Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta

Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta
Penguntit


__ADS_3

Setelah berkali-kali minta maaf, barulah Rania mau masuk ke dalam mobil. Ia tidak tahu lagi harus ditaruh mana mukanya karena udah ngelakuin hal yang memalukan itu. Kecerobohannya memang tak bisa ditolong lagi.


"Udah enggak apa-apa, Rania. Lagian itu kecelakaan. Kamunya begitu juga karena panik dan khawatir sama keadaan Leon." Ayahnya Rara terus memberi nasehat karena kepribadian Rania yang mudah banget ngerasa bersalah, membuatnya susah diajak baik-baik saja.


"Iya, Om. Rania khawatir banget. Rania enggak pernah liat Leon tumbang sampai masuk rumah sakit kayak gini. Jadi, Rania sangat terkejut gitu loh, Om," jawabnya dengan kejujuran level maksimal.


"Tumbang? Pohon kelapa kali!" celetuk Rara jadi tertawa memikirkannya. Ia ngebayangin Leon berdiri terombang-ambing di bawah gunung. Kemudian datang angin kencang yang membuatnya tumbang.


"Iya, Om paham kok. Tapi, kamu harus tenang ya. Leon udah ditangani dan pasti akan segera membaik kok."


"Makasih, Om," ujar Rania sekarang sudah agak mendingan. Mendengar nasehat itu membuat kadar kekhawatiran Rania menurun drastis.


Sementara itu, mendengar keributan di depan rumah Rania membuat Kenzie menjadi sangat ingin tahu. Ia mengintip sedikit dari balik tirai jendelanya untuk memantau keadaan yang ada.


"Mereka mau ke mana, ya? Kenapa ribut banget, sih?"


Dari balik jendela itu memang ia tidak dapat mendengar apa pun. Tapi, ia tidak kehabisan akal. Setelah mereka pergi, ia segera bertandang ke rumah Rania untuk mengorek informasi.


"Ranianya ada, Om?" tanya Kenzie berpura-pura nyariin Rania pada bapak Rania yang asik bermain dengan ayam jago peliharaannya. Kalau ia to the point enggak pakai basa-basi, nanti malah dibilang enggak sopan lagi


"Ranianya baru aja pergi. Emang ada perlu apa ya?"


"Enggak, cuman mau nanyain tugas kampus aja kok, Om," tukas Kenzie begitu mulus membohongi bapak Rania. Sepertinya ia memang sudah lama menggeluti aksi bohong-membohongi.


"Yah, sayang sekali. Tadi Rania dijemput sama Rara. Katanya mau pergi ke rumah sakit gitu, nengokin temennya," kata bapak Rania menjelaskan apa yang ia tahu.


"Temen? Emang siapa yang sakit?" tanya Kenzie keponya sudah mulai membara.


"Bapak juga kurang tahu. Pokoknya, di rumah sakit Dr. Sardjito gitu."


"Oh, baiklah, Pak. Kalau gitu saya susul Rania ke sana aja." Begitu dapat informasi, Kenzie segera tancap gas menuju rumah sakit yang di maksud.

__ADS_1


***


"Ayah, Rania. Kita nanti mau mampir mana buat beli oleh-oleh? Ya kali kita pergi ke sana enggak bawa apa-apa? Malu dong!" tanya Rara pura-pura bertanya. Padahal, dalam hati ia ingin mengusulkan agar mereka membawa buah pisang untuk dibawa sebagai oleh-oleh.


"Kalian atur saja. Ayah mah ngikut aja. Nanti kalian bawa dompet Ayah dan beli sesuatu yang bisa dipakai buat buah tangan."


"Nah, itu dia!" seru Rania membuat anak dan bapa itu tersentak kaget. "Buah, Ra! Kita pergi beli buah aja. Kan biasanya di tv-tv kayak gitu."


"Ya ampun, Ran. Enggak di tv juga, di sini udah lumrahnya begitu. Ya udah, kita minggir bentar, ya." Lampu scen mobil Rara menyala di bagian sebelah kiri. Sebuah toko buah yang tidak terlalu besar menjadi tempat pilihan Rara untuk membeli beberapa buah.


"Kok kita enggak pergi ke toko buah yang lebih besar sih, Ra? Kan kalau di sana kulitasnya pasti terjamin dsn bentuk buahnya pasti bagus," protes Rania.


"Ran, gue kasih tahu, ya. Kalau beli sesuatu itu jangan cuman asal barangnya bagus. Memang, itu penting juga. Tapi ada yang lebih penting dari itu. Yaitu membantu mereka yang tidak punya uang untum melariskan dagangan mereka. Secara tidak langsung maka kita sudah membantu pedagang kecil untuk lebih berkembang."


Rania geleng-geleng mendengar penuturan Rara yang begitu dewasa cara berpikirnya. "Gue akan inget pesan lo. Btw lo kesambet apaan bisa bijak kayak gitu?" ujar Rania mencandai sahabatnya tersebut.


"Enggak tahu! Mungkin kesambet setan keberuntungan. Hahahha."


"Ceileh .... yang perhatian banget sama Leon," olok Rara.


"Itu adalah sebuah kewajiban!" jawab Rania asal.


"Iya, terserah deh!"


Rara dan Rania lanjut memilih buah. Kemudian Rara melihat buah pisang dan seketika merasa mual. Tapi, ia ingat kemarin Leon sangat bersedih atas menghilangnaya buah pisang yang tergondol mamang tukang ledeng.


"Ran, nanti masukin buah pisangnya yang banyak ya?"


"Loh, kenapa?"


"Lo enggak inget kemarin Leon sedih kenapa? Gue masih curiga kalau Leon masuk rumah sakit gara-gara mikirin pisang itu."

__ADS_1


Sekarang gantian Rania yang mencibir. "Lo kali yang lebih perhatian sama Leon. Buktinya lo masih inget tentang buah yang disukai Leon."


"Gue inget karena otak gue masih waras dan enggak terkontaminasi oleh virus bucin kayak lo!" balas Rara.


"Dih! Siapa juga yang bucin? Orang dibilang kewajiban juga."


"Iya deh terserah lo aja."


Tak jauh dari tempatnya membeli buah, Kenzie tampak mengawasi mereka.


"Mereka beli buah pisang banyak amat. Setahuku, yang biasanya suka sama pisang itu ...."


Jangan-jangan emang beneran Leon yang mau mereka jenguk. Tuh anak kenapa?


Selang beberapa menit kemudian, Rania dan Rara sudah kembali ke mobil. Ayahnya yang melihat ada buah pisang di parcell, sontak menutup mulut dan hidungnya.


"Eh? Kenapa kalian beli pisang? Kayak udah enggak ada buah yang lain aja!"


"Eheheh, maafin kita ya, Om. Tolong tahan sebentar sampai rumah sakit aja. Soalnya Leon suka banget sama pisang. Jadi, kita sepakat untuk membeli ini."


"Ah, Leon suka pisang, ya? Baiklah! Akan aku tahan sebentar lagi," ujar ayah Rara bertahan sekuat tenaga agar tidak melihat ke arah pisang itu.


Rania cekikikan saat melihat ayah dan anak itu mati-matian tidak memedulikan adanya buah pisang yang pergi bersama mereka, berada satu mobil, dan bersama-sama menuju rumah sakit.


Kenzie masih setia mengekor di belakang mobil Rara, sampai Rara melihat ada yang mencurigakan.


Kenapa motor itu tampak enggak asing, ya? Gue tahu, di kota ini yang punya motor kayak gitu enggak cuman satu orang. Tapi, postur tubuh itu, gue kayaknya pernah lihat.


Rara terdiam cukup lama untuk berpikir. Dan memorinya menangkap ingatan lama yang tercetak samar-samar.


Kalau enggak salah, gue juga pernah dibuntuti motor gede kayak gini. Itu terjadi ketika gue pulang sendiri karena marah sama Rania. Ya, walaupun akhirnya gue juga balik ke kampus buat jemput dia. Jadi, siapa sebenarnya pemilik motor gede itu? Gue janji enggak bakal biarin dia lolos begitu saja. Gue harus nangkep basah penguntit ini.

__ADS_1


***


__ADS_2