Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta

Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta
Kasih Sayang Ayah


__ADS_3

Pagi harinya Rara keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga dan menemukan ayahnya sudah menunggu dirinya di meja makan. Ini pertama kalinya setelah sekian lama ia tak sarapan bersama bareng ayahnya.


"Ayah rapi banget. Emang mau ke mana? Katanya masih cuti?" tanya Rara setelah berada di meja makan. "Padahal Rara mau ngajakin Ayah ke acara baksos gitu."


"Apaan? Bakso?" sahut ayahnya lagi-lagi ngerjain putrinya. Mulutnya sedang mengunyah roti, sampai ia tidak begitu fokus pada apa yang barusan Rara katakan.


Rara pun tertawa kecil. "Baksos, Ayah. Bakti sosial. Bukan bakso. Kenapa semenjak Rara pulang Ayah beralih profesi jadi pelawak?"


Ayah Rara hanya tersenyum tipis. "Apa pun akan Ayah lakukan asal kamu bisa ketawa kayak gini terus. Karena bagi Ayah, senyum kamu itu adalah sumber kekuatan Ayah. Jadi, Rara harus selalu tersenyum, apa pun yang terjadi. Ok? Ingat dengan baik pesan Ayah ini, ya?"


Rara sangat terharu. "Ouh, Ayah so sweet banget deh!" katanya sambil mengoles selai kacang di roti tawarnya.


Pelayan di rumah Rara sudah kembali bekerja seperti sediakala. Begitu, Rara pulang, maka semua kemewahan bak istana di rumah ini kembali seperti sihir. Bangun, sudah ada yang menyiapkan makanan. Rumah selalu bersih dan rapi. Baju kotor tidak pernah menumpuk. Semua dikerjakan dengan terampil oleh tenaga kerja yang sudah profesional. Mereka juga diberi seragam layaknya maid di komik-komik jepang.


"Oh ya sampai lupa," seru sang ayah. "Hari ini kamu masuk kuliah jam berapa?"


"Rara ambil siang kok, Yah. Kenapa?"


"Ayah denger kemarin Leon masuk rumah sakit, ya?"


"Apa?" sahut Rara terkejut. "Masuk rumah sakit gimana? Orang kemarin dia baik-baik aja? Tapi, memang pas Rara anterin pulang dia agak pucat gitu sih, Yah," ucap Rara sambil mengingat-ingat.


Masa iya, Leon sampai masuk rumah sakit hanya gara-gara mikirin pisang yang gue kasih ke mamang tukang ledeng? Sampai segitu parahnyakah?


"Ayah juga enggak tahu. Makanya, rencananya Ayah mau ajak kamu buat jenguk dia di rumah sakit Dr. Sardjito."


"Kalau gitu Rara kabarin Rania dulu ya, Yah. Soalnya kemarin udah janjian mau ngadain baksos. Tapi, berhubung Leonnya enggak bisa, jadi baksosnya terpaksa ditunda. Karena yang tahu lokasi persisnya di mana anak-anak jalanan itu tinggal, cuman Leon."


"Iya, sekalian ajakin Rania. Dia temen Leon juga, kan?"


"Iya, Ayah," jawab Rara sembari menahan tawanya.


Ayah enggak tahu sih gimana fanatiknya Rania sama makhluk bernama Leon ini. Mungkin ayah bakal kaget kalau tahu Leon adalah cowok yang paling diidolakan di kampus.

__ADS_1


Ketika sarapan Rara sudah selesai ia pun berpamitan ke kamar untuk bersiap-siap.


"Ok. Jangan terburu-buru, sayang," ucap ayahnya sambil diam-diam mengawasi perginya Rara. Setelah gadis itu lenyap ditelan pintu kamarnya, ayah Rara terkikik. "Ini kesempatanku buat minum obat untuk yang pagi hari," ucapnya sambil mengeluarkan satu persatu butiran obat yang berjumlah kurang lebih lima macam.


Tapi, baru saja ia hendak meminumnya, suara pintu kamar Rara yang ditutup, menghentikan aksinya.


E buset! Gawat Rara udah keluar!


"Rara udah siap, Yah. Ayah udah selesai belum sarapannya?" tanya Rara sambil kembali menuruni tangga. Heran, apa mereka enggak capek ya naik-turun tangga mulu?


"I-iya! Ayah sudah selesai!" sahutnya gugup dan segera menyembunyikan obat-obat itu ke dalam saku celananya.


"Nanti kita ke rumah Rania dulu ya, Yah. Mau pakai mobil Ayah apa mobil Rara?"


Ayahnya berpikir sejenak.


Lah, enggak boleh pakai mobilku. Aku enggak tahu ada jejak mencurigakan apa enggak di sana. Bisa aja kan aku lupa naruh bungkus obat di mobil? Atau yang lainnya?


"Ayah, napa malah bengong?" tanya Rara bingung.


Rara mengangguk-angguk mengerti. "Ya udah yuk berangkat. Keburu siang loh!"


Ayahnya gugup dan seketika memutar otak untuk membuat Rara keluar dulu. "Eng, Ayah ada sesuatu yang ketinggalan di kamar. Kamu ke mobil dulu nanti Ayah nyusul."


"Ok, Yah," sahut Rara tanpa kecurigaan lantas pergi keluar mengemudikan mobilnya dan membawa mobil itu tepat di depan pintu utama rumahnya yang terpisah dengan beberapa anak tangga.


Setelah berhasil membuat putrinya keluar lebih dulu, dia pun buru-buru merogoh saku celananya dan mengeluarkan lagi semua obatnya.


"Untung aja Rara percaya. Kalau enggak aku bakal melewatkan minum obat, pagi ini."


Sementara di luar, Rara mulai tak sabaran menunggu sang ayah.


"Barang apa sih yang ketinggalan? Kenapa ngambilnya lama banget?" omel Rara.

__ADS_1


Baru aja diomongin, ayah Rara sudah tampak keluar.


"Ayah lama banget ngambil apaan?" tanya Rara begitu pria paruh baya itu masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Rara.


"Hah?" Ayahnya malah kayak orang bingung. Ia lupa kalau tadi dia beralasan untuk mengambil sesuatu di kamar. Untung ia segera ingat. "Oh! Dompet Ayah yang ketinggalan. Ayah lupa narub di mana. Makanya lama. Maaf ya," ujar sang ayah membuat hati Rara luluh.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Rara.


"Tentu, sayang. Tunggu apa lagi?"


"Ok."


Mobil pun perlahan meninggalkan halaman rumah Rara menuju rumah Rania.


Bagaimanapun aku harus tetap hidup. Aku harus bertahan dan terus melawan penyakit jantungku. Aku harus bisa menghambatnya agar tidak menyebar dengan cepat. Memang, dokter menyarankanku untuk dirawat inap agar lebih intensif dalam penanganannya. Tapi, tentu saja hal itu tidak aku setujui. Penyakit ini harus tetap tersembunyi sampai tiba waktunya kutemukan orang yang aku percaya untuk menjaga Rara dan Davin.


***


Rania hampir saja mau berangkat ke rumah Rara saat mobil cewek itu berhenti di depan rumahnya.


"Enggak usah pake turun, Ra! Kita langsung ke rumah sakit aja!" serunya enggak mau tahu dan duduk sembarangan tanpa lihat-lihat. Alhasil, ia malah duduk di pangkuan ayahnya Rara. Tapi, Rania sama sekali tidak menyadarinya karena saking paniknya ia mendengar sang idola pujaan menderita.


Ayahnya Rara pun diam terpaku karena tak bisa menggerakkan tubuhnya, mengingat Rania yang gembul seperti kasur lipat. Iya ngelipatnya sampai ratusan. Eh, kayak iklan? Hahaha.


"Ran, buru-buru sih boleh. Tapi, lo lihat dong lo duduknya di mana? Itu Ayah gue enggak bisa napas tahu!" seru Rara kesal.


"Astaga!" Rania tak kalah keras terkejutnya. Ia pun segera turun sebelum ayah Rara beneran jadi emping. "Maaf, Om! Rania bener-bener enggak ngelihat kalau di situ ada Om! Maafin Rania, Om!" ujarnya ngerasa bersalah dan juga sangat malu.


Ayah Rara terbatuk beberapa kali saat Rania sudah pergi dari pangkuannya. Abis kejatuhan kudanil ya gitu. "Iya enggak apa-apa. Makanya lain kali jangan terlalu buru-buru. Karena terburu-buru adalah perbuatan setan."


"Iya, Om."


***

__ADS_1


To Be Continue ....


__ADS_2