Mungkin ini yang dinamakan pepatah 'cowok selalu salah di mata cewek'.
"Iya, ya udah gue diem, deh," sahut Leon menundukkan kepalanya dan ngeloyor pergi. Tapi, kemudian ia merasakan seseorang menarik bajunya.
"Mau ke mana lo?" Rupanya tangan Rara yang menarik kerah baju Leon.
"Mau cari target lagi. Yang sesuai sama kemauan lo," sahut Leon kayak udah hampir nangis.
"Gue udah nemu."
"Akhirnya," ucap Leon begitu terharu. Ia sangat bersyukur karena pencariannya sudah selesai. "Mana target kita?"
"Nenek-nenek itu."
Leon mengikuti telunjuk Rara dan tertegun kemudian.
***
TO BE CONTINUE
__ADS_1