Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta

Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta
Berbagi Denganmu (2)


__ADS_3

Rara mengigit bibirnya dengan kuat. "Gue marah karena segitu gampangnya dia ninggalin gue sama Davin. Gue benci karena dia memilih pergi, ketimbang berjuang sama-sama buat ngelewatin semua kesulitan itu. Gue benci banget sama dia, Leon. Gue benci sama nyokap gue!" ujarnya frustrasi, kemudian melanjutkan, "Tapi, gue lebih benci sama diri gue sendiri karena meskipun dia udah enggak peduli sama kita, gue masih aja ... kangen sama nyokap gue. Gue masih mengharapkan suatu saat nyokap gue bakal balik sama kita lagi. Bisa rasain masakan nyokap gue lagi. Gue juga pengen kayak anak-anak lain, kayak Rania, kayak lo. Punya orangtua lengkap yang saling menyayangi."


Mata Leon berkaca-kaca tak kuasa menahan kesedihannya saat melihat Rara terluka. Ia tidak menyangka jika cewek yang ia kenal dingin dan tampak begitu tegar, memiliki kisah masa lalu yang begitu pahit. Sekarang ia tahu, ternyata sebegitu dalamnya kerinduan Rara terhadap sosok yang menjadi ibunya itu. Rara marah dan benci karena terlalu merindukan sosok itu. "Gue tahu. Lo kayak gini, sebenarnya hanya karena begitu merindukan nyokap lo. Jadi, lo harus yakin. Suatu saat, pasti akan ada waktu indah untuk kalian. Lo harus percaya, jika Tuhan mempersatukan lo sama nyokap lo lagi, itu adalah yang terbaik. Tapi, jika tidak percayalah di luar semua itu Tuhan tahu apa yang lebih baik untuk umat-Nya. Tuhan tahu sampai di mana kemampuan umat-Nya untuk menanggung sebuah penderitaan. Jadi, jika hal buruk terjadi dalam hidup lo, berarti Tuhan tahu lo bisa ngelewatin ini."


Rara tertegun dan merasakan kata-kata Leon perlahan mendinginkan hatinya. "Thanks, Leon." Senyum itu, meski masih samar sudah tercetak di wajah Rara.


Leon pun merasa lega karenanya. "Jangan sedih-sedih lagi. Lo harus pikirin juga perasaan bokap lo. Beliau pasti terluka kalau tahu lo kayak gini. Dibanding terus memelihara kebencian dalam hati lo, mendingan lo banyak berdoa agar bagaimanapun keadaan kalian, kalian selalu berada dalam kebahagiaan."


Rara pun segera menghapus air matanya. "Ya, lo bener, Leon. Ada seseorang yang masih membutuhkan gue. Meskipun kadang dia suka bertingkah aneh, tapi ayah adalah orang yang paling gue sayang." Ia lalu tertawa. "Ah! Gara-gara lo nih, gue jadi nangis bombai kayak gini!"


"Hehehe, iya sorry. Mending kita bahas yang lain aja."


"Ok, jadi sebenarnya lo tuh sakit apa?" tanya Rara begitu cepat menemukan topik lain.


Muka Leon memerah menahan malu. "Gue mau cerita, tapi lo jangan ketawa ya?"


"Enggaklah! Masa orang sakit gue ketawain? Gue enggak sejahat itu kali!" sahutnya sedikit terheran dan penasaran. Apa yang kira-kira Leon sembunyikan sehingga sampai bicara seperti itu.


Leon menarik napasnya dalam-dalam kemudian menghempaskannya secara perlahan. "Jadi, gue tuh masuk rumah sakit gara-gara makan semangka di rumah lo," kata Leon sembari takut-takut melihat respon Rara.


"Hah?" Belum juga ngomong apa-apa Rara udah kelihatan menahan tawanya setengah mati. Sebenarnya Rara adalah tipe orang yang sangat tidak mudah tertawa. Tapi, dengan Leon kenapa semua tampak berbeda?


"Tuh, kan! Gue bilang jangan ngetawain gue. Lo mah enggak pegang janji lo sendiri!" ujar Leon pura-pura ngambek.

__ADS_1


"Ya enggak. Gue ngerasa awkward aja gitu denger ada orang masuk rumah sakit gara-gara makan buah semangka. Pfffttttt ...." Rara mati-matian memutup mulutnya. Tapi tetap aja dia enggak bisa menyembunyikan tawanya.


"Yaelah, lo harus dengerin cerita versi gue juga dong. Gue kan juga enggak mau punya alasan absurd buat masuk rumah sakit."


"Ok, ok," kata Rara mulai menghentikan tawanya. "Jadi, kenapa? Kok bisa kayak gitu? Itu beneran?"


"Ya beneranlah! Kalau bohong ngapain gue sampai diinfus kayak gini coba?"


"Iya juga, sih. Kronologis ceritanya kayak gimana emangnya?" kata Rara mulai serius mendengarkan penjelasan Leon.


"Kata dokter sih ini masalah kekebalan tubuh gue. Jadi, ada suatu zat di dalam semangka yang kalau masuk ke tubub gue tuh berubah jadi racun. Kan ada tuh yang kalau makan strobery, gatal-gatal alergi, makan micin jadi bucin, makan lontong jadi kenyang ...."


"Woi! Ngelantur lo cerita!" sela Rara sambil tertawa. Entah kenapa, bersama Leon Rara jadi lebih sering tertawa dan merasakan kenyamanan.


Rara tak henti-hentinya menertawakan cerita Leon dan gaya bicara Leon yang super lucu. "Lagian, udah tahu punya alergi parah sama semangka, kenapa kemarin maksain makan? Harusnya kan lo bilang, jadi gue bisa nyiapin makanan yang lain."


Mendapat pertanyaan seperti itu tak pelak membuat Leon malu untuk menjawab. "Ya ... itu karena bokap bilang, kalau buah semangka itu buah favorit lo. Enggak mungkin dong, gue sebagai tamu bilang enggak suka sama makanan yang disajikan oleh tuan rumahnya. Apalagi itu makanan favorit. Nanti kesannya gue enggak menghargai dan menghina selera lo."


"Tapi, kan selera dan persepsi orang itu beda-beda. Gue sama bokap cukup open minded kok kalau waktu itu lo bilang yang sejujurnya. Kan jadinya gue ngerasa bersalah sama lo. Secara enggak langsung, gue sama bokap yang udah bikin lo masuk rumah sakit."


"Enggak apa-apa. Santai aja. Lagipula, gue juga harus belajar menyukai apa yang disukai sama orang yang gue suka."


"Hah?" sahut Rara enggak ngerti Leon lagi ngomong paki bahasa apa. Belibet banget.

__ADS_1


"Pokoknya, ya gitu deh!"


Rara masih penasaran dan pengen nanya lagi sama Leon. Tapi, keburu papa, mama, ayah, dan Rania kembali.


"Wah, lagi ngobrolin apa nih? Kayaknya seru banget?" tanya mamanya Leon sembari mendekat ke sisi Leon.


"Lagi ngobrol biasa, Ma. Mereka mau bawain Leon pisang padahal mereka enggak suka pisang loh, Ma."


"Oh ya? Wah, terima kasih, ya," ucap mamanya sambil tersenyum bahagia.


"Maaf loh udah ngerepotin!" ujar papanya Leon jadi enggak enak.


"Enggak apa-apa, Om. Seharusnya kita yang minta maaf. Rara baru tahu kalau Leon punya alergi sama semangka."


"Iya, tadi Ayah juga baru tahu kalau Leon masuk rumah sakit gara-gara makan semangka di rumah kita. Maafin, Om ya, Nak Leon," sambung ayahnya Rara.


Dua keluarga itu kemudian saling bercanda satu sama lain. Dan lagi-lagi Rania harus terasingkan, tersingkir, terjengkang, dan tersisih pada obrolan mereka.


Oh Tuhan ... bolehkah gue jadi selang infus aja? Jadi manusia terlalu ribet sama perasaan.


***


To Be Continue ....

__ADS_1


__ADS_2