
Rara menepis pelan debu-debu yang menempel pada jaket jeans biru tua favoritnya. "Terima kasih, lo datang tepat waktu. Kalau enggak ...."
"Mereka bakal habis di tangan lo, kan?" potong Rania sambil terkekeh.
"Gue enggak bermaksud ngomong gitu. Cuman, pasti urusannya bakal panjang," jawab Rara sambil mereka jalan keluar.
"Mereka terlalu ngeremehin lo kayaknya."
"Enggak masalah. Gue emang enggak mau narik perhatian siapa pun."
Rania tersenyum kecut. Di satu sisi ia merasa kagum pada kepribadian rendah hati gadis itu. Tapi, di sisi lain ia kadang merasa kasihan. Rara sebenarnya gadis yang baik. Hanya saja karena ia pernah dibuang oleh orang yang ia pedulikan, sikapnya berubah menjadi dingin seperti es di kutub.
Gue janji, apa pun yang terjadi gue enggak bakal ninggalin lo sendiri. Sama seperti apa yang pernah lo lakuin buat gue.
*Flashback ....
"Jangan ... ampun ...."
Rintihan lirih itu terdengar dari sebuah gudang yang sudah lama tidak terpakai. Sang empunya suara yang memakai seragam putih abu-abu tampak ketakutan hingga wajahnya menjadi pucat. Ialah Rania ketika masih di SMA yang waktu itu tubuhnya sedikit kurus.
Sementara di hadapannya beberapa gadis berseragam serupa malah menampakkan senyum setan sesuai dengan kelakuan mereka. Bahkan, saking miripnya sampai tidak bisa dibedakan. Kadang malah manusia itu lebih setan dari setan itu sendiri.
"Lo udah tahu, kan apa resikonya kalau lo bantah perintah gue?" sergah gadis yang berposisi di tengah. Di antara lima gadis di sana—termasuk Rania, dialah yang paling bermuka songong.
"S-sherly ... aku ... aku minta maaf," ujar Rania terbata.
"Kalau menyesal cepet lakuin!" bentak gadis bernama Sherly itu dengan garang.
"T-tapi, Sherly, mencuri soal ujian itu enggak gampang," ujar Rania ketakutan.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Rania. Gadis itu mengaduh kesakitan, tapi tidak berani bersuara. Ia takut hal itu hanya akan membuat Sherly dan kawan-kawannya semakin membully dirinya. Jadi, dia hanya bisa menangis dalam diam.
"Enggak guna! Udah gue bilang jangan ngebantah! Masih berani lo?" Gadis itu memberi isyarat pada anak buahnya. "Pegangi dia!"
"Baik," sahut kedua gadis itu dengan patuhnya. Mungkin mereka juga takut akan jadi sasaran gadis aneh nan psiko itu.
"Enggak! Jangan! Aku mohon!" seru Rania setengah menjerit saat mendengar titah Sherly. Dalam keadaan terjepit seperti itu, Rania hanya bisa memasrahkan nasibnya sambil berharap akan ada seseorang yang datang menyelamatkannya. Siapa pun itu, ia berjanji akan setia kepadanya.
Laksana doa yang mustajab, tiba-tiba terdengar suara pintu yang didobrak dari luar membuat perhatian mereka teralihkan. Dari raut wajah, mereka tampak terkejut juga khawatir kalau-kalau yang memergoki mereka adalah pihak sekolah. Akan sangat gawat kalau itu sampai terjadi.
"Oh, ternyata cuman murid biasa," ucap Sherly sambil mendecih memandang rendah seorang gadis yang berdiri di ambang pintu. "Enggak usah ikut campur kalau lo enggak mau kena imbasnya!"
Tanpa menghiraukan ancaman Sherly, gadis itu melangkah masuk mendekati mereka. Ia mengangkat pandangannya dan seketika terlihat tatapan yang begitu tajam hingga membuat mereka merinding.
"Dia orang bukan, sih?" bisik salah satu anak buah Sherly.
__ADS_1
"Jangan-jangan dia hantu yang menghuni tempat ini?" Yang lain menimpali.
"Kakinya napak enggak, sih?"
Mereka asik berhipotesis sendiri saat gadis yang tak lain dan tak bukan adalah Delmora Engrasia—sahabat Rania, muncul bak pahlawan Parah 009. Hanya saja waktu itu mereka belum saling mengenal.
Rania membelalak kaget. Bukankah dia cewek pendiam yang tidak semua orang bisa mengenalnya? Apakah dia akan menolongku? Apakah akhirnya dia yang jadi pahlawanku? Rania berdialog dalam hati layaknya sebuah drama kolosal.
"Gue enggak peduli urusan kalian. Tapi, waktu tidur siang gue jadi keganggu gara-gara suara berisik kayak kaleng rombeng itu," jawab Rara sambil mengorek kuping sebelah kanannya.
Sherly terkekeh. "Oh, suara dia?" tanyanya sambil menunjuk pada Rania. "Gue setuju sama lo. Lebih cepet gue bikin dia diem, lebih baik. Bener begitu?"
Rania terhenyak. Ia pandangi bergantian dua orang yang kini sedang saling bertukar pandangan. Gadis itu menggigit bibirnya ketakutan.
Apa? Dia enggak mau nolongin aku? Kayaknya dia juga enggak peduli. Terus aku gimana?
Tiba-tiba Rara menepuk jidatnya. "Astaga gue salah! Setelah denger lo ngomong ternyata suara lo yang kayak kaleng rombeng." Gadis itu tertawa.
"Apa lo bilang?" seru Sherly murka.
Rara tidak peduli dan masih melanjutkan kalimatnya. "Tapi, setelah gue pikir-pikir suara lo lebih mirip kodok kejepit, sih!" katanya kemudian tertawa terpingkal membuat Sherly semakin marah.
Apalagi ia juga melihat Rania menahan tawanya setengah mati. Rasanya kepala gadis itu seperti terbakar. "Berani ketawa lo? Mau gue sobek mulutnya?"
"Hei, hei!" sela Rara sebelum Sherly menjangkau tubuh Rania yang gemetar ketakutan. "Yang ngatain lo tuh gue. Enggak ada hubungannya sama dia. Jangan kayak bocah, deh!"
"Hm, kelihatannya sih gitu!" sahut Rara semakin menantang gadis itu.
"Kurang ajar!" Sherly hendak menampar Rara tapi terhenti karena tiba-tiba sebuah blitz kamera mengarah padanya. "Apa yang lo lakuin?" tanya gadis itu sedikit cemas.
"Sherly, Tata, Riska, dan Vivi. Nama dan barang bukti udah gue pegang. Dengan menekan satu tombol ini maka seluruh sekolah bakal tahu kelakuan kalian. Enggak susah, kan nebak apa yang terjadi kemudian?" ujar Rara sembari menunjukkan ponselnya yang siap menyebar foto Sherly dan kawan-kawannya.
"Sialan! Lo barusan jebak gue?" tanya Sherly dengan tatapan tak percaya.
"Siapa suruh lo goblok! Gampang banget masuk perangkap gue. Gue sih enggak maksa. Lo tinggal pilih aja. Mau pergi dari sini secara baik-baik atau lo mungkin enggak bakal bisa keluar dari sini karena takut sama penilaian orang-orang terhadap kalian," ucap Rara sambil tersenyum puas.
Sherly menggertakan giginya. "Sialan! Itu sih namanya enggak ada pilihan lain!"
"Kalau udah tahu ngapain masih di sini? Pergi sana," ujar Rara sambil mengibaskan tangannya seperti sedang mengusir lalat.
"Awas lo! Gue bakal nuntut balas!" Sherly masih sempat ngasih ancaman saat berjalan keluar.
Rara tersenyum sinis. "Menurut gue, lo enggak usah banyak tingkah kalau masih mau sekolah di sini."
Sherly mendengus kesal kemudian pergi begitu saja. Sepertinya ancaman Rara berhasil membuat gadis itu bungkam.
Rania menatap Rara dengan penuh rasa terima kasih. Meskipun tidak secara terang-terangan, tapi Rara adalah orang pertama yang menyelamatkan kehidupan jiwanya. "Terima kasih banyak!" serunya terharu.
__ADS_1
"Udah enggak usah berterimakasih. Gue emang kebetulan aja keganggu sama aktivitas dia. Gue bakal kirim foto tadi ke hp lo. Kalau mereka ganggu lo lagi, lo bisa gunain itu. Lain kali jangan takut kalau lo emang enggak berbuat salah. Jangan terlalu rendah menilai diri lo sendiri, karena Tuhan aja enggak pernah mandang ciptaan-Nya kayak gitu."
Senyum Rania mulai merekah. "Aku akan mengingatnya."
"Satu lagi."
"Apa?"
"Jangan pake bahasa yang terlalu formal karena orang bisa anggep lu mudah dikerjain. Pake bahasa formalnya pas sama orang yang lebih tua sama pas pelajaran Bahasa Indonesia aja, ya!" kata Rara lalu tertawa.
Rania nyengir sambil menggaruk kepalanya. "Ah, ternyata begitu."
Mereka lantas berjalan keluar sembari saling bertukar informasi pribadi*.
Flashback end
Rania yang mengekor di belakang Rara jadi tersenyum mengingat kenangan itu. Yang mana dulu Rara adalah gadis pendiam tapi jenius dan juga konyol, sedangkan ia adalah Rania dengan tubuh ideal dan perangai yang culun.
Hah ... terkadang gue merindukan tubuh gue yang dulu.
Semenjak kejadian itu Rania menjadi sosok gadis yang lebih pemberani. Terutama yang bersangkutan dengan sahabatnya ini.
Meskipun seluruh dunia menjauhi lo, tapi gue enggak akan! Bagi gue lo tetep Delmora Engrasia yang dulu.
"Lo enggak apa-apa, kan?" tanya Rania khawatir saat melihat Rara tampak menggerak-gerakkan bahunya.
"Enggak tahu. Emang rada nyeri, sih." Gadis itu mengulangi gerakan bahunya dan benar saja terasa nyeri.
"Coba gue lihat," ujar Rania sambil nurunin jaket jeans milik Rara. "Ada memar nih. Luka yang enggak keluar darah biasanya emang terasa lebih sakit."
"Masa, sih?" sahut Rara sambil mencoba menengok luka yang dimaksud. Tapi, belum sempat Rara melihatnya, tiba-tiba Leon datang entah dari mana seolah dia jatuh begitu saja dari langit.
"Rara lo enggak ... aaahhh!! Sorry-sorry! Gue enggak tahu lagi buka baju!" serunya panik seraya memutar badan membelakangi kedua gadis itu.
Ah! Sialan! Kenapa gue harus muncul di saat yang enggak tepat? Gue pasti kena semprot lagi sama tu gadis kutub!
Rara pun lekas memakai jaketnya dengan benar. Melihat reaksi pemuda itu membuat ia tertawa kecil
Lebai amat deh. Orang bahu doang. Gue juga pake tank-top bukannya telanjang.
Sementara Rania sudah termakan pengaruh pesona Leon sehingga tak mampu berpaling dari pemuda itu. Bahkan ketika Leon tengah membelakanginya.
Astaga! Imut banget!
***
To Be Continue ....
__ADS_1