Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta

Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta
Siapa Milik Siapa


__ADS_3

"Astaga, Roni!" seru Rania menyebut nama adiknya yang masih main kuda-kudaan sama Kenzie. Udah pasti cowok itu yang jadi kudanya. Meskipun umur Roni baru menginjak 3 tahun, tapi badannya udah subur. Ya, sesuai sama saudaranya yang gembul. Ia pun segera mengambil adiknya dari atas punggung Kenzie.


Ini orang rumah juga ke mana lagi? Kenapa biarin Roni main sama orang asing? Ya, meskipun gue kenal sama Kenzie tapi buat keluarga gue dia tetep aja orang asing.


"Rara, tolongin gue. Punggung dan kaki gue kram. Susah buat digerakin," pintanya sembari mengulurkan tangan pada Rara.


Rara mencebik.


Dih, ketahuan banget modusnya. Kalau aja bukan karena kepaksa, ogah gue nyentuh tubuh orang yang kebanyakan tipu muslihat.


Akhirnya Rara membantu Kenzie juga, walau sebenarnya dia enggak mau.


"Makasih ya, Ra," ucap Kenzie berusaha memberi tatapan maut pada Rara. Tentunya ia harus memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik mungkin. Apalagi, jarang-jarang kan dia bisa berada di posisi sedekat ini.


"Mau lepas sendiri, apa gue lempar?" tanya Rara dengan tatapan yang tajam sebagai balasan.


"Lepasin dong," ujar Kenzie dengan tidak sadar. Sebenarnya ia pun tidak mengerti apa yang ia katakan sebelumnya.


Tanpa aba-aba Rara menghempas tubuh Kenzie untuk menjauh darinya. Cowok itu pun mengaduh seketika.


"Kok lo kasar sih, Ra sama gue?" ucap Kenzie berlagak seperti korban penganiayaan. Padahal dia sedang menganiaya dirinya sendiri.


"Lo-nya aja yang enggak tahu diri nempel-nempel mulu sama gue. Udah gue peringatin tapi enggak lo gubris juga," ujar Rara tanpa rasa bersalah sedikit pun. Kenapa harus merasa bersalah, kalau kita enggak salah, kan?


Rania dibikin pusing dengan perdebatan mereka. Ditambah, Roni yang tiba-tiba menangis.


"Stop! Kalian diem, deh! Adik gue jadi nangis nih gara-gara lihat kalian adu mulut."


Kedua orangtua Rania pun keluar karena mendengar suara ribut-ribut di ruang tamu.


"Loh, Rania udah pulang?" tanya sang ibu lalu mengambil Roni dari tangan cewek itu.


"Bapak sama Ibu gimana to? Masa ninggalin Roni sama orang lain sembarangan?" ujar Rania jengkel dan enggak habis pikir. Kenapa ada orangtua yang begitu cuek sama keselamatan anaknya kayak gitu.


Kenzie merasa tidak nyaman saat dibilang jadi 'orang lain' itu. Bagaimanapun ia datang untuk Rara. Bukan untuk Rania. Dan lagi, rasanya sangat janggal.


Kenapa Rania bersikap seolah ini rumahnya? Keluarga ini juga sepertinya hanya melihat Rania. Anak kecil menyebalkan tadi pun langsung digendong sama Rania. Jadi ... sebenarnya ini rumah Rania apa rumah Rara?

__ADS_1


"Orang ini marah-marah enggak jelas pas kita sampai rumah," ujar ibunya memandang kesal pada Kenzie.


"Karena tampak mencurigakan, kita terpaksa menahannya. Kebetulan Roni juga pengen main kuda-kudaan ya, Roni?" sambung bapak Rania sambil bersendau gurau sama Roni.


Seketika Rania pun memasang wajah datar.


Bapak sama ibu gue curiga sama orang, tapi malah nitipin Roni ke orang yang mereka curigai. Ya ampun ... apakah ini yang dinamakan cara asuh terbaru dan kekinian tahun 2020? Tapi, kenapa mereka bisa sampai mencurigai Kenzie? Emang apa yang dia lakukan? Astaga gue baru ingat! Kalau Kenzie mengira ini rumah Rara. Kan ketahuan ... Rara sih iseng banget ngerjain Kenzie sampai kayak gitu.


"Emangnya lo tadi ngapain marah-marah di sini?" tanya Rania penuh selidik.


"Ng ...." Lama Kenzie terdiam tanpa adanya tanda-tanda mau bicara. Matanya melirik ke arah Rara dan tiba-tiba ...


"Aduh-aduh, Ra! Punggung gue sakit banget! Gue butuh istirahat, deh kayaknya. Aduh sakit banget! Anterin gue pulang ya?" ujarnya heboh. Padahal pura-pura juga. Mana ada orang sakit punggung kek tahu bulat yang digoreng dadakan? Terus lima ratusan gitu? Enggak pake kertas? Cendol dawet dong?


Sontak Rara segera menjauh sejauh mungkin dari jangkauan tangan Kenzie. "Enggak ada waktu!"


Najis amat nganterin lo pulang!


"Loh, orang ini kenal sama Nak Rara?" tanya bapak Rania heran.


Rania menghela napasnya dengan lelah. "Dia ini Kenzie. Temen satu kampus Rania dan Rara. Udah pasti kenal sama kita. Dia juga tinggal di kompleks ini," jelas Rania membuat kedua orangtuanya mengangguk-angguk mengerti.


"Tega ajalah!" sahut Rara ketus. "Mending lo minta tanggung jawab sama Rania gih. Lo sakit punggung gara-gara adiknya Rania, kan?"


Rania mendelik.


Hemh, dasar Rara main lepas tangan gitu aja! Gimanapun Kenzie berada di sini gara-gara lo juga.


"Jangan-jangan lo cuman pura-pura sakit, ya?" tuding Rara semakin memojokkan Kenzie.


"Eh? Enggak! Gue sakit beneran!" ujar Kenzie sembari akting lebih serius lagi.


"Ya udah, Ran. Mending kamu anterin dia sebagai permintaan maaf," ujar ibunya menyetujui saran Rara.


"Iya, Bapak juga enggak tahu kalau Nak Kenzie tetangga kita. Maaf ya, Nak Kenzie. Biar kamu dianterin Rania pulang," lanjut sang bapak sekarang sudah bisa tersenyum ramah.


Rania menatap datar kedua orangtuanya. Mau ngebantah takut dosa. Makanya cuman bisa ngomel dalam hati.

__ADS_1


Dasar kalian semua! Kenapa kompak banget ngorbanin gue buat nutupin kesalahan kalian? Sebenarnya yang anak kalian di sini tuh gue apa Rara sih? Ya Tuhan ... ini sih udah mirip kek cerita bawang merah dan bawang bombai. Lagian nganterin Kenzie doang kan?


"Argh! Ya udah deh, gue yang anterin. Puas kalian?"


Rara dan kedua orangtua Rania lagi-lagi menunjukkan kekompakkan mereka dengan mengacungkan jempol bersama-sama. Bahkan, Roni yang enggak tahu apa-apa ikut ketawa.


"Gue nih anak yang tertukar atau gimana sih?" gerutu Rania sambil memapah satu tangan Kenzie di bahunya dan menuntunnya keluar.


Pas udah nyampai rumah Kenzie pun Rania masih ngomel terus. Kenzie pun jadi kesal.


"Lo abis makan batre abc ya? Awet bener ngomelnya?" ujarnya sambil mau duduk di sofa ruang tamu.


"Iya! Dan sekarang rasanya gue pengen makan orang!" sahut Rania galak.


"Dih, galak amat! Jangan saingan sama herder napa? Cukup badan lo aja yang nyamain." Kenzie ketawa terpingkal.


Rania pun segera melepaskan tangan Kenzie yang tadi berada di pundaknya. "Dasar enggak tahu terima kasih! Udah dibantuin malah ngatain! Lagian lo jadi cowok lemah banget! Cuman main kuda-kudaan sama adik gue aja, efeknya udah kayak habis ketabrak truk tronton!" Rania jadi ngegas.


"Iya, iya. Makasih deh udah dibantuin." Akhirnya Kenzie ngalah karena pasti enggak kuat debat sama Rania.


Ya mau gimana lagi? Gue akting juga harus totalitas kan? Kalau pas dianterin si gembul gue langsung sembuh kan nanti Rania pasti cerita ke Rara. Dia bisa curiga dan ilfeel sama gue. Terpaksa deh, gue manfaatin si gembul buat papah gue sampai rumah. Untung rumah gue deket.


"Ya ampun, Ken!" seru Rania terdengar jengkel.


"Apa sih?"


"Lo punya rumah rapihin dikit, kek! Masa baju ditaruh sembarangan kayak gini?" ucap Rania udah kayak ibu kos nagih bayaran.


"Iya, iya! Tar gue beresin! Lo napa ikut campur banget deh sama masalah hidup gue?"


Rania mendekat ke arah Kenzie. "Denger, ya! Gue ngelakuin ini murni karena bentuk permintaan maaf atas sikap bokap dan nyokap gue. Gue tahu kok lo sebernarnya engga bener-bener sakit punggung. Mungkin Rara juga tahu. Tapi, gue mau nganterin lo hanya demi rasa kemanusiaan. Enggak lebih. Ngerti?" Cewek itu beranjak untuk mengambil baju-baju yang berserakan dan menaruhnya di kamar mandi. Rania memang terbiasa mengurus rumah dan tidak bisa diam kalau melihat sesuatu tampak berantakan.


Kenzie tertegun melihat Rania mondar-mandir di rumahnya. Entah kenapa ia tidak merasa keberatan saat cewek itu mengomelinya, bahkan bertindak seenaknya di rumah dia.


Ah, pasti enak deh punya satu Baymax kayak Rania di rumah. Kalau gue lapar masakin, kalau gue lelah bisa pijitin, baju kotor dicuciin, lantai kotor disapuin, gue tidur di ... peluk. Pasti, nyaman tuh kek pelukan sama kasur busa. Dan yang pasti, dia enggak akan bisa disukai sama Leon. Leon enggak akan ngerebut apa yang gue punya lagi.


***

__ADS_1


To Be Continue ....


__ADS_2