Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta

Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta
Rencana


__ADS_3

"Sampai jumpa anak-anak!" seru si sopir kocak yang tidak diketahui namanya sambil melajukan busnya keluar dari halaman UGM.


Berhubung sudah tidak ada kegiatan lagi di kampus, kelas hari itu pun dibubarkan dan mereka pulang ke rumah masing-masing. Tapi, karena kelas berakhir masih cukup pagi, beberapa murid memanfaatkan waktu itu untuk pergi main.


Sementara itu, tinggal Rara, Leon, dan Rania dengan setumpuk belanjaan tepat di kaki mereka.


"Guys, barang sebanyak ini mau kita apain? Gue enggak mungkin bawa semua ini ke kosan gue. Selain enggak ada tempat, gue juga enggak mungkin bisa habisin semua. Bakal mubadzir ntar," kata Leon mewakili kegelisahan mereka.


"Gue bisa bawa ini ke rumah. Tapi, orangtua gue lagi pergi. Jadi, udah pasti enggak ada yang makan," sambung Rania.


Kemudian, Rania dan Leon kompak menoleh ke arah Rara membuat cewek itu merasa tidak nyaman.


"Kenapa pada ngelihatin gue? Lo juga, Ran. Emang di rumah gue siapa yang bakal ngabisin? Bokap udah pasti makan di luar. Gue sendiri tiap hari nginep di rumah lo," ujar Rara menatap cewek gembul itu dengan jengah.


"Di rumah lo ada kulkas kan?" tanya Leon yang kemudian dijawab dengan anggukan singkat dari Rara. Leon menjentikan jemarinya. "Buah sama sayurannya bisa lo simpen di rumah. Pasti ibu lo seneng dapat bahan masakan yang gra ...."


Duk!


Rania menyenggol perut Leon dengan keras berharap cowok itu tidak melanjutkan kalimatnya.


"Awh! Sakit banget!" kata Leon sambil mendelik kesal pada Rania. Ia tidak mengerti kenapa cewek gembul itu melakukan kekerasan padanya.


"Ah, Ra! Semuanya taruh tempat gue aja enggak apa-apa kok! Nanti pasti gue habisin. Lagian ada lo kan yang bantuin gue ngabisin makanannya?" ujar Rania sambil nyengir enggak jelas.


"Lah, bukannya tadi lo bilang kalau ...." ujar Leon lagi dan langsung mendapat hadiah cantik berupa injakan kaki gajah dari Rania.


Ini bocah ngapa dah? Susah banget buat diajakin peka? Apa pukulan di perut dan injakan di kaki belum juga cukup? Please deh! Tolong jangan bikin Rara marah. Kalian baru aja temenan loh!


Leon berjingkrak-jingkrak menahan sakit yang luar biasa pada kakinya. "Lo gila, ya? Mau bunuh gue? Kalau kaki gue patah gimana?" serunya ribut.


Rara memejamkan matanya saat mendengar keributan yang secara enggak langsung disebabkan oleh dirinya itu. Rania melakukannya karena tidak ingin membuat Rara sedih dengan mengingat perihal ibunya. Tapi, Rara bisa memakluminya karena bagaimanapun Leon tidak tahu apa-apa.


"Udah, cukup!" ujar Rara tegas. "Ran, gue enggak apa-apa. Lo enggak perlu nyiksa Leon kayak gitu."


"Sorry, Ra," ucap Rania menunduk sedih.


Leon jadi heran melihat mereka berdua.


Ada apa, sih? Apa yang gue enggak tahu? Reaksi Rania juga berlebihan banget. Apa salah gue sebenarnya?


"Kalian keberatan enggak sih kalau cerita? Di sini gue kayak orang bego ngelihat kalian kayak gini," kata Leon menatap Rania dan Rara bergantian.


"Emang lo bego!" cecar Rania.


"Sejak kapan lo ngerasa pinter?" sambung Rara ikutan bercanda.


Akhirnya mereka berdua pun tertawa. Rania seneng mengetahui Rara tidak begitu tersinggung dan bisa tertawa lepas seperti itu. Pun, demikian dengan Rara. Ia ingin memperlihatkan bahwa ia benar baik-baik saja. Kenangan pahit itu sudah 20 tahun berlalu. Meski masih menyisakan beberapa rasa trauma, tapi setidaknya itu sudah berkurang banyak.

__ADS_1


Leon cemberut karena diketawain dua cewek itu. Tapi, melihat Rara tertawa itu sudah cukup mengobati sakit di kakinya.


"Enggak penting bahas itu sekarang. Kita masih belum tahu mau diapain semua ini. Karena masing-masing dari kita enggak bisa menanganinya sendiri." Rara lekas mengubah topiknya agar suasana sedikit lebih cair.


"Ya ampun! Kenapa gue baru kepikiran sekarang?" seru Leon bersemangat.


"Kepikiran soal apa?" tanya Rara.


"Lo ada ide, Leon?" sambung Rania.


"Jadi, gini guys. Di deket kosan gue tuh ada sekumpulan anak jalanan. Setiap hari minggu ada beberapa komunitas yang menyambangi mereka buat ngajarin belajar dan beberapa keterampilan gitu. Kalau kalian setuju, gimana kalau kita gunain barang-barang ini buat keperluan mereka?" usul Leon.


"Boleh," sahut Rara sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


"Gue setuju sama ide lo! Tapi, kira-kira anak jalanan yang lo maksud banyak enggak? Takutnya bahan makanan kita kurang, gitu," ujar Rania yang paling peduli soal makanan.


"Kalau soal itu gue bisa bantu. Nanti kita bisa balik ke lapak nenek itu lagi," usul Rara sambil melempar pandang pada Leon.


"Eh, kita?" sahut Rania sambil melirik pada Rara dan Leon. Instingnya untuk menggoda mereka pun jadi muncul. "Cie ... yang udah pakai bahas 'kita'." Rania cekikikan karenanya.


"Emang ada yang salah? Kata 'kita' itu kan emang kata ganti pertama jamak, yang bicara dengan orang lain termasuk yang diajak bicara," sahut Leon tak ingin menanggapi terlalu serius candaan Rania.


"Lo jangan mulai rese, deh, Ran. Gue bilang gitu karena gue sama Leon udah janji mau balik ke sana," kata Rara menjelaskan maksud perkataannya.


"Iya, bener tuh!" celetuk Leon. Kemudian jadi tertegun.


Eh? Gue baru nyadar kalau dari tadi Rara manggil gue Leon, enggan manggil bunglon lagi! Ya Allah! Hidayah apa yang baru saja Engkau turunkan pada si es kutub ini?


GUBRAK!


Leon dan Rara pun tertawa melihat tingkah ajaib Rania yang begitu mengundang tawa.


"Gue setuju sama lo, Ran!" sahut Leon masih tak bisa menghentikan tawanya. Jujur ia sangat bersyukur mendapat teman sebaik mereka.


"Ya udah, gue ambil mobil dulu kalau gitu," ucap Rara sambil mengeluarkan kunci mobilnya dan berjalan ke arah parkiran.


Sepeninggalnya Rara ke parkiran, Leon segera teringat pada sesuatu yang masih mengganjal pikirannya.


"Rania, lo tadi keterlaluan banget mukul perut sama nginjek kaki gue tiba-tiba. Kan sakit. Tanggung jawab lo!" tuding Leon bermain taktik.


"Eh? Salah sendiri jadi cowok enggak peka! Udah gue senggol begitu malah enggak paham juga. Ya udah, gue mah enggak ada pilihan lain. Sorry," ujar Rania sambil nyengir enggak jelas.


"Gue bukannya enggak peka atau enggak paham. Tapi, gue enggak ngerti salah gue apa. Sebagai ganti rugi, enggak mau tahu alasannya lo harus bilang jujur ke gue kenapa," ujar Leon pura-pura marah.


"Iya, iya. Gue ngaku salah udah bikin lo kesakitan kayak gitu," kata Rania akhirnya mengalah. "Ini gue lakuin juga biar lo ke depannya enggak bikin kesalahan lagi di depan Rara."


"Serius, gue makin penasaran. Sebenarnya kenapa sih?" tanya Leon memasang mimik tak santai.

__ADS_1


"Tapi, lo harus janji ya. Lo enggak boleh ngomongin ini ke siapa pun! Bahkan enggak ke temen sekamar lo sekalipun! Pokoknya enggak boleh! Ini adalah rahasia!"


"Iya, gue tahu! Lagian gue di kosan juga tidur sendirian. Enggak ada temen sekamar. Buruan deh lo cerita! Ntar keburu Rara-nya balik loh!"


"Jadi, waktu kecil Rara ditinggalin sama ibunya, enggak tahu ke mana. Ibunya juga sama sekali enggak pernah nyamperin, atau sekadar ngabarin Rara selama 20 tahun ini. Sejak itulah, Rara cuman hidup bersama ayahnya. Ayahnya juga kayaknya cinta banget sama ibunya Rara. Soalnya dia enggak pernah nikah lagi setelah kepergian istrinya. Itu yang menyebabkan sikap Rara suka dingin kayak gitu. Padahal aslinya dia orang yang baik. Mungkin lo juga udah tahu itu."


Leon mengangguk-angguk mendengarnya dan menjadi merasa bersalah. "Pantas dia langsung berubah raut wajahnya pas gue singgung masalah ibunya. Ah, gue nyesel karena enggak tahu apa-apa. Gue janji, gue enggak akan bahas-bahas lagi soal ibunya."


"Iya, gue tahunya juga dari bokap dia. Karena bokapnya tahu gue adalah temen deket Rara, jadi beliau ngasih tahu gue soal ibunya itu. Dan selebihnya Rara sendiri yang kasih tahu gue detilnya."


"Btw, bokap Rara kayak gimana? Galak enggak?" tanya Leon jadi salah fokus.


"Itu ...."


Belum juga Rania menjawab, mobil Rara sudah kembali. Jadi, Rania pun urung untuk melanjutkan kalimatnya.


"Kita mau bawa ke mana semua barangnya?" tanya Rania setelah melihat Rara keluar dari mobil.


Leon pun juga lekas bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dengan pura-pura bersiul memanggil angin.


"Bawa ke rumah gue aja gimana? Kebetulan jam segini bokap gue pasti belum pulang. Buat acara besok biar dibantu sama pembantu gue," usul Rara dan langsung disetujui oleh mereka berdua.


***


15 menit kemudian ....


"Wah, ini rumah lo, Ra?" tanya Leon tampak takjub dengan desain megah rumah Rara yang seperti istana presiden.


Setelah mobil memasuki pintu gerbang, tampaklah jalan lurus menuju pintu utama rumah berlantai dua tersebut. Di sisi kana dan kirinya tampak hamparan rumput jepang yang menghiasai halaman luas milik Rara. Hanya ada beberapa pohon dan satu air mancur di setiap sisi jalan.


"Pohon cemara di situ lebih udah gede ya, Ra? Pas terakhir gue ke sini tingginya baru seleher gue," celetuk Rania jadi teringat masa lalu.


"Iya, terakhir kali lo ke sini bukannya 2 tahun yang lalu?" ujar Rara sambil tertawa.


"Iya, abis tu lo jadi tamu abadi di rumah gue," sahut Rania pura-pura cemberut.


Leon yang enggak tahu mau komentar apa hanya diam mendengarkan. Ia baru mengetahui kalau mereka udah sahabatan lama.


Bener-bener bikin iri. Gue mana ada yang bisa jadi temen sejati kayak gitu? Pernah punya satu temen yang bertahan agak lama pun sekarang udah benci sama gue. Kadang, gue juga benci punya aura penakhluk kayak gini.


"Leon? Lo mau nginep di mobilnya Rara?" tanya Rania ketika melihat Leon mematung di sana. Leon tidak sadar kalau mobil Rara sudah masuk ke garasi.


"Eh? Enggaklah! Sorry-sorry gue agak enggak fokus nih!" seru Leon sambil nyengir dan segera turun membantu cewek-cewek itu, membawa barang-barang ke dalam.


Tapi, baru saja Rara membuka pintu pakai kunci duplikat yang dipegangnya, mereka dikejutkan oleh kemunculan pria paruh baya berkumis tebal yang lekas auto menatap pada satu-satunya pemuda di sana.


"Ayah?" ucap Rara dengan tak percaya.

__ADS_1


***


To Be Continue ....


__ADS_2