Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta

Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta
Sasaran


__ADS_3

Pagi memulai harinya kembali, begitu pula dengan kehidupan di kampus UGM. Seperti mengulang kehebohan yang baru saja terjadi kemarin, pagi itu pun diawali dengan histeris para gadis yang membuay pekak telinga.


"Gadis-gadis bodoh ini!" gerutu Jovita sambil membetulkan poninya yang rata. "Tentu saja mereka enggak secerdas gue buat dapetin Leon." Ia lalu tertawa menyerupai pemeran Si Manis Jembatan Jebol.


Sebelum pergi menemui Leon, Jovita mengecek penampilannya terlebih dahulu. Memakai pakaian serba ungu, dari sepatu sampai bando, Jovita berniat menirukan gaya Hinata dalam serial Naruto. Tapi, tanpa ditunjang dengan body yang bagus, membuat siapa pun yang melihatnya berpikir dua kali antara cosplay jadi hinata apa jadi terong?


"Pokoknya gue enggak boleh melewatkan satu hari pun tanpa membuat Leon terpesona. Kalau seorang Masashi Kishimoto aja kesengsem sama Hinata, apalagi Leon," ucapnya jadi gemes sendiri. "Ah, gue udah ketinggalan jauh nih!"


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Jovita pun bergegas menuju keramaian dimana semua gadis ingin melihat sang penakhluk lewat. Namun, saat Jovita tiba di tempat kejadian, ia melihat hal yang tak terduga. Sesuatu yang membuat raut wajahnya tampak tidak senang.


Leon ganti gaya rambut lagi? Gue suka sih lihatnya. Leon jadi ganteng dua ribu kali lipat. Tapi, dia ngelakuinnya buat apa?


Sedetik kemudian Jovita sudah kembali menghambur bersama gadis-gadis lain yang mengikuti Leon seperti kumpulan lalat. Maksudnya Leon bau, gitu?


Di sekitaran Graha Saba Permana Rara dan Rania sedang duduk-duduk santai sambil menikmati pemandangan gunung merapi yang tampak anggun di belakang gedung.


"Pemandangannya bagus ya!" seru Rania bersemangat seperti biasa.


"Lumayan," Rara menjawab seadanya. Ia lebih suka melihat sesuatu yang indah itu dalam diam. Dengan begitu ia bisa menikmati pemandangan itu penuh hikmat.


Namun, baru saja ia merasakan kenyamanan; angin sepoi-sepoi yang menyejukan, sinar mentari yang tidak begitu menyilaukan, dan suara burung pipit yang bikin tenang seperti lagi di acara yoga, tiba-tiba keributan yang mulai akrab di telinga Rara terdengar begitu dekat.


Tanpa melihat pun Rara tahu dari mana sumber kegilaan itu. Ia sontak berdiri hendak menjauhkan diri dari hiruk-pikuk yang merusak paginya. Saat itulah matanya tak sengaja menangkap sosok Leon yang tengah berjalan ke arahnya.


Layaknya adegan slow-motion Leon berjalan pelan penuh gaya. Angin semriwing pagi itu menerbangkan helai kemeja biru tua motif kotak-kotak kecil yang ia pakai tanpa mengancingkannya. Beruntung, ia masih waras dengan memakai baju dalam berwarna putih. Jika tidak, hm ... mungkin pagi itu UGM akan sarapan sehat dengan roti sobek. Ngomong-ngomong soal sobek, tak lupa Leon melengkapi penampilan ala boyband-nya dengan celana hitam ketat yang beberapa bagiannya sobek-sobek.


Gaya khas ala anak boyband Korea pun semakin mantap dengan rambut Leon yang ditata belah tengah bervolume bagian poninya. Andai tak tertolong dengan wajahnya yang terlahir memesona, mungkin Leon akan terlihat seperti Charly Esteh Dua Gelas.


"Enggak guna," ucap Rara lekas berpaling dari pemandangan yang membuat matanya terasa pedih. "Rania, sebaiknya kita ...." Gadis itu tidak jadi melanjutkan kalimatnya setelah melihat Rania sudah seperti abis digigit anjing yang kena rabies.


Plak!


Sebuah tisu setebal lima sentimeter menampar wajah Rania membuat gadis itu nyaris terjengkang.


"Elap tu air liur!" ucap Rara sembari mendengus kesal. "Udah ah! Mending kita pergi aja!"


"Kenapa, sih? Gue lagi asik nih," sahut Rania malah menggigiti tisu yang dikasih sama Rara.


"Tolong dong, muka mesum lo itu dikondisikan! Gue enggak mau aja Si Bunglon itu rese di depan gue," kata Rara sambil memutar bola matanya tampak bosan.


"Bunglon siapa? Leon maksud lo? Dih, jauh amat bandingin Leon sama bunglon?" seru Rania tak terima.


"Merubah gaya rambut setiap hari, apa itu namanya kalau bukan bunglon?"

__ADS_1


"Lagian lo kok yakin banget dia bakal rese di depan lo?"


Rara sedikit tergagap, tapi segera ia tutupi. "Ya, gue sayang mata. Enggak kuat lihat kenarsisannya!"


"Lagi ngomongin gue ya?"


Rania syok sementara Rara mendecak kesal saat melihat pemuda itu sudah berdiri di dekatnya. "Enggak penting banget," ucap Rara dingin dan lekas menjauh.


"Eh, jangan gitu dong!" seru Leon seraya refleks menahan tangan gadis itu.


Sontak kelakuan Leon tersebut menimbulkan kehebohan di kerumunan orang-orang yang sedari tadi mengejarnya. Mereka langsung syok berjamaah melihat pemuda yang selama ini menjadi incaran di UGM sedang menahan kepergian seorang gadis untuk pertama kalinya. Separuh dari mereka histeris tak rela melihat fenomena langka itu.


Tak terkecuali Jovita yang sudah lama memendam rasa, bahkan nyaris berambisi untuk mendapatkan Leon. Darahnya mendidih hingga memperlihatkan asap di atas kepalanya.


What? Itu ... itu enggak salah Leon mau pegang-pegang cewek? Padahal itu cewek udah mau pergi tapi ditahan sama Leon? Siapa sih tu cewek? Kurang ajar banget bikin Leon kita kayak gitu! Apa tingkah aneh Leon belakangan ini gara-gara dia? Ini enggak bisa diterima! Awas aja dia! Mau dapetin Leon, langkahi dulu mayat cewek-cewek di sini!


Jovita membatin dengan geram dan cemburu yang membara. Demi apa pun ia tidak akan pernah melepaskan Leon. Apalagi untuk cewek bertampang biasa seperti Rara.


"L—leon ... lo ...," ucap Rania tergagap melihat tangan indah Leon berada di pergelangan tangan Rara.


"Mau lo apa, sih?" bentak Rara sembari mengibaskan tangannya sehingga lepas dari genggaman Leon.


Gila! Dia cemberut kayak gitu imut banget!


Enggak-enggak! Gue harus tetap sadar! Inget, Ra! Jangan sampai lo kemakan sama pengaruh dia!


"Ya, maaf gue refleks megang tangan lo," ucap Leon malah prangas-pringis sendiri. Ia melihat sebentar telapak tanganya yang tadi sempat menyentuh kulit halus Rara. Jujur, ada kenyamanan yang selama ini belum pernah ia rasakan saat menyentuh gadis itu membuat Leon tak mengerti.


Mata tajam Rara lekas memindai aura gelap di sekitarnya. Instingnya tidak mungkin salah jika menyangkut keselamatan jiwa dan raganya. Dan benar saja. Di sekelilingnya kini ada jutaan mata yang siap membunuhnya kapan saja. Mereka seperti kawanan harimau yang baru saja kehilangan mangsa dan dialah sasaran berikutnya.


Dasar menyebalkan!


"Lo sengaja mau bunuh gue?" tanya Rara yang lebih kepada tuduhan daripada pertanyaan.


Leon terkejut. "Bunuh? Bunuh apa? Astaga gue cuman megang tangan lo juga enggak ada 3 menit. Gimana ceritanya orang megang tangan doang bisa sampai ngebunuh? Ada-ada aja," sahutnya antara heran dan gugup.


Bola mata Rara memutar malas atas ketidakpekaan cowok di depannya ini yang keterlaluan. "Lo ngelakuinnya di depan semua fans lo. Lo mau bikin seluruh kampus UGM ramai-ramai ngebully gue?"


Seperti tidak begitu saja percaya pada ucapan Rara, Leon menoleh ke sekitarnya. Dan ia mengerti sekarang pada apa yang menjadi kekhawatiran cewek di depannya ini.


Salah, lagi!


"Maaf gue enggak bermaksud ...."

__ADS_1


"Udah lo enggak perlu jelasin!" potong Rara kemudian berseru di hadapan orang-orang yang sedang menyaksikan pertunjukkan langsung di sana. "Kalian denger baik-baik, ya! Gue enggak suka sama cowok ini! Jadi, kalian enggak perlu buang-buang waktu buat mengkhawatirkan keberadaan gue. Karena gue sama sekali enggak minat!" Tanpa sepatah kata pun Rara meninggalkan Leon.


Pemuda itu terhenyak seketika. Ia seperti sedang ditolak mentah-mentah di hadapan banyak orang. Bagaimana ceritanya seorang penakhluk sepertinya diperlakukan sebegini buruknya?


Buset! Dia berani banget bilang kayak gitu di depan banyak orang? Gila! Dia keren! Tapi, serius! Sikap dingin dan penolakan dia justru membuat cewek itu jadi makin lucu. Masa iya gara-gara bakso dia jadi dingin ke gue? Kalau dipikir-pikir latar belakangnya kocak banget!


Leon ketawa membuat fans-nya bertanya-tanya. "Gue udah mutusin enggak akan nglepasin dia," gumamnya dan segera pergi sebelum gadis-gadis itu mulai menggila.


Tapi, rupanya penegasan Rara barusan tidak lantas menjadikan fans Leon tenang dan membiarkan semua itu berlalu. Beberapa dari mereka justru berpendapat bahwa Rara begitu sombong dengan memperlakukan idola mereka seperti itu. Di grup whatsapp yang diikuti oleh banyak member, mereka beramai-ramai membicarakan kejadian pagi itu.


"*Kita tidak bisa membiarkan hal ini terjadi terus!"


"Gila! Pengen gue congkel aja tu mata cewek!"


"Dia udah bikin Leon kita berubah!"


"Leon pasti sedih diperlakukan kayak ***!"


"Tapi, cewek itu bilang dia enggak suka."


"Lo pikir siapa yang bisa menolak aura penakhluknya Leon? Itu cuman mitos!"


"Jadi, apa yang mau kita lakuin?"


"Seperti biasa."


"Ok, gue setuju."


"Kabarin gue kapan dan tempatnya."


"Yang pasti harus secepatnya."


Pesan demi pesan di grup whatsapp itu dibaca satu per satu oleh sang pemilik ponsel yang tak lain adalah Kenzie.


"Ternyata ada gunanya juga gue nyamar jadi cewek dan masuk ke grup ini. Akhirnya kesempatan ini datang juga," ucap Kenzie disertai senyuman di sudut bibirnya.


Begitu juga dengan Jovita. Ia tertawa puas dalam hati melihat fans Leon mengamuk.


Bagus deh! Gue enggak perlu capek-capek buat nyingkirin cewek pengganggu itu. Begitu dia tersingkirkan, gue yang bakal menikmati hasilnya. Hahahahahahhaha.


Beberapa orang sangat pintar mengambil kesempatan dalam kemalangan seseorang. Mari kita doakan agar orang-orang seperti itu memiliki umur yang panjang untuk bisa menebus dosa-dosanya.


***

__ADS_1


__ADS_2