Khairil : Harapan & Cinta Sejati

Khairil : Harapan & Cinta Sejati
Prolog


__ADS_3

...“Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup, dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.”...


...«Ali bin Abi Thalib»...


...--------------------...


Ini bukanlah tentang harapan biasa dari manusia ke manusia lain. Melainkan harapan berupa keinginan orang tua kepada anaknya.


Setiap Orang tua membesarkan anak-anaknya sudah tentu dengan kasih sayang dan keikhlasan yang tiada terkira.


Pengalaman hidup yang mereka terima dimasa lalu, membuat orang tua berharap agar hal buruk yang pernah mereka alami itu tak terjadi kepada anak-anaknya. Tapi, seringkali harapan selalu datang tak sesuai dengan kenyataan. Karena Allah lebih tahu apa yang kita butuhkan daripada apa yang kita inginkan.


Takdir yang sudah tertulis indah oleh Sang Maha Pencipta tidak dapat kita tolak selain harus menerima dan menjalaninya dengan keikhlasan.


Ikhlas bahwa segala sesuatu yang terjadi pada kita adalah hal baik dari yang terbaik.


Seperti layaknya cinta yang diharapkan dari anak Adam. Cinta yang tiada dosa didalamnya, melainkan hanya ada butiran-butiran pahala yang tak terkira.

__ADS_1


Tapi ingat, perjalanan menemukan cinta itu bukanlah hal mudah untuk dijalani. Terlebih, cinta sejati lah yang kita inginkan. Akan begitu banyak hal yang harus dikorbankan dan direlakan. Mampu dan siapkah hatimu untuk semua hal itu?


...__________...


Khairil tersenyum sembari menghapus sedikit air matanya yang keluar begitu saja. Ia sedang memandangi satu persatu dari tiap lembar foto yang berada di album. Pikirannya sedang berkelana ke masa lalu dan hari kemarin. Andai waktu bisa diputar kembali, ia ingin sekali memperbaiki semua hal yang tak seharusnya terjadi.


Sebegitu banyak kah dosanya dimasa lalu, hingga sedikit demi sedikit balasan itu hadir dengan sendirinya.


Jizah memandang putranya dari kejauhan. Setelah kepergian suaminya, putranya lah yang kini menjadi kepala rumah tangga. Seakan seluruh tanggungjawab adalah kewajibannya, Khairil kini benar-benar berusaha untuk seperti almarhum Mufid.


"Kamu sudah melakukan yang terbaik nak." Ucapnya mencoba menenangkan


Diraihnya tangan perempuan yang telah melahirkannya itu untuk duduk disampingnya. Tiba-tiba saja Khairil langsung memeluk erat tubuh Jizah.


"Maafin Khairil Umma, Khairil belum bisa menjadi seperti Abba. Semuanya pasti karena kesalahan Khairil." Jizah membiarkan putranya itu menangis di pelukannya agar betul-betul tenang


"Khairil sudah menghancurkan semua yang almarhum Abba dan Umma bangun sedari dulu. Mungkin kata maaf yang Khairil ucapkan nggak akan pernah bisa membalikkan apa yang sudah hilang. Khairil belum bisa menjaga harapan Abba dan Umma." Khairil masih dengan tangisnya menyesali apa kesalahannya

__ADS_1


"Sudahlah nak, apa yang terjadi itu sudah pasti yang terbaik. Belajarlah dari hujan, kehadirannya seringkali tidak manusia inginkan namun ia tetap mendatangkan keberkahan." Tutur Jizah melepaskan pelukannya lalu dihapusnya air mata di wajah putranya


"Apa Umma nggak marah?" tanya Khairil


Dengan tersenyum Jizah berkata, "Untuk apa Umma marah, jika Umma punya keyakinan kalau esok kamu akan menutupi kesalahan ini dengan sesuatu yang tidak kita duga nantinya?"


Khairil tersenyum mendengarnya lalu ia kecup kedua pipi wanita yang telah melahirkannya itu, dimana ia sudah tak muda lagi.


Sebagai seorang ibu, Jizah sudah pasti memaafkan kesalahan putranya. Mungkin, ini ujian awal untuk Khairil dalam melaksanakan tanggung jawab besarnya. Ia hanya bisa berdo'a dan berharap pada Allah agar selalu memberikan kesabaran serta keikhlasan yang lebih kepada anak-anaknya.


Para psikolog menemukan adanya beberapa faktor yang bisa memperkirakan kesuksesan seorang anak. Yang mengejutkan, faktor itu ternyata ada pada orang tuanya.


...______________________...


Assalamualaikum teman-teman, maaf prolog dulu ya. Insya Allah, bab-bab selanjutnya menyusul. Semoga kalian suka dan tetap bersabar menunggu.


Jangan lupa like, komen, dan vote Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2