Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta

Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta
(Bukan) Terakhir?


__ADS_3

"Ngapain lo di sini?" tanya Rara terdengar sinis. Tapi, sebenarnya ia hanya tidak suka orang luar mengetahui masalahnya.


Leon mendesis lirih. Ia sudah tahu akan mendapat perlakuan dingin dari gadis itu. Tapi, ia tidak bisa menahan kekhawatirannya setelah melihat keributan Jovita dan kawan-kawannya tadi.


Gue harus bilang apa? Kalau gue kasih tahu yang sebenarnya Rara pasti enggak percaya dan malah nuduh gue cari-cari alasan aja.


"Demi Tuhan gue enggak ada maksud buat ngintipin lo!" seru Leon akhirnya sambil mengangkat dua jari ke udara membentuk simbol sumpah. Posisinya yang masih membelakangi kedua gadis itu jadi begitu lucu di mata Rara. Kalau Rania mah jangan ditanya lagi. Leon lagi boker pun mungkin dia tetap akan tergila-gila pada pemuda itu.


"Kalau reaksi lo kayak gitu, gue malah makin yakin lo tu orang mesum," ujar Rara sambil menampakkan senyum evil-nya.


Rania sontak menatap Rara seolah mengatakan betapa kejamnya gadis dingin itu. Sementara yang ditatap hanya mampu nyengir sambil mengeluarkan dua jarinya sebagai simbol perdamaian.


Mendadak kepala Leon bak kejatuhan papan iklan bertuliskan kata 'mesum'. Begitu menyakitkan dan memalukan. "Eh? Gue enggak kayak gitu!"


"Hahahahahhaha!" Akhirnya pertahanan Rara pun jebol. Melihat betapa lugunya pemikiran pemuda itu membuat Rara sedikit terkesan. "Lo udah boleh balik badan sekarang."


Leon tersentak saat mendengar tawa Rara yang baru pertama kali didengarnya. Ia pun dapat menghela napasnya dengan lega. Menghadapi gadis itu, ia selalu menjadi tersangka di setiap pertemuan. Entah kenapa juga ia tidak bisa melawan Rara. Padahal, gadis lainnya bisa sangat tunduk padanya. Tapi, Rara adalah seribu satu dari sekian banyak gadis yang mengaguminya. Leon seperti sedang bertemu karma dalam hidupnya. Jika selama ini ia digilai banyak gadis, sekarang ia menjadi gila karena sikap acuh seorang gadis bernama Delmora Engrasia itu.


"Leon, tolong jangan ambil hati kata-kata Rara, ya!" ucap Rania disertai senyum yang hampir merobek mulut manisnya. "Gue percaya lo tuh manusia suci yang diturunkan dari langit."


"Enggak usah sok imut," sela Rara menyenggol sedikit keras lengan Rania membuat gadis itu kehilangan keseimbangan. Akhirnya pose manisnya pun ambyar sudah.


Leon hanya bisa nyengir mendengar pujian yang berlebihan itu untuknya. Jujur ia tidak mengerti kenapa Rania bisa berteman dengan gadis seperti Rara yang sikapnya seratus persen bertolak belakang. "Sebenarnya gue udah tahu situasi di grup yang genting. Jadi, pas gue lihat Jovita ke sini gue enggak sengaja ngikutin dia dan ketemu sama lo," kata Leon menjelaskan secara singkat proses kedatangannya ke tempat itu.


Rara menatap Leon tak mengerti.


Grup? Grup apa? Semua kata-katanya enggak ada yang gue ngerti. Lagian enggak penting juga. Gue enggak peduli.


Rara menoleh pada Rania berharap gadis itu satu pemikiran dengannya. Tapi, di luar dugaan gadis gembul itu terlihat memasang wajah serius.


Emang salah gue berharap dia jadi waras di depan Bunglon ini.


"Tapi lo baik-baik aja, kan? Mereka enggak beneran ngerjain lo, kan?" tanya Leon khawatir banget.


Mimik wajah Rara balik dingin seperti sediakala. "Bagus deh kalau lo tahu kejadian ini gara-gara siapa. Harusnya lo udah tahu juga apa yang sebaiknya lo lakuin. Jauhi gue."


Leon terhenyak seketika. Perlahan senyum dan cahaya di wajah Leon meredup. "Gue menyesal udah bikin lo berada di situasi kayak gini. Gue harap ini terakhir kalinya gue membahayakan keselamatan lo."

__ADS_1


"Hm." Rara tak tahu harus merespon seperti apa. Entah kenapa saat itu ia merasa Leon berkata dengan tulus. Kesedihan pemuda di hadapannya sama sekali tidak tampak dibuat-buat. Tapi, kenapa Leon harus sedih?


"Ehm-ehm!" Merasa dicuekin Rania sengaja berdehem cukup keras. "Sebenarnya ini bukan salah lo kok, Leon! Emang dasar cewek-cewek itu aja yang iri sama Rara. Makanya mereka sampai berbuat nekat kayak gitu. Tapi, lo enggak usah khawatir. Gue udah ...."


"Rania kita pulang sekarang," tukas Rara sebelum Rania bicara terlalu banyak. Ia memutar badannya hendak pergi. Tapi, menyadari Rania yang sama sekali tak beranjak dari tempatnya, membuat Rara berhenti. "Lo enggak mau pulang?"


"Enggak," sahut Rania asal karena masih asik memandang wajah tampan Leon.


"Lo enggak lupa, kan gue ke sini buat siapa?" kata Rara sedikit menyelipkan ancaman.


Rania pun lekas tersadar oleh rasa bersalahnya, kemudian mengikuti gadis itu pergi. "Leon, maaf ...."


Pemuda itu tersenyum kecil lalu melambaikan tangan pada Rania. Di wajahnya yang tampan masih dipenuhi oleh kesedihan.


Ternyata ada juga cewek yang mandang gue enggak cukup baik buat dia. Gue sang penakhluk, kenapa bisa dibuat sesedih ini?


Melihat itu membuat Jovita yang mengintai dari kejauhan menjadi kesal. "Cewek ini ternyata enggak gampang ditangani. Gue harus cari cara lain."


***


"Baiklah, kuliah hari ini cukup sekian. Jangan lupa, untuk acara kunjungan pasar besok kalian harus sudah siap jam 7 pagi," ucap pak dosen mengakhiri pelajarannya. Sebelum keluar kelas ia kembali menoleh ke arah murid-muridnya. "Untuk tempat duduk menyesuaikan kelompok masing-masing ya."


"Maaf, ya. Gue pikir kemarin udah yang terakhir," ucap Leon sembari melirik ragu-ragu pada gadis di sebelahnya yang memegang kertas bertuliskan angka 5. Sama seperti yang ia pegang saat ini.


"Enggak ada yang tahu kalau gue bakal satu kelompok sama lo. Ini cuman kebetulan," ujar gadis yang tak lain adalah Rara kemudian ia pun beranjak pergi.


"Gue janji enggak bakal nyusahin lo!" seru Leon saat Rara hampir keluar kelas. Ia tidak sadar kalau banyak pasang mata yang menatap cemburu pada intensitas hubungan mereka.


Semakin lama gue kenal dia, kayaknya dia enggak sedingin yang gue kira.


"Rara tunggu gue!" seru Rania kemudian berlari sekuat tenaga menyusul sahabatnya yang pergi tanpa pamit itu.


Jovita yang sedari tadi hanya jadi penonton pun mendekati Leon. "Kasihan banget lo, Leon. Satu kelompok sama cewek judes itu. Gue enggak tega. Huhuhu," ujarnya sambil berlagak nangis layaknya pemain sinetron azab.


"Kayaknya gue enggak lagi dalam posisi buat dikasihani deh," jawab Leon sama sekali tak mengerti maksud Jovita mengatakan hal itu.


"Bukannya lo benci sama Rara? Dia udah bersikap enggak baik sama lo, kan?" tanya gadis itu bingung. Ia tidak mungkin salah mengira, kan?

__ADS_1


"Gue harus segera pergi kayaknya," kata Leon mulai tidak nyaman dengan Jovita. Apalagi mengenai urusan pribadinya, ia tidak ingin sembarang orang mengetahuinya.


Melihat Leon pergi ketika Jovita hendak mencari informasi, membuat gadis itu mendengus kesal. "Sialan! Leon enggak pernah sejutek ini sebelumnya. Awas aja lo, Ra! Enggak semudah itu merebut perhatian Leon dari gue!"


***


Rara dan Rania tengah berjalan menuju parkiran saat tak sengaja berpapasan dengan Kenzie. Mahasiswa dari jurusan teknik.


"Delmora Engrasia?" ujar pemuda itu membuat sang empunya nama memberi perhatian sejenak.


Tadinya Rara tak mau menanggapi tatapan Kenzie yang mengarah padanya. Tapi, mendengar pemuda itu menyebut namanya membuat Rara mau tak mau harus tahu apa yang dia inginkan.


"Gue enggak kenal sama lo," ujar Rara to the point.


Rania mendekat dan berbisik, "Dia Kenzie Ganendra anak tekhnik. Mantan temen Leon."


"Mantan?" sahut Rara spontan membuat Kenzie mengerutkan dahinya. Rara pun lekas kembali menatap pemuda itu. "Ada urusan apa lo?"


Kenzie tersenyum misterius. "Jutek dan enggak suka basa-basi. Lo cewek yang unik."


"Lo enggak ada hak buat nilai gue," sahut Rara sangat tidak suka.


Kenzie malah tertawa tanpa suara. "Suka enggak suka, kita akan sering bertemu nanti. Gue pergi dulu."


Bicara dengan Kenzie membuat mood Rara menjadi buruk. "Pede banget! Siapa juga yang mau ketemu sama dia. Cih!"


"Kayaknya lo hati-hati deh, Ra," kata Rania.


"Kenapa?"


"Gue mencium bau kejahatan yang kuat di tubuh Kenzie."


Rara mendecak. "Bilang aja lo laper. Pake segala mencium bau kejahatanlah. Kita pergi makan dulu sebelum pulang. Gue butuh makanan buat naikin mood gue yang anjlok."


"Ok." Dalam sekejap Rania menjadi penurut kalau bersangkutan dengan makanan.


Pantes subur.

__ADS_1


**


__ADS_2