Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta

Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta
Dua Keluarga


__ADS_3

Matahari sudah lumayan tinggi saat mobil Rara sampai di halaman rumah sakit. Mereka pun segera turun dan menuju tempat pendaftaran. Tapi, ayah Rara tetiba ngeloyor hendak menuju ruang yang kemarin ia lihat. Ia lupa kalau Rara dan Rania tidak tahu tentang pertemuannya dengan kedua orangtua Leon.


"Ayah mau ke mana? Emang udah tahu di mana Leon dirawat?" tanya Rara dengan heran.


"Eh? B-belum kok! Ayah sedang melamun tadi. Heehehe," sahut ayahnya dengan gugup sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Owh ya udah, Ayah tunggu di situ aja dulu. Biar Rara sama Rania yang nanya."


Ayah Rara tak ada pilihan lain selain menganggukkan kepalanya, patuh. Jangan sampai ia menimbulkan kecurigaan lagi, atau rahasianya akan terbongkar.


"Kamar atas nama Cleon Celestyn, Sus?" tanya Rania gerak cepat.


"Baik, saya cek sebentar, ya," kata suster di bagian pendaftaran dan mengotak atik komputernya sesaat. "Oh, iya pasien yang kemarin malam baru dipindahkn dari kamar Melati ke Suit Room Amarta." Suster itu pun lantas memberi tahu ke arah mana mereka harus pergi.


Rara dan Rania tertegun sejenak.


"Suit Room Amarta bukannya suit khusus vip, ya?" tanya Rara tapi lebih kepada diri sendiri.


"Wah, sudah gue duga kalau Leon itu anakny orang tajir!" seru Rania makin klepek-klepek dibuatnya. Sementara Rara tampak tidak terlalu peduli akan hal itu.


Ia merasa sudah melupakan sesuatu yang penting. Tapi, ia tidak tahu apa itu. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya ketemulah hal yang ia lupakan itu.


Penguntit dan motor gede.


Kalau dia beneran mengikuti Rara, harusnya dia sudah ada di sekitar sini.


"Ayah, Rania. Kalian duluan dulu ya. Rara mau ke toilet bentar," pamitnya dan segera berlari ke arah anak panah yang tertulis 'toilet' guna untuk tidak menimbulkan rasa curiga.


Tapi sebenarnya ia hanya sedang bersembunyi sambil menunggu orang itu datang.


Dan benar saja. Beberapa saat kemudian Rara melihat pria berjaket sama dengan penguntit misterinya. Postur tubuhnya pun tidak dapat diragukan lagi. Pria itu masih membelakangi Rara saat sedang fokus mengelabui susternya .


"Ayolah berbalik! Tunjukkan wajah lo!" ujar Rara jadi gemas sendiri.


Tapi saat pria misterius itu benar-benar berbalik ada pengunjung lain yang menghalangi pandangan Rara.


Sial! Gue enggak bisa lihat!

__ADS_1


Dengan sisa kesabaran yang hampir habis, Rara akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya dan lekas mencari pria misterius itu.


"Sial! Gu kehilangan jejak dia!" gumam Rara celingukan mencari sosok berbadan tinggi itu.


Sementara itu, Kenzie rupanya sedang bersembunyi di balik pintu dan mengawasi Rara.


Ternyata Rara udah mencurigai gerak-gerik gue. Untung gue sadar dan segera sembunyi. Kalau enggak, aksi gue waktu itu pasti akan terbongkar. Berarti gue enggak bisa muncul di sini sekarang. Seenggaknya, info di mana Leon tinggal udah gue kantongi. Sebaiknya gue pulang aja.


Dengan pura-pura membantu seorang pasien mendorong kursi rodanya, Kenzie berhasil menyelinap keluar tanpa ketahuan oleh Rara.


"Rara! Lo ngapain malah di sini kayak orang bingung? Tuh, bokap lo nyariin. Katanya dia gugup kalau masuk sendirian," ujar Rania sembari menghampiri Rara.


"Oh, ok! Kita ke sana sekarang," sahutnya, tapi sesekali masih menoleh ke sana kemari.


"Eh, lo lihat siapa, sih?" tanya Rania yang menyadari gelagat aneh sahabatnya.


"Enggak. Cuman kayak ada sesuatu. Mungkin gue salah lihat."


Rania dibuat makin bingung dengan jawaban super rumit yang Rara berikan. "Ya udah, enggak usah dipikirin. Kita buruan nyusul bokap lo aja."


Rara mengangguk dan akhirnya merelakan kesempatannya menangkap basah penguntit itu, lewat.


"Kenapa Ayah enggak langsung masuk aja?" tanya Rara setelah dekat.


"Ayah sungkan karena enggak kenal sama mereka. Seenggaknya, kalau sama kamu kan kamu bisa ngenalin Ayah sebagi Ayah kamu," sahut ayahnya sambil nyengir. Ia bisa begitu mulus kalau soal membohongi putrinya. Sebenarnya dia cuman ingin menepati janji untuk membawa Rara saat menjenguk Leon.


"Oh iya, ya. Nanti dikira ada apaan gitu, Om tiba-tiba dateng tanpa Rara," sahut Rania membenarkan.


Rara mengangguk-angguk mengerti. "Ya udah, karena Rara udah di sini, sebaiknya kita masuk aja." Kata-kata Rara pun langsung disetujui dua orang itu.


"Permisi," ucap Rania sembari membuka pintu dimana Leon sedang menjalani rawat inap.


"Rara, Om, Rania," ujar Leon yang dalam posisi duduk di atas ranjangnya. "Kok kalian bisa tahu Leon di sini?" Tak urung, melihat kedatangan mereka Leon sangat bahagia.


Mamanya Leon sebenarnya masih sedikit kesal, mengingat merekalah yang sudah membuat putranya menderita. Tapi, begitu ia melihat Rara yang membawa sepaket buah, entah kenapa hatinya jadi senang.


Gadis ini sangat cantik. Meskipun dia tidak banyak menunjukkan ekspresi, tapi sorot matanya begitu tulus menatapku.

__ADS_1


"Ah, kalian kenapa repot-repot bawain buah segala?" Seketika mamanya Leon menyambut dengan ramah. Ia menerima buah itu dari tangan Rara dan meletakkannya di atas nakas.


"Enggak repot kok, Tante. Tadi kita beli waktu perjalanan kemari," ucap Rara sopan.


Sementara Rania, ia lupa segalanya dan langsung menghampiri Leon. "Leon lo enggak apa-apa, kan? Bagian mana yang sakit? Mau gue pijat?"


"E-eh?" Leon menghentikan tangan Rania yang hendak menyentuhnya. "Gue baik-baik aja. Cuman butuh istirahat."


"Rania," panggil Rara dengan sedikit ketegasan, berharap agar cewek itu mau menahan hawa fans-nya. "Lo enggak mau nyapa orangtua Leon dulu?"


DUARRR


Mampus gue! Jadi, dari tadi di kamar ini ada orangtua Leon? Mereka lihat gue bertingkah kayak gitu sama Leon, dong? Mampus, mampus, mampus! Pasti mereka ngira gue cewek yang kurang baik deh. Sekarang gue harus gimana nih buat benerin imej gue di depan orangtua Leon?


"H-halo, Om, Tante. S-saya Rania. Teman satu kampus dan satu jurusan juga sama Leon," ujar Rania terbata-bata saking gugupnya.


Mamanya Leon tersenyum kemudian mendekati Rania. Tangannya menyubit gemas pipi Rania yang kayak bakpau itu."Halo, teman Leon. Pipi kamu gembul banget bikin gemes!" Padahal mamanya Leon melakukan itu bukan karena gemas. Melainkan ia memberi sedikit balasan karena sudah bersikap tidak sopan. Jadi, ya bisa dibayangin nyubit semi gemas-gemas benci itu kayak gimana.


"Hehe, iya, Tante," sahut Rania sambil menahan pedih di kedua pipinya. Barulah setelah mamanya Leon melepaskan cubitannya, Rania diam-diam bergumam, "Aw."


"Mama gemasnya kebangetan. Tuh, lihat pipi bakpau Rania sampai merah gitu," ujar papanya Leon sambil tertawa garing. Tentunya ia sangat tahi bagaimana tabiat isterinya tersebut.


"Enggak apa-apa, Om. Rania cukup kuat kok. Kayak gini aja enggak bakal bikin berat badan Rania turun," canda Rania yang lekas membuat seisi kamar tertawa.


"Makasih ya, Om, Rara, Rania. Kalian udah mau nyempetin waktu buat jengukin Leon. Maaf karena Leon enggak bisa nepatin janji buat enggak sakit dan jadinya enggak bisa nguruain baksos hari ini." Leon menatap Rara membuat cewek itu mengalihkan pandangannya sambil tersenyum kecil.


"Lo enggak usah khawatir, acaranya udah kita tunda kok. Sekalian nunggu lo sembuh, kita bisa cari komunitas lain buat ikutan gabung. Makin rame , makin bagus, kan?" ujar Rara memberi ide brilian membuat semua yang di sana merasa kagum.


"Tuh, kan, Pa, Ma. Leon udah bilang kan kalau Rara ini pinter banget," puii Leon dengan tulus. Kedua orangtua Leon pun tampak mengangguk-angguk menyetujui.


Entah kenapa, saat itu Rania merasa kecil. Di hadapan orang-orang hebat ini, lagi-lagi membuatnya merasa seperti buntalan empek-empek yang hanya bisa berguling ke sana-kemari. Secara sadar, ia pun perlahan beringsut berdiri di belakang orang-orang.


"Oh, jadi ini putri bapak yang kemarin ...." ucap papanya Leon yang segera dicegat oleh ayahnya Rara.


"Ah, Bapak sama Ibunya Leon. Sebenarnya saya ada sedikit yang ingin dibicarakan. Bagaimana kalau membiarkan anak-anak bicara lebih leluasa?" ajak ayahnya Rara sambil berkeringat dingin.


Kalau sampai mereka ngomong soal pertemuan kemarin, Rara bisa curiga. Gawat!

__ADS_1


***


To Be Continue ....


__ADS_2