Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta

Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta
Anggap Aja Karma


__ADS_3

"Bentar," sela Rania sambil mengangkat tangannya ke depan. "Dari tadi gue denger lo ngomong kayaknya ada yang salah, deh. Lo enggak tahu, kalau di sini ...."


"Eh, siapa tuh?" seru Rara mengagetkan mereka berdua sehingga mereka auto menoleh ke arah yang ditunjuk oleh gadis itu. Saat Kenzie lengah, Rara memberi isyarat pada Rania untuk tidak bicara lagi.


"Lo lihat siapa, Ra? Enggak ada orang," tanya Kenzie sembari meneliti sekitarnya.


"Ternyata cuman kucing lewat," jawab Rara tanpa merasa bersalah sedikit pun.


Kenzie pun nampak percaya saja karena dia hanya ber-oh ria mendengarnya.


"Gue udah nerima kue salam kenal dari lo, jadi lo bisa pergi sekarang," ucap Rara mengusir Kenzie secara terang-terangan. Rania sampai enggak bisa berkata apa-apa soal kelakuan sahabatnya ini.


Kenzie tersentak. "Eh, secepet itu? Em, maksud gue di luar hujan loh. Gue udah bela-belain nganter kue itu ke sini. Masa enggak ditawari minum atau apa, kek," ucap cowok itu dengan tak tahu malu.


"Cih, pamrih." Rara makin memandang Kenzie begitu rendah.


BLAARRRR!!


Petir menyambar tiba-tiba membuat Rara dan Rania terpaksa mengizinkan Kenzie untuk berteduh sebentar.


"Pst." Rania mendesis sambil melirik Rara.


Gimanapun ini ide lo sendiri buat ngaku-ngaku kalau di sini rumah lo di hadapan Kenzie. Sebagai orang luar gue enggak bisa berbuat banyak.


Rara mendesis malas saat mengetahui maksud Rania melakukan itu padanya. Tapi, demi kesuksesan akting yang sedang ia jalankan, Rara mau tak mau harus berlagak menjadi seorang tuan rumah yang baik.


"Mau minum apa lo?"


"Ah, enggak usah repot-repot. Kalau lagi hujan gini biasanya sih enak banget minum kopi. Apalagi lo yang bikin sendiri," ujar Kenzie sambil tersenyum begitu ramah. Kepura-puraan yang paling Rara benci.


"Harusnya lo tahu, lo dateng ke sini aja udah bikin repot!" sahut Rara ketus sembari berjalan menuju dapur.


Kenzie tertawa kecil dan menoleh pada Rania. "Rara cewek yang jujur, ya."


"Iya, hahahaha." Rania membalas dengan tawa yang begitu canggung.


Sebenernya gue enggak tahu Kenzie lagi muji atau nyindir Rara. Yang jelas, kalau lo mau deketin Rara, lo harus siap makan hati tiap hari. Eh, astaga! Kayaknya gue kelupaan sesuatu, deh. Tapi, apa ya?


Sementara itu, di dapur Rara menyiapkan secangkir kopi sambil uring-uringan.


"Dasar! Enggak Bunglon, enggak mantan temennya, sama-sama enggak tahu malu!" ujarnya sambil mencari kopi dan gula di rak atas. "Ini kopinya udah ketemu. Tapi, gulanya di mana?" Lalu, ia menemukan toples kecil berisi bubuk berwarna putih. "Kayaknya ini, deh!"


Seumur hidup Rara belum pernah membuat kopi. Biasanya ia hanya tahu menikmati saja. Dulu ia pernah melihat pelayan di rumahnya membuatkan kopi untuk tamu ayahnya. Tapi, itu sudah hampir 5 tahun yang lalu. Semoga aja ia tak lantas membuat Kenzie keracunan kopi buatannya. Kalau sampai itu terjadi, kopinya bisa jadi tersangka kasus kopi sianida yang fenomenal itu. Dan rumah Rania akan jadi tempat kejadian perkara alias TKP.

__ADS_1


Ah, seharusnya gue nyediain kopi instan aja. Jadi, enggak perlu repot kayak gini.


Sambil mengingat cara pelayan di rumahnya membuat kopi, setelah menuang air panas secukupnya ke dalam cangkir, kopi buatan Rara pun sudah siap dihidangkan di depan Kenzie.


"Wah, baunya harum," ujar Kenzie sok memuji Rara sambil bergaya sedang menikmati aroma kopi hitam di hadapannya.


"Enggak usah banyak ngomong, deh. Buruan habisin biar lo cepet pulang!" kata Rara enggak ada manis-manisnya.


"Hus, enggak boleh gitu sama tamu. Lo juga udah nerima kuenya, kan? Anggap aja barter," bisik Rania.


"Bodo." Gadis itu memutar bola matanya tampak malas.


"Iya, gue pasti bakal nikmatin kopi spesial dari lo kok. Tenang aja," ujar Kenzie seraya menyesap kopi itu perlahan.


Rara memandangnya dengan sengit.


Najis! Awas aja lo kalau sampai bilang kopi gue enggak enak! Bakal gue paksa lo habisin kopi itu sampai ke ampasnya!


Dan begitu cairan hitam pekat itu menyentuh lidahnya, Kenzie seketika membelalakkan matanya, terkejut.


Gila! Ini kopi apa jamu? Kok rasanya pahit dan aneh gini? Kalaupun dia enggak pake gula juga enggak bakal gini-gini amat pahitnya. Sial! Apa gue lagi dikerjain?


"Kenapa? Lo enggak suka?" tanya Rara saat melihat Kenzie berhenti meminum kopinya.


Ya iyalah beda dari yang lain! Mana ada kopi rasanya kayak ampas comberan gini? Sialan! Gue harus gimana nih? Mau nolak pasti Rara bakal tersinggung. Lebih-lebih kalau dia ilfeel sama gue. Gawat!


Tapi, sayangnya Rara bukan cewek yang mudah dibohongi. Apalagi cuman karena pujian yang tidak berbobot kayak gitu. Sudut bibirnya tertarik ke atas dan tatapan matanya menajam. "Kalau lo suka banget, habisin sekarang juga!"


Keringat dingin mengucur dari pelipis Kenzie. "Ah, iya. Gue suka banget. Gue ... gue bakal minum kok," ucapnya dengan suara gemetar. Kemudian, ia menyesap sekali lagi kopi aneh itu dan mati-matian menahan rasanya sampai turun ke tenggorokan dengan susah payah.


Argh! Sial! Kopi buatan Rara sama sekali udah enggak bisa diselamatkan rasanya! Astaga! Gue bisa mati kalau maksain minum ini sampai habis. Ya Allah, tolong Kenzie ya Allah ....


Ketika Kenzie berhenti minum, pasti Rara langsung melempar tatapan tajamnya membuat cowok itu tak kuasa menolak perintah. Dan itu terjadi beberapa kali sampai akhirnya Kenzie menyerah kemudian pergi dari rumah Rania dengan suka rela.


"Sorry, Ra! Gue tiba-tiba ada urusan mendadak!" serunya sambil berlari keluar.


"Lo enggak mau nambah kopi lagi? Di luar masih hujan deras loh!" kata Rara mengolok cowok itu dengan sengaja. Tapi, Kenzie sepertinya benar-benar tak tahan sampai mengabaikan ucapan Rara dan hujan yang deras.


Setelah Kenzie pergi barulah kedua cewek itu tertawa terbahak-bahak.


"Gila lo, Ra! Lo masukin apa ke kopinya Kenzie? Dia sampai pucat gitu, lo suruh minum terus!"


"Salah sendiri cari gara-gara sama gue. Ketahuan banget dia ada modus tertentu datang ke sini."

__ADS_1


"Nah! Firasat gue bener, kan? Emang dia tuh kayak ada sesuatu gitu pas papasan sama kita."


"Tapi, kenapa dia tiba-tiba mau deketin gue? Gerakan dia kebaca banget! Apa sebenernya tujuan Kenzie ngelakuin itu? Lo ngerasa aneh enggak, sih? Ada angin apa dia tiba-tiba muncul di depan rumah lo ngenalin sebagai tetangga baru. Udah, gitu dia ngira ini rumah gue," ujar Rara jadi kesal.


"Udah, lambat laun pasti ketahuan kok. Ya, mudah-mudahan aja dia cuman sekadar suka sama lo dan lagi proses buat deketin lo. Bukan karena ada maksud tertentu," ujar Rania menepuk pelan bahu Rara untuk menenangkannya.


"Enggak penting amat ngeladenin orang kayak gitu."


"Dasar Es Kutub! Sama siapa aja kek gitu. Heran, deh. Gue bener-bener khawatir lo bakal jomblo seumur hidup," ucap Rania sambil ngasih ekspresi sok merasa kasihan.


"Dih! Kenapa enggak khawatirin diri lo sendiri?"


"Emang gue kenapa? Gue mah baik hati, ramah, murah senyum, rajin menabung, dan rajin makan!"


"Tapi, lo sukanya sama Bunglon yang disukai banyak cewek. Selain saingannya banyak, suka sama cowok kayak gitu kalaupun sampai jadian, bakal makan hati tiap hari. Lo yakin bakal berumur panjang kalau setiap hari lihat cowok lo dikerumuni cewek kayak gitu? Cemburu? Aduh, udah enggak kehitung. Mending lo cepet-cepet move on, deh," ujar Rara membuat Rania kalah telak dengan logika cewek itu.


Tapi, di luar dugaan, Rania sama sekali tak tampak kehilangan sorot cinta di matanya. "Kampret! Lo nyumpahin gue cepet mati? Eh, tapi enggk apa-apa, deh. Gue rela jadi apa aja buat Leonku tersayang."


"Dih! Bucin lo!" Rara bergidik ngeri. Enggak tahu lagi kenapa cinta bisa membutakan akal seseorang kayak gitu.


"Ngomong-ngomong, gue lupa ngasih tahu lo. Kalau hari ini gula di rumah habis. Gue belum beli karena kita enggak biasa make juga, kan," kata Rania membuat Rara seketika mengerutkan dahinya.


"Lah? Kalau gulanya habis, terus yang tadi gue masukin ke kopinya Kenzie apaan, ya?"


"Eh? Jadi, lo enggak ngerjain Kenzie dengan sengaja?"


"Enggaklah! Ngapain juga buang waktu buat dia?"


"Coba lo tunjukin deh, mana tadi barang yang lo kira gula!"


Rara dan Rania lantas pergi ke dapur. Kemudian Rara menunjukkan toples kecil berisi bubuk putih di dalamnya. "Tadi gue masukin ini. Beneran bukan gula?"


Rania mengambil toples itu lalu membuka dan menciumnya. "Ih, ini mah bubuk vanili, Ra! Emang lo naruh seberapa banyak di kopi Kenzie?"


Rara nyengir sambil menggaruk belakang kepalanya. "Tiga sendok. Kan, sesuai aturan."


Seketika Rania menepuk jidatnya. "Pantes aja! Ini bahan buat pewangi kue. Bubuk vanili kalau ngasihnya kebanyakan bisa bikin pahit."


Rara jadi tertawa. "Bukan salah gue dong, ya! Yang penting, kan gue enggak ada maksud buat ngerjain dia! Anggap aja ini adalah ... karma."


Rania memandang sahabatnya itu dengan sedikit ngeri. Kadang dia suka merasa kalau Rara punya kepribadian psikopat.


***

__ADS_1


__ADS_2