
...“Sebelum kau berjanji sesuatu pada seseorang yang begitu kau sayangi, peringatkan lah dirimu terlebih dahulu, apakah bisa menepatinya atau tidak?”...
...----------------...
Khairil mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia tak mau kejadian yang pernah ia alami itu terulang kembali. Sedari tadi pula Zurran menelponnya, namun sengaja tidak Khairil menjawabnya, melainkan ia nonaktifkan mode silent nya.
Sementara dirumah, Zurran terus membujuk Jizah agar ibundanya itu mau masuk kedalam rumah.
"Umma, ayo kita tunggu Abang didalam rumah aja. Bentar lagi Abang juga sampai kok. Disini angin malam nggak baik buat Umma, apalagi banyak nyamuk nih." Ucap Zurran untuk kesekian kalinya
Jizah tak menanggapi ucapan putranya dan lebih memilih duduk di bangku yang tadi sempat Zurran ambil dari teras. Orang-orang yang masih berlalu lalang pun tak luput memandang ibu dan anak itu, yang pastinya ditanggapi dengan senyuman oleh keduanya.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti diseberang jalan sana. Dilihat oleh Zurran ternyata itu adalah Zain beserta istrinya. Mereka menyebrangi jalan lalu menghampiri ibu dan anak itu.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam warahmatullahi."
Zain dan istrinya mencium punggung tangan Jizah, "Ammah sama Zurran kenapa duduk diluar begini?" Tanya Zain menatap Zurran
"Umma nunggu Abang yang belum pulang Bang." Jawab Zurran
Zain dan istrinya saling pandang, mereka tahu jika kini Jizah sudah tidak lagi seperti dulu. Ammah yang sudah mereka anggap seperti ibu itu, mengalami PTSD (post-traumatic stress disorder) atau gangguan stres pascatrauma yaitu, gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang tidak menyenangkan.
"Ammah? Yuk, kita masuk kedalam. Khairil sebentar lagi pasti sampai. Jadi, lebih baik ketika Khairil sampai? Dia melihat Ammah ada didalam." Zain mencoba membujuk Jizah agar mau masuk kedalam
"Tapi kalian juga temani Ammah ya?" Pinta Jizah menatap Zain dan istrinya
"Iya Ammah, kita akan temani Ammah sampai Khairil pulang atau bahkan kita akan menginap disini." Ujar Zain yang akhirnya bisa membujuknya
Zurran menghela nafasnya, "Jika Umma seperti ini terus, Zurran lebih baik berhenti berkerja. Kesehatan dan kesembuhan Umma jauh lebih penting dari apapun." Batin Zurran
Melihat ibundanya itu sudah sebulan lamanya terjebak dengan kenangan masa lalu, sudah pasti membuat para anak-anaknya terpukul. Kesehatan mental Jizah benar-benar begitu terganggu. Terlebih jika ada suatu kejadian yang hampir atau begitu mirip dengan apa yang pernah ia alami. Tubuhnya bisa tiba-tiba bergetar dengan sendirinya, ketakutan dan kecemasan yang berlebihan, serta lebih parahnya lagi ia akan berteriak melontarkan kata-kata ketidaksukaannya.
__ADS_1
...----------------...
Zain dengan sabar menyuapi Jizah makan, sebab Ammah nya itu ternyata belum mengisi perut dan meminum obatnya. Sembari sesekali mengajak Jizah berbicara dan bertanya mengapa wanita paruh baya itu menunggu Khairil sampai didepan pintu pagar. Ternyata Khairil telah berjanji jika ia tidak akan berlama-lama di cabang bakso puncak. Namun kenyataan yang ada tidak demikian.
"Anak itu benar-benar ngga bisa berubah." Batin Zain
"Lain kali? Kalau Ammah saya belum meminum obat, tolong kalian agak paksa saja untuk makan walau sedikit. Setidaknya perutnya terisi." Ucap Zain pada kedua perawat yang merawat dan menemani Jizah tatkala anak-anaknya sedang tidak ada dirumah.
"Baik Ustadz, lain kali kami akan sedikit memaksa." Ujar salah seorang dari mereka
"Tadi Zurran pun udah bujuk Umma untuk makan Bang. Tapi Umma bilang, maunya tunggu Abang Khairil pulang." Ucap Zurran yang duduk disebelahnya.
Zurran terkadang merasa iri dengan Khairil. Ia merasa, sekalipun ibundanya sedang dalam keadaan yang tidak baik sekalipun, Khairil lah anak pertama yang selalu dicari. Dan tak jarang pula ia selalu merasa jika Jizah tak nyaman berada didekatnya. Walaupun begitu, rasa cintanya terhadap wanita yang telah melahirkannya tak pernah pudar walau sedikit. Baginya, bentuk kasih sayang Jizah terhadapnya adalah dengan melihat dirinya mandiri atau lebih tepatnya, menjauh darinya.
Terlihat Jizah ternyata sudah menyelesaikan makanannya, "terima kasih ya Zain, Ammah sudah kenyang. Maaf Ammah sudah merepotkan kamu." Ucap Jizah menyentuh tangan Zain sembari tersenyum
"Ammah ngga perlu berterimakasih dan Ammah ngga merepotkan siapapun. Tadi kan Zain sendiri yang mau menyuapi Ammah." Ujar Zain
"Ya sudah Umma, ayo sekarang Zurran antar masuk ke kamar. Biar nanti suster memberikan obat Umma didalam saja." Ucap Zurran menggenggam tangan Jizah yang langsung dituruti wanita itu. Sebelum meninggalkan ruang makan, Zurran tersenyum dan berterimakasih kepada saudara sepupunya itu.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam warahmatullahi."
"Abang, Kakak, kalian?" Khairil terkejut melihat kedua kakak sepupunya. Dirinya siap tidak siap harus menyiapkan jawaban jika mendapatkan teguran atas keterlambatannya.
"Ya. Apa orang-orang yang sedang pergi berlibur itu masih mengakibatkan kemacetan? Atau... Para pengunjung warung bakso sangat-sangat begitu ramai?" Zain bertanya dengan nada yang begitu formal. Khairil tahu betul, jika saudaranya telah berbicara formal berarti Zain sedang menahan amarahnya.
Istri Zain menyentuh tangan suaminya, "sabar bang, Khairil baru pulang." Ucapnya
"Maaf bang, Khairil telat pulang karena ta-tadi..." Khairil terbata, haruskah ia mengatakan sebelum ke warung bakso dirinya menolong seorang wanita?
Zain sedikit menghela nafasnya. "Kamu tahu Ril? Umma kamu itu sedari ba'da Maghrib, sudah duduk didepan pagar menunggu seseorang. Dan seseorang itu siapa? Kamu." Ujar Zain menatap tajam Khairil
__ADS_1
"Um-umma tunggu Khairil didepan pintu pagar?" Tanya Khairil terkejut
"Ya, itu karena kamu terlalu banyak mengucapkan janji yang kamu sendiri tidak tahu apakah bisa menepatinya atau tidak." Jelas Zain
"Maaf bang, tadi di warung bakso Khairil terlalu asik melayani pembeli yang ramai sekali. Khairil ngga tega melihat mereka berdiri menunggu lama." Khairil menundukkan wajahnya
Sebelum Zain berbicara lebih banyak lagi. "Abang sudah, kasihan Khairil baru pulang. Lebih baik sekarang kita kembali ke pesantren. Kasihan anak-anak pasti sudah menunggu kita." Istri Zain yang sedang hamil tua itu memperingatkan suaminya agar tidak berbicara lagi dan hanya dengan mengucapkan salam Zain menggandeng tangan istrinya keluar dari rumah itu tanpa memandang Khairil.
"Ya, Ku memang terlalu banyak mengucapkan janji tanpa tahu apakah bisa menepati. Maaf Umma, Khairil sudah menjadi anak yang munafik." Gumam Khairil
Khairil tak sadar, jika sedari tadi Zurran berdiri beberapa langkah dari dirinya yang masih terduduk di sofa ruang tamu. Zurran pun akhirnya melangkahkan kakinya mendekati Khairil dan duduk disebelahnya.
...****************...
......................
Ciri-ciri orang munafik ada 3 menurut Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. “Rasulullah SAW bersabda: Tanda orang munafik tiga; apabila berkata ia berbohong, apabila berjanji mengingkari, dan bila dipercaya mengkhianati.”
QS. An-Nisa:145, Allah berfirman,
“Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka”.
Naudzubillah min Dzalik, semoga kita semua dijauhkan dari tiga perkara itu, Aamiin...
Maaf, ku memutuskan untuk saat ini agar mengusahakan satu hari satu kali update.
Dan ku berterimakasih kepada kalian yang sudah setia untuk sabar menanti kelanjutan novel ini. Selalu do'akan aku sehat selalu agar bisa terus melanjutkan novel ini.
...“Aku menyayangi kalian karena Allah”...
...@nurfaizahjiza...
Selamat hari raya Idul Adha, mohon maaf lahir dan batin semuanya 🙏
__ADS_1
Terima kasih, jangan lupa like, komen dan vote