
"Udah selesai teleponnya?" tanya Rania yang masih asik menikmati semangkuk mi kuah dengan hikmat.
"Iya, gue takut lo keburu ngabisin jatah makan malam gue," sahut Rara sembari mengambil tempat duduk di hadapan Rania.
"Kampret! Gue enggak serakus itu kali, sampai mengambil hak yang bukan punya gue," ujar Rania sangat bijak. Saat perutnya merasa tenang, pikiran gadis itu bisa sedikit lebih pintar.
Rara terkikik. "Ok, kayaknya lo harus jadi presiden biar bisa hukum tikus-tikus berdasi yang bersembunyi menikmati kemewahan di atas penderitaan rakyat."
Rania auto bengong mendengarnya. "Sejak kapan lo tertarik sama pemerintahan?"
"Sejak negara api menyerang!" sahut Rara ketus. "Dah, gue makan. Ganggu aja lo!"
"Dih! Orang sendirinya yang mulai." Rania jadi manyun.
"Jangan ngajak ngobrol. Ntar gue kesedak!"
"Iya-iya," jawab Rania menuruti mau Rara dan menikmati 10 menit di meja makan dengan tenang.
Di luar langit semakin gelap dan tiba-tiba rintik hujan mulai berjatuhan menimbulkan bunyi nyaring di genting.
"Wah! Hujannya telat. Harusnya makan mi kuah sambil dengerin hujan kan sedap," keluh Rara sambil merenggangkan otot-otot tangannya. Ia menoleh pada Rania yang menatap ke luar sambil menopang dagunya.
"Hujan adalah 1% air dan 99% kenangan," ucapnya dengan nada penuh penjiwaan.
"Pret!" sahut Rara seketika memandang gadis itu dengan tatapan datar. "Banjir gegara hujan juga banjir air, bukan banjir kenangan."
"Dih! Lo mah enggak ngerti sastra!"
"Lo mah bukannya ngerti sastra, tapi hanyut kebawa arus bucin. Makanya jangan keseringan bergaul sama Bunglon itu. Kurangin ngehalunya," ujar Rara tertawa puas.
"Dia tu punya nama. Cleon Celestyn. Jangan sembarangan ngasih julukan, ya." Rania mendengus kesal. Sementara lawan bicaranya hanya mengangkat bahunya tak peduli. Kemudian, Rania jadi teringat sesuatu. "Ngomong-ngomong apa besok lo bakal baik-baik aja?"
"Maksud lo?" tanya Rara sedikit menaruh perhatian pada ucapan Rania.
"Waktu sebelumnya lo bilang sama Leon buat jauhin lo. Tapi, besok lo malah satu kelompok sama dia." Rania menjeda kalimatnya untuk menghela napas. "Kalau ini takdir dan itu adalah lo, gue rasa gue bisa ...."
Rara bangkit dari kursi membuat suara yang berisik. Rania pun seketika menghentikan kalimatnya. "Jangan gila deh. Gue enggak tertarik sama cowok yang terlalu banyak menyita perhatian cewek-cewek."
Ekspresi dingin dan kata-kata tajam Rara rupanya mampu membuat Rania berkeringat dingin. "Ya—ya sudahlah! Gimana kalau kita beresin mangkok kotor dulu?" ucapnya sambil senyum yang amat dipaksakan.
Wajah Rara pun perlahan melunak. Memang hanya Rania yang bisa mengendalikan amarah si Es Kutub. "Oh ya, lo inget enggak pas kita mau pulang, kita papasan sama seseorang? Ken—zie? Kenapa waktu itu lo bilang dia mantan teman Leon?" tanya gadis itu sembari jalan ke dapur untuk mencuci perabotan yang mereka gunakan tadi.
Rania meletakkan alat yang dibawanya dan menyalakan air di wastafel. "Ini udah lama, sih. Sekitar satu atau dua tahun yang lalu."
"Selama itu?" sahut Rara sedikit terkejut. Ia berpikir, sepertinya masalahnya cukup rumit. "Emangnya ada apa?"
"Dulu pernah ada cewek namanya Catherine. Cewek indo gitu, kan. Dia pacaran sama Kenzie. Tapi, pas dikenalin ke Leon yang waktu itu masih sahabatan sama Kenzie, si Catherine malah jatuh cinta sama Leon. Terus, akhirnya mereka putus deh."
__ADS_1
"Oh, jadi si Bunglon ini selain enggak ada otak ternyata bakat jadi orang ketiga juga," kata Rara sinis banget.
"Sembarangan! Enggaklah! Ya lo tahulah Leon itu seorang pangeran gitu. Pesonanya tuh enggak bisa dikalahin sama siapa pun! Putih, mulus, badannya tinggi, rambutnya wangi, keteknya ...."
"Heh!" interupsi Rara saat mendengar Rania udah ngomong makin enggak jelas. "Lo tuh jangan auto gendeng gitu deh kalau bahas Si Bunglon. Enggak penting amat gue tahu masalah dia. Gue cuman penasaran aja."
"Yah, pokoknya gitu deh. Intinya si Kenzie ini tuh ngerasa Leon ngerebut pacar dia. Makanya sekarang mereka enggak seakrab dulu."
"Cih, dasar pada bego' semua. Gara-gara cewek aja bisa kayak gitu." Rara meletakkan mangkok terakhir yang ia bilas ke pinggir wastafel. Kemudian menghadap Rania yang baru saja mematikan keran. "Pokoknya, kita apa pun yang terjadi enggak boleh berpisah. Apalagi cuman gara-gara cowok. Enggak boleh!"
"Iya, gue paham kok! Emang siapa lagi yang kuat jadi temen lo," ujar Rania sambil tertawa.
Belum juga Rara sempat membalas ucapan Rania, tiba-tiba terengar suara bel.
"Eh, siapa dateng malam-malam gini? Jangan-jangan cowok yang mau ngapelin lo, ya?" tuduh Rara pada Rania.
Rania berkacak pinggang kesal. "Mana ada! Kalaupun gue harus pacaran, orang itu harus Leon."
"Ish! Bisa enggak sih, kalau ngomong enggak bawa-bawa dia mulu. Bosen."
"Ngarep kan boleh," sahut Rania terkikik.
"Ya udah, coba kita lihat. Nekat banget bertamu. Padahal di luar lagi hujan loh." Rara dan Rania pun menuju pintu bersama-sama.
"Kalau rampok gimana?" tanya Ranja takut-takut saat sudah ada di depan pintu.
Rara melihat sekelilingnya dan melihat vas bunga di deket pintu. "Gue bakal pukul dia pake ini!" Benda itu kini sudah berpindah ke tangannya.
"Heh! Masih sempet aja lo mikirin harganya. Nyawa kita jauh lebih mahal dari ini!" balas Rara jadi kesal.
"Iya, sih." Akhirnya Rania mengalah.
"Lo yang buka, gue siap-siap mukul kalau yang dateng beneran rampok!" instruksi Rara sudah seperti ketua geng.
Rania mengangguk. "Dalam hitungan ketiga, gue bakal buka!" Tapi yang dilakuin gadis itu malah gemetaran saja membuat Rara tak sabar.
"Tiga!" seru Rara sambil menarik tangan Rania yang berpegang kuat pada handel pintu membuat kepala Rania serasa dihantam beribu-ribu balok. Penglihatannya jadi berputar.
"Aduh, gue pusing."
Alhasil, pintu itu enggak bisa dibuka juga!
"Eh, kok enggak bisa?" tanya Rara bingung.
"Kuncinya belum gue buka," ujar Rania nyengir sambil menunjukkan sebuah kunci keemasan.
"Ah, sialan lo! Kan gue jadi gagal bertindak heroik!"
__ADS_1
Lalu, di tengah keributan mereka, orang yang ada di luar mengetuk pintunya.
"Rara? Lo baik-baik aja?" kata seseorang di balik pintu itu.
Mendengar suaranya membuat Rania dan Rara saling pandang. "Kayak kenal?" ucap mereka bersamaan.
Entah kenapa Rania mendadak mendapat ribuan keberanian untuk segera membuka pintu. Selain itu, ia merasa penasaran, kenapa dia datang ke rumahnya malam-malam?
"Kenzie? Lo ngapain ke sini?" tanya Rania sebenarnya agak terkejut. Sama sekali tidak menyangka cowok itu bisa muncul di depan pintu rumahnya. Apalagi, mereka baru saja membicarakan dia.
Apa jangan-jangan Kenzie punya kekuatan yang bisa merasakan aura ghibah? Terus karena ngerasain kita ngomongin dia, dia langsung datang ke pusat ghibah? Tapi, gimana dia bisa tahu alamat rumah gue? Apa ini ada hubungannya sama ucapan dia tadi siang?
Berbeda dengan Rania yang dipenuhi ekspektasi liar, Rara tampaknya tidak begitu terkejut dan sedikit merasa lega. Setidaknya yang datang ke rumah Rania bukan seorang perampok. Bagaimanapun ia juga sayang kalau vas secantik itu akan hancur.
"Kalian tidak apa-apa? Loh, Rania? Lo di sini juga? Mau ngerjain tugas, ya?" ucap Kenzie seketika memberikan raut wajah ramah dengan senyum termanis yang pernah ia perlihatkan.
"Hah?" Rania melongo. Bagaimana bisa ia dipertanyakan keberadaanya di rumah sendiri? Apakah benar-benar sebuah keharusan punya alasan untuk tinggal di rumahnya sendiri?
Gila.
Kenzie ganti melihat pada Rara. "Tapi, kenapa lo pegang vas segede itu? Apa terjadi sesuatu? Tadi gue denger kalian ada ribut-ribut."
Mata Rara menyipit hampir menghilang gara-gara kesal. Udah bikin kepanikan, sikap Kenzie malah bikin gadis itu makin kesal dengan menanyakan perihal vas. "Kenapa? Gue mau gendong, mau dansa, mau makan vas, apa urusannya sama lo?"
Tak ayal itu membuat Kenzie terpingkal. "Selera humormu sangat luar biasa. Gue ngeremehin lo hanya karena sikap jutek lo."
Rania memandang prihatin sama cowok di depannya itu.
Cari mati ya?
"Enggak ada waktu," ucap Rara sembari berbalik pergi setelah meletakkan vas itu ke tempat semula.
"Eh, tunggu! Sebenarnya gue mau kasih ini. Ada selai semangka di dalamnya," kata Kenzie membuat Rara mau tak mau kembali memutar badan.
Mendengar nama buah kesukaanya disebut membuat ia tak tahan untuk segera mengambil pemberian Kenzie tanpa ragu. Melihatnya saja sudah membuat air liur Rara turun.
Sebuah kue berukuran kecil berbentuk bulat, cukup untuk makan berdua dibungkus rapi dengan plastik mika.
Kenzie tersenyum menang melihat betapa Rara sangat menyukai pemberiannya.
Akhirnya. Enggak sia-sia gue selalu nguping pembicaraan mereka dan mengulik informasi sama ibu kantin tentang makanan kesukaan Rara. Kayaknya bakal berjalan sesuai rencana.
"Kok lo kasih kue. Apa maksud lo?" tanya Rania penuh selidik. Entah kenapa sejak siang tadi ia memiliki firasat yang enggak enak pada cowok ini.
"Ok, jadi izinkan gue perkenalkan diri dulu," ujarnya bersikap seperti bangsatwan. Ups. "Nama gue Kenzie Ganendra. Gue, seperti yang kalian tahu adalah salah satu mahasiswa di UGM. Jurusan tekhnik. Tapi, satu hal yang perlu kalian ketahui adalah ... mulai saat ini gue bakal jadi tetangga lo, Ra. Kue itu anggap sebagai salam kenal dari tetangga baru lo ini."
What?
__ADS_1
***
To Be Continue