Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta

Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta
Rumah


__ADS_3

Rara menoleh gugup pada Leon dan Rania yang berdiri di belakangnya. "Ayah, Ayah kok ada di sini?" tanyanya sambil cengar-cengir.


"Kenapa?" sahut ayahnya dengan tatapan galak. "Ini juga rumah Ayah. Kenapa Ayah enggak boleh di sini?"


Glek!


Leon dan Rania menelan ludah seketika, melihat betapa kurang bersahabatnya sambutan dari ayah Rara. Keringat dingin menetes di dahi Rania.


Gila! Dua tahun enggak ketemu bokapnya Rara, kenapa sekarang jadi galak banget? Perasaan dulu kalau ketemu sama gue beliau selalu ramah kok. Apa karena Rara lama nginep di rumah gue? Jadi, beliau mikir guenya yang nahan Rara di sana. Argh! Ampun, Om! Raranya yang enggak mau pulang!


Begitupun dengan Leon yang menjadi gugup, saat mata ayah Rara tak sengaja beradu pandang dengannya.


E buset! Kan gue jadi kaget! Pantes tadi Rania ragu-ragu jawab pertanyaan gue. Ternyata, aura bapaknya lebih bikin merinding. Sekarang gue tahu dari mana asal tatapan tajam milik Rara itu.


"Kamu!" tunjuk ayah Rara pada Leon.


"S-saya, Om?" sahut Leon dengan terbata-bata. Mulutnya menganga karena terlalu syok.


"Udah tahu, pake tempe!" bentak ayahnya Rara galak.


"Udah tahu, pakai nanya, Om. Bukan pake tempe," interupsi Rania pelan.


"Ya, terserah sayalah! Mau pake tempe, pake rendang,pake bumbu pecel. Apa urusannya sama kamu?" Lagi-lagi beliau menyahut seperti herder yang kelaparan.


Rara makin merasa tak punya muka lagi di hadapan kedua temannya. Tapi, kemudian ia menyadari sesuatu. "Ayah, pakai kaca matamu dulu."


Pria bertubuh tegap itu tersentak. "Rara, kamu jangan kurang ajar sama Ayah. Kenapa sampai mengatai Ayah segala?"


Rara menghempaskan napasnya dengan lelah. "Kaca mata, Ayah! Kaca mata! Bukan Rara ngatain Ayah," ujar Rara dibuat auto istighfar oleh kelakuan bapaknya.


"Oh, kaca mata. Iya, Ayah lupa," sahutnya kemudian mengeluarkan benda itu dari sakunya. "Nah! Sekarang baru nampak!" Ayah Rara lantas mengamati siapa-siapa aja yang tengah berdiri di hadapannya. "Loh? Bukan tukang ledeng sama penjaga warung depan, to?" tanya ayah Rara memperhatikan lebih seksama Rania dan Leon.


"Ayah, mereka temen-temen Rara."


"Ya ampun! Maafin Om ya?" kata ayah Rara sembari tersenyum lebar.


"Siang, Om. Masih inget saya enggak, Om? Saya Rania temen semasa SMA Rara," kata Rania sambil mencium tangan ayah Rara.


"Rania?" sahut ayah Rara mengingat-ngingat. "Oh, saya ingat. Wah! Sepertinya kamu bahagia, ya? Tubuh kamu makmur banget."


Sontak celetukan ayah Rara itu mengundang tawa. Kemudian, gantian Leon yang mencium tangan ayah Rara. "Saya Leon, Om. Teman satu fakultas di jurusan manajemen pemasaran juga."


Ayah Rara menatap sejenak wajah Leon. "Yah, aura kamu cukup mengejutkan ternyata."

__ADS_1


"Hah?" sahut Leon tak mengerti.


"Ayah, udah cukup becandanya. Kita ke sini mau diskusiin sesuatu," sela Rara. Kalau tidak dihentikan, mungkin ayahnya akan betah seharian ngobrol di depan pintu kayak gitu.


"Oh gitu? Ya udah masuk dulu!" kata ayah Rara dengan begitu hangat. "Ngomong-ngomong Om minta maaf ya, udah ngira kalian tukang ledeng sama penjaga warung depan."


"Enggak apa-apa, Om. Lagian mana ada tukang ledeng ganteng kek gini?" ujar Leon berusaha buat nyairin suasana, tapi hasilnya malah krik-krik.


Namun, Ayah Rara tetap tertawa untuk menghargai usaha Leon. "Baiklah, kamu ikut Om ke gazebo aja, ya. Ini pertama kalinya anak perempuan Om bawa laki-laki ke rumah. Biar Rania dan Rara yang nyiapin cemilannya."


"Baik, Om," balas Leon dengan senyum yang dipaksakan. Kali ini Leon dapat perhatian yang cukup besar dari ayah Rara. Apalagi barusan dia seolah menegaskan bahwa akan menginterogasi Leon. Insting seorang ayah enggak boleh diremehkan.


Mati gue! Gue mau jawab apa kalau bokapnya Rara nanya macem-macem?


"Ayah, kenapa nyuruh kita? Ke mana pembantu yang biasa di rumah?" protes Rara.


"Mereka Ayah pecat! Salah sendiri enggak pulang ke rumah?" Ayah Rara menjulurkan lidah ke arah putrinya dan segera kabur sebelum Rara ngamuk.


"Ya udah, gue nyusul bokap lo dulu, ya," pamit Leon setelah meletakkan beberapa barang yang dibawanya.


Sementara, Leon mengekor di belakang ayah Rara menuju gazebo, cewek-cewek pergi ke dapur.


"Tadi lo bilang bokap lo enggak ada di rumah?" tanya Rania.


"Sebenernya gue agak kasihan sama bokap lo, tahu, Ra. Dia pasti kesepian lo tinggal. Balik gih," bujuk Rania. "Gue bukannya ngusir, tapi bokap lo lebih butuh kehadiran lo di sini."


Rara terdiam beberapa saat. "Akan gue pikirin lagi saran dari lo."


Bagaimanapun kesalnya seorang anak, tidak ada tempat terbaik untuk pulang selain rumah.


***


Dering ponsel terdengar berisik dari dalam kamar Kenzie. Cowok itu rupanya sedang tidur setelah lelah bolak-balik ke toilet.


"Argh! Siapa sih? Ganggu gue tidur aja!" gerutunya malas seraya meraih benda kotak tipis itu.


Matanya masih tampak ngantuk, tapi ia berusaha untuk nama yang muncul di hpnya. Setelah tahu, ia mendecak lalu menjawab panggilan itu dengan terpaksa.


"Ada berita apa lagi? Kalau enggak penting enggak usah telpon! Gue lagi enggak mau diganggu!" ujar Kenzie langsung menyemprot habis si penelpon yang tak lain adalah Jovita.


"Yakin lo enggak mau denger? Ini tuh berita maha penting banget, tahu!" kata Jovita di seberang.


"Berita penting apaan? Buruan ngomong!" Kenzie sepertinya sedikit hilang kesabaran.

__ADS_1


"Gue barusan lihat Leon sama Rania pergi ke rumah Rara sepulang dari kampus. Pake mobilnya Rara. Terus mereka ada bilang mau ngadain acara gitu. Gue enggak tahu acara apa. Soalnya gue cuman ngelihatin dari jauh. Mending sekarang lo ke sana deh!" ujar Jovita dengan nada memburu.


"Gue berangkat sekarang!" seru Kenzie seketika. Ngantuknya auto hilang dan melempar ponselnya ke sembarang arah. Ia seperti cacing kepanasan yang lari pontang-panting bersiap diri untuk ke rumah Leon.


Enggak! Enggak boleh! Gue enggak bileh kalah start dari Leon! Enggak bakal gue biarain Leon ngambil kesempatan ini.


***


"Kamu di sini tinggal sama siapa?" tanya ayah Rara saat sudah duduk bersama Leon di gazebo. Tempatnya lebih luas dari halaman depan. Ada satu bangunan tunggal tanpa dinding yang terletak tepat di tengah gazebo, lengkap dengan kolam ikan dan air mancur di belakangnya.


Sungguh menenangkan.


Tapi, tidak begitu dengan Leon yang berkeringat dingin karena rasanya seperti sedang menghadapi sebuah wawancara kerja.


"Saya di sini ngekos, Om. Kebetulan orangtua saya tinggalnya di Jakarta. Dan saya merantau ke sini untuk kuliah," jawab Leon dengan sopan. Meskipun sangat gugup, tapi ia masih bisa menguasai dirinya dengan baik.


"Orangtua asli Jakarta?" tanya ayah Rara lagi dan diiyakan oleh Leon. "Kenapa enggak kuliah di Jakarta? Nilainya enggak cukup, ya?" kata ayah Rara lalu tertawa. "Om cuman becanda!"


Leon terpaksa ikut tertawa mendengarnya. Padahal dalam hati sudah menahan omelan dari tadi.


Si Om becandanya jelek! Slekethep!


Beruntung, Rara dan Rania lekas datang menyelamatkan nyawa Leon yang terancam punah. Di tangan mereka sudah tersusun rapi buah semangka merah dan beberapa minuman kaleng dingin.


"Kenapa ngobrolnya enggak dilanjutin? Lagi ngomongin kita, ya?" tuding Rara sambil meletakkan nampan yang berisi potongan buah semangka. Sementara Rania juga meletakkan beberapa minuman di meja itu.


"Ge-er. Orang kita lagi ngomongin kampus kok! Iya, kan Leon?" ujar ayah Rara sembari memberi isyarat pada cowok itu untuk menurut.


"Iya." Mau tak mau akhirnya Leon nurut juga. Setidaknya ia harus tahu diri, di mana ia sekarang.


Bokapnya Rara horor juga. Tadi ngomongnya serius banget sampai bikin merinding. Sekarang di depan anaknya dia sok-sokan akrab sama gue. Hm, ayah dan anak ini. Susah banget ditebaknya!


"Nah, ini buah semangka kesukaan Rara. Nak Leon harus coba!" ujar ayah Rara seraya mengambil satu potong buah dan langsung melahapnya. "Kok cuman buah doang?" bisik ayah Rara pada putrinya yang duduk di sampingnya.


"Di kulkas enggak ada apa-apa, Yah. Itu semangka juga has dari kunjungan pasar tadi," sahut Rara dengan tatapan datar.


Melihat yang disajikan hanya buah semangka, Leon berbisik pada Rania, "Perasaan tadi ada buah pisang juga?"


Rania nyengir. "Lo engga tahu ya? Buah pisang itu buah terlarang di rumah Rara. Jadi, tadi kita kasih ke mamang ledeng yang baru datang."


"What?" Leon panik seketika.


Pisang gue ....

__ADS_1


***


__ADS_2