
...“Allah memang mengetahui apa-apa yang kita inginkan. Tapi, seringkali Allah tak langsung mengabulkannya. Karena Ia lebih memberikan apa yang kita butuhkan daripada apa yang kita inginkan.”...
......................
Jizah sudah pulang dari rumah sakit sejak seminggu yang lalu. Kini dirumah wanita paruh baya itu hanya ditemani oleh Aisyah dan cucu laki-lakinya. Sementara kedua putranya, mereka tengah sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Aisyah masuk kedalam kamar Jizah dengan membawa nampan berisikan air dan beberapa obat-obatan yang masih harus diberikan kepada Jizah.
"Umma, obatnya diminum dulu ya? kakak mau menidurkan Alif sebentar." Ucap Aisyah
"Iya nak, terima kasih ya." Ucap Jizah dan setelah itu Aisyah keluar dari kamar Jizah
"Terima kasih nak, kamu telah rela meninggalkan rumah suamimu untuk sementara waktu hanya demi merawat Umma. Aku harus bisa seperti sedia kala, agar tidak lagi merepotkan anak-anakku." Batin Jizah yang selalu merasa bersalah karena telah merepotkan anak-anaknya
Suasana siang hari ini di kota Bogor, nampak sangat panas. Matahari terlihat begitu bersinar. Jika dulu disaat jam-jam seperti ini, Jizah tengah bersemangat menyelesaikan jahitannya bersama para karyawannya. Kini tak ada lagi hal yang seperti itu. Butik Nurreen Muslimah Wedding Dress telah lama tutup setelah Aisyah dan Naura menikah. Ia hanya bisa berdo'a, semoga kelak akan ada salah satu menantu perempuannya yang bisa melanjutkannya.
...----------------...
Disalah satu cabang bakso dekat stasiun kereta, Khairil tengah sibuk menghitung jumlah pemasukkan warung bakso bulan ini. Setiap bulan bukan jumlah pemasukkan yang bertambah yang ia dapat, tapi pengurangan yang kian mencolok. Terlebih setelah papan iklan yang ia pasang sudah tidak ada lagi. Benar-benar Khairil dibuat pusing.
"Aku harus bisa mengurangi jumlah karyawan. Tapi mana tega aku melakukan hal itu? mereka semua anak yatim yang butuh pekerjaan. Kalau aku berhentikan beberapa, mereka akan kerja dimana? apalagi di jaman sekarang yang apa-apa minimal harus lulusan sarjana." Ucap Khairil seakan frustasi dengan keadaan yang ada
Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 13:22, ia harus segera pergi ke kajian. Bisa saja Khairil menuntut ilmu di pesantren milik Abah yang kini dikelola oleh Zain. Namun, ia berpikir harus mencarinya ditempat lain. Semuanya ia lakukan demi dunia dan akhirat yang seimbang. Ia harus bisa seperti keinginan Jizah dan almarhum Mufid. Bagaimanapun caranya dan risikonya, semua harus bisa ia lakukan.
Jika ditanya, apakah Khairil tidak memiliki teman? Bila kegiatan yang ia lakukan seperti itu setiap harinya. Jawabnya antara iya dan tidak. Sebelum Mufid memasrahkan warung bakso kepadanya. Waktu yang Khairil gunakan pasti selalu bersama sahabatnya. Namun, setelah ia fokus pada warung bakso. Temannya itu memilih melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Tak seperti Khairil yang mencoba patuh pada kedua orangtuanya.
__ADS_1
Setibanya di sebuah masijd yang tak jauh dari stasiun. Khairil melangkahkan kakinya memasuki masjid. Dilihatnya sudah ada beberapa bapak-bapak dan anak muda seperti dirinya yang juga ingin menuntut ilmu.
Ustadz yang akan bertausiah dan membagikan ilmunya telah datang. Dengan cepat Khairil mengeluarkan buku yang berada didalam tas nya untuk mencatat apa-apa yang sekiranya perlu ia ingat.
Dua jam kemudian, kajian telah selesai dan diakhiri dengan sholat ashar berjamaah. Setelah sholat dan orang-orang telah pergi meninggalkan masjid. Tinggallah Khairil seorang diri di teras masjid. Merenungi apa yang tadi dijelaskan oleh ustadz.
"Memang benar, aku berbeda dengan Abba dan Umma." Gumam Khairil yang tanpa sadar didengar oleh seseorang yang keluar dari dalam masjid
"Setiap kita sudah pasti berbeda. Kita tidak bisa memaksa takdir harus sesuai seperti orang tua kita atau sesuai keinginan mereka." Ucap laki-laki tersebut. Ia duduk di samping Khairil tanpa menatapnya.
"Anda tidak tau, begitu terlihat perbedaan antara saya dan saudara saya yang lainnya. Memang, saya telah di didik dengan ilmu agama yang orang tua saya miliki. Tapi saya merasa, saya tidak bisa meresapi apa yang telah mereka berikan. Terlebih dahulu kedua orang tua saya sangatlah aktif di bidang dakwah ditengah-tengah kesibukan mereka. Saya tidak sesempurna keduanya." Ujar Khairil yang tanpa sadar mengeluarkan keresahan yang ada didalam dirinya
Laki-laki itu tersenyum dan berkata, "Kamu sempurna dengan ketidaksempurnaan yang kamu standar kan. Manusia memang terkadang hanya bisa fokus dengan apa yang telah ada dipikirannya. Tanpa berpikir, apa yang harus dilakukan untuk yang lainnya. Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya dan sudah tentu mereka mendidik anak-anaknya dengan sebaik mungkin. Tapi mereka seakan lupa, kalau kita tidak selalu bisa seperti yang mereka inginkan." Ujar laki-laki tersebut yang entah siapa
Khairil terdiam sejenak, meresapi apa yang laki-laki itu utarakan. Memang benar, selama ini Khairil selalu berusaha mungkin untuk bisa sesuai dengan keinginan Jizah dan almarhum Mufid. Tapi hal inilah yang membuat Khairil selalu merasa tidak sempurna atau tidak puas dengan keadaan yang ada. Terlebih, seluruh warung bakso yang Mufid wariskan kepadanya hanya tinggal ia lanjuti. Tanpa memulainya dari awal.
"Waalaikumsalam warahmatullahi."
Siapa laki-laki itu? Mengapa ia seolah mengerti apa yang Khairil rasakan? Dan kenapa Khairil lupa bertanya siapa namanya. Dilihatnya hari sudah mulai senja ia harus segera pulang. Tak ingin kakaknya terlalu lama mengurus Jizah sendirian.
...----------------...
Malam hari dikediaman Jizah. Wanita itu baru saja selesai meminum obatnya. Khairil dengan sabar membantunya.
"Sekarang Umma istirahat ya?" Ucap Khairil sembari membenarkan selimut Jizah
__ADS_1
"Bang, apa adik kamu sudah pulang? Sedari tadi Umma belum lihat dia." Ucap Jizah
"Iya ya, kok Zurran belum pulang? Nanti biar Abang telepon dia. Umma nggak perlu khawatir, insya Allah nggak lama lagi dia pasti pulang. Sudah istirahat, jangan terlalu banyak pikiran. Khairil sayang Umma." Ujar Khairil lalu mengecup kening Jizah
Setelah memastikan Jizah benar-benar terlelap. Khairil melangkahkan kakinya menuju kamar Zurran. Dan dilihatnya adiknya itu ternyata belum kembali ke rumah.
"Kemana dia? coba ku telepon deh." Dengan segera Khairil menelpon adik satu-satunya itu tapi sampai panggilan ke lima, belum ada tanda-tanda Zurran menjawab panggilannya.
"Zurran belum pulang Ril?" Tanya Aisyah mengagetkan Khairil
"Iya kak, udah Khairil telepon tapi nggak diangkat. Apa tadi pagi dia izin ke kakak atau ke Umma mau kemana gitu setelah kuliah?"
"Enggak, dia cuma pamit kuliah aja. Atau mungkin dia pelajaran tambahan di pesantren?" Tanya Aisyah
"Enggak mungkin kak, jadwal belajar dia di pesantren Khairil tau. Ya sudah, Khairil coba jemput di kampusnya. Mungkin dia ada tugas yang harus diselesaikan hari ini juga."
"Kamu yakin mau jemput dia? ini udah malam loh." Ucap Aisyah khawatir
"Justru karena udah malem kak, Zurran harus cepat pulang. Sudah ya, Khairil pamit dan titip Umma. Assalamualaikum." Khairil mencium punggung tangan Aisyah lalu bergegas keluar
"Waalaikumsalam warahmatullahi. Kemana Zurran itu? Seharusnya dia tau, jangan sampai membuat kita ini khawatir, terlebih kalau Umma sampai tau." Ucap Aisyah
...----------------...
Kekhawatiran ku kian bertambah, tatkala apa-apa yang orang tuaku inginkan belum bisa ku wujudkan.
__ADS_1
Namun, ku percaya akan takdir baik dari-Nya. Bahwa semuanya telah ditetapkan dengan sebaik mungkin. Tugas ku kini hanya menjalani apa yang telah digariskan tanpa perlu mendengar ocehan manusia.
Jangan lupa like, komen dan vote Terima kasih