Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta

Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta
Sebuah Kejujuran


__ADS_3

"Eh, itu Leon sama Rara! Kayaknya mereka yang menang tantangan kali ini! Mereka kok bisa dapet barang sebanyak itu, ya?" seru salah satu murid cowok sambil menunjuk ke arah mereka.


Semua orang yang rupanya tengah menunggu kedatangan Leon dan Rara pun menoleh bersamaan. Sebagian murid sudah menyelesaikan tantangan dalam waktu kurang dari satu jam. Karena yah, uang 50 ribu di jaman sekarang bisa dapat apa? Apalagi buat anak-anak yang terbiasa mendapat uang jajan terjamin dari orangtuanya. Tentu, bagi mereka tantangan itu cukup menyulitkan.


Berbeda dengan kebanyakan murid, kedua orang itu memanfaatkan waktu yang diberikan dengan maksimal. Walaupun mereka tidak memegang uang sepeserpun, tapi itu tak menjadikan mereka lantas merengek dan menyerah begitu saja. Makanya, mereka datang paling akhir. Dan lagi, hasilnya tidak begitu mengecewakan, bukan?


Jovita ternganga tak percaya. Merasa dicurangi, ia pun lekas menghampiri mereka dan mengecek barang apa yang mereka bawa. Tadinya ia berasumsi kantong kresek itu hanya sebuah tipuan. Tapi, setelah melihat isinya, ia masih saja tidak percaya.


"Kalian, kalian kok bisa dapet banyak barang?" tanya cewek itu sedikit syok. Ia bahkan tidak sadar pada apa yang sedang dilakukannya.


Jovita tengah menggali kuburannya sendiri.


Hal itu tentu menimbulkan tanda tanya di benak Leon. "Kok lo kayak enggak seneng gitu sih, gue bisa unggul di tantangan kali ini?" tanya Leon balik membuat Jovita kelabakan mencari jawaban.


Sementara, Rara yang memang sedari awal mencurigai cewek itu, jadi tidak begitu terkejut. Reaksi gugup dan ketakutan Jovita sudah cukup memberi jawaban pada kecurigaannya.


Jovita malah tertawa dibuat-buat. "Ah, mana ada gue kayak gitu? Lo berpikiran jelek, ih!" ujarnya sambil memukul bahu Leon berulangkali. "Mendingan gue bantu lo bawa ini ke sana, ya!" rayu Jovita agar Leon mengalihkan perhatian dari hal yang membuat cowok itu mencurigai sikapnya.


Leon tak sempat membantah atau mengiyakan, Jovita seperti kilat yang menyambar kantong kresek itu dari tangannya. Dan secepat itu pula ia telah membawa hasil belanjanya kepada dosen.


"Kok ada yang aneh, ya?" gumam Leon sambil menggaruk-garuk kepalanya di bagian belakang.


"Sebaiknya kita juga ke sana," ajak Rara agar Leon tak melulu kepikiran soal apa yang dia katakan sebelumnya. Bagi Rara, sudah cukup ia tahu bahwa Jovita bukanlah orang yang bener-bener 'hanya teman' untuk Leon.

__ADS_1


"Hm, ya," sahut Leon singkat. Wajahnya masih menyiratkan kebingungan saat mengikuti Rara pergi berkumpul dengan teman lainnya.


Dan itu sedikit membuat Rara khawatir.


Di depan dosen, beberapa barang dari masing-masing kelompok sudah terkumpul dan diberi label nama pemilik. Ada yang beli makanan tradisional, bahan makanan, snack, bahkan ada yang membeli celana dalam. Semua mereka lakukan demi memenangkan tantangan kali ini. Tapi, dilihat dari sudut mana pun, barang milik kelompok Leon dan Rara yang tampak lebih banyak.


"Kerja bagus kalian semua!" ucap pak dosen dengan bangga. "Gimana pengalaman kalian tadi? Kira-kira gampang enggak tawar-menawar itu?"


"Susah, Pak!" seru sebagian orang. Sebagian lainnya tidak menjawab karena mereka hanya membeli sesuai dengan harga yang ditawarkan penjualnya tanpa menawar terlebih dahulu.


Sementara Leon dan Rara tak ikut ambil suara karena pada dasarnya mereka tidak melakukan praktek itu. Bahkan melenceng jauh dari materi.


"Gue merasa berdosa karena enggak ngomong jujur sama dosen," gumam Rara menatap lurus-lurus acara yang sedang berlangsung.


"Gue juga," sahut Leon. "Gimana kalau kita ngomong aja ke dosen? Gue yakin kok beliau bakal ngerti posisi kita."


"Enggak masalah. Lagian pesen pak dosen, kita harus jujur. Karena kejujuran adalah kunci sukses jangka panjang. Inget, kan? Harusnya sih pak dosen enggak terlalu mempermasalahkan soal ini. Biar gue aja yang jelasin ke dosen."


Rara cuman angkat bahu sebagai jawaban. Baginya siapa aja yang menjelaskan tak akan menjadi masalah. Toh, enggak akan merubah kenyataaan yang ada juga. Tapi, semakin lama Rara bersama Leon, ia merasa cowok itu tidak seburuk yang ia kira. Rara bisa melihat, kalau Leon adalah orang yang cukup menyenangkan. Tak heran jika ia dikenal sebagai Sang Penakhluk. Rupa-rupanya tak hanya tampang, hati dan perangainya pun penuh pesona.


Hasil akhir tantangan baru saja akan diumumkan kalau saja Leon tak mengiterupsinya.


"Ada apa, Leon?" tanya pak dosen heran.

__ADS_1


"Ada sesuatu yang ingin saya jelaskan sedikit. Apa boleh, Pak?"


"Oh, boleh-boleh. Silahkan!"


Leon mengambil posisi yang sedikit ke tengah agar bisa didengarkan oleh semua orang yang bersangkutan tanpa terkecuali.


"Maaf, temen-temen semua. Saya meminta waktu sebentar untuk bercerita. Sebelumnya, saya cuman mau mengingatkan bahwa apa yang saya lakukan adalah karena berdasar pada pesan dari pak dosen untuk berlaku jujur di tantangan kali ini," ujar Leon sedikit meminta dukungan pada dosen itu.


Pak dosen pun tampak mengangguk-angguk mengerti. Kalau soal murid-murid lainnya jangan ditanya lagi. Tentu saja mereka berebut bicara untuk mendukung apa yang ingin dilakukan idolanya.


"Hari ini, saya dan Rara tidak mengikuti prosedur tantangan seperti yang dosen arahkan. Waktu kami mau berbelanja, uangnya hilang. Tapi, berkat ide dari Rara, kami membantu seorang pedagang di pasar dengan syarat memberi imbalan kami beberapa barang. Begitulah cara kami akhirnya bisa mendapat barang sebanyak itu. Jadi, sebenarnya kami sama sekali tidak mempraktekkan materi yang dibawa untuk tantangan kali ini. Saya selaku perwakilan tim, memohon maaf pada Pak Dosen. Sekiranya tidak keberatan, mohon Pak Dosen bermurah hati dengan tidak menghukum kami. Itu saja yang ingin saya sampaikan. Terima kasih." Leon undur diri dan kembali ke tempatnya semula setelah mengangguk hormat pada dosen itu.


"Beri tepuk tangan untuk Nak Leon dan Rara," ujar dosennya dengan tatapan yang menyiratkan sebuah kebanggan tersendiri.


Mereka pun mengikuti apa yang jadi intruksi dosen itu.


"Saya mengagumi kerja sama kalian yang kompak sebagai tim. Kehilangan satu-satunya sumber uang tak lantas menjadikan kalian putus asa dan menyerah begitu saja. Tapi kalian memutar otak dan akhirnya menemukan ide untuk menjual jasa sehingga bisa mendapatkan semua ini. Setelah kalian berhasil pun kalian tidak melupakan pesan saya untuk bertindak jujur. Kalian memutuskan untuk mengatakan kebenaran, padahal kalau kalian tidak menjelaskan pun saya tidak akan curiga sama sekali. Tapi, kalian memilih untuk tidak menyembunyikannya. Saya sangat salut akan hal itu. Kerja yang sempurna!" Pak dosen memuji Leon dan Rara tanpa henti. "Jadi, sudah tak perlu ditanyakan lagi, pemenang tantangan kali ini adalah tim Leon dan Rara."


Semua orang bertepuk tangan dan memberi ucapan selamat pada keduanya. Tinggal tambahin pelaminan dan prasmanan, maka saat itu akan terlihat seperti sedang ada acara pernikahan.


Mau tak mau, Rara pun memberikan senyumnya dan mengucapkan terima kasih saat satu per satu perwakilan tim memberikan hadiah seperti kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya. Ia melirikkan matanya pada Leon. Entah kenapa, meskipun bibir Leon tampak tersenyum, tapi matanya tak bisa berbohong. Rara merasakan adanya kesedihan di mata itu.


Kenapa?

__ADS_1


***


TO BE CONTINUE


__ADS_2