
"KYAAA! ITU LEON!"
"AAAA!"
Sepanjang jalan ini ... ah! Gue bosen.
Leon menutupi sebagian wajahnya dengan tangan. Tapi tentu saja itu tak mampu menyembunyikan aura 'penakhluk' yang sudah melekat padanya sejak lahir. Ditambah lagi dengan apa yang hari ini dia lakukan pada rambutnya. Entah setan apa yang merasukinya, tapi pagi itu ia sengaja mengubah gaya rambutnya menjadi ala-ala hot daddy.
"Udah gue duga bakal heboh kayak gini. Penampilan biasa aja udah cukup mengundang perhatian." Leon mendengus kesal. "Kalau bukan demi rasa penasaran gue pada cewek itu, gue enggak bakal mau bikin keributan kayak gini!"
Leon berusaha pergi secepat mungkin ke kampus setelah melihat banyak gadis yang melihatnya jadi mimisan bahkan pingsan. Lebih parah lagi karena gadis-gadis yang mimisan itu masih nekat mengejar Leon seperti zombie. Benar-benar di luar prediksi Leon. Ini berlebihan karena pemuda tampan nan menawan itu melakukannya hanya demi seorang Rara yang sempat berebut bakso dengannya.
Beruntung Leon pintar melarikan diri dan bersembunyi di balik pilar besar di gedung fakultas ekonomi sehingga ia dapat terbebas dari kejaran fans-nya. "Kayaknya gue butuh bodyguard, deh!" ujarnya sambil terengah-engah. "Kalau kali ini enggak berhasil juga, gue enggak tahu bakal ada keributan apa lagi besok."
Sebaiknya gue diem di sini dulu menunggu cewek itu. Kalau dugaan gue enggak salah, cewek itu harusnya satu fakultas sama gue. Hm, Dewi Fortuna sedang berdiri di pihak gue kayaknya. Hehehe.
Baru saja Leon menggumam dalam hati, gadis yang bernama Delmora Engrasia itu benar-benar muncul dan sedang berjalan menuju gedung fakultas ekonomi. Wajahnya yang datar tanpa ekspresi itu masih sama seperti kemarin. Tampak tenang berjalan seorang diri seolah ia telah terbiasa dengan kesendirian. Seolah ia bisa hidup tanpa orang lain. Dengan kepribadian dan wajah juteknya, Leon tak heran kalau gadis itu tidak banyak memiliki teman.
Pasti rasanya sangat kesepian. Eh, kenapa gue jadi ngerasa bersimpati sama dia? Tapi, kasihan juga sih kalau dia beneran kayak gitu. Lagian salah sendiri, kenapa jadi cewek galak banget kayak herder. Udah gitu sok memerintah. Ok, ayo kita lihat apa kali ini lo bisa nolak aura gue yang lebih terbuka daripada kemarin.
SET!!
Sebisa mungkin Leon tampil di waktu yang tepat saat Rara baru saja melewati tempat persembunyiannya. Berharap gadis itu akan terkejut dan terpana begitu ia melihat wajah Leon.
Tapi ....
"Minggir!" desisnya dengan raut wajah yang tak pernah terpikirkan oleh Leon.
Hampir saja kaki Leon hendak meninggalkan tempat. Beruntung masih ada sisa kesadaran yang membuatnya tetap bertahan.
Gue enggak mungkin salah lagi, kan?
__ADS_1
"Gue ...."
Rara menelengkan sedikit kepalanya dengan tak habis pikir.
Udah gue suruh minggir tapi cowok ini masih sok narsis di depan gue.
"Jangan bikin gue ngomong dua kali," ucap Rara begitu kejam.
Leon menggigit bibir bawahnya menahan kesal.
Sial! Kenapa lidah gue mendadak kelu begini? Ayolah, Leon! Lakukan sesuatu!
Namun, sebelum niat Leon terlaksana, Rara telah lebih dulu menyingkirkan dirinya dengan satu tangan lalu melewati Leon begitu saja.
Disingkirkan seperti ia sebuah kotoran yang menjijikan membuat pemuda itu terhenyak. Di mata Rara, Leon sama sekali tak ada harga dirinya.
Kenapa gadis itu begitu tangguh dan keras hati? Gue udah berpikir matang sampai bikin gaya rambut model hot daddy karena gue pikir dia suka tipe cowok yang dewasa. Seharusnya lihat sikapnya yang enggak suka basa-basi, dugaan gue ini tepat. Tapi, kenapa lagi-lagi meleset? Kenapa gadis itu enggak memandang gue sama sekali? Bahkan, sikapnya terbilang lebih dingin dari sebelumnya?
"Wah, itu Leon!"
"Ganteng banget, astaga!"
"Dia makin seksi dengan gaya rambut begitu!"
"Mau dong jadi ibu dari anak-anaknya kelak!"
Mendengar itu, Leon semakin dalam jatuh melamun memandangi ke mana Rara pergi.
Seharusnya kayak gitu reaksinya. Ketika semua cewek histeris, mimisan, dan jatuh pingsan melihat ketampanan gue, kenapa lo bisa pergi begitu aja tanpa memandang gue? Perasaan ini ... entah bagian mana dari tubuh gue yang merasa hina.
"Leon!" panggil Jovita yang ikut merapat pada barisan gadis-gadis yang mengagumi ketampanan Leon.
__ADS_1
Tapi Leon tak bergeming sedikit pun dan hanya terus memandangi ke arah gadis itu pergi dengan perasaan campur aduk.
"Leon lo kenapa sih?" tanya Jovita dan ikut melihat ke mana arah tatapan si cowok penakhluk ini. Tapi, ia tidak mengerti juga tentang apa yang terjadi. Semuanya terlalu membingungkan sampai membuat rambut cepol dua ala Ten Ten-nya itu berkedut.
Jadi, kemarin Leon beli banyak gel rambut buat ini? Tapi kenapa? Siapa yang udah bikin Leon kayak gini?
***
Sementara itu Rara yang sedang menuju kelas melihat Rania jalan tergesa sampai ia mengabaikan sahabatnya tersebut.
"Mau ke mana lo?" tanya Rara membuat Rania menghentikan langkah dan akhirnya menoleh pada gadis jutek itu.
"Gue mau lihat keributan di sana. Pasti ada si ganteng Leon, kan? Gue melewatkan adegan yang seru gara-gara panggilan alam. Udah dulu ya!" Rania buru-buru menyudahi percakapannya karena tidak mau membuang waktu lagi. Jika ia terlambat sedikit, maka ia tidak akan bisa melihat Cleon Celestyn si ganteng yang diciptakan untuk menakhlukkan hati para gadis.
Tapi, baru saja ia hendak balik badan, tiba-tiba Rara menarik tangan Rania dan menyeretnya pergi menuju kelas.
"Lo enggak ada waktu buat lihat sesuatu yang enggak guna. Lebih baik lo ajarin gue tentang dasar-dasar ilmu ekonomi," ujar Rara sudah seperti orang posesif. Tapi sebenarnya ia hanya tidak ingin Rania menjadi sama bodohnya seperti gadis-gadis yang mengejar-ngejar Leon.
Cowok itu! Ada apa sama dia? Bikin ribut aja!
"Tapi, Ra gue butuh amunisi!" seru Rania berdrama seolah ia tengah dipaksa untuk berpisah dari kekasihnya.
"Enggak ada! Lo itu mau kuliah apa mau perang? Kalau lo milih Leon persahabatan kita game over!" ancamnya dan langsung membuat Rania tak berdaya.
Bagaimanapun persahabatannya jauh lebih penting, meskipun sebenarnya Rania sangat ingin melihat Leon. Ia heran kenapa gadis itu begitu kuat padahal kalau dilihat dari segi ukuran tubuh, Rania jauh lebih subur ketimbang Rara. Tapi, kenapa dia bisa kalah? Rara itu manusia apa Wonder Women sih? Apa jangan-jangan kalau malem dia berubah jadi Hulk?
Kampret lo, Ra! Gue butuh ngisi amunisi sebelum memulai hari-hari berat gue di kampus. Kalau bukan karena udah kenal lama sama lo, gue enggak bakal nurut.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan keduanya saat berpapasan. Kenzie Ganendra tersentak mendengar percakapan mereka.
Eh, mereka lagi ngomongin Leon? Tapi, kenapa rasanya beda?
__ADS_1
***