Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta

Ketika Sang Penakhluk Jatuh Cinta
Temenan


__ADS_3

Melihat pemandangan yang begitu membuatnya kesal, Jovita sampai mengepalkan kedua tangannya.


Kampret! Rencana gue gagal total! Niat mau bikin mereka bertengkar satu sama lain dengan gue ngambil duit mereka, malah makin bikin mereka semakin deket. Sial! Bahkan, Rara yang biasanya bersikap dingin bisa kerja sama begitu kompak sama Leon! Ugh! Itu cewek kenapa kayak noda membandel deh? Susah banget buat dihilangin.


Mereka yang melihat pasangam tim itu pun menatap iri. Tapi, ya begitulah manusia. Ketika melihat orang lain lebih sukses darinya, akan timbul rasa iri. Mereka enggak tahu dan enggak peduli, seberapa berat usaha yang ia lakukan untuk menuju posisi itu.


Beberapa menit kemudian kegiatan kunjungan pasar berakhir. Barang sudah masuk bagasi, murid-murid dan pak dosen juga sudah kembali ke dalam bus. Tapi, Rara masih melihat wajah Leon tampak sedih. Entah hal apa yang sedang dipikirkan Leon. Cowok itu jadi lebih pendiam dari beberapa waktu lalu.


"Muka lo kenapa?" tanya Rara merasa tak tahan untuk tidak bertanya.


Leon mendongak dan menoleh pada Rara. "Kenapa? Ganteng banget ya?" sahut Leon mengira Rara bertanya seperti itu cuman modus, sama kayak waktu dia menanyakannya buat gombalin Rara.


Rara mendecak kesal. "Jangan samaim gue sama lo. Gue nanya beneran. Kenapa lo enggak seneng gitu mukanya?" Rara merasa ada yang aneh dalam dirinya. Ia menggigit pelan bibirnya, malu. Ucapannya juga udah pasti didenger sama Leon. Ia tidak bisa menarik lagi apa yang barusan ia katakan. Enggak ada alasan buat dia ngehindar dari masalah itu.


Sejak kapan gue peduli Leon mau seneng apa enggak? Itu sama sekali bukan urusan gue, kan? Apa gue udah sebegitu penasarannya sama cowok itu? Enggak mungkin, kan gue udah kemakan sama pengaruh dia?


"Ada yang mau gue tanyain sama lo," ucap Leon membuat Rara tergagap.


"Soal apa?"


"Seseorang yang lo maksud tadi adalah Jovita. Apa gue bener?"


Rara menatap Leon sejenak kemudian menyandarkan kepalanya di kursi. "Tadinya gue cuman curiga. Aksi Jovita yang tiba-tiba nabrak gue udah sering jadi modus pencopetan. Gue nebak-nebak aja. Enggak usah dipikirin," ujar Rara berharap itu bisa membuat Leon tenang. Ada sedikit rasa menyesal telah membuat Leon mengetahui faktanya. Karena itu rupanya yang menjadi alasan kesedihan Leon.


"Emang lo pernah jadi korban copet?" tanya Leon kaget.


"Enggak. Gue lihat di tv."

__ADS_1


"Oh. Tapi, kenapa lo enggak bilang dari awal soal kecurigaan lo ini sama gue?"


Rara menghempaskan napasnya dengan kasar. "Kalaupun gue ngomong emang lo bakal percaya? Jovita temen lo, gue juga enggak ada bukti. Bukannya lebih baik kalau lo tahu sendiri?"


Binar di wajah Leon meredup seketika. Di kota yang di sini ia tidak punya saudara, bahkan jauh dari orangtua, ia merasa kesepian mulai menggerogoti jiwanya. "Begitu banyak orang yang menyukai gue, tapi enggak ada satu pun yang mau berteman sama gue dengan tulus." Leon tertawa pahit. "Kenapa orang kayak gue malah susah cari temen? Apa gunanya aura penakhluk dan julukan itu, kalau satu temen aja gue enggak mampu dapetin?"


Rara bisa merasakan betapa sedih dan kesepiannya cowok itu. Perasaan seorang diri di dunia seluas ini pun ia pernah merasakannya. "Tapi, bukannya lo ...." Rara teringat pada Kenzie. Hanya saja ia lupa kalau Rania pernah cerita soal retaknya hubungan mereka. Jadi, begitu ingat, ia mengurungkan kembali niatnya untuk bertanya masalah Kenzie.


"Gue kenapa?" tanya Leon mengejar kalimat Rara yang belum selesai.


"Enggak. Maksud gue, gue minta maaf."


"Kenapa lo minta maaf?" sahut Leon enggak ngerti.


"Enggak seharusnya gue ngungkit masalah uang yang hilang itu sama lo. Kalau gue enggak ngomong mungkin lo enggak perlu kehilangan temen kayak gini."


"Lo jangan ngomong gitu. Ini bukan salah lo karena gue enggak punya temen. Udah seharusnya gue berterimakasih sama lo. Lo udah mau nunjukin sisi Jovita yang sebenernya sama gue. Makasih juga karena lo udah biarin gue lihat dengan mata kepala gue sendiri." Leon melempar senyum tulusnya pada Rara.


Pipi Rara memanas melihat Leon tersenyum seperti itu di dekatnya. Ia lekas memalingkan wajah untuk menyembunyikan rona merah yang muncul di kedua pipinya.


Kenapa jadi kayak gini, sih? Enggak! Gue harus bisa ngendaliin perasaan gue.


"Udah, lo temenan sama kita aja," ujar Rania membuat Rara dan Leon terkejut.


"Apaan sih lo, Ran? Nguping pembicaraan orang lain aja," sahut Rara jadi kesal.


"Ye, gue mah bukan nguping, orang kalian ngomongnya kedengeran di kuping gue. Ya gimana dong?" ujar Rania sambil tertawa.

__ADS_1


Rara masa bodoh dan memilih untuk tidak memedulikan candaan Rania. Rania pun beralih pada Leon. "Gimana? Lo mau enggak temenan sama gue dan Rara? Dia itu walaupun kelihatannya cuek, tapi sebenernya dia baik kok. Gue juga enggak pernah ngerepotin. Paling makan doang yang banyak."


"Rania!" protes Rara karena Rania ngomong sembarangan.


Leon tertawa kecil melihat interaksi keduanya yang menarik. Respon mereka satu sama lain tampak begitu alami membuatnya iri. "Ya, itu tergantung Rara-nya gimana aja. Boleh apa enggak kalau gue gabung di pertemanan kalian?"


"Ditanyain tuh, Ra! Boleh enggak?" goda Rania sambil mencolek bahu cewek itu berulangkali.


Yang ditanya malu-malu kucing dan enggak tahu mau kasih respon gimana. "Apaan sih?" sahut Rara bersikukuh enggak mau memperlihatkan wajahnya.


"Mulai hari ini kita bertiga jadi temen, ya?" ucap Rania membujuk Rara lagi.


Rara terdiam beberapa saat. "Terserah kalian ajalah!" sahutnya seperti tak peduli. Tapi, sebenarnya dia cuman gengsi mau mengiyakan permintaan kedua orang itu.


"Yes!" seru Rania kegirangan kemudian melakukan tos dengan Leon.


Leon tersenyum tak kalah senangnya. "Makasih banyak, ya."


Kalaupun gue enggak bisa dapetin hati lo, dengan jadi temen lo aja udah cukup kok, Ra. Bisa kenal dan mendapat kesempatan buat lebih deket sama lo, sudah gue anggap sebagai keberuntungan.


Rania tersenyum pahit sambil melihat kepada kedua temannya. Yang satu sahabat sejatinya, yang satu teman baru yang selama ini ia sukai.


Mereka cocok banget sebenernya. Buntalan empek-empek kayak gue mana pantes bersanding sama Leon yang seorang Pangeran. Gue sadar diri kok. Walaupun gue suka sama Leon udah lama, tapi kalau gue harus ada di posisi Rara, rasanya gue enggak sanggup juga. Cuman Rara yang gue rasa bisa menghadapi sekian juta umat yang mengagumi dan mencintai Leon. Sebagai sahabat, gue berharap dengan hadirnya Leon di hidup Rara, membuat cewek itu lebih terbuka dan bisa melupakan ketidakpedulian ibu kandungnya selama ini.


Sementara itu, karena rasa bersalah dan ketakutannya sendiri, Jovita tidak berani berada dekat-dekat Leon lagi. Bahkan, ia sampai mundur ke kursi paling belakang karena takut Leon akan bertanya macam-macam. Tapi, melihat intensitas kedekatan Leon dengan Rara membuat darahnya mendidih. Rara benar-benar sukses mengambil keuntungan dari kemalangan yang ia sebabkan.


Enggak mungkin! Ini enggak boleh terjadi! Leon harus tetap menganggap gue sebagai sahabat satu-satunya yang ia miliki. Gue enggak rela kalau sampai Rara yang merebut posisi gue. Bertahan! Gue harus bertahan!

__ADS_1


***


__ADS_2