
...Hari yang begitu mencekam kala itu, tak bisa serta-merta hilang dari ingatan. Kebahagiaan yang baru dirasakan langsung tergantikan dengan tangisan yang tak terkendalikan....
...----------------...
"Istriku? terima kasih atas seluruh cinta dan pengabdian mu untukku selama ini. Entah kapan bila waktu itu telah tiba? waktu dimana perpisahan kedua itu datang menghampiri kita. Dimana kita tidak akan bisa lari darinya karena itu adalah hal yang pasti. Tapi kita harus percaya, bahwa perpisahan kedua kita ini hanyalah sebuah kematian. Dan itu tidak lama, sebab Allah pasti akan satukan kita lagi di surgaNya. Tanpa ada seorang pun yang bisa menghalangi kita untuk bersatu lagi. Kamu percaya semua itu kan? kalau Abang sangat percaya. Karena yang memisahkan kita dengan surga hanyalah kematian."
Ucapan Mufid ketika di Mesir kala itu, masih terekam jelas dalam memori ingatan Jizah. Ia tak menyangka jika siang hari itu adalah hari terakhirnya tidur satu ranjang dengan suaminya.
Ketika itu Mufid merasakan tubuhnya begitu menggigil dan bergetar hebat, Jizah memutuskan untuk pergi ke minimarket terdekat untuk membelikan minuman jahe instan agar menghangatkan tubuh suaminya. Ia meninggalkan suaminya yang masih tertidur. Mufid yang merasakan Jizah tak lagi berbaring bersamanya pun terbangun. Ia dengan pelan berniat berjalan mendekati pintu untuk mencari istrinya.
Mereka menempati sebuah rumah yang berpenghuni dua keluarga. Lantai satu dihuni oleh keluarga asli Mesir, sedangkan lantai dua diisi oleh Jizah dan Mufid.
Mufid menuruni anak tangga dengan hati-hati. Dan saat menuruni tangga terakhir, ia merasa tubuhnya sudah tidak kuat lagi. Hampir terhuyung ke depan, beruntungnya dengan sigap penghuni lantai satu rumah itu langsung menyanggahnya dan membantunya untuk duduk di kursi.
Mufid memegangi dadanya yang terasa begitu amat sakit dan nafasnya yang mulai tidak beraturan. Sebelum Mufid menutup matanya, kalimat terakhir yang ia ucapkan adalah "Laaillahaillallah". Seseorang yang tadi bersama Mufid, langsung berteriak memanggil istrinya untuk mencari keberadaan Jizah.
Jizah yang baru saja selesai membayar apa yang ia beli di sebuah minimarket dekat tempat tinggalnya, tiba-tiba saja memiliki perasaan yang tidak enak. Dengan bibir dan hati yang terus beristighfar serta pikiran yang tak sejalan ia langsung pulang dengan cepat. Dan saat mendekati tempat tinggalnya, tiba-tiba saja tetangga rumahnya menghampirinya dengan kepanikan.
Siang itu, menjadi siang yang begitu menyakitkan. Tatkala raga yang selalu melindunginya sudah tidak berdaya. Suami yang selalu ia bangga-banggakan dihadapan Allah telah pergi meninggalkan dirinya serta anak-anaknya untuk selama-lamanya. Namun, ia ingat perkataan Mufid. Perpisahan kedua mereka hanyalah kematian, dan sudah pasti semua orang akan merasakan hal itu.
...----------------...
Lamunan Jizah langsung terhenti, kala sentuhan lembut menyentuh kedua pundaknya. Dilihatnya Khairil dan Zurran tersenyum kearahnya.
"Umma pasti sedang mengingat hari dimana Abba meninggalkan kita untuk selama-lamanya ya?" Tanya Khairil dan Jizah mengangguk
Kedua anak laki-lakinya duduk di sisi kanan dan kirinya. Keduanya menyandarkan kepalanya di bahu Jizah. Tahun ini adalah tahun keempat mereka tanpa Mufid. Dan esok mereka akan ke Tangerang untuk ke makamnya.
"Jika diingat lagi, waktu itu adalah pengumuman hasil kelulusan Abang Khairil kan?" Tanya Zurran
Khairil yang mendengar pertanyaan adiknya itu seketika menghapus sedikit air matanya yang keluar begitu saja. "Iya, Abang sudah mendapatkan surat kelulusan dan kita berencana akan memberikan surprise untuk Abba dan Umma yang jauh di Mesir sana. Kita yang ada disini sudah tidak sabar memberikan kabar bahagia itu, sampai-sampai Abang dibilang orang gila karena tersenyum setiap saat, sangking bahagianya." Khairil tertawa sedih mengingatnya
__ADS_1
...#Flashback...
Hari itu, Khairil berlari dari sekolahnya dengan menggenggam amplop yang masih tertutup rapat. Ia baru akan membukanya dirumah bersama dengan Aisyah, Ali dan Zurran. Setibanya Khairil dirumah, ia langsung berteriak memanggil semua orang yang berada di rumah untuk berkumpul diruang tamu.
"Ayo cepet sini, Khairil mau buka amplop ini sama-sama." Ucapan
Mereka berkumpul dan Khairil segera membuka amplop itu. Dengan harap-harap cemas melihat tulisan yang berada didalamnya yang bertuliskan “Lulus”
"Alhamdulillah ya Allah..." Khairil langsung melakukan sujud syukur. Hal seperti ini sudah ia impikan dari tahun lalu dan gagal. Dimana dirinya harus mengulang sekolah satu tahun lagi dikarenakan sifat buruknya belum benar-benar hilang.
"Kita langsung kasih tau Abba sama Umma di Mesir aja bang." Ucap Zurran yang dimana dirinya juga mendapatkan surat kelulusan dihari sebelumnya
"Jangan dulu... kita harus siapin kejutan untuk Umma dan Abba via zoom biar seru." Ucap Aisyah yang kala itu sedang mengandung
Pada akhirnya mereka bersiap menyiapkan segala sesuatunya untuk membuat kejutan jarak jauh. Wajah Khairil terlihat jelas paling semangat mempersiapkannya. Sudah jelas, karena ini adalah acaranya. Namun, pada saat mereka sibuk membuat merangkai pesan kepada Jizah. Tiba-tiba saja handphone milik Ali berdering dan dilihatnya ibu mertuanya yang menelpon.
"Abang angkat telepon dari Umma dulu diluar agar mereka tidak curiga." Ucap Ali
"Iya bang, jangan kasih tau Umma atau Abba dulu ya." Kata Khairil dan Ali menganggukkan kepalanya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi... nak?" Lirih tangis Jizah membuatnya terkejut
"Umma, Umma kenapa menangis? Abba dan Umma baik-baik saja kan?"
"Ab-Abba.... Abba meninggal dunia, Abba telah tiada nak..." Tangis Jizah langsung pecah
Seketika itu, tubuh tegap Ali langsung terduduk di lantai. Matanya melebar dan kepalanya menggeleng tak percaya.
"Umma, Ali tau Umma tidak pandai berbohong dan bergurau. Jadi tolong bicaralah dengan benar."
"Waallahi nak, Umma disini sudah dibantu oleh kedutaan agar jenazah Abba bisa kita kuburkan di Indonesia. Umma meminta tolong sama kamu, beritahu Aisyah dan yang lainnya dengan pelan ya? Kamu harus kuat dan tidak boleh lemah dari mereka."
__ADS_1
"Innalilahi wa innailaihi Raji'un... Abba? Baik Umma, Ali akan berusaha tegar seperti Umma. Dan Ali juga akan mengurus semuanya yang ada disini." Ucap Ali dan tak lama Jizah mematikan teleponnya
Ali yang masih tak percaya dengan apa yang ia dengar dari ibu mertuanya pun terduduk diam dan melamun, entah bagaimana caranya memberitahu kabar duka ini kepada Aisyah dan yang lainnya.
"Abang? Umma bicara apa tadi, kok sekarang Abang diam." Ucap Zurran mengagetkannya
Ali bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Zurran. Mereka berdua masuk kedalam dan kini Ali meminta mereka semua untuk duduk.
Ali memeluk istri tercintanya dengan erat.
"Kita harus bisa ikhlas dan sabar dengan apapun yang Allah berikan. Semua makhluk yang bernyawa pasti akan kembali kepada Rabb-Nya. Innalilahi wa innailaihi Raji'un... Abba kini sudah nyaman di sisi terbaik-Nya." Ujar Ali berusaha setegar mungkin mengatakannya
"A-abang bicara apa sih? Bukankah perkataan seperti ini sama-sama tidak kita suka? Lantas sekarang mengapa Abang mengatakan hal yang demikian?" Ujar Aisyah tak terima dan memukuli dada suaminya
Ali memeluk istri tercintanya dengan erat. Ia membiarkan tubuhnya dipukuli oleh Aisyah dan bajunya basah dengan air mata istrinya. Sementara, Khairil dan Zurran yang mendengar itu keduanya diam, tak ada yang berbicara, biarlah air mata yang mengalir deras tak terkendali mengatakan semuanya.
"Abba? Maafkan Khairil yang belum bisa menjadi seperti yang Abba inginkan. Tapi mulai saat ini, Khairil berjanji dengan diri Khairil sendiri. Khairil akan menggantikan semua tugas-tugas yang biasa Abba lakukan. Khairil berusaha mungkin untuk menjadi seperti Abba." Batin Khairil dengan tangan kanan di dadanya
...#Flashback off...
Jizah memeluk kedua putranya yang menangis tatkala mengingat hari itu. Mungkin saat itu hanya dirinya dan kedua putrinya yang begitu rapuh. Dan saat ini ia mengerti, ketegaran yang ketika itu diperlihatkan kedua putranya hanyalah untuk menguatkan dirinya.
"Abba sayang, lihatlah! kedua putra kita telah begitu menjaga Umma seperti yang Abba pinta dalam surat itu. Khairil dan Zurran sama seperti Abba, mereka tidak bisa melihat air dipelupuk mata Umma, walaupun itu hanya setetes. Abba dan Abang Tsaqif bantu do'a ya? agar kedua pundak mereka lebih kokoh lagi." Batin Jizah
...****************...
Assalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh teman-teman !! Apa kabar kalian? Maaf, Aku baru kembali
Jika Aku boleh berkata jujur teman-teman, Aku masih sangat sulit beradaptasi dengan tokoh Khairil. Berbeda dengan tokoh Jizah yang memang memiliki karakter perempuan sepertiku. Sementara, Khairil adalah tokoh laki-laki yang dimana Aku jarang berinteraksi dengan lawan jenis selain keluargaku.
Jadi, ku harap kalian bisa mengerti akan hal ini. Dan satu lagi, bab ini dikhususkan untuk Muhammad Khairul Mufid yang ketika di novel Takdir Illahi : Kebahagiaan, Kesedihan dan Kesempurnaan tidak diceritakan.
__ADS_1
...***Jangan lupa like, komen dan vote bunga...
...Terima kasih***...