
Motor ninja berwarna hitam berhenti tak jauh dari mobil jazz merah milik Rara yang terparkir di depan sebuah rumah. Sang empunya motor yang menggunakan helm full-face tampak membuka sedikit kaca yang menutupi wajahnya.
"Oh, jadi dia tinggal di sini?" gumam orang itu yang tak lain adalah Kenzie. Di balik helm hitamnya, ia tersenyum licik saat benaknya seketika menyusun beberapa rencana. Entah apa yang ia rencanakan pada Rara, tapi dilihat dari gelagatnya dapat dipastikan itu bukan suatu hal yang baik.
Kenapa ia sampai mengikuti Rara pulang? Apa yang ingin ia lakukan dengan mencari tahu tempat tinggal gadis itu? Apa ini ada hubungannya dengan Leon? Semua orang tahu bagaimana buruknya hubungan mereka.
Pemuda itu menutup kembali kaca helmnya saat melihat Rara keluar dari mobil. Ia tidak boleh ketahuan agar rencananya bisa berjalan dengan baik. Gadis itu terlihat kesal karena sampai membanting pintu saat keluar. Tempat Kenzie berhenti memang cukup jauh dari pandangan gadis itu. Tapi jika Kenzie berada di sana terlalu lama pasti Rara akan menyadari kehadirannya. Jadi, begitu sudah melihat Rara turun dari mobil, Kenzie segera memutar haluan pergi ke tempat lain.
Enggak penting buat gue balik lagi ke kampus. Males banget gue harus ketemu sama Leon. Lebih baik gue segera memulai rencana ini!
Sementara itu setelah keluar dari mobil, Rara tampak berjalan ke sana-kemari sambil berkacak pinggang. Ia sendiri bingung kenapa bisa ada di situ. Pikirannya benar-benar sedang tidak bisa diajak fokus. Beruntung hal itu tidak menjadikan ia mengalami hal yang buruk di jalan.
"Sial! Gara-gara kebiasaan nganterin Rania, gue malah pulang ke rumah dia. Jangan-jangan gue udah lupa jalan ke rumah sendiri? Lagian kalau gue bisa milih, gue bakal lebih milih tinggal di sini. Kasihan juga tu anak kalau pulang sambil ngesot. Kendaraan umum mana ada yang lewat sini?"
Meskipun merasa kesal, pada akhirnya gadis itu masuk lagi ke dalam mobil dan kembali ke kampus untuk menjemput sahabatnya tersebut.
Jadi, ada yang tertipu?
***
Tak sampai 15 menit, Rara sudah sampai di parkiran kampus dan keluar dengan sedikit tergesa. Ia takut Rania sudah keburu pergi. Tapi, di saat terburunya Rara malah bertemu dengan seseorang yang jadi penyebab kekesalannya hari itu.
"Eh? Balik lagi!" seru Leon senang seperti anak kecil yang baru saja menerima permen. Bibirnya tidak bisa menahan senyum setiap kali melihat raut wajah jutek gadis itu. Entahlah, bertemu dengan Rara membuat dada Leon berdesir. Antara meningkatnya adrenalin Leon dan gugup. Hatinya seperti sudah bersiap untuk segala kemungkinan buruk yang akan diterima. Tapi, kenapa ia seolah menantikannya?
__ADS_1
Rara hanya melirik sekilas pemuda itu dan bergegas pergi tanpa berniat membuang waktu lebih lama. Kalau saja ia punya jubah ajaib milik Harry Potter tentunya ia bisa menghindari pemuda rese itu dengan mudah.
Bisa enggak sih, enggak usah pasang muka imut begitu?
Bahkan, di saat suasana hatinya sedang kesal, Rara masih sempat memuji tampang Leon yang imut dalam hati. Justru karena tidak ingin terhanyut lebih dalam, berada di dekat Leon terasa berbahaya. Ia harus tetap sadar untuk menjaga kewarasannya.
"Jangan gitu dong," ucap Leon begitu memelas membuat gadis itu terpaksa menghentikan langkah. "Kenapa sih lo dingin banget sama gue? Lo enggak lihat bagaimana usaha gue buat narik perhatian lo? Tolong jangan menghindari gue terus. Sebenarnya gue cuman mau ngomong sama lo."
Merasa lelah, Rara akhirnya menolehkan kepalanya pada pemuda itu. "Tapi, gue enggak mau ngomong sama lo."
Jleb!
Ini sudah yang ke sekian kalinya dia nolak dan bersikap ketus sama gue. Dan rasanya masih sakit banget. Gue enggak terbiasa dengan ini. Kenapa gue enggak bisa marah sama dia? Bertemu sama cewek ini gue seolah ngerasa bahagia tapi juga sedih di waktu yang bersamaan. Kenapa?
Sudut bibir Rara membentuk senyum kecil yang sangat singkat. "Gue enggak tahu lo ngomong apa. Jadi, menurut gue jangan berusaha nyusahin diri lo sendiri dengan deketin gue. Ngerti?"
Rara sedikit termenung. Hm, kayaknya gue ngomong terlalu banyak. Mending gue segera cabut deh!
Leon masih terlarut dalam pikirannya saat gadis itu beranjak. Ia tak menyadari sampai ia celingak-celinguk mencari sosok gadis itu.
"Eh, ke mana dia? Kok hilang?" Ada kekecewaan yang terkandung dalam mata dan nada bicara pemuda itu. Benarkah ini hanya rasa penasaran Sang Penakhluk yang diperlakukan dengan tak biasa oleh seorang gadis atau karena Leon jatuh hati pada Rara? Yang pasti, perasaan diabaikan ini membuatnya ingin sekali memenangkan hati Rara. Delmora Engrasia.
***
__ADS_1
Bunglon itu ngrepotin banget! Gue cuman enggak mau peduli sama orang asing. Kenapa dia bikin gue kesel dan masalahnya jadi rumit kayak gini? Pokoknya ini yang terakhir kalinya gue berurusan sama dia!
Dengan tekad yang telah diperbaharui, Rara melanjutkan langkahnya untuk mencari Rania. Memikirkan kemungkinan di mana gadis gembul itu berada, Rara yakin tidak akan jauh dari area Graha Saba Permana. Soalnya Rara sangat mengerti tabiat 'mager' alias malas gerak sahabatnya tersebut.
Rara menghempaskan napas lelahnya. "Untung lo sahabat gue. Nyawa lo masih gue ampuni karena udah buat gue putar balik ke kampus! Ngomong-ngomong harusnya dia ada di sekitar sini? Apa udah pulang?"
Gadis itu mencari dengan tenang sambil melihat ke sisi kanan dan kirinya. Meskipun ia terlihat dingin dan tidak berperasaan, tapi untuk orang yang benar-benar dipedulikan, Rara bisa sangat loyal.
Apa dia ke kelas?
Rara baru saja hendak menuju kelas saat tiba-tiba seseorang membekap mulutnya dari belakang dengan sangat kuat. Ia begitu terkejut sampai tidak sempat untuk melawan seseorang yang menyeretnya pergi ke sebuah tempat sepi dan juga gelap.
Siapa yang berani ngelakuin ini sama gue? Tangan ini ... lumayan kuat!
Brak!!
Tubuh Rara dihempaskan dengan kasar ketika sampai di sebuah tempat yang cukup sempit. Itu tampak seperti sebuah kamar mandi rusak. Bahunya terasa sedikit nyeri akibat terbentur dinding keramik di sana. Pencahayaan yang minim membuatnya sedikit kesulitan untuk melihat siapa yang kini sedang berdiri di hadapannya. Tapi, ia bisa melihat siluet orang itu lebih dari dua orang.
Jadi, mereka mau main keroyokan?
Batin Rara saat beberapa orang yang ia sinyalir berkelamin betina itu mulai mendekatinya.
***
__ADS_1
To Be Continue ....