
Ketika semua murid sudah naik, Rara sejenak ragu apakah harus pergi tanpa Leon. Bukan karena ia begitu merindukan cowok itu, bermimpi saja tidak. Tapi, dalam tugas kelompok, tentu kehadiran partner sangat dibutuhkan. Bagaimana ia bisa mengerjakan tugas kelompok, kalau ia sendirian?
"Rania, gue turun dulu," ucap Rara seraya bangkit dari tempat duduknya. Jujur saja, sebagai manusia biasa, ia juga bisa muak jika terus-terusan ditatap dengan pandangan tak sedap.
"Oh! Lo mau ke mana?" tanya Rania dengan polosnya.
"Menghirup udara segar. Udara di sini terlalu busuk. Mungkin karena banyak orang-orang yang enggak bisa bicara dengan baik." Rara melirikkan matanya pada cewek-cewek yang tak henti membicarakan keburukannya, sebelum akhirnya melenggang pergi menuju pintu bus.
Tapi, tanpa sepengetahuan penumpang, si sopir menjalankan busnya sesuai dengan arahan pak dosen. Sudah sangat terlambat bagi mereka untuk tetap menunggu Leon. Mau tak mau akhirnya hanya seperti itu yang bisa mereka usahakan.
"Pak! Kok udah jalan sih busnya? Leon kan belum dateng?" seru salah satu murid dan diikuti oleh persetujuan dari murid lainnya. Keributan pun timbul oleh adanya adu mulut antara murid dan sopir itu.
Rara yang hampir saja terjungkal karena sedang berjalan keluar, akhirnya menghela napas lega. Untung ia sedikit gesit berpegangan pada pintu yang terbuka. Kalau tidak, mungkin ia sudah terlempar keluar. Darahnya mendidih, ingin sekali memarahi sang sopir yang bertindak seenak jidatnya. Namun, saat ia menoleh ke belakang dan mendapati kegaduhan itu sudah memenuhi seluruh bus, ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi.
Buang-buang energi aja! Gue teriak pun suara gue pasti bakal tenggelam di dalam kebrutalan fans Leon. Btw, tuh orang ke mana sih sebenernya?
Bak sebuah pepatah lama, pucuk dicinta, ulam pun tiba. Rupanya alam sedang menjawab pertanyaan Rara, ketika dari belakang bus yang berjalan, tampak Leon berlari mengejarnya.
Hah? Itu beneran Si Bunglon?
"Hoi! Berhenti! Tunggu gue!" Leon berseru sekuat tenaga meskipun kakinya sudah pegal berlari. "Hei! Siapa pun itu tolong suruh sopirnya berhenti!"
Rara menoleh ke belakang berharap ia bisa melakukan sesuatu untuk menolong Leon. Namun, mengetahui kekacauan yang ada di depan matanya, seketika membuat gadis itu berpikir bahwa teriakanya tak akan berguna.
Sial! Enggak ada cara lain!
Rara melongokkan kepalanya keluar seperti kenek bus dan perpegang erat dengan satu tangan saja. Sementara tangan yang satunya ia julurkan pada Leon.
"Di dalem bus lagi kacau banget! Buruan lo pegang tangan gue!" seru gadis itu membuat Leon terpana seketika.
Ya ampun, itu beneran Rara? Dia mau bantu gue? Enggak salah nih?
Melihat gadis itu dan memikirkan bantuan yang dia berikan, membuat mata Leon berbinar. Ia sungguh tak bisa menahan senyum bahagianya ini. Tanpa berniat membuang waktu, Leon pun bertekad lebih keras untuk menyusul bus itu.
__ADS_1
Sedikit lagi ....
Lalu ....
Grep!
Leon berhasil menggapai tangan Rara yang kemudian lekas menarik cowok itu untuk naik ke bus. Namun, karena posisi tempat di pintu bus terlalu sempit buat mereka berdua, alhasil saat Leon berhasil masuk, ia tak sengaja menghimpit tubuh Rara.
Dug ... dug ... dug ....
Jantung mereka seakan berlomba saat saling menatap dari jarak yang cukup dekat. Beruntung Leon sigap menahan tubuhnya dengan satu tangan di pintu bus sehingga memberi sedikit ruang di antara mereka. Kalau tidak, mungkin saat ini bibirnya sudah bertemu dengan bibir Rara. Atau bisa dikatakan, akan terjadi kiss by accident.
Terdiam selama beberapa detik, akhirnya Rara tersadar dan refleks mendorong tubuh Leon menjauh darinya.
Entah karena saking kuatnya dorongan Rara, atau karena efek rasa terkejut Leon, cowok itu terpental ke belakang sampai kepalanya terbentur cukup keras.
"Awh!" seru Leon saat ia merasakan nyeri menghantam kepalanya. Sejenak pandangannya tampak sedikit kabur saat bagian belakang kepala Leon berdenyut sakit.
Rara terkejut melihatnya. Namun, dengan perangainya yang tak biasa membuat suara gadis itu hanya tersekat di tenggorokan. Tangannya yang sempat hendak bertindak pun urung kembali.
Leon meringis dan mengusap-usap bagian kepalanya yang terbentur. Tapi, ia juga dapat melihat raut bersalah di mata Rara, meskipun gadis itu mati-matian menghindari tatapannya.
"Em, gue enggak apa-apa, kok! Enggak sampai berdarah juga, hehehe. Makasih ya udah ditolongin," ucap Leon sambil tertawa kecil. Sebisa mungkin ia ingin memperlihatkan pada Rara bahwa dirinya baik-baik saja.
Kalau lagi masang raut wajah bersalah kayak gini, Rara imut banget! Jadi enggak tega.
Rara jadi salah tingkah. "Gue bantu lo demi nilai tugas kelompok. Lo enggak usah besar kepala," ujarnya dengan nada ketus seperti biasa.
"Gue tahu, kok. Kan gue enggak ada bilang apa-apa. Cuman makasih doang," sahut Leon nyengir.
"Terserah." Rara tak peduli dan hanya bergegas duduk di kursi yang masih kosong.
Leon tersenyum lebar saat gadis itu tampak kesal. Selalu menyenangkan melihat wajah Rara dengan ekspresi menggemaskan itu. Setidaknya ia masih bisa menampilkan ekspresi selain wajah datarnya.
__ADS_1
"Loh? Leon? Lo kok udah ada di sini? Kapan lo dateng?" tanya seorang cewek saat melihat Leon berjalan menuju kursinya di samping Rara. Karena sesuai kesepakatan kemarin, pasangan tempat duduk berdasarkan kelompok.
"Eh? Itu Leon!" histeris yang lain dan kehebohan itu lekas seperti penyakit TBC. Menular begitu cepat.
Leon hanya menggaruk kepalanya bingung harus berkata apa. "Iya, gue di sini. Barusan ditolong sama bidadari," ucapnya sambil mencuri pandang terhadap Rara.
Rara mendengus kesal dan lebih memilih melempar pandangannya ke luar jendela. Meskipun begitu, tak ayal kata-kata Leon yang menyebutnya sebagai bidadari membuat pipinya sedikit memanas.
"Baguslah, Nak Leon! Beruntung kamu udah datang," kata pak dosen sangat bersyukur. "Bapak sampai lelah meladeni hujatan dari mereka."
"Maafkan saya, Pak. Lain kali tidak akan terjadi hal seperti ini lagi," ujarnya sembari mengambil tempat duduk di samping Rara.
Si sopir pun akhirnya bisa bernapas lega dan mulai melajukan kendaraan roda empat itu dengan tenang. Walaupun di belakang masih pada ribut menyebut nama Leon, setidaknya ia tidak perlu mendengar sumpah serapah karena meninggalkan pemuda bernama Cleon Celestyn itu.
***
Perjalanan baru berlalu sekitar 10 menit. Akhirnya, keributan karena kehadiran Leon perlahan mulai mereda. Memang serba salah. Enggak ada, bikin ribut. Ada pun, bikin ribut juga.
"Iri banget enggak, sih? Si Rara bisa duduk sebelahan sama Leon," ujar murid cewek yang ada di sebelah kursi Leon dan Rara.
"Iya, gue juga mau. Kenapa sih harus dia yang duduk di situ? Ganggu pemandangan surga aja!" celetuk yang lain.
Seketika Leon melirik Rara. Ia penasaran gimana reaksi cewek itu saat mendengar cibiran yang ditujukan padanya. Dan Leon pun tersenyum karena Rara tampaknya sama sekali tak terganggu dengan hal itu. Wajahnya bisa begitu tenang memandang lalu lintas kota sambil menopang dagunya dengan satu tangan.
Enggak nyangka dia hebat banget. Kalau cewek lain mungkin bakal langsung ngadu ke gue dan minta perlindungan. Delmora Engrasia emang pantes gue perjuangin. Cuman cewek kuat kayak dia yang bisa bertahan di sisi gue. Gue akui, kali ini gue bener-bener jatuh cinta sama lo.
"Bisa jaga mata enggak?" ujar Rara yang sedari tadi sudah tahu Leon menatapnya terus-menerus.
"Apa sih? Galak amat? Orang gue ngeliatin pemandangan juga," sahut Leon segera mengelak.
Rara menurunkan tangannya yang tadi berada di dagu dan menatap lurus ke depan. "Jangan hanya karena gue bantu lo hari ini, bukan berarti ucapan gue kemarin enggak serius. Gue harap lo bisa bersikap seperti laki-laki dengan nepatin janji lo buat jauhin gue."
"Lo enggak usah khawatir soal itu," balas Leon cukup tak basa-basi agar gadis itu mengerti. Namun, ia percaya.
__ADS_1
Ada banyak jalan menuju Roma. Alasan itu enggak cukup menghentikan usaha gue buat dapetin hati lo.
***