
...“Sesungguhnya Allah berkata: "Aku sesuai prasangka hambaku pada-Ku dan Aku bersamanya apabila ia memohon kepada-Ku.” ...
...(HR Muslim) ...
...----------------...
Matahari yang mulai meninggi atau tepat jam sepuluh adalah waktu yang baik untuk berjemur. Dan itu dilakukan oleh Jizah yang berjemur dengan duduk di teras rumahnya saja.
Setelah kejadian tak mengenakkan dua hari lalu, kini rumah Jizah tampak seperti biasanya. Hanya ada dirinya, sus Diana, dan tak jarang ada Bi Mumun. Kedua putranya sudah pergi ketempat tujuannya masing-masing sejak pagi tadi.
"Diana? Temani saya pergi ke pesantren mau?" Ditemani segelas teh hangat, Jizah duduk bersama Diana di teras rumah. Tiba-tiba saja dirinya ingin sekali pergi ke pesantren.
"Apa Umma ada perlu sama ustadz Zain atau istrinya?" Tanya Diana, sebab sebelumnya ia sudah diperingatkan oleh Khairil ataupun Zurran agar tak membiarkan ibundanya pergi keluar rumah tanpa kepentingan yang berarti.
"Apa saya harus ada perlu terlebih dahulu untuk mendatangi anak-anak dan cucu-cucu saya yang lainnya?"
"Bu-bukan begitu Umma. Diana cuma ikutin apa yang dibilang sama... Abang Khairil dan Abang Zurran, buat nggak ngizinin Umma pergi tanpa kepentingan." Ujar Diana menjelaskan
"Hhmm ya sudah kalau begitu. Saya mau ke kamar dan istirahat saja." Jizah bangkit dari duduknya dan masuk kedalam rumah
Diana takut Jizah marah padanya, dan buru-buru ia membereskan gelas dan barang-barang yang berada diatas meja teras lalu menyusul kedalam. Bi Mumun yang baru pulang dari pasar heran melihat Diana yang terlihat ketakutan dan ia pun langsung berpikiran yang tidak-tidak dibuatnya.
Sementara, dari kejauhan sana. Terlihat seorang perempuan yang tak kuasa menahan air matanya. Dibiarkannya mengalir tak tertahankan. Seperti rindunya yang tak dapat lagi dibendung. Mau mendekati namun takut menyakiti. Menjauhi, namun tersakiti. Sungguh ia sudah lelah dengan keadaan seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi? Kesehatan orang yang ia sayangi sangatlah penting daripada rindu yang ada dihatinya.
"Kamu udah lihat kan? Kalau Umma udah jauh lebih baik sekarang. Nggak perlu ya kita kesana. Ayah nggak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Baik untuk kamu ataupun untuk Umma." Jelas sang suami yang dengan setia menemaninya. Walau baru pulang tugas dari ibu kota. Ia rela mengantarkan sang istri untuk sekedar melihat dari kejauhan.
"Tapi ibu rindu banget sama Umma Yah. Dan dua bulan lagi kan ibu mau lahiran. Ibu mau minta maaf sama Umma dan adik-adik. Kita kan nggak pernah tahu sampai kapan nafas ini terus bertahan." Ucap sang istri yang masih terus berderai air mata
Sang suami terdiam, akhir-akhir ini istrinya sering mengucapkan bahwa entah sampai kapan nafas nya akan bertahan.
...----------------...
Satu jam berlalu~
Bel rumah yang letaknya di dekat pagar terdengar berbunyi dari dalam. Jizah sedang beristirahat didalam kamar setelah Diana tadi memijatnya. Tak ingin suara bel terlalu lama mengganggu Jizah, buru-buru ia keluar dari kamar itu dan melihat siapa yang datang bertamu.
"Yaa sebentar..."
__ADS_1
"Si Bi Mumun kemana lagi ini? Ada bel bunyi bukannya dibukain." Ucap Diana kesal
Dibukanya pintu utama dan ia keluar untuk membukakan pintu pagar yang memang sengaja dikunci. Berpikir yang datang adalah Khairil atau Zurran, ternyata bukan.
"Assalamualaikum."
"Wa - waalaikumsalam, mohon maaf akang sama teteh nya mau cari siapa ya?" Tanya Diana waswas. Ia seakan pernah melihat sepasang suami istri yang berada dihadapannya namun dimana?
"Hhmm U-umma ada didalam?" Tanya sang istri gugup
"Umma? Maksudnya ustadzah Jizah kali ya?"
"Iya, Umma Jizah ada kan?" Tanyanya lagi
"Sudah ada janji dengan beliau atau ke anak-anaknya?"
Diana bingung haruskah mempersilahkan keduanya untuk masuk atau tidak. Karena seusai perintah Khairil, bila ada yang datang bertamu ke rumahnya haruslah ada janji terlebih dahulu ataupun hanya untuk sesuatu yang penting saja.
"Apa kami harus memiliki janji atau izin terlebih dahulu ketika ingin memasuki rumah orang tua kami sendiri?" Tanya sang suami yang membuat Diana membelalakkan matanya.
Diana panik setelah mengingat siapa suami istri dihadapannya. Mereka adalah Naura dan Akbar. Keduanya memberanikan diri untuk mendatangi rumah Jizah yang telah berbulan-bulan lamanya tak di pijaki. Bukan tak berani, melainkan tak diperbolehkan oleh adik-adiknya. Baik Aisyah, Khairil maupun Zurran sama-sama tak ingin mengambil risiko yang membuat ingatan Jizah kembali drop.
"Si-silakan masuk, aduh maaf banget ini mah saya nggak tahu siapa akang dan teteh berdua. Bukan nggak tau sih cuma teh lupa. Ayo sok atuh masuk. Tapi maaf ya? Umma baru aja istirahat, jadi kalian bisa duduk-duduk didalam." Ucap Diana mempersilahkan
Naura sangat terharu bisa menginjakkan kakinya lagi di rumah yang telah membesarkannya. Dari rumah ini ia mendapatkan kasih sayang kedua orang tua yang menyayanginya tanpa banding. Di rumah ini pula ia merasakan kebahagiaannya tanpa ada beban sedikitpun.
"Berbulan-bulan lamanya ku memendam rindu dengan segala yang menyangkut rumah ini ya Rabb. Rindu Umma, adik-adik, dan segala yang pernah terjadi disini."
Naura menangis bahagia. Berharap kedatangannya tak membawa petaka.
Akbar dengan penuh cinta menggenggam tangan istrinya sampai duduk di ruang tamu. Melihat sekeliling penjuru rumah itu. Sepi. Sebab adik-adik iparnya sedang dengan kegiatannya masing-masing.
...----------------...
30 menit berlalu, Diana telah menyajikan minuman sedari tadi. Ia bingung harus mengobrol apa dengan anak tertua Jizah. Karena tidak banyak yang ia ketahui tentang keduanya.
"Hhmm maaf, saya baru lihat kamu disini. Apa sudah lama bekerja disini?" Akhirnya Naura memulai percakapan
__ADS_1
"Alhamdulillah teh..., saya disini sudah tujuh bulan. Dari semenjak Umma jatuh sakit saya diminta untuk menemani dan menjaga beliau. Tadinya sih ada dua suster, cuma yang satunya disuruh Abang Khairil untuk berhenti. Jadi tinggal saya deh yang nemenin Umma dirumah." Jelas Diana
"Sudah tujuh bulan? Berarti... setelah kejadian itu, Umma sangat menderita. Itu semua disebabkan oleh aku." Batin Naura lagi-lagi menangis
"Tapi selama tujuh bulan itu, apa Umma ada kesakitan yang sangat parah karena penyakitnya?" Tanya Akbar penasaran. Dirinya masih sulit menerima jika ibu mertuanya sakit karena ulah istrinya. Karena hal itu, Naura selalu merasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan dan menyesalinya.
"Kalau itu? Bulan-bulan pertama memang masih sering. Tapi saya mah bersyukur Alhamdulillah banget sama Gusti Allah. Sudah belakangan ini kondisi Umma jauh lebih baik." Jawab Diana
Alhamdulillah
Naura dan Akbar bersyukur mendengarnya. Dan Naura langsung memeluk suaminya. Beberapa bulan kebelakang, inilah kabar yang mereka inginkan.
Lagi-lagi suara bel rumah berbunyi. Diana langsung bergegas keluar menghampiri. Dari suara mobilnya Diana paham bahwa yang datang adalah Khairil. Sebab tadi pagi laki-laki itu mengatakan bahwa akan pulang sebentar untuk melihat ibundanya atau makan siang.
Mobil Khairil telah terparkir di garasi rumah. Ia bingung mobil siapa yang ada disisi jalan depan rumahnya. Namun setelah melihat dari plat mobilnya ia mulai tahu.
"Umma lagi istirahat sus?" Pertanyaan pertama Khairil lontarkan
"Iya bang, tadi setelah sus pijat Umma langsung tertidur." Khairil menyahuti dengan anggukan
"Kamu udah kasih tahu tamu yang ada didalam kan kalau masuk kerumah ini harus memiliki izin?" Khairil bertanya lagi dengan wajah datarnya
Diana dibuat bingung mendengarnya. Ingin memberitahu siapa sebenarnya yang datang namun Khairil justru malah kembali masuk kedalam mobilnya. Dan didalam mobil Khairil menyandarkan kepalanya di kursi kemudi. Ia mencoba menenangkan hatinya bahwa semuanya pasti baik-baik saja.
"Ya Rabb, aku ingin dengan lapang menerima kehadiran kedua kakakku. Tapi apakah dengan itu, semuanya akan membaik?"
Kemelut dalam hati ia coba damaikan. Walau seringkali berdamai dengan keadaan sangatlah sulit dilakukan.
......................
......................
......................
Sekedar info jika novel ini akan selalu berkonflik kecil selama Umma masih ada. Jadi bila ada yang tidak menyukai, sangat dipersilakan untuk mencari novel yang lain 🙏
Jangan lupa like, komen, vote dan berikan bunga sebanyak-banyaknya Terima kasih ❤️
__ADS_1