Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta

Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta
Terkapar


__ADS_3

Saat Leon keluar-masuk kamar mandi untuk yang kesekian kalinya, mentari sudah 1 jam yang lalu kembali ke peraduan.


"Ya ampun ternyata sudah malem. Pantesan gue ngerasa laper banget. Gue pesen GoFood aja kali, ya?" keluh Leon sembari berjalan lunglai menuju saklar lampu dan menyalakannya.


Di kamar berukuran sedang itu Leon tertatih hendak meraih ponselnya yang tergeletak di atas ranjang. Ia tampak begitu pucat seperti orang yang baru saja melihat hantu.


BRUK!


Ia mendudukkan dirinya di tepi kasur dan meraih benda kotak tipis itu kemudian segera memesan makanan yang tak jauh dari kosan. Mau gimana lagi? Jalan juga enggak kuat. Kalau dipaksakan, Leon takut ia malah akan pingsan di jalan.


"Kalau mama dan papa tahu, pasti gue kena omel deh. Ya ampun! Gue makan semangka juga terpaksa. Abisnya enggak enak sama bokapnya Rara. Apalagi, setelah beliau ngomong kalau itu buah favorit Rara. Kan, gue makin enggak bisa nolak lagi. Tapi, hasilnya kayak gini nih. Gue bolak-balik kamar mandi gegara kebelet pipis mulu." Lalu Leon mulai merasa pengen kencing lagi. "Tuh, kan? Baru juga diomongin. Astaga ... kalau gini terus gue bisa habis kering nih."


Kurang lebih 20 menit, terdengar ketukan pelan di pintu kamar Leon. Rupanya GoFood pesanan Leon sudah datang. Tapi, setelah dipanggil-panggil kenapa Leon enggak keluar juga?


"Cari siapa, Mas?" tanya tetangga kos Leon.


"Ini, Mbak. Tadi Mas Leon pesen makanan. Tapi, saya panggil-panggil kok ada, ya? Apa lagi keluar?" tanya si pengantar makanan yang seorang pria berusia 25 tahunan.


"Enggak kok, Mas. Dia di dalam. Orang dari tadi saya enggak lihat dia keluar. Mungkin ketiduran, Mas." Mbak-mbak itu kemudian menghampiri kosan Leon dan menggedor pintunya. Tapi, enggak ada jawaban juga.


"To ... long ...." Sayup-sayup terdengar sebuah suara dari dalam.


Mereka saling berpandangan.


"Mas denger suara tadi enggak?" tanya Mbaknya takut-takut.


"Denger juga, Mbak," sahutnya dengan gemetar. "Apa biasanya emang ada penghuni dunia lain yang suka mengganggu, Mbak?"


"Enggak pernah, Mas. Di sini itu aman. Saya khawatir itu ... jangan-jangan suara Mas Leon!" seru Mbaknya membelalakkan matanya.


"Wah! Kalau gitu buruan dicek, Mbak! Takutnya kenapa-kenapa! Eh, kebetulan enggak dikunci. Kita masuk aja!" ajak si pengantar makanan yang lekas disetujui oleh mbaknya.


"Astaghfirullahal'adzim!" seru mereka bersamaan.


Di kamar itu, mereka menemukan Leon yang terkapar tak berdaya di lantai depan kamar mandi. Mereka pun segera menolongnya dan membawa Leon ke rumah sakit terdekat.


***


"Halo?" ucap seorang pria berusia 50'an tapi masih tampak bugar. Tubuhnya yang jangkung menambah kesan awet muda pada penampilannya.


"Ini benar dengan kediaman Cleon Celestyn?" tanya seseorang dari seberang.


"Iya, benar. Saya papanya. Ini siapa dan ada apa, ya?" tanyanya dengan serius.

__ADS_1


"Kami dari pihak rumah sakit, Pak. Ingin mengabarkan bahwa putra Bapak yang bernama Cleon Celestyn masuk ke rumah sakit. Anak Bapak sedang dalam proses pemeriksaan, jadi diharapkan Bapak atau Ibu sebagai wali Leon bisa datang untuk mengurus pendaftarannya."


"Astaga, baik-baik! Saya akan segera meluncur ke sana! Tolong beri pengobatan yang terbaik untum anak saya," pinta papanya Leon dengan cemas.


"Baik, Pak. Kalau begitu telponnya saya tutup dulu. Selamat malam."


Papanya Leon bergegas menyambar jas berwarna cokelat muda yang tersampir di kursi dan segera pergi menuju lift di kantornya. Kemudian ia menekan sebuah nomor di ponselnya.


"Halo, Mina. Kamu tolong cek tiket pesawat untuk Jakarta ke Yogyakarta yang berangkat malam ini! Kabari saya segera," titah ayah Leon pada sekretarisnya.


"Baik, Pak."


Lalu, hubungan pun terputus.


Leon ... kamu harus baik-baik saja, Nak!


Tak lama kemudian, Mina menelpon. Dia bilang kalau tiket ke Yogyakarta yang berangkat malam ini hanya tersisa untuk kelas ekonomi.


"Tidak masalah! Ambil saja!" perintahya dengan sedikit keras.


Saya tidak peduli reputasi dan yang lainnya. Yang penting, kamu harus selamat, Leon!


***


"Pa, kita harus cepat sampai ke rumah sakit!" ucap seorang wanita cantik berhijab dengan gelisah.


"Iya, Ma. Mama jangan panik. Anak kita pasti baik-baik aja! Seharusnya sekarang mobil jemputan sudah menunggu kita di depan."


"Mina yang mengurus?"


"Iya, seperti biasa."


"Baiklah."


Dan benar saja, sebuah mobil berwarna hitam merk terkenal sudah menanti mereka di pintu keluar bandara. Setelah sedikit konfirmasi, mereka segera pergi menuju rumah sakit Dr. Sardjito.


Beruntung, jalanan malam itu tidak begitu ramai. Sehingga dalam kurun waktu kurang lebih dua puluh tiga menit, mobil yang kedua orangtua Leon tumpangi sudah sampai di rumah sakit.


"Ini kartu nama saya, Pak. Silahkan Bapak menghubungi saya jika ada yang diperlukan," kata sopir itu kemudian pergi meninggalkan area rumah sakit.


Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, papa dan mamanya Leon pun segera menghampiri tempat pendaftaran untuk menanyakan ruang dimana Leon dirawat.


"Sebentar ya, Pak, Bu. Saya cari dulu. Atas nama siapa, Pak, Bu?" tanya suster itu dengan ramah sembari mengetik sesuatu pada komputernya.

__ADS_1


"Cleon Celestyn, Sus. Dia pasien yang baru beberapa jam yang lalu dilarikan ke rumah sakit ini," jelas mamanya Leon dengan tak sabaran.


Suster itu menganguk maklum dan mencarinya secara seksama. "Baik, Bapak, Ibu. Pasien atas nama Cleon Celestyn ada di ruang Melati nomor 7," ujar suster tersebut kemudian menunjukkan ke arah mana mereka harus pergi.


"Terima kasih, Sus. Ayo, Pa! Buruan!" ujar sang mama membuat suaminya kewalahan.


Tapi, setelah 10 menit berjalan mereka tak kunjung menemukan ruangan yang dimaksud. Karena panik, kedua orangtua Leon hanya berputar-putar saja di jalan dekat apotik.


"Papa gimana, sih? Jalan ke ruangan Leon itu ke mana?" ujar sang mama kesal.


"Mama sabar, dong. Papa juga baru pertama kali datang ke rumah sakit ini."


"Papa telpon Mina, deh! Suruh cari denah lokasi rumah sakit biar jelas!"


"Ya ampun, Mama. Meskipun Mina adalah karyawan Papa di kantor, tapi bukan berarti kita membeli seluruh hidupnya. Lagian bisa jatuh wibawa Papa kalau sampai ketahuan nyasar di rumah sakit. Mau ditaruh mana muka Papa sebagai direktur utama di perusahaan?"


"Ah! Yang Papa peduliin mah cuman wibawa! Enggak peduli sama anak sendiri!" ucap wanita itu marah.


"Mama jangan gitu, dong. Ya udah itu ada orang. Papa nanya sama dia dulu ya," bujuk pria itu dengan lembut.


"Terserah."


Papanya Leon auto syok.


Wah ... parah nih kalau mama udah bilang terserah. Coba minta tolong anterin sekalian aja deh. Semoga aja bapak itu berbaik hati mau menolong kami.


"Permisi, Pak?" sapa papa Leon pada seorang pria yang sedang menunggu di depan apotik.


"Iya? Ada apa, Pak?" tanya pria itu yang tak lain adalah ayahnya Rara.


Papanya Leon pun lantas menceritakan masalahnya dan berniat meminta bantuan pada ayahnya Rara.


"Oh begitu? Nah, kebtulan obat saya juga sudah siap. Sebelum pulang, mari saya antar Bapak dulu."


"Terima kasih banyak, Pak!" ucap papanya Leon terharu.


"Ah, jangan sungkan. Ini sudah kewajiban saya sebagai sesama untuk saling menolong."


Papanya Leon tersenyum senang mendengarnya. Ia tidak tahu jika Yogyakarta seramah ini. Pantas, Leon dulu sangat ingin kuliah di sini. Ternyata, Yogyakarta adalah perantauan yang berasa kampung halaman sendiri.


***


To Be Continue ....

__ADS_1


__ADS_2