Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta

Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta
Pengalih Kesedihan: Ghibah!


__ADS_3

Ketika sumber tidak dikenal mengatakan bahwa anak fakultas ekonomi terkenal sangat memperhitungkan pengeluaran dan pemasukan, mungkin seorang Delmora Engrasia telah memaksa Leon membuat satu pengecualian itu.


Bunyi berdebam terdengar beruntun saat pemuda berbadan jangkung nan atletis itu mengeluarkan isi kantong kresek berwarna hitam hasil belanjanya tadi. Ia memandang tak percaya melihat berbagai macam gel rambut tergeletak di atas kasurnya bersama beberapa barang pribadi.


"Ah, gue udah gila kayaknya. Gimana ceritanya Sang Penakhluk dikendalikan oleh gadis biasa seperti dia?" Napas Leon terhempas lelah.


Leon lalu merebahkan tubuhnya di samping barang-barang itu, termasuk deodorant paling wangi yang bakal masuk berperan jika diperlukan. Entah kenapa Leon merasa jalan yang harus ia tempuh kali ini sangatlah panjang juga terjal. Ia tidak mengerti.


Ke mana perginya sisi percaya diri dan keistimewaan Leon sebagai sang penakhluk? Apakah gue melakukan sebuah kesalahan sehingga membuat aura ini melemah? Bahkan ketika tadi Jovita ngajak gue makan bakso di salah satu warung, gue auto nolak gegara takut ketemu sama cewek itu. Gue takut insiden yang bikin gue enggak berkutik itu terulang lagi. Ah, memikirkannya saja udah bikin gue gelisah dan gugup. Kenapa sih ada cewek kayak gitu?


Leon menggeleng dan merubah posisi tidurnya menjadi menyamping melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 7 sore. Karena lelah berpikir, akhirnya ia pun tertidur.


***


Di dalam mobil jazz berwarna merah terang, Delmora Engrasia yang sering disapa Rara itu tengah menopang kepalanya sebelah kiri sambil mengotak- atik ponsel pintarnya.


"Lo lagi apa? Gue mau main ke tempat lo."


Rara mengirim pesan whatsapp tersebut pada sahabat satu-satunya yang ia miliki. Siapa lagi kalau bukan Rania. Nama mereka sedikit mirip ya!


Ting!


Pesan baru saja sampai di ponsel Rania dan segera ia buka begitu melihat nama Rara. Tapi, baru saja ia hendak membalas, tiba-tiba datang lagi pesan dari Rara yang membuat gadis tambun itu membelalak.


"Gue udah di depan pintu kamar lo. Cepetan bukain!"


Rania mendesis. "Cewek gila!" Gadis itu mengumpat seketika tapi akhirnya beranjak juga dari kasur tercinta untuk membuka pintu.


"Surprise!" seru Rara dengan mengangkat kedua tangan kosongnya.


"Surprise gundulmu! Lain kali kalau mau surprise bawa apaan, kek. Biar gue agak terkejut gitu." Rania manyun.


"Kan gue surprise-nya," ujar Rara sambil berpose ala Cherrybelle dan tersenyum sangat manis. Sayang ia jarang menunjukkannya pada orang lain. Padahal dia sangat imut.


"Apaan? Orang nanya di wa tahu-tahu udah nongol aja di depan pintu!" gerutu gadis itu seraya berjalan masuk.


Rara mengikutinya. "Namanya juga surprise kan?"


Rania melempar bantalnya tepat ke arah wajah Rara. "Eh, kampret! Di mana-mana orang surprise itu bawa kue kek, balon kek, makanan kek, cowok ganteng kek. Itu baru surprise!" ujarnya lalu tertawa renyah.


"Itu sih elonya yang kegatelan!" Rara balik melempar bantal itu kepada Rania. "Lagian kalau gue dateng pasti bawa sesuatu. Udah gue simpen di kulkas," kata Rara sambil tengkurep di ranjang Rania yang king size.


Mendengar itu mata Rania pun berbinar. "Beneran? Ah! Lo emang pengertian banget sama cewek yang tinggal alone di rumah ini," ujarnya sambil memeluk Rara dari samping.

__ADS_1


Rara hanya tersenyum. "Udah ah, lo berat!"


"Kan gue seneng gitu. Btw, lo bawa apaan?"


"Es lilin dua biji," sahut Rara sambil nyengir kuda.


"Anjir! Gue kira lo bawa kue makanya disimpen di kulkas. Tahunya es likin doang!" omel gadis berambut ikal sebahu itu sambil berkacak pinggang.


"Ye, emangnya mau ditaruh mana lagi kalau bukan di kulkas? Emang udah tempatnya di situ. Lain kali kalau dikasih tu bilang makasih kek."


"Tapi, enggak dua biji juga kali, Ra. Elo mah orang pelit yang kaya. Eh! Kebalik!"


"Lah, lo di rumah juga sendiri. Bokap sama nyokap lo pergi pulang kampung sama adek lo. Ya, gue bawa banyak buat apaan, Bambang?" ujar Rara sambil nurunin tangan Rania dari pinggang.


"Dih, orang pelit mah banyak alasannya," kata Rania yang ujungnya kalah debat juga.


"Gue bukan pelit, tapi berusaha berbuat baik dengan menghindari perbuatan yang bernama mubadzir."


Rania melongo. "E-eh, ya udahlah bodo amat deh sama teori lo!"


Rara pun ngakak melihat wajah jengkel sahabatnya ini. Cuman Rania yang tidak marah saat jadi pelampiasan Rara ketika suasana hatinya sedang tidak baik.


Dan sebagai sahabatnya yang sudah kenal lama, Rania tahu betul sifat Rara yang suka ngerjain ketika ada suatu masalah.


"Gue males di rumah. Bokap juga kayaknya belum puas bikin gue tertekan setiap harinya." Rara merebahkan tubuhnya seolah ingin mengistirahatkan sejenak jiwanya.


Rania pun ikut rebahan di samping Rara. "Gue sih maklum, Ra. Selain elo, emang siapa lagi yang bakal nerusin perusahaan bokap lo? Kalau lo enggak belajar dari sekarang mau kapan lagi?"


"Tapi kan gue punya adik yang ...." Rara terhenti sejenak dan tiba-tiba raut wajahnya jadi sedih. "Bagaimanpun bokap gue seharusnya tidak bersikap adil sama kita berdua."


Melihat gadis itu sedih membuat Rania tak tega. Meskipun Rara tampaknya seperti gadis dingin yang keras, tapi sebenarnya dia memiliki hati yang lembut. Hanya orang-orang terdekatlah yang tahu. Terutama adik laki-lakinya yang bernama Davin Engrasia.


Maka, Rania pun berusaha mengalihkan perhatian Rara dari hal yang sedih-sedih. "Tapi kan ya, lo masuk ke jurusan ekonomi ada untungnya, tahu!"


"Untung apaan?" tanya Rara tidak mengerti.


"Kan jadinya lo bisa ketemu sama si ganteng Cleon Celestyn. Legend dari dunia percintaan dengan gelar 'sang penakhluk'," ucap Rania dengan mata berbunga-bunga. Mungkin jika dilihat dari dunia maya kamar Rania udah jadi pasar kembang. Untung enggak ada bunga bangkainya. Kan bau!


"Dih? Enggak jelas banget! Maha enggak penting banget gue ketemu apalagi sampai harus kenal!" seru Rara sontak mencibir jijik.


Rania ketawa. "Padahal lo tu udah ketemu sama Leon loh!"


"Leon siapa lagi, tuh? Jangan bilang kalau fakultas ekonomi banyak makhluk anehnya?" Rara menatap tajam sahabatnya yang masih tertawa itu.

__ADS_1


"Leon itu ya Cleon Celestyn! Cowok ganteng yang rebutan bakso sama lo kemarin di warung deket kampus!"


Duaaarrrrr!!!


Kepala Rara seakan meledak mendengarnya. Demi apa pun ia tidak menyangka akan bertemu dengan cowok tidak tahu malu seperti dia. Dan sekarang mereka harus sekelas? Oh, no!


"Gue? Sekelas sama dia? Duh, bener-bener bakal bikin gue eneg tiap hari!"


"Itu enggak mungkin! Lagian elonya yang enggak normal. Masa lihat cowok seganteng dan sebaik dia malah eneg? Jahat banget sampai enggak mau ngalah padahal Leon udah memohon baik-baik kayak gitu," ucap Rania membela sang pujaan tentang rebutan bakso kemarin.


"Dih? Apa urusannya? Dianya aja yang enggak tahu malu ngrebut hak milik orang lain. Jadi cowok kok cemen!" Rara makin mencibir cowok yang mereka bicarakan.


"Yang penting kan dia ganteng! Punya aura yang bisa menakhlukkan hati siapa pun yang melihatnya!" Lagi-lagi Rania nekat berdebat.


"Tapi gue enggak!" bantah Rara.


"Eh? Iya juga ya? Emang lo yakin enggak tertarik atau tersentuh gitu sama Leon?" tanya Rania jadi auto penasaran.


"Enggak," jawab Rara yakin. "Apa hebatnya coba? Cowok yang kata lo punya aura sang penakhluk itu, udah pasti playboy. Suka gonta-ganti pacar semudah dia ganti baju. Enggak ada untungnya bisa ketemu sama cowok kayak gitu. Jadi, tarik lagi ucapan lo soal keberuntungan gue masuk ke fakultas ekonomi. Bagaimanapun jurusan pertanian adalah yang terbaik!" ucap gadis itu dengan semangat.


"Lo jangan salah. Leon itu enggak pernah pacaran, tahu!"


"Enggak mungkin."


"Dih, ngeyel amat sih dibilangin? Leon itu meskipun banyak disukai bahkan hampir dikelilingi cewek cantik setiap harinya, tapi dia enggak pernah pacaran sama sekali. Anak dosen kampus yang semlohay aja dia tolak."


"Itu artinya dia berengsek!"


"Kok gitu?" Rania berseru tak terima.


"Karena dia cuman mau main-main sama cewek tapi enggak mau ngasih penjelasan soal hubungannya. Kan, kalau dia pacaran dia enggak bisa ngerayu semua cewek sesuka hatinya. Pacaran buat cowok dengan title kayak gitu cuman jadi pengekang hidupnya. Sampai sini paham?"


"Bener juga, sih."


"Masih mau suka sama cowok kayak gitu?"


"Masih, sih," ucap Rania sambil nyengir.


"Kampret!" Rara auto memukul wajah Rania pakai bantal. "Enggak guna dong gue ceramah panjang lebar. Dasar!"


"Gue enggak pernah minta wleee!"


Dan berdebatan itu berakhir dengan mereka saling pukul pakai bantal sampai pagi.

__ADS_1


***


__ADS_2