
Waktu sudah mendekati jam makan siang. Kenzie menatap jam di pergelangan tangannya dengan tidak tenang. Matanya gelisah menunggu seseorang yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
Akhirnya, ia memutuskan untuk menghubungi si pemberi informasi. Ia curiga cewek itu ngasih informasi yang salah.
"Halo, Jov! Lo ngerjain gue, ya?" tuduh Kenzie tanpa basa-basi.
"Jav, Jov! Jangan panggil gue kek gitu, napa? Hargai dong jerih payah orangtua gue yang udah ngasih nama bagus buat gue!" keluh Jovita kesal.
"Bodo amat!" sahut Kenzie dengan ketus. "Mau nama lo Jovita kek, Japitan kek ... enggak ada urusan!"
"Lo ngapa dah tetiba telpon marah sama gue kayak orang gila?" tanya Jovita menekan sedikit kesabarannya.
"Sampai sekarang Rara belum pulang juga. Gue tuh udah nungguin Rara di rumahnya selama 3 jam. Apalagi namanya kalau bukan lo ngerjain gue?"
"Enggak mungkin!" bantah Jovita tidak ada keraguan sama sekali. "Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri, mereka masuk ke mobil Rara dan bawa barang-barang-barang itu ke rumah Rara. Gue cuman enggak yakin mereka punya acara apa. Tapi, gue bisa jamin soal mereka yang pergi ke rumah Rara, ini informasi yang seratus persen real!" ujar Rara membela diri dari tuduhan Kenzie.
"Tapi, kenyataanya sampai sekarang mereka belum datang juga! Lo kalau mau nipu cerdas dikit kek!"
"Kok lo jadi ngata-ngatain gue sih?" sahut Jovita jadi tersulut emosi juga karenanaya. "Lo tuh enggak tahu terima kasih banget! Udah dikasih informasi penting, mana gratis, masih aja nyalahin gue! Terserahlah lo mau apa! Gue capek ngomong sama lo!"
Klik.
Jovita memutus panggilan sepihak tanpa menunggu jawaban dari Kenzie.
"Gue juga ogah ngomong sama lo! Penipu!" ujar Kenzie uring-uringan dan lepas kendali. "Dasar ular! Bilangnya bantuin tapi malah ngejerumusin! Partner apaan kalau kayak gini namanya? Partner *** ayam iya!" Kenzie masih hidmat mengomel pada angin sampai sebuah deheman menghentikan aksinya.
"Enggak sopan!" ujar seorang pria yang berada di belakang Kenzie.
Eh?
***
"Makasih, Om atas jamuannya. Kalau gitu saya pulang dulu," ujar Rania sambil mencium punggung tangan ayah Rara ketika pamit di depan pintu utama rumah Rara.
"Maaf ya, Om, jadi ngerepotin. Udah diajak makan siang segala. Nanti di lain kesempatan saya yang akan traktir," ujar Leon dengan sopan. Tak lupa ia juga mencium punggung tangan pria yang sudah cukup akrab dengannya itu.
"Om tunggu, ya," balas ayah Rara terlihat senang. "Kalian sering-sering bawa Rara pulang. Biar rumah enggak sepi kek kuburan. Kan Om belum mati, hehehe."
"Ayah," sela Rara merasa tak enak saat keluarga satu-satunya yang ia miliki itu membicarakan masalah mati. "Enggak usah becanda berlebihan. Mumpung Ayah libur, mending gunain buat istirahat."
"Iya, sayangku," ujar ayahnya gemas sambil mengelus rambut Rara dengan lembut.
__ADS_1
"Ya udah, kalau gitu Rara nganterin mereka dulu." Sekarang gantian Rara yang mencium tangan sang ayah kemudian bersama-sama pergi masuk mobil.
Ayah Rara melambaikan tangan saat mobil putrinya itu berjalan keluar. Bahkan, sampai mobil itu menghilang dari balik pintu gerbang, ia masih setia menatap ke sana.
Putriku, jangan terlalu membenci ayahmu ini. Ayah tidak tahu sampai kapan ayah bisa menemanimu di dunia ini.
***
"Leon lo enggak apa-apa?" tanya Rara sambil melihat cowok itu dari kaca spion di atasnya.
Rania yang duduk di samping Rara, menolehkan setengah badannya ke belakang. "Iya loh! Perasaan semenjak masuk mobil lo diem aja. Lo enggak enak badan? Capek? Atau enggak kuat naik mobil ber-ac?"
Mendengar itu, tangan Rara otomatis menurunkan tingkat kedinginan ac di mobilnya. Melihat cowok itu bersikap tidak seperti biasanya membuat Rara cemas.
"Gue baik-baik aja. Cuman masih mikirin nasib pisang tadi. Gue tuh udah bayangin bakal makan pisang sampai puas di kosan," sahutnya dengan lesu.
Sontak, ucapan Leon pun mengundang tawa dari kedua cewek itu.
"Ya ampun, Leon! Segitu fanatiknya-kah seorang Cleon Celestyn terhadap buah bernama pisang? Gue bener-bener terkejut!" komentar Rania tak bisa menghentikan tawanya.
"Kalau lo begitu menyayangi buah pisang, sampai bikin lo kayak orang sakit, kita bisa mampir dulu ke toko buah. Gue yang traktir sebagai permintaan maaf karena gue sekeluarga anti sama pisang," kata Rara bisa bernapas lega sekarang.
"Iya, gue juga minta maaf ya, Leon. Habisnya gue takut bokap Rara bakal marah kalau lihat pisang di rumahnya. Jadi, sebelum beliau tahu, kita langsung inisiatif buat kasih buah itu ke mamang tukang ledeng. Daripada dibuang, kan?" ucap Rania merasa tidak enak dan pengen ketawa secara bersamaan.
"Jadi, gimana? Itu di depan ada toko buah. Mau mampir beli enggak? Mumpung gratis loh," ujar Rara mengiming-imingi kata gratis pada Leon.
Tapi, tidak seperti biasa, Leon tampak tidak bersemangat. "Enggak, deh. Kapan-kapan aja. Gue lagi pengen cepet sampai kosan aja."
Ah, kan tubuh gue jadi lemes gini? Please jangan pingsan dulu.
Rara dan Rania saling pandang. Tapi, akhirnya mau tak mau, mereka hanya bisa menuruti kemauan Leon.
Setelah sampai di sekitaran UGM, Leon minta di turunin di situ.
"Emang mobil enggak bisa masuk sampai kosan lo?" tanya Rara entah kenapa jadi sedikit khawatir.
Leon menggeleng pelan. "Jalan ke kosan gue masuk gang kecil itu. Cuman muat kendaraan roda dua. Itu pun kalau udah masuk situ enggak boleh dinyalain. Katanya buat menghormati penghuni di sekitaran situ."
"Oh, gitu," sahut Rara sambil mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.
"Tapi, lo beneran baik-baik aja, kan? Muka lo pucat loh, Leon," kata Rania tak kalah cemasnya.
__ADS_1
"Enggak apa-apa. Santai aja. Gue mah kuat. Masa cowok menye-menye sih!" kata Leon memaksakan tawanya keluar agar kedua temennya itu tenang.
"Hm, ya udah kalau gitu kita pergi ya, Leon. Bye-bye!" ucap Rania sambil melambaikan tangannya.
Rara melempar senyumnya sedikit. "Jangan sakit! Inget! Besok ada acara yang musti lo urus."
Leon balas tersenyum. "Iya, gue tahu kok. Lo tenang aja. Hati-hati di jalan!" katanya sambil melambaikan tangannya juga.
Mobil Rara pun melaju pergi meninggalkan Leon. Serangan kandu g kemihnya membuat Leon lekas berlari menuju kosan.
Sial! Efeknya udah bekerja! Mana sempat gue beli obat?
***
"Ra, lo ngerasa enggak sih, kalau ada yang salah sama Leon?" tanya Rania saat masih di perjalanan menuju rumahnya.
"Gue enggak terlalu merhatiin. Emangnya kenapa?" Rara malah balik nanya. Sengaja ia pura-pura tidak peduli karena malu di hadapan Rania.
"Jujur, gue baru tahu kalau Leon itu suka banget sama pisang. Kalau dia sampai kayak gitu, berarti sukanya udah level dewa, kan?"
"Mungkin," sahut Rara tampak acuh tak acuh.
"Kok bisa kebalikan sama lo gitu ya?" Rania tertawa garing.
"Mana gue tahu!" balas Rara sambil menggeleng tak habis pikir. Kenapa Rania bisa sampai berpikiran sejauh itu?
Tak lama kemudian, mobil Rara telah memasuki halaman rumah Rania. Mereka heran karena rumah Rania yang biasanya sepi, tampak begitu ramai. Bahkan pintu rumahnya pun terbuka.
"Oh, iya! Gue lupa kalau hari ini orangtua gue pulang! Kirain masih ntar sore."
"Ya udah gih kita turun. Gue sekalian mau nyapa mereka juga," ajak Rara yang langsung diiyakan oleh Rania.
Tapi, pas mereka nyampe depan pintu, ada hal yang lebih membuat mereka terkejut lagi.
"Kenzie?" seru Rara dan Rania bersamaan.
"Tolongin gue ...."
***
To Be Continue ....
__ADS_1