Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta

Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta
Persepsi


__ADS_3

Akhirnya, setelah melewati malam yang panjang, Kenzie masih bisa terbangun pagi harinya. Itu pun berkat bantuan obat diare ampuh yang terpaksa ia telan tadi malam. Ya, kopi bikinan Rara rupanya begitu sukses membuat Kenzie menelan racun untuk dirinya sendiri secara suka rela.


"Sial! Kalau bukan gara-gara ide gila Jovita, gue enggak akan dipermalukan kayak gini."


Baru saja Kenzie mengeluh menyebut nama Jovita, cewek itu muncul dalam bentuk panggilan di ponsel Kenzie.


"Panjang umur lo!" gerutunya sambil meraih benda yang berada di atas nakas itu. "Masih berani lo telpon gue?" bentak Kenzie begitu sambungan telepon terhubung.


"Ya ampun, Ken. Lo pagi-pagi galak banget kenapa sih? Partner telpon bukannya salam dulu, kek. Main semprot aja. Emangnya gue nyamuk?" keluh Jovita di seberang dengan gayanya yang sok dibikin imut.


"Udah lo enggak usah banyak bacot, deh! Nyesel gue nerima kesepakatan dari lo!"


"Eh! Maksud lo apaan?" Suara di seberang terdengar panik.


"Tadi malem gue hampir aja sukses bikin Rara terkesan. Tapi, gara-gara lo nyuruh gue buat modus biar ditawari minum, gue sampe mempermalukan diri gue sendiri. Lebih parahnya lagi, gue sampe dibikin bolak-balik ke kamar mandi."


"Ngapain?"


"Gue diare gara-gara minum kopi bikinan Rara. Puas lo! Lain kali lo enggak usah ikut campur urusan gue! Lo jalanin aja rencana lo sampai sukses. Kalau lo beruntung, gue bakal traktir lo di angkringan depan rumah baru gue."


Jovita tak bisa menahan tawanya mendengar betapa apes nasib Kenzie itu. "Ya sorry, gue enggak tahu kalau Rara bisa ngelakuin itu sama lo. Licik juga dia."


"Ngomong-ngomong gimana perkembangan rencana lo?" tanya Kenzie segera mengalihkan topik pembicaraan. Ia sedang sangat malas mendengar cewek itu menertawakannya.


Jovita terdengar mendecakkan mulutnya. "Gue enggak bisa jalanin itu dengan buru-buru. Apalagi nanti kita mau kunjungan ke pasar. Bukan itu yang jadi penyebab. Tapi Rara dapet satu kelompok sama Leon. Huh, nyebelin!"


"Apa? Sial!"


"Iya. Tapi, lo tenang aja. Gue udah nyusun rencana buat ngerusak kerja sama tim mereka. Gue yakin, setelah ini Leon akan ngejauhin Rara. Lo sendiri juga tahu, kan. Gimana reaksi Leon kalau bersangkutan sama nilainya?"


Kenzie menampakkan senyum setannya. "Enggak ada yang lebih tahu hal itu lebih baik dari gue. Waktu sd dia pernah ngediemin gue selama satu minggu cuman gara-gara enggak sengaja matahin pensil dia."


"Bagus! Kesempatan ini enggak bakal gue sia-siain!" sahut Jovita bersemangat. "Lo juga harus lebih gencar deketin Rara. Sebaiknya lo bisa anter Rara ke kampus biar Leon lihat kedeketan lo sama cewek itu."

__ADS_1


"Ide bagus, gue akan segera ...."


KRUUUUKKK!


Oh no! Perut gue berulah lagi!


"Kenzie?" Suara di seberang memanggilnya.


"Gue enggak tahan lagi!" serunya sedikit terbata sambil menahan letusan di belakang.


"Lo ngomong apa?"


"Bodo amat!" seru Kenzie lagi dan segera berlari ke kamar mandi. Melempar ponselnya ke atas ranjang tanpa memedulikan Jovita yang masih memanggil-manggilnya di telpon.


***


Satu bus bermuatkan 30 orang terparkir di halaman kampus UGM, pagi itu. Seperti yang sudah direncanakan, tepat jam 7 WIB, mahasiswa/i jurusan manajemen pemasaran akan berangkat menuju Pasar Bringharjo guna melakukan kegiatan kunjungan pasar.


Seorang lelaki paruh baya berbadan kurus dan lumayan tinggi, tampak turun dari kemudi untuk menyapa dosen yang bertanggung jawa atas kegiatan tersebut. Celana cut-bray dan kaos ketat berbahan rajut, ditambah cara jalan si sopir yang gemulai cukup menyita perhatian semua orang di sana.


"Pagi," jawab pak dosen tegas membuat si sopir sedikit segan.


"Kendaraan sudah siap, Pak Dosen. Monggo kita berangkat sekarang saja," ajaknya dengan lemah lembut bak putri keraton. Tapi, dengan penampilannya dia bukan putri keraton Yogyakarta Hadiningrat. Tapi, putri kerasukan setan.


Dosen bertampang keras itu hanya mendehem menjawab perkataan si sopir, lantas berputar menghadap murid-muridnya.


"Anak-anak! Sudah saatnya berangkat!" seru pak dosen dengan keras.


"Tunggu, Pak! Leon belum datang!" seru salah satu murid membuat semua anak, terutama cewek-cewek tak beranjak dari tempatnya. Mereka seolah memiliki motto hidup : pantang pergi tanpa Leon. Astaga! Entah apa yang sedang diperbuat oleh cowok tampan itu, hingga ia belum juga muncul.


Sang dosen berpikir sejenak. "Leon ini kenapa tumben sekali terlambat? Enggak biasanya kayak gini?" gumamnya kemudian.


Sementara cewek-cewek di sana berbisik berkasak-kusuk mengkhawatirkan Leon, Rara—sebagai partner dalam tugas tersebut merasa jengah atas sikap Leon yang ia nilai begitu cari perhatian.

__ADS_1


"Niat kuliah enggak, sih? Yang bener aja kegiatan ketunda cuman gara-gara satu orang," gerutu cewek itu malas banget.


Alhasil, setelah 5 menit menunggu, pak dosen terpaksa menyuruh semua muridnya untuk naik ke bus.


"Mungkin Leon ada keperluan mendadak dan tidak sempat izin," ucap pak dosen menenangkan murid-muridnya yang masih saja protes.


"Ayolah, Pak. Kasih waktu beberapa menit lagi," pinta salah satu murid ceweknya.


"Iya, iya! Tapi, sebaiknya kita menunggu di bus saja. Nanti begitu Leon datang kita bisa langsung berangkat."


Beberapa orang terus bertanya-tanya tentang keberadaan cowok itu. Sebagian sampai ada yang menyalahkan Rara.


"Huh, pasti Leon males berangkat gara-gara satu kelompok sama cewek preman kayak dia," kata salah satu dari mereka.


"Iyalah! Siapa juga yang mau satu kelompok sama cewek yang sikapnya aja urakan kek gitu. Ya ampun, Leonku kasihan banget." Yang lain menimpali dengan tak kalah kejamnya.


Rania yang berada di samping Rara melirik khawatir pada gadis itu. "Lo enggak apa-apa, kan?"


"Kenapa? Soal omongan enggak mutu mereka?" Rara malah balik nanya yang lekas disahut dengan anggukan oleh Rania.


Rara mendecih. "Enggak ada waktu buat mikirin mereka. Emangnya ada kontributor apa mereka di hidup gue? Nanggepin juga enggak ada gunanya."


Kali ini Rania tak bisa menahan kedua tangannya untuk tak memberi dua jempol pada gadis itu. "Gue suka gaya lo."


Dan dengan sendirinya, mereka yang tadi mencibir Rara beranjak pergi dan masuk ke dalam bus. Bersyukur karena setidaknya mereka masih punya malu.


Pak dosen dan si sopir gemulai secara bersamaan menengok jam yang bertengger di tangan mereka.


"Kayaknya kita enggak bisa nunggu lagi, Pak," ujar si sopir yang sudah duduk di kursi kemudi.


Pak dosen lantas agak mendekat pada sopir itu. "Kita enggak bisa menahan kemauan murid-murid yang begitu mengagumi Leon. Tapi, aku punya cara. Setelah mereka naik, kamu bisa segera berangkat tanpa pemberitahuan," bisik pak dosen menyusun rencana.


"Baik, Pak."

__ADS_1


***


__ADS_2