
"Leon!" teriak seorang gadis berambul lurus sebahu dengan poni ala kuda.
"Jovita?" gumam Leon setelah menoleh dan melihat siapa gerangan yang memanggilnya.
Jovita berlari menghampiri Leon yang saat itu hendak ke toko untuk membeli kebutuhan pribadi. "Kaget ya ketemu gue di sini?" ujarnya sambil tersenyum senang.
Leon menggaruk kepalanya sambil nyengir. "Enggak juga, sih. Ini 'kan jalanan untuk umum."
Ah, ya gue lupa. Selain Kenzie Ganendra gue punya temen yang namanya Jovita Gustin. Sekilas seperti nama cowok. Tapi, orangnya bener-bener feminim. Katanya dia wibu sih. Itu loh, sikap fanatik sama segala sesuatu yang berhubungan dengan anime. Kadang gue suka bingung. Enggak bisa ngebedain dia lagi cosplay apa dandan biasa. Seperti hari ini, dia pakai kaos kaki hitam setinggi paha dipadu dengan baju ala Sailor Moon. Untung dia enggak punya kekuatan bulan.
"Lo mau ke mana?" tanya dia dengan suara yang dibuat seimut mungkin.
Leon mengorek kupingnya karena mendengar suara Jovita yang sudah seperti suara tikus kejepit. "Mau ke situ," katanya sambil menunjuk ke arah toserba yang ada di seberang jalan.
Gadis itu mengikuti telunjuk Leon kemudian hanya ber-oh ria. "Bareng dong! Kebetulan ada yang mau gue beli."
"Boleh. Emang lo dari mana?"
"Dari rumah!" sahutnya spontan.
"Lo mau beli apaan sampai jauh-jauh dateng ke sini? Emang di tempat lo enggak ada? Perasaan toserba banyak deh," ujar Leon sambil tertawa garing.
Meskipun gue bertemen sama Jovita, tapi sebenarnya gue tidak begitu nyaman di dekat dia. Dia bilang beda sama cewek-cewek lain yang tergila-gila sama gue. Dia bilang dia cuman mau temenan sama gue. Itu sebabnya gue iyain aja. Tapi, sikap dia yang kadang tidak masuk akal bikin gue ilfeel juga.
Kemudian Jovita tertawa nyaring. Mungkin saat itu dia lagi cosplay jadi kuntilanak. "Ah! Lo bisa aja becandanya!" ucap gadis itu sembari memukul lengan Leon. "Maksud gue, gue emang dari rumah mau beli baju buat keperluan cosplay. Terus kebetulan lewat jalan deket rumah lo makanya gue ketemu elo di sini."
"Oh gitu." Leon mengangguk-angguk saja padahal ia seratus persen tidak mengerti. Bagaimana ceritanya dia bisa terdampar di tempat yang sama sekali bukan jalan untuknya pulang?
Lebih baik gue pura-pura ngerti aja biar cepet.
Mereka pun lantas menyeberang jalan di zebra cross menuju toserba yang sore itu sudah menyalakan lampunya.
__ADS_1
Sepuluh menit mengitari toserba yang sekilas mirip alfajuni itu Leon sudah mengambil barang kebutuhannya. Sementara Jovita dari tadi hanya mengekor di belakang Leon seperti asisiten rumah tangga yang sedang menemani tuannya belanja.
"Katanya lo mau beli sesuatu?"
"Iya, tapi setelah lihat-lihat enggak ada barang yang gue cari," ucap gadis itu sambil nyengir kuda. Padahal sebenarnya dia cuman mau deket-deket Leon aja.
"Lo mau belanja apa nyari barang langka? Padahal di toserba. Toko serba ada." Leon pun tertawa sampai dilirik kasirnya. "Ya udah, kalau gitu gue bayar dulu. Lo enggak mau nunggu di luar?" tanyanya agak risih diikuti terus.
"Enggak apa-apa 'kan kalau gue bareng lo? Masa iya gue keluar sendirian. Enggak asik banget."
Leon hanya nyengir.
Siapa juga yang nyuruh lo ikut gue, Sarinten? Kurang kerjaan amat yak ni anak?
Jovita menatap punggung Leon yang sedang membayar di kasir.
Enggak apa-apa deh gue bela-belain jalan jauh ke sini kalau bisa ketemu sama Leon. Gara-gara kelas diliburin gue jadi susah ketemu sama dia.
"Tapi, gue enggak beli ini, Mbak," sahut Leon berusaha untuk menolak.
"Ambil aja, Mas! Aku maksa loh," kata mbak kasirnya sambil mengedipkan mata.
"E-eh? Ok, gue ambil. Makasih." Buru-buru Leon menyambar coklat itu dan segera keluar.
Anjir! Dimodusin tante-tante! Mau gue apain ni coklat? Mau dimakan takut ada peletnya. Kan enggak asik!
"Lo kenapa? Kok kayak orang panik gitu?" tanya Jovita yang menyusul Leon dari belakang.
Barulah Leon sadar kalau tadi dia pergi sama Jovita. "Enggak, gue buru-buru mau beli makanan. Oh ya, ini buat lo," ucapnya sambil menyerahkan coklat hasil modus tante genit tadi ke Jovita.
Mata Jovita pun langsung berbinar terang. "Ya ampun, Leon! Lo beliin gue coklat? So sweet banget!" serunya kegirangan. Mungkin hampir nangis malahan.
__ADS_1
"Enggak, tadi tu gue ...."
"Pokoknya gue akan makan nanti di rumah! Terus bungkusnya bakal gue simpen, gue awetin pake formalin, terus gue masukin ke brangkas berkode biar enggak ada satu pun orang yang bisa mengambilnya selain gue. Awhhh ... thank's, Leon! Ya ampun! Beruntung banget gue dapet coklat dari lo!" Jovita mengangkat kedua tangannya ke arah Leon sambil memanyunkan bibirnya.
"Eh, lo mau ngapain?" tanya Leon ngeri sendiri.
"E-eh?" Jovita segera menarik tangannya. "Maksud gue, thanks banget buat coklatnya," katanya sambil nyengir.
"Iya, santai aja," jawab Leon lalu berkata dalam hati, orang itu juga gratis. Hehe.
Jovita pun dapat bernapas dengan lega.
Hampir aja gue ketahuan!
***
Menjadi mahasiswa yang berasal dari luar Yogyakarta, tepatnya Jakarta Selatan, Leon memilih ngekos di sekitaran kampus saja. Selain bisa hemat waktu, area tempatnya ngekos juga deket sama warung makan murah meriah. Sebagai mahasiswa jurusan ekonomi, tentu hitung-hitungan pengeluaran dan pemasukan harus imbang. Walaupun dari orangtuanya memang mendapat uang saku setiap bulannya, tapi dia harus pintar mengelola keuangan, bukan?
Sesekali ia pulang ketika ada libur seperti hari raya besar atau pas ada kepentingan. Berhubung gedung Pertamina Tower sedang direnovasi, sebenarnya Leon bisa aja ambil waktu pulang. Tapi, sayang duit. Belum lagi dia juga enggak tahu sampai kapan bakal jadi 'gelandangan' di sini. Kerja enggak, kuliah juga enggak. Enggak jauh beda, kan sama gelandangan?
Leon bukannya pelit. Tapi, hal seperti itu sudah menjadi disiplin di keluarganya yang selalu bekerja keras. Itu sebabnya, Leon berusaha keras di tanah orang. Syukur-syukur bisa langsung dapet kerjaan. Rasanya nyaman juga ada di kota itu. Selain orangnya ramah-ramah, udaranya pun masih terbilang segar.
Gue emang Sang Penakhluk. Tapi, buat bisa bertahan hidup, ganteng aja enggak cukup!
Dan ketika melewati sebuah warung makan, dimana kenangan manis, asem, dan pahit itu menyatu dalam hatinya, ia terhenti.
Ngelihat warung itu aja udah bikin gue nostalgia. Rasanya gue seperti mimpi pas ada orang yang bisa ngalahin aura gue. Sebenarnya dia enggak cantik yang banget, sih. Gue enggak lihat dia pakai pensil alis atau bulu mata palsu kayak kebanyakan gadia di kampus. Enggak tahu kenapa dia begitu alami seperti kedelai hitam yang ditanam sendiri. Kira-kira kapan ya gue bakal ketemu dia lagi? By the way ... kemarin seragam gue sama dia kayaknya sama? Jangan-jangan ....
***
To Be Continue ....
__ADS_1