Khairil : Harapan & Cinta Sejati

Khairil : Harapan & Cinta Sejati
Bab 17 | Tidak Bisa Melupakan


__ADS_3

...“Semua orang bisa memaafkan dan mengikhlaskan, tapi tidak bisa melupakan.”...


...----------------...


......................


Semenjak kembali dari Tangerang, kini Jizah terlihat begitu sangat diam dan lebih suka menyendiri. Sudah berulangkali mencoba untuk melupakan, tapi kenyataannya tak semudah diucapkan.


Dirinya lagi-lagi harus menahan rasa sakit, saat bayangan-bayangan masa lalu yang indah hingga menyakitkan itu menghampirinya. Bagaimana tidak? Setiap sudut rumah itu, ia hafal betul seluruh kejadian, yang begitu menyenangkan dan menyakiti hati, dimana cinta dan luka hadir dalam waktu yang hampir bersisian.


Sekalipun masa itu sudah berpuluh-puluh tahun berlalu. Namun ingatlah, sesuatu yang menyakiti hati takkan bisa terlupakan oleh waktu. Bedahalnya dengan memaafkan, semua orang pasti bisa memaafkan seiring dengan berjalannya waktu, tapi bila melupakan, itu akan teramat sulit atau bahkan tidak akan mungkin.


Sekarang, kondisi Jizah harus benar-benar diperhatikan. Takut bila kesehatan mental Umma nya kembali terganggu, Khairil memperkerjakan dua perawat sekaligus dirumahnya demi menjaganya, karena tidak mungkin bagi dirinya atau saudaranya yang lain selalu ada bersama Jizah setiap waktu.


Khairil keluar dari kamarnya dan berniat pamit kepada Umma nya, sebelum pergi mengunjungi cabang bakso cinta. Langkah kakinya harus terhenti saat melihat bidadari hatinya, cinta sejatinya, sedang duduk dengan sebuah buku ditangannya dan dengan deraian air mata membasahi pipinya.


Sungguh, Khairil sangat tidak menyukai air mata sia-sia itu ibundanya keluarkan. Ia sedari awal tidak suka dengan tindakan Naura yang membawa Jizah mendatangi rumah masa lalunya. Khairil sudah menduga jika Jizah pasti akan berteriak tidak suka. Dan hal yang paling menyakitkan itu terucapkan.


...----------------...


...#flashback...


...----------------...


Mata Jizah melebar, melihat pojok-pojok ruangan. Dan matanya terhenti ketika melihat anak tangga. Ia pejamkan matanya dan membukanya lagi, lalu melihat Naura yang duduk diseberang nya. Posisi wanita itu sama seperti almarhumah ibunya mendatangi rumah ini untuk pertamakalinya.


Jizah berjalan mendekati Naura dan menyentuh kedua pundak wanita itu.


"Kamu? Ya, saya menyadari kedatangan kamu adalah dengan cara yang salah. Entah itu disengaja atau tidak. Yang pasti kehadiran kamu membuatku kehilangan sesuatu yang sedari dulu ku nantikan. Andai saja kehadiranmu tidak membuat makhluk lain harus pergi, sudah pasti aku akan menerimamu dengan baik!!" Jizah berteriak dengan deraian air mata


Khairil dengan sigap membawa Jizah kedalam pelukannya. "Istighfar Umma, istighfar... Jangan biarkan setan menguasai tubuh Umma. Allah tidak suka Umma seperti ini."


Jizah masih dengan tangisannya. Naura pun sama menangis nya, sembari memeluk putrinya yang terkejut melihat neneknya seperti itu. Akbar tahu betul apa maksud istrinya, tapi hal ini adalah sesuatu yang salah, terlebih kondisi ibu mertuanya yang sedang tidak baik.


Jizah melepaskan pelukannya dan menarik tangan Khairil berjalan mendekati tangga. "Lihatlah tangga ini nak, di tangga ini Umma terjatuh tak berdaya karena mendengar kehadirannya" tangan Jizah menunjuk Naura. "Dan saat seperti itu, seseorang yang dahulu Umma sebut suami? Justru pergi bersama wanita lain yang telah mengandung dia."


"Umma, sudah cukup. Jangan terlalu meratapi sesuatu yang telah lama berlalu." Khairil lagi-lagi memberikan Jizah ketenangan dengan pelukannya dan tiba-tiba saja Jizah pingsan tak sadarkan diri


"Umma!!"

__ADS_1


"Umma!? Bangun Umma" Khairil menepuk pipi ibundanya dan menatap Naura. "Ini semua adalah salah kakak! Seharusnya kakak nggak mengajak kami untuk datang kesini."


"Maaf, kakak nggak bermaksud mengingatkan Umma dengan masa lalunya. Tapi..." Ucap Naura menangis dan berniat menyentuh Jizah


"Nggak usah sentuh Umma dan nggak usah ada ada kata tapi." Sergah Khairil lalu dengan segera menelepon seseorang untuk datang


"Iya kami minta maaf Ril, tapi tolong izinkan kami untuk menolong Umma dan segera membawanya ke rumah sakit." Ujar Akbar khawatir


Khairil tidak menggubris ucapan Akbar, tapi ia justru masih berusaha menyadarkan Jizah dengan caranya sendiri.


"Umma bangun, Abang mohon..."


"Khairil? Abang sangat memohon sama kamu, biarkan kita membawa Umma segera ke rumah sakit, sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan." Ucap Akbar yang bertambah panik, tatkala melihat deru nafas ibu mertuanya terlihat tak teratur.


Naura mendudukkan putrinya di sofa lalu berjalan cepat mendekati Jizah. "Kamu boleh marah sama kakak, tapi kakak mohon kamu jangan egois dan membiarkan Umma menderita seperti ini." Ujar Naura marah kepada Khairil dan tanpa pikir panjang ia meminta suaminya menggendong Jizah untuk segera dibawa kerumah sakit.


Sebelum Akbar ingin mengangkat tubuh ibu mertuanya, Khairil langsung mencegahnya. "Nggak perlu, biar saya aja."


Akhirnya mereka semua keluar dari rumah itu dan saat ingin memasuki mobil, ternyata mobil Ali telah sampai. Tanpa berpikir panjang, Aisyah meminta Khairil masuk kedalam mobilnya. Mata Aisyah menatap tajam kearah Naura, wanita yang selama dua puluh tujuh tahun ia panggil kakak. Matanya mengisyaratkan ketidaksukaannya.


Setibanya di rumah sakit, Jizah langsung ditangani oleh dokter. Mereka semua tampak saling diam, walaupun dihati masing-masing mereka terus beristighfar.


"Langsung to the points saja dokter. Umma saya baik-baik saja dan tidak perlu ada sesuatu yang serius kan dok? Dan bagaimana dengan jantungnya?" Tanya Aisyah tak sabar


"Begini ibu, sabar. Izinkan saya jelaskan secara perlahan. Tapi sebelum itu boleh saya bertanya? Maaf, apa ada suatu kejadian sebelum ibu Jizah pingsan tadi?" Tanya dokter


"Kalau itu, saya kurang tahu, tapi sebentar biar saya panggilkan adik saya."


Tak lama Khairil masuk dan menceritakan tentang apa yang tadi terjadi. Aisyah benar-benar marah mendengar cerita Khairil. Andai ia tidak membiarkan Jizah untuk ikut bersama Naura, pasti hal ini tidak terjadi.


"Kalau menurut diagnosis saya, Ibu Jizah memiliki hipertensi atau biasa kita kenal tekanan darah tinggi. Tekanan darah ibu Jizah di atas 180/120. Yang berarti ini sangat parah. Emosi yang tidak stabil tadi, selain mengganggu tekanan darah tingginya, hal ini sudah tentu berpengaruh juga terhadap kesehatan jantungnya, yang dimana tadi sempat melemah. Beruntungnya, ibu Jizah bisa segera dibawa ke rumah sakit." Jelas dokter yang menangani Jizah


Khairil menangis mendengarnya, laki-laki itu terlalu lemah bila menyangkut tentang wanita yang telah melahirkannya. Bagaimanapun ia ingat akan janjinya kepada almarhum Abba nya, bahwa ia akan menjaga Umma dengan baik, namun sekarang ia merasa benar-benar gagal.


Sembari menyeka air matanya. "Se-selain hal tadi, sudah tidak ada yang membahayakan lagi kan dok?" Tanya Aisyah terbata-bata


Sedikit terdengar helaan nafas berat dari dokter, "Begini ibu, sebelumnya saya sekali lagi meminta maaf. Lebih baik, ibu Jizah selain dibawa perawatan ke rumah sakit, tapi saya sarankan juga untuk membawa beliau ke seorang psikiater. Saya takut, dengan cerita yang saya dengar dari mas nya tadi itu adalah gangguan pada mentalnya." Ujar dokter


"Mak-maksud dokter? Umma saya...?" Khairil tak mampu melanjutkan ucapannya setelah melihat dokter sedikit mengangguk.

__ADS_1


Aisyah dan Khairil lagi-lagi merasa tidak bisa menjaga Umma mereka dengan baik. Ini adalah tamparan kesekian kalinya untuk anak-anak Jizah. Bahwa segala sesuatunya tidak bisa sesuai keinginan manusia.


Tak lama mereka keluar dari ruangan dokter. Khairil langsung melangkah kakinya menuju ruang perawatan Jizah. Sementara Aisyah, ia duduk di bangku rumah sakit untuk sedikit menenangkan diri. Tiba-tiba, seseorang duduk disampingnya dan langsung memeluknya.


"Maafin kakak, andai kakak nggak membawa Umma ke rumah itu, pasti hal ini nggak bakal terjadi." Naura menangis menyesali tindakannya


Aisyah melepaskan pelukannya. "Ya, memang seharusnya kamu tidak membawa Umma saya kembali mendatangi rumah ayahmu! Rumah itu terlalu banyak kenangan pahit yang dahulu Umma rasakan, yang tersebab oleh ayah, ibu kamu dan kamu!" Ingin sekali rasanya Aisyah menampar wanita dihadapannya, namun teringat kondisi Naura yang sedang hamil.


Aisyah bangkit dari duduknya dan kembali menatap wajah Naura. "Kamu harus ingat satu hal kak! Setiap orang bisa memaafkan dan mengikhlaskan, tapi tidak akan pernah bisa melupakan." Setelah mengatakan hal itu ia meninggalkan Naura yang menangis sendirian.


...----------------...


...Flashback off...


...----------------...


"Umma, Khairil berangkat keliling cabang bakso dulu ya? Insya Allah, nggak akan lama kok. Dan sebentar lagi Zurran pasti juga pulang." Khairil duduk di samping Jizah sembari mencium punggung tangan wanita itu.


"Kamu benar nggak akan lama kan keliling cabangnya?" Tanya Jizah


"Iya Umma, Abang janji. Udah yah nggak boleh sedih-sedih. Kita kan harus selalu happy, ingat kan apa kata dokter Jihan? Harus juga beristirahat dengan baik dan nggak boleh kebanyakan melamun." Khairil mencium kening Umma nya dan kembali mencium punggung tangannya


"Sus, tolong titip Umma dan jangan lupa setelah minum obat harus tidur dan tetap berada di samping Umma." Pinta Khairil kepada salah seorang perawat yang menemani Jizah


Langkah kaki Khairil, sebulan ini selalu merasa berat bila harus meninggalkan Jizah dengan orang lain. Ingin rasanya selalu berada disisi Jizah dari terbangun hingga tertidur kembali. Namun ia harus ingat juga, ada begitu banyak tanggung jawab yang tetap harus ia lakukan.


...----------------...


Assalamualaikum para pembaca setiaku,


Apa kabar?


Sebelumnya, ku harap kalian tidak bosan membaca permintaan maaf ku. Aku meminta maaf, seharusnya part ini sudah di upload Minggu lalu. Tapi, qodarullah aku lupa. Karena Minggu lalu ku sedang melaksanakan kewajiban ku sebagai seorang pelajar. Dan aku tidak sempat untuk mengecek NT yang ternyata juga mendapat pesan untuk segera update. Jadi baru hari ini ku update. Mohon dimaafkan dan dimaklumi yaa.


**Jangan lupa like, komen dan vote Terima kasih


Insya Allah, bila ada yang vote? Ku pasti segera update bab terbaru**.


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2