
Kejadian saat Rara dibully waktu itu rupanya telah menyebar di kalangan fans Leon. Terbukti karena meskipun gosip panas itu belum juga mereda, dan malah semakin panas, enggak ada satu orang pun yang berani macam-macam sama Rara. Menatap sinis atau sekadar memasang wajah judes pun tampak mereka lakukan dengan terpaksa. Seperti mereka yang membenci tapi tak punya nyali untuk melakukan aksi.
Aneh banget.
Sesuai dengan dugaan Rara, mereka kecewa karena tidak mendapat tanggapan yang memuaskan dari Rara. Mereka merasa apa yang mereka usahakan sangatlah sia-sia, sehingga membuat mereka mencapai batas kesabaran pada akhirnya. Entah apa yang sebenarnya mereka cari dengan melakukan itu. Mereka menyukai bahkan mungkin mencintai Leon melebihi apa pun, tapi tak membiarkan Leon menyukai orang lain. Dunia seperti itu memang sulit dimengerti.
"Yaelah, gue tadi enggak begitu ngerti sama pelajarannya. Sayang banget, padahal gue mau nyalin dibuku buat gue kasih ke Leon," curhat Rania saat ia dan Rara baru saja keluar dari gedung Graha Sabha Permana, menuju parkiran. Wajahnya yang gembul jadi tambah gembul dalam ekspresi yang cemberut.
"Nih, buat lo. Udah gue salin semua, tinggal lo kasih ke Leon aja," ucap Rara sambil menyodorkan sebuah buku tulis kecil pada Rania.
Sejenak Rania ragu menerimanya. Setengahnya ia terkejut karena Rara tiba-tiba perhatian sama Leon. Bahkan, sampai membuat salinan pelajaran yang diberikan dosen hari ini. Rania pun menolak dengan halus. "Kenapa lo enggak kasih sendiri? Kan kita sama-sama mau ke sana?"
"Ng ...." Rara tampak berpikir sambil mengetuk-ngetukkan sudut buku itu di dagunya dengan pelan. "Soalnya di sini kayaknya lo yang lebih butuh perhatian dan ucapan terima kasih dari Leon. Gue mah enggak butuh," ucap Rara sambil ketawa.
Rania jadi manyun. "Yaelah, Ra. Enggak gitu-gitu juga kali. Walaupun gue emang suka sama Leon, tapi gue bukan tipe cewek yang bakal gunain cara curang hanya untuk dapetin apa yang gue mau. Apalagi cuman dapet perhatian. Enggak berkelas banget deh. Perhatian dari bokap dan nyokap gue aja udah cukup."
Mendengar jawaban Rania yang super bijaksana itu membuat Rara lekas memberikan dua jempolnya. "Mantap! Cewek yang baik adalah cewek yang berbakti sama kedua orangtuanya. Kali ini gue akui, lo lebih unggul satu tingkat dibanding gue." Rara tertawa kecil.
"Mana ada? Lo kan juga cewek yang berbakti kepada kedua ... maksud gue lo sayang banget sama bokap lo. Walaupun lo enggak pinter nunjukin rasa sayang lo sama dia, tapi sebenernya lo sangat peduli sama bokap lo." Rania kemudian diam-diam memukul mulutnya sendiri yang begitu ceroboh. Hampir saja ia tadi menyinggung soal ibunya Rara.
Rara menghela napasnya sejenak. "Gue memang belum cukup pantas dibilang berbakti. Ibu gue di mana aja, gue enggak tahu. Banyak waktu yang belum sempat gue bagi sama dia. Kalau bisa, gue juga pengen ngebanggain wanita yang udah ngelahirin gue itu. Tapi, gue belum punya kesempatan. Entah kapan harapan gue itu bakal terwujud," ujar Rara sambil menerawang langit yang hari itu agak mendung.
__ADS_1
Rania terhenyak. Tertegun. Ternganga. Termelongo dan syok seolah setengah nyawanya lari terbirit-birit mendengar kalimat Rara barusan.
Barusan Rara nyebut ibunya? Gue enggak salah denger, kan? Bukannya dia paling anti menyebut ibunya? Kenapa dia malah kayak orang yang lagi kangen banget gitu sama ibunya? Apakah dia udah diem-diem maafin perbuatan ibunya? Ya, gue tahu dia mungkin memang kangen. Tapi, dia enggak pernah menyinggung perihal ibunya dengan sebegini santainya. Dapat pangsit dari mana nih bocah?
"Kenapa? Bingung ya lihat gue udah biasa aja nyebut soal ibu gue?" tebak Rara sambil tersenyum kecil.
Rania bertepuk tangan beberapa kali dengan perlahan sembari menggelengkan kepalanya. "Gila! Lo kayaknya beneran bakat jadi cenayang deh, Ra. Kok lo bisa tahu sih apa yang barusan gue pikirin? Lo buka jasa ngeramal aja gimana?"
Rara menoyor pelan kening Rania. "Ye, gue cuman nebak dari reaksi sama kebiasaan lo. Mana ada gue bisa baca pikiran orang? Kalau gue beneran bisa, mungkin gue enggak akan punya temen di dunia ini."
"Kok gitu?"
"Karena sebaik apa pun seseorang, pasti mereka punya pikiran buruk tentang orang lain. Entah itu benar atau enggak, tapi kodratnya manusia emang udah begitu. Jadi, kalau misalkan gue temenan sama seseorang, trus gue bisa baca gitu dia ngomong apa di pikirannya. Pasti pas dia ngomong jelek tentang gue, gue pasti marah dong. Terus enggak jadi berteman." Rara ketawa cukup keras membayangkan betapa akan jadi lucu jika ia beneran bisa baca pikiran orang.
Rania ketawa garing. Semakin diperhatikan, Rara memang sedikit berbeda dari sebelumnya. Kenapa?
"Gue seneng deh lihat lo yang kayak gini, Ra," ucap Rania dengan tulus.
"Kayak gini yang gimana maksud lo?" tanya Rara setelah menghentikan tawa renyahnya.
"Maksud gue, lo yang ceria—ya meskipun wajah datar dan ekspresi dingin lo itu masih ada, tapi enggak tahu kenapa gue ngelihat lo tuh kayak lebih terbuka aja sekarang."
__ADS_1
"Terbuka?" sahut Rara dan seketika tertawa. "Lo sebenarnya mau ngomong apa sih? Terbuka, emang gue kerang sawah? Direbus terus bisa terbuka? Anyway, wajah datar dan ekspresi dingin itu adalah keabadian buat gue. Jadi enggak bakal hilang apa pun yang terjadi."
"Eh! Ish lo mah!" Rania manyun dibecandain sama Rara mulu. "Kayak lo tuh ada sesuatu yang berbeda gitu. Aura lo lebih hangat aja."
Rara refleks memegang kedua pipinya. "Masa sih gue kayak gitu?" ucapnya dengan sok imut. "Wah, kita berdua punya bakat jadi paranormal! Gue bisa baca pikiran, lo bisa baca aura!" Rara ketawa makin keras.
Rania pun sedikit kesal. "Rara! Gue serius nih! Gue penasaran, apa sih yang bikin lo jadi kayak gini? Ayolah, masa lo enggak mau cerita? Gue ini masih sahabat lo kan?"
Rara hanya tersenyum malu. Ia tahu betul kenapa dia bisa seperti ini. Ia tidak sedang bingung dengan perasaannya. Hanya saja, ia tidak ingin terlalu yakin dulu. Separuhnya, ia belum ingin terima kalau dia sudah kalah.
"Sebenarnya, kemarin itu gue ...." Kalimat Rara terputus, saat seorang cewek cantik berambut panjang dengan warna yang sedikit blonde, tiba-tiba datang menghalangi langkahnya.
"Oh, jadi ini yang namanya Delmora Engrasia?" tanya cewek itu dengan sinis. Pandangannya yang begitu merendahkan begitu cocok dengan wajah blasteran dan mata keabu-abuan itu.
Rara menghela napasnya saat berhadapan dengan cewek yang sama sekali tidak ia kenal itu. Tapi, ia kenal dengan cewek-cewek labil yang ada di belakang cewek itu. Mereka adalah orang-orang yang pernah membully-nya di bekas kamar mandi waktu itu. Cewek asing itu sepertinya juga bukan berasal dari kampus ini, karena ia tidak pernah melihatnya. Apakah mungkin murid baru?
"Iya, gue orangnya. Apa ada masalah?" tanya Rara tanpa basa-basi. Ia sangat memahami situasi ini. Tentunya mereka tidak datang hanya untuk sekadar berkenalan dengannya bukan?
Tapi, siapa sebenarnya cewek ini?
***
__ADS_1
To Be Continue ....