Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta

Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta
Kunjungan Pasar


__ADS_3

"Kok lo bisa telat, sih, Leon? Sibuk ngapain aja? Harusnya lo kasih tahu gue dong kalau ada yang perlu gue bantu," kata Jovita bermanis-manis manja dengan tatapan sayu yang dibuat-buat. Daripada sayu, mungkin dia lebih cocok dibilang kayak orang mabuk.


"Enggak ada apa-apa kok," sahut Leon sambil nyengir, menjawab pertanyaan gadis itu dengan enggan.


Mana mungkin gue cerita yang sebenernya? Bisa diketawain monyet kalau sampai ketahuan, gue bangun kesiangan gara-gara susah tidur mikirin jalan bareng Rara. Emang enggak bisa dipercaya, ada cewek yang bisa bikin gue —Sang Penakhluk jatuh cinta.


"Oh, baiklah," balas Jovita bersikap seolah sangat mengerti Leon. Sebagai seseorang yang menganggap dirinya adalah sahabat dekat, tentunya ia tidak bisa memperlihatkan perasaan yang sebenarnya pada Leon.


Leon udah mulai enggak terbuka sama gue. Semenjak ketemu sama Rara dia semakin mengabaikan keberadaan gue. Gue janji sama diri gue sendiri, bakal misahin mereka berdua apa pun yang terjadi.


Sementara itu, meski tampak tidak acuh pada perbincangan mereka, diam-diam Rara merasa penasaran atas alasan apa Leon datang terlambat. Mungkinkah benar karena ia malas satu kelompok dengannya?


Kenapa gue harus keganggu? Perasaan, suka atau enggak suka dia sama gue, itu bukan urusan gue.


"Ra?" panggil Leon membuat lamunan gadis itu buyar. "Lo baik-baik aja, kan? Muka lo tampak kurang sehat. Lo enggak lagi mabuk kendaraan, kan?" Serentetan pertanyaan Leon ungkapkan dslan satu napas.


"Enggak usah sok akrab. Urus aja urusan lo sendiri," sahut Rara lekas membuang muka ke arah lain.


"Eh, muka lo kenapa, Ra?" tanya Leon tampak panik sambil berusaha melihat wajah kesal gadis itu.


"Apa sih?" Mendengar ucapan Leon membuatnya tak nyaman.


"Beneran gue tanya muka lo kenapa?" tanya Leon lagi dengan ekspresi serupa.


"Kenapa sih? Lo kalau ngomong jangan setengah-setengah!" Akhirnya gadis itu merespon dengan nada yang lebih serius. Bagaimanapun, segalak dan sedinginnya Rara, ia tetaplah seorang manusia berjeniskelamin perempuan yang akan panik jika sesuatu terjadi pada penampilannya.


"Muka lo ...." Leon menjeda kalimatnya. "Kenapa cantik banget?" lanjutnya sembari memberi tanda 'love' ala Korea di hadapan gadis itu.


Dan sesuai dugaan Leon, raut wajah Rara berubah datar seketika. "Enggak lucu!"


Leon jadi tertawa puas karena sudah berhasil menjebak Rara dalam rayuan gombalnya barusan.


"Cie ... mesra amat sih kalian?" ucap Rania yang duduk di belakang mereka sambil melongokkan kepalanya.


"Jangan asal ngomong, deh!" sahut Rara cepat.


Leon tertawa senang. "Emang seharusnya begitu. Kita partner yang kompak, kan?"


Rara melayangkan tatapan tajamnya pada Leon membuat cowok itu menutup mulutnya seketika. Dan tiba-tiba Rara beranjak dari duduknya membuat Leon refleks menahan tangan gadis itu.


"Gue cuman becanda. Lo jangan marah," pinta Leon sambil mendongak persis seperti seorang anak kecil yang enggak mau ditinggal emaknya ke pasar.


Wah, gawat! Masa dia ngambek gara-gara gue bilang cantik? Ini kan salah satu jurus gue buat nakhlukin dia, ala-ala gombalan receh gitu. Ya ampun! Sebegitu bedanyakah Rara sama cewek-cewek pada umumnya? Gue harus pake jurus apa lagi buat nakhlukin hati lo?


Rara mendengus kesal. "Lepas," ujarnya dingin.


"Gue minta maaf. Please maafin gue." Lagi-lagi Leon menghiba dan tak berniat melepaskan genggaman pada lengan Rara.


"Gue mau turun. Kita sudah sampai," ucap Rara sambil menatap datar pada cowok itu.

__ADS_1


"Loh? Iyakah?" guman Leon baru menyadari kalau busnya sudah berhenti.


Eh? Jadi, dia begitu bukan karena marah sama gue?


Rara menghempaskan tangan Leon, dan bergegas turun.


Leon pun segera menyusul sebelum gadis itu pergi jauh.


Mereka asik dalam dunianya sendiri sampai tidak sadar, beberapa kamera mengabadikan kedekatan keduanya.


***


"Anak-anak kita sudah sampai di Bringharjo, salah satu tempat yang menjadi pusat perbelanjaan terbesar se-Yogyakarta," ujar pak dosen memberi sambutan di depan murid-muridnya. "Jadi, kita di sini tidak hanya akan melakukan kunjungan pasar, karena Bapak tahu kalian pasti akan bosan kalau hanya mendengar penjelasan Bapak. Tetapi, kita akan mengadakan sebuah tantangan. Apa kalian penasaran?"


"Enggak!" sahut sebagian murid dan sebagian lainnya meng-iyakan.


"Jadi, kali ini kita akan praktek berbelanja dengan jumlah uang yang saya batasi. Dan tantangannya harus mendapat barang sebanyak mungkin. Hari ini kita belajar sistem tawar-menawar di pasar," ujar pak dosen mengabaikan murid-murid yang bersikap kurang ajar padanya. Anak-anak jaman sekarang memang terlalu berani sama orang tua.


"Ada hadiahnya enggak, Pak?" celetuk Rania bersemangat.


"Hadiahnya, nanti kelompok yang paling banyak membeli barang akan mendapatkan satu barang termahal dari kelompok yang kalah. Kita ada 12 kelompok, jadi akan dipilih dua pemenang yang akan menerima satu barang termahal dari kelompok lainnya. Bagaimana? Setuju?"


"Setuju!" sahut mereka kali ini sangat kompak dan bersemangat.


"Rara, nanti kita ...."


"Reaksi lo emang selalu melebihi ekspektasi gue," ujar Leon sambil terkekeh pelan.


"Bukan urusan gue," sahut Rara sambil melipat tangannya di depan dada.


Melihat tingkah Rara, membuat Leon merasa gemas. "Kayaknya di otak lo tuh udah tertanam perangkat yang bisa auto menolak semua kata-kata gue, ya?" ucap Leon sembari menyentil kening Rara yang tertutupi sedikit rambut poninya.


"Apa sih lo!" bentaknya kesal sambil mengusap keningnya yang habis disentil Leon. Memang meninggalkan rasa nyeri sedikit.


Tangan Leon semakin berani menangkup puncak kepala Rara dan mengacaknya singkat. "Udah, jangan marah-marah terus. Nanti cantiknya luntur, loh."


Rara mendelik menahan amarahnya.


Dasar! Dikasih hati minta jantung. Andai tahu bakal begini, mending tadi gue enggak usah bantuin dia naik bus. Enggak ada dia di sini, akan jauh lebih baik buat gue.


"Jangan natap gue kayak gitu." Lalu Leon sedikit mendekat. "Nanti gue makin suka."


Rara mengepalkan kedua tamgannya. "Jangan kurang ajar!"


"Sssttt!" desis Leon sembari mendaratkan telunjuknya di bibir Rara. "Pak Dosen merhatiin kita, tuh! Jangan ajak gue ngobrol mulu."


Rara makin dongkol aja dengernya.


Dih! Yang ngajak ngobrol siapa, yang ngeluh siapa! Aturan gue yang harusnya bilang gitu! Dasar Bunglon!

__ADS_1


Tapi, Leon tidak sepenuhnya berkata bohong. Pak dosen baru membicarakan sesuatu yang penting dan akan terlihat tidak menghargai jika mereka cari topik sendiri.


"Jadi, di sini masing-masing kelompok akan diberi uang jajan sebesar 50 ribu rupiah. Silahkan nanti ketua kelas membagikan uangnya. Tapi, sebelum masuk ke dalam, saya akan menyita barang-barang kalian termasuk dompet, agar tidak terjadi kecurangan. Ingat! Kejujuran adalah jalan utama untuk meraih sukses jangka panjang. Saya kasih waktu 1 jam untuk mendapatkan barang sebanyak mungkin dengan uang segitu. Pesan saya, lakukan tawar-menawar dengan sopan, ya. Kalau penjualnya bersikukuh tidak mau memberikan jangan terlalu memaksa. Guanakan teknik merayu yang halus. Kalian mengerti semua?"


"Mengerti, Pak!" sahut semua murid dengan serempak.


Detik berikutnya semua barang berharga sudah dikumpulkan jadi satu di tangan pak dosen. Saat ini masing-masing kelompok hanya memegang satu lembar uang berwarna biru dengan angka 50 ribu rupiah.


"Kalian sudah siap? Ok, kita mulai dari sekarang!" kata pak dosen membuat mereka bergegas masuk dan berpencar mencari barang sesuai target.


"Nih, lo aja yang megang duitnya," kata Leon saat sudah berada di dalam pasar.


"Maksud lo apa?" tanya Rara sudah auto berpikiran negatif aja.


"Enggak ada maksud apa-apa. Ya ampun, lo sensi banget, deh. Gue cuman mau bilang, enggak peduli sama siapa, gimana perasaan lo buat orang itu, tapi sebagai partner kita harus saling ngebantu. Pastinya lo juga enggak pengen menyia-nyiakan pengorbanan orangtua lo, yang udah banting tulang demi menyekolahkan lo ke perguruan tinggi, kan? Gue tahu lo enggak begitu suka sama gue. Tapi, seenggaknya lo hargai kerja keras orangtua lo. Mereka rela kesusahan bukan untuk melihat kita gagal. Mereka punya harapan yang tinggi. Gue enggak mau mengecewakan mereka. Jadi, gue harap lo juga berpikir begitu."


Rara termenung mendengar penuturan Leon barusan. Tak tahu kenapa kata-katanya seakan menyerang hatinya dengan begitu tepat. Setelah mendengar kata-kata bijak cowok itu, Rara seperti mengingat kembali apa saja hal yang sudah ia lakukan pada orangtuanya. Selama ini ia menutup mata atas rasa peduli kepada orang lain hanya karena ia pernah dicampakkan oleh ibu kandungnya sendiri. Tapi, memang tak seharusnya hal itu menjadikan alasan untuk mengabaikan ayahnya yang telah berjasa besar dalam hidupnya.


"Hei! Are you ok?" tanya Leon sambil melambaikan tangannya di depan wajah Rara yang tengah melamun.


Rara tak menjawab dan hanya menyambar uang satu lembar itu dari tangan Leon. "Sebaiknya kita bergegas. Waktu udah terbuang sia-sia karena lo kebanyakan ngomong," ujarnya tajam seperti ujung mata pisau yang siap menyayat hati siapa pun.


Leon tertawa kecil. "Baiklah!"


Namun, saat mereka tengah berjalan, tiba-tiba seseorang menabrak mereka dari belakang, hingga nyaris membuat Rara terjerembab. Untung ada Leon yang dengan sigap menahan kedua bahu Rara.


"Lo enggak apa-apa?" tanya Leon dan lekas disahuti dengan anggukan gugup dari Rara.


Sekali lagi, bagaimanapun Rara hanyalah manusia berjeniskelamin perempuan yang jantungnya bisa berdebar, saat seorang cowok memperlakukannya dengan manis.


"Maaf, ya. Gue enggak sengaja. Gue lagi buru-buru ke toilet soalnya!" kata orang yang menabrak mereka barusan. Rupanya dia adalah Jovita.


"Oh iya enggak apa-apa. Lain kali hati-hati," ujar Leon.


Tapi, kata-kata biasa kayak gitu ternyata disalahartikan oleh Jovita. Ia berpikir terlalu jauh dengan menganggap Leon sedang mengkhawatirkan keselamatan dirinya. "Lo baik banget sih, Leon," ucapnya malu-malu buaya. Udah keliatan banget dia pura-pura malu, padahal pada dasarnya malah malu-maluin.


"Ng, katanya lo buru-buru ke toilet?" tanya Leon mengusir cewek itu secara halus. Halus banget kek kain sutera.


"Eh, iya! Gue sampai lupa gara-gara asik ngobrol sama lo," ujarnya sambil cengengesan enggak jelas.


"Kalau gitu kita pergi dulu, ya," kata Leon kemudian menjauh dari Jovita.


Tapi, sepeninggalnya Leon dan juga Rara, Jovita tidak sama sekali pergi ke toilet. Bahkan, ia berjalan ke arah yang berlawanan dengan arah tunjuk ke toilet. Senyum setan cewek itu seketika keluar.


Kena lo!


***


To Be Continue ....

__ADS_1


__ADS_2