Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta

Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta
Dalang


__ADS_3

Lalu lintas di hari senin memang selalu padat. Entah sejak kapan hari itu dinobatkan sebagai hari paling sibuk di dunia. Terutama di pagi hari. Seolah, semua orang turun ke jalanan untuk melakukan touring bareng.


Tak terkecuali dengan jalur utama yang menuju UGM. Kota yang dulu terkenal dengan keasrian wilayahnya, perlahan mulai dipadati oleh kendaraan bermesin, tak kalah dengan kota Jakarta. Keunikan kota yang mendapat julukan kota Gudeg itu selalu memiliki daya tarik tersendiri terutama bagian tradisinya.


Begitu juga Kenzie yang pagi itu harus rela berjajar di jalanan dan mengantri untuk mendapat lampu hijau. "Kenapa dosen harus ngadain kelas pagi, padahal udah tahu hari senin macetnya minta ampun?" keluh Kenzie yang terjebak macet.


Rupanya setelah kejadian kemarin, tampilan motor dan jaket yang dipakai Kenzie berubah 180 derajat dari biasanya. Ia menutup motor gedenya yang tadinya berwarna merah dengan scorlet putih. Sebenarnya ia ingin ganti motor sekalian. Tapi, Kenzie tidak berani meminta apa pun lagi pada orangtuanya, setelah kemarin memaksa untuk ngekos di daerah yang ia sangka rumah Rara. Apes memang nasib Kenzie yang salah taktik, sehingga ia terpaksa menetap di sana menjadi tetangga Rania. Cewek yang ia anggap sebagai Baymax hidup. Dan untuk jaket, ia menyimpannya di lemari paling bawah kemudian mengganti jaketnya dengan sweeter hijau tua.


"Apa sebaiknya gue deketin Rania aja, ya biar bisa hancurin Leon secara halus? Gue bisa hasut Rania buat misahin mereka. Kalau cara ini berhasil, mungkin ini akan seperti dalam pewayangan. Para wayang yang berkelahi, gue yang jadi pengendali mereka sebagai dalang. Hahahaha." Kenzie terlalu gabut sampai ngomong pada dirinya sendiri.


***


Setelah menempuh perjuangan bermacet ria di jalan, akhirnya Kenzie sampai di kampus dengan selamat. Saat ia keluar dari parkiran, ada Jovita yang berpapasan dengannya. Namun, cewek itu tampak cuek dan berlalu begitu saja. Kenzie mau melakukan hal yang sama, masa bodoh sama apa yang mau dia lakukan. Tapi kemudian dia berpikir ulang.


Kayaknya Jovita masih marah gara-gara kemarin gue bentak-bentak dia. Cuek amat! Yah, secara teknis itu memang salah gue sih. Jovita udah bener ngasih info ke gue soal Leon yang pergi ke rumah Rara. Tapi, sialnya gue yang sedari awal sudah salah alamat. Gue dikerjain sama Rara dan Rania sehingga menganggap rumah Rania sebagai rumah Rara. Kan, gue jadinya kalah start beneran sama Leon! Ugh! Bikin kesel orang aja! Hm, kali ini gue terpaksa harus baikan sama dia, nih. Karena bagaimanapun gue butuh dia buat ngejalanin rencana gue. Gue enggak boleh kehilangan kesempatan buat bales apa yang pernah gue rasain dulu.


"Jovita, tunggu!" seru Kenzie sebelum cewek itu pergi jauh. Ia lantas bergegas menghampiri cewek yang pagi itu menguncir rambutnya menjadi dua. Entah kali ini ia sedang cosplay menjadi siapa. Sepertinya jadi anak sd versi Jepang?


"Ngapain manggil-manggil?" sahut Jovita dengan ketus. Tatapannya begitu sinis tanpa adanya senyuman sedikit pun di wajahnya. Kelihatan banget kalau dia masih sangat kesal.


"Jangan jutek gitu, dong," rayu Kenzie berlagak sok manis. Padahal, dia begitu karena ada maunya saja. Kalau tidak, enggak bakalan dia mau bermanis-manis sama cewek aneh itu.


"Enggak usah becandain gue. Gue lagi males ngomong sama lo!" Bukannya luluh, Jovita malah semakin galak saja sama Kenzie.


"Iya, ya udah deh. Gue minta maaf soal kemarin. Tapi, itu juga enggak sepenuhnya salah gue, tahu!" bela Kenzie.

__ADS_1


"Maksud lo apaan?"


"Jadi gini ...." Kenzie pun lantas menceritakan apa yang ia lakukan sampai akhirnya terdampar jadi tetangga Rania.


Jovita tertawa terbahak-bahak, nyaris merubuhkan gedung UGM dengan suara tawanya. "Sumpah! Lo goblok banget, Ken!"


Udah ngetawain pake ngatain. Mantap!


"Heh, puas lo ya. Seneng lo ya, lihat gue apes kayak gitu?" cibir Kenzie.


"Sorry, sorry! Abisnya lo tuh apesnya level dewa, masa? Pantesan aja kemarin lo enggak ketemu sama Leon. Hm, ya udah deh. Karena kita ada salah paham, kita anggap masalah ini sudah selesai aja. Gue juga lagi butuh bantuan lo. Kemarin, pas gue jalanin rencana buat bikin mereka bertengkar, gue ketahuan. Meskipun dia enggak nanya apa-apa soal duit itu sama gue, tapi gue yakin dia pasti udah tahu kalau gue yang ambil uang itu," cerita Jovita dengan sedih saat mengenang bagaimana tatapan kecewa Leon kemarin.


"Udah gue duga. Makanya lain kali jangan suka bertindak gegabah. Udah tahu kalau Rara itu bukan cewek yang gampang ditangani. Lo malah main cetek kayak gitu. Ya udah pasti ketahuanlah."


"Terus gue harus gimana? Kayaknya untuk waktu sekarang ini gue belum bisa deketin Leon lagi."


"Hah? Emang apaan?" tanya Jovita auto penasaran.


"Lo tahu enggak sekarang Leon lagi di mana?" ucap Kenzie sengaja membuat Jovita bertanya-tanya.


Jovita pun jadi gemas. "Ih! Bisa enggak sih, ngomong lo jangan setengah-setengah? Kan gue jadi geregetan!"


"Sengaja. Karena berita ini bisa bikin seisi kampus gempar."


"Buruan napa, Ken? Jangan main tebak-tebakan mulu!" ucap Jovita dengan tak sabarnya.

__ADS_1


"Siap, ya? Tapi, gue minta lo jangan teriak setelah gue kasih tahu."


"Iya, iya! Bawel lo ah! Kayak tukang galon!"


"Sini gue bisikin," ujar Kenzie mengisyaratkan pakai tangan agar Jovita mendekat. "Jadi ...." Lalu Kenzie menceritakan kejadian kemarin waktu di rumah sakit.


Mata Jovita membelalak selebar-lebarnya lengkap dengan mulut menganga yang tampak dramatis. Hampir aja ia berteriak kencang kalau tak segera menutup mulutnya. "Lo enggak bercanda, kan?"


"Heh, mana ada kayak gini dibecandain? Gue seriuslah! Gue udah mastiin di tempat pendaftaran rumah sakit, kalau yang barusan ditanyain sama Rara itu atas nama pasien Cleon Celestyn. Sayang, pas gue mau ngikutin mereka ke kamar Leon, Rara keburu menyadari keberadaan gue. Jadinya gue langsung balik pulang," jelas Kenzie dengan detil.


"Ya ampun, Leon! Emang dia sakit apaan?" tanya Jovita khawatir.


"Gue enggak tahu. Orang dibilang gue enggak sempet tahu lebih detilnya."


"Gue pengen banget jengukin dia. Tapi, gimana ya? Gue takut Leon masih marah sama gue," ujar Jovita sambil menggigiti jari-jarinya.


"Yah," ujar Kenzie tampak kecewa. "Kalau dari pihak lo enggak bertindak, itu bakal ngasih kesempatan Rara buat lebih deket sama Leon. Emang lo mau?"


"Enggaklah! Enak aja! Enggak rela banget gue kalau Leon sama cewek itu! Bentar-bentar, kayaknya gue ada cara deh!"


"Caranya?"


Senyum Jovita mengembang. "Kita bisa gunain pion lain. Yang suka sama Leon, kan enggak cuman aku doang."


Kenzie tersenyum langsung mengerti maksud Jovita. "Pinter juga lo."

__ADS_1


***


To Be Continue ....


__ADS_2